
"Pagi sayang," suara renyah Adam menyapa Selenia yang baru saja keluar dari kamar.
Sama halnya dengan Selenia yang sudah memakai seragam sekolah, Adam pun juga telah berpakaian rapi siap untuk pergi ke kantor.
Adam menyandarkan tubuhnya di tembok dan melempar senyum manis pada Selenia.
"Wihh, udah rapi!" celetuk Selenia. "Kamu bangun jam berapa sih? Kok nggak bangunin aku?" bibirnya memberengut.
"Kamu boboknya pules banget, nggak tega mau bangunin."
"Oh ya, masa sih?" Selenia nyengir kuda. Semalam dia memang merasa tidurnya nyaman banget. Apa mungkin karena dia tidur sama Adam? Ck, ini bukan pertama kali sih, tapi rasanya memang lain aja. Atau mungkin bawaan si jabang bayi, yang ngerasa nyaman juga karena ditemenin Bapaknya? hihihi... bisa jadi sih.
Adam memainkan manik matanya jahil. "Sayang, aku mau cerita nih."
"Apa?" kening Selenia mengernyit.
"Semalam aku tuh mimpi...." Adam menggantung kalimatnya sejenak sembari menatap wajah Selenia penuh arti. ".... aku tuh kaya lagi di suatu tempat yang indah dan nyamaaan banget... dan di sana aku ketemu perempuan yang cantik banget...." dia tidak melanjutkan kata-katanya saat matanya melihat bibir Selenia yang kembali memberengut.
Nyeri sekali hati Selenia mendengar Adam yang secara terang-terangan memuji perempuan lain di depannya. Walaupun itu cuma mimpi sih, tapi kan cemburu juga.
"Kok cemberut sih?" Adam menjawil dagu Selenia.
"Enggak kok, biasa aja." Selenia mengeles.
Adam menunduk menahan senyum. "Mau dilanjutin nggak ceritanya?"
Selenia mengangkat bahu. "Ya udah lanjutin aja." jawabnya.
"Di dengerin nggak?" Adam menggoda. "Kok jadi jutek gitu sih?"
"Ya udah Dam cerita aja," jawab Selenia mulai terdengar agak malas.
Adam masih tidak bisa menahan senyum. Tidak tega rasanya pagi-pagi sudah merusak mood Selenia. Dia tahu Selenia pasti tidak suka mendengar dia memuji perempuan lain separti ini. Tapi dalam hati dia merasa senang juga, karena ekspresi itu berarti menunjukkan bahwa Selenia tidak mau dia dekat atau dimiliki perempuan lain. Duh, kadang sifat gengsi untuk mengakui perasaannya sendiri itu membuat Adam semakin gemas dan greget sama Selenia.
"Nggak ah, nanti kamu marah..." Adam pura-pura menggeleng. "Ya udah yuk sarapan aja, entar keburu siang."
"Kenapa aku mesti marah?" sahut Selenia. "Ya udah cerita aja, aku dengerin kok," tantangnya karena dia juga penasaran. Tapi memang sakit juga sih, memaksakan diri untuk tahu sesuatu yang seharusnya tidak perlu diketahui. Lagian Adam juga kenapa sih cerita mimpinya gitu banget?
"Mmm... karena cemburu mungkin..."
"Dihhh!" Selenia menegakkan kepalanya dan memberikan tatapan sinis. "Siapa yang cemburu? Enggak kok, biasa aja."
"Bener?" Adam menggoda.
Selenia sudah mulai merasa jengkel. Adam kenapa sih? Pagi-pagi udah bikin bad mood aja. Ya kali perkara cemburu mesti nanya? Nyebelin banget!
Selenia mengangguk pelan. Lebih ke malas.
"Okey... aku lanjut cerita ya..." Adam menegakkan tubuh dan berjalan mendekati Selenia yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. "Jadi di mimpi itu aku ketemu sama perempuan yang cantik itu kan, dan kamu tahu nggak sih dia bilang apa sama aku?"
Selenia menyilangkan kedua tangannya di dada dan menggeleng. "Ya mana aku tahu, yang mimpi kan kamu," jawabnya jutek.
Adam sudah tidak tahan lagi sebenarnya ingin tertawa. Tapi sebisa mungkin dia menahan sampai menyelesaikan ceritanya. "Dengerin ya. Dia itu ngomong gini sama aku 'Love you soooooo much my husband'...." Adam tersenyum lebar dan mengelus dadanya.
Seketika Selenia menyadari ada yang aneh. Perlahan tangannya turun dari dada dan dia menatap Adam ragu. Saat tatapan mereka bertemu, Adam justru memainkan matanya jahil banget. Hal itu lah yang kemudian membuat Selenia sadar bahwa yang dimaksud dalam mimpinya itu adalah dirinya. Dia mengucapkan kata-kata itu kan semalam?
"Terus perempuan itu juga ngomong gini sama aku 'Good night and have a nice dream', bayangin deh sayang... manis banget nggak sih?" lanjut Adam. "Ditambah lagi dia juga nyium bibirku lembut banget. Ya ampun.... rasanya tuuuuuh uuuufffhhh berasa melayang akuuuu...."
Ha?! Mata Selenia membelalak dan merasakan pipinya sudah semerah kepiting rebus. Tidak salah lagi, yang diceritakan Adam itu bukan mimpi tapi kenyataan dan dia sedang menceritakan kejadian semalam.
"Kamu apa-apaan sih Dam?" Selenia langsung menabok bahu Adam berkali-kali menggunakan tasnya. "Jadi semalem kamu ngeprank aku? Kamu nggak beneran tidur? Iihhhh...jahat banget jahat jahat jahat...!!"
"Auuh ampun..." Adam terpaksa membungkuk untuk melindungi diri dari serangan Selenia. "Sakit sayang.... iya ampun... hmmmpfffhhh... stooop..."
Selenia menghentikan serangannya. Dia berdiri dan menatap Adam kesal. Bisa-bisanya dia pura-pura tidur sepulas itu? Dan bisa-bisanya aku ketipu? Kenapa sih semalam mesti ngucapin kalimat itu juga? Arrrghhh!! Selenia jengkel plus malu plus nyesel plus plus plus!
"Iiihhh sebeeeel!!" pekik Selenia.
Adam terkekeh. "Sebel kenapa sayang? Itu kan cuma mimpi. Atau..... kamu cemburu sama perempuan itu?"
"Stop bilang itu mimpi!" Selenia menabok bahu Adam lagi dengan tasnya. "Ihhh sebel sebel sebel...!"
"Ya ampun sayang kenapa sebel sih? Nggak pa-pa lho.... aku aja suka dengernya. Bikin aku bener-bener mimpi indah..." Adam terus menggoda Selenia.
"Ah udah ah nggak lucu!" sahut Selenia. "Pokoknya mulai sekarang kamu nggak boleh tidur di kamarku lagi. Titik!" dia sudah kepalang malu karena ke-gap mengatakan kalimat-kalimat itu pada Adam. Bisa-bisanya sih dia nggak sadar kalau Adam cuma pura-pura tidur.
Selenia berlalu, menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar. Melihat hal itu, Adam langsung menyusul dan mencekal tangannya.
__ADS_1
"Lhoh, kok malah jadi marah?"
"Nggak marah gimana? Kamu ngerjain aku!" gerutu Selenia.
"Ya ampun, siapa yang ngerjain sayang? Nggak ada yang ngerjain di sini tuh."
"Itu kamu pura-pura tidur. Terus belagak nggak denger pas aku ngomong... apaan sih? Iiihhh sebel."
"Hmmmppfffhhhhh...! Sekarang aku nanya, kamu sebel kenapa? Sebel karena ngomong love you soooooo much my husband ke aku? Itu kan nggak salah sayang. Bagus malah... kan ke suami sendiri."
Selenia masih memberengut dan menatap Adam sebal.
"Ah udah ah! Aku mau sarapan terus berangkat sekolah. Aku sebel karena kamu udah ngerjain aku!" Selenia kembali melangkah meninggalkan Adam. "Pokoknya mulai sekarang kamu nggak boleh tidur di kamar aku lagi. Titik!" omelnya sambil terus berjalan.
Mata adam membulat. Tentu saja dia tidak mau itu terjadi. Mana tahan dia dengan ancaman semacam itu. Adam mengejar Selenia, dan ketika Selenia baru melangkah ke anak tangga pertama, dia langsung mengangkat tubuh mungilnya bak mengangkat karung beras.
"Auuhh!!" Selenia memekik kaget karena tubuhnya tiba-tiba melayang dan tersampir di pundak Adam. "Ihhh Adam apaan sih? Turuniiin...!" dia memukul-mukul punggung Adam.
"Cabut ancamannya atau aku bakal gendong kamu sampai garasi. Kita nggak usah sarapan, terus aku juga bakal gendong kamu lagi sampai di kelas."
Lhoh, kok malah jadi Adam yang ngancem sih?
"Ih Adam apaan sih? Turunin nggak?!"
Adam masih berdiri di anak tangga sambil menggendong Selenia.
"Tarik dulu ancamannya."
Selenia menggeram. Dia nggak mau narik kata-katanya lagi karena khawatir dikerjain lagi. Malu!! Tapi kalau dia nggak narik ancamannya, Adam bakal gendong sampei sekolah?? Aduuuuh!! Selenia tidak bisa membayangkan.
"Ih nggak mau. Suka-suka aku dong Dam. Itu kan kamar aku, aku berhak memfilter siapa saja yang nggak dan boleh masuk ke kamarku!" cerocos Selenia di belakang punggung Adam. "Turunin nggak? Turunin iiihh..." tangannya masih nekat memukuli punggung tersebut.
"Ya udah, kalau gitu aku juga punya hak gendong kamu, kamu kan istriku," balas Adam kemudian dan mulai kembali melangkah.
"Adam.....!! dam dam dam...." Selenia cemas. Nekat juga ni laki. Sialan! "Iya iya iya iya.... iyaaaaa.... aku cabut omongan aku yang tadi... iyaa.... tapi turunin sekarang!" ucapnya kemudian menyerah.
Adam berhenti melangkah dan terkekeh. Ampuh juga ancamanku, batinnya.
"Bener ya? Udah dicabut ya ancamannya?" tanyanya memastikan sebelum menurunkan tubuh Selenia. "Deal?"
"Iyyhhaaaa..." Selenia menggeram.
"Ya udah yuk sarapan."
Selenia yang merasa kalah dan diledek dengan sikapnya itu cuma bisa menatap kesal. Dia kemudian turut melangkah ke ruang makan dengan menghentak-hentakkan langkahnya.
"Awas aja kamu, Dam!" geramnya.
...🌺🌺🌺...
Di tempat lain, Tony mendatangi kantor polisi untuk membuat laporan terkait kasusnya. Dia sengaja berangkat lebih pagi karena tidak ingin terlambat ke sekolah. Sudah berapa hari saja dia bolos dan berangkat terlambat? Dia yakin nilainya pasti sudah banyak minusnya semester ini. Entahlah, pikirannya memang sedang kacau. Tentang permintaan Papanya semalam itu mau tidak mau harus mengganggu pikirannya. Berat sekali rasanya untuk menuruti permintaan itu. Dia masih belum bisa membuka hati untuk Mamanya.
Setelah selesai membuat laporan, Tony kembali keluar. Di lapangan parkir tidak sengaja dia bertemu dengan Devan yang baru saja keluar dari mobil bersama kakak perempuannya. Sama halnya dengan dirinya, Devan juga akan membuat laporan.
Mereka saling tatap dengan pandangan sinis. Geram rasanya hati Tony mengingat apa yang telah dilakukan Devan terhadap Selenia. Bisa-bisanya dia menjadikan Selenia pelampiasan atas permasalahnya dengan Adam.
"Sudah Devan!" kakak Devan mencekal lengan Devan yang sudah mengepalkan tinjunya. "Kamu jangan bikin ulah lagi ah!" dia menarik Devan menjauh dari lapangan parkir.
Tony tersenyum sinis sebelum menstarter motornya dan meninggalkan lapangan parkir.
"Kamu ni tahan diri dikit kenapa sih Dev?" omel Kakak Devan. "Mau dipenjara beneran? Udah dikasih keringanan kok masih mau berulah. Udah ayok cepetan! Kakak juga mau nyalon tau!"
...🌺🌺🌺...
Adam tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang perjalanan menuju ke kantor. Dia masih merasa lucu dengan peristiwa di rumah pagi tadi bersama Selenia, sekaligus bahagia ingat kata-kata yang diucapkan Selenia semalam. Kesabarannya selama ini berbuah manis. Selenia sangat mencintainya. Itu terbukti kalau dia hanya mau mengucapkan barisan kalimat itu tanpa harus didengar langsung olehnya. Memang, ini bukan kali pertama Selenia mengatakan cinta padanya. Tapi rasanya yang semalam begitu bermakna.
"Pagi Pak," sapa Renata yang kebetulan saat itu juga baru datang.
"Oh, hei... kamu baru datang Ren?" Adam berhenti sejenak dan melemparkan senyum pada Renata. "Kok nggak di anter sopir? Tumben?" dia melihat mobil Renata berjajar dengan mobilnya.
"Iya Pak. Sopir saya izin pulang kampung sebentar. Katanya mau jenguk keluarga."
"Oh...." Adam manggut-manggut. "O iya, bagaimana kabar Nola?" tanyanya. Sudah berapa lama dia tidak bertemu anak kecil yang lucu itu.
"Nola baik, Alhamdulillah. Bapak sama Selenia main dong ke rumah. Nola pasti seneng."
"Kalau nggak sibuk ya Ren," Adam terkekeh. "Saya juga kangen sama Nola. Dulu saya juga pernah janji sama Selenia buat ngajakin dia ketemu sama Nola."
__ADS_1
"Oh ya? Saya tunggu lho pak kedatangannya, sama Selenia di rumah."
"Nanti deh, kalau kita mau ke sana, saya kabarin kamu."
Renata mengangguk.
"Ya sudah, ayo masuk. Nanti jam 9 kita ada meeting kan?"
"Oh iya... ya ampun!" wajah Renata berubah menegang. "Berkas-berkasnya belum saya selesaikan. Ma'af Pak, saya permisi duluan," ucapnya kemudian dan langsung berlalu meninggalkan Adam.
...🌺🌺🌺...
Suatu siang di jam istirahat di sekolahnya, Selenia duduk menopang dagu di kantin sambil mengamati seseorang yang terlihat sedang asyik ngobrol dengan tiga orang temannya. Mereka berempat ngobrol dan sesekali terbahak entah apa yang sedang dibicarakan. Dan saat seseorang itu tertawa, Selenia pun tanpa sadar juga ikut tersenyum. Entahlah, tiba-tiba saja dia merasa candu banget ngelihatin hidung Tony. Iya, dia sedang memperhatikan Tony yang sedang asyik ngobrol dengan teman-temannya tak jauh dari bangku tempatnya duduk.
Cia yang sedari tadi duduk di depan Selenia, heran melihat tingkahnya. Bahkan makanan di hadapannya juga tampak masih utuh. Cia menelusuri arah tatapan Selenia dan mengernyit.
"Ngapain lo liatin Tony sambil senyum-senyum Sel?" celetuk Cia.
Selenia tersentak dan kemudian tersenyum pada Cia. "Ci, lo lihat deh hidungnya Tony lucu banget ya?"
What?! Alis Cia terangkat. Barusan Selenia ngomong apa? hidung Tony lucu?
"Hidung Tony emang gitu kan? Lucu dari mana sih Sel? Lo mau body shaming?"
"Ck!" Selenia berdecak sebal. "Siapa sih yang mau body shaming? Barusan gue bilang apa? hidung Tony lucu, body shaming darimana coba?" omelnya.
"Ya lo aneh juga, cuman hidung doang ngliatnya sampe gitu amat?" Cia mencibir. "Lagian juga bagusan hidungnya Adam deh menurut gue, lebih estetek--aesthetic."
"Tuh kan? Siapa yang ujung-ujungnya body shaming? Mana banding-bandingin sama punya Adam lagi. Orang kan beda-beda Ci," omel Selenia.
"Gue nggak maksud banding-bandingin kali. Cuma ngingetin aja kalau punya lo yang di rumah lebih...." Cia tidak melanjutkan kata-katanya saat matanya tiba-tiba membulat. Dia sedikit menemukan jawaban kenapa Selenia tiba-tiba mengagumi hidung milik Tony. "Eh tunggu. Sel.... lo..... suka banget liat hidung Tony?"
Selenia mengangguk dan kembali melihat ke bangku Tony. "Lucu ya?"
Cia menatap perut Selenia dan Tony yang nampak begitu asyik bergantian. Waduh! Masa iya ini bawaan bayinya Selenia?
"Sel...!" celetuk Cia kemudian. "Jangan bilang ini bawaan bayi lo!" bisiknya.
Selenia tidak menggubris. Dia hanya tersenyum sambil diam-diam mengelus perutnya.
Astagaaaaaa! Cia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Segini rempongnya kah orang ngidam? Aneh-aneh banget kesukaannya. Dia menatap ke arah objek yang sedari tadi tidak berhenti dipandangi Selenia. Hidung Tony? Anaknya Selenia suka sama hidungnya Tony?
Tony yang mungkin merasa ada yang memperhatikan dirinya, celingukan ke sekeliling kantin. Tatapannya kemudian berhenti pada Selenia yang masih tersenyum mengamati dirinya.
Kening Tony mengerut.
"Eh guys, gue duluan ya," setelah menenggak habis minumannya dia lalu berjalan menghampiri bangku Selenia.
Selenia yang sadar telah begitu lama memperhatikan Tony dan melihat dia berjalan ke arahnya, buru-buru beringsut dan pura-pura sibuk dengan makanannya.
"Tuh kan dia kesini," bisik Cia gusar. Bukan apa-apa. Dia hanya merasa bad feeling aja dengan kedatangannya kali ini. Pasti karena merasa dilihatin Selenia terus, makanya dia nyamperin.
"Hei!" sapa Tony di depan meja mereka. "Masih boleh gabung nggak?"
Selenia menatap bangku kosong di sebelah Cia dan menunjuk bangku tersebut. Tanpa menunggu lama, Tony pun langsung duduk di sana.
"Sorry banget nggak gabung dari tadi. Anak-anak lagi rame sama turnamen game online," ujar Tony.
Cia ingat Marvin pernah ngomongin soal ini tempo hari. Tapi sayangnya dia nggak bisa ikut karena bersamaan dengan acara di kampusnya entah apa. Dan dia juga dengar dari Marvin kalau katanya Tony yang biasanya nggak pernah absen ikut turnamen, kali ini dia justru tidak ikut.
"Denger-denger kamu malah nggak ikut ya?"
Tony menggeleng. "Tahu dari siapa?"
"Marvin yang bilang."
"Hehe... iya aku lagi nggak mood. Jadi semalem cuma mantau live streaming aja."
"Tim kamu menang?"
"Belum kali Ci, kan masih ada beberapa babak penyisihan lagi. Apalagi yang ikut turnamen musim ini katanya makin bertambah," Tony mengibaskan tangannya di depan wajah Selenia yang tak berhenti memandangnya. "Kedip woey. Liatin apaan sih?"
Selenia mengerjap-ngerjapkan matanya kaget. Dia lalu buru-buru menyesap minumannya dan cuma nyengir ke arah Tony. Sementara Tony merasa sedikit berbunga-bunga karena menyadari telah dipandang begitu lama oleh perempuan pujaannya.
"Uuffhhh...." Selenia merintih dan menatap Cia yang melotot ke arahnya sekaligus menginjak kakinya.
Sementara itu dari bangku lain yang lumayan jauh dari bangku mereka, Lala memperhatikan dengan tatapan sinis. Kenapa sih Tony tu suka banget gabung sama Selenia dan Cia? Kenapa sih dia tu nggak bisa lihat gue? Ughhh! Dia mengacak-acak mie goreng di depannya dengan kasar. Dua temannya yang duduk di seberangnya pun hanya saling tatap dan mengangkat bahu melihat Lala yang tiba-tiba sewot.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...