
Selenia: [Dam, aku keluar dulu sama Cia. Mau cari bahan buat tugas di sekolah besok]
Selenia menghembuskan nafas berat begitu pesan itu terkirim. Dia terpaksa berbohong karena sebenarnya tujuannya keluar sore ini adalah untuk mencari susu khusus Ibu hamil. Cia yang mengetahui semenjak dirinya dinyatakan hamil dan sama sekali belum mengkonsumsi susu bumil, ngoceh banyak dan ngomel-ngomel nggak karuan sepulang sekolah tadi. Dia bilang Selenia bukan calon Ibu yang baik dan super tega sama calon anaknya sendiri. Padahal alasan sebenarnya Selenia belum beli susu bumil karena dia tidak punya waktu yang tepat buat melipir ke apotek atau minimarket karena takut kepergok sama Adam. Bisa gagal rencananya untuk ngasih surprise di hari ultahnya kalau dia tahu sekarang.
"Lagian lo kenapa sih nggak ngomong aja sama Adam sekarang? Pake nunggu hari ultah dia segala. Kan ultahnya dia bisa dikasih surprise lain. Heran gue sama lo Sel. Sumpah deh lo tega banget sama anak lo!" omel Cia siang itu.
"Cia please lo jangan ngomong gitu dong.... kesannya kok kaya gue jahat bener sama anak sendiri," Selenia merengek. Kadang nggak tahan juga mendengar Cia ngomel-ngomel yang ada benernya itu.
"Gue bukan tega ya. Emang salah, gue punya rencana gitu? Lagian kan ultah Adam tinggal bentar lagi ini." Selenia tetep kekeuh dengan pendiriannya.
Cia melirik tajam pada Selenia. Masa iya sih ini efek kehamilannya juga? Nggak biasanya dia kepala batu seperti ini, pikirnya putus asa. Tapi ya sudahlah, kalau memang itu sudah menjadi keinginan Selenia. Semoga saja tidak sampai terjadi apa-apa sama bayi yang ada di dalam kandungannya gara-gara nggak dapat perhatian dari Bapaknya.
"Ya udah tapi lo harus janji sama gue!' todong Cia sedikit mengancam.
"Apa?"
"Nggak ada alasan dan no debat! Lo entar sore harus beli susu bumil dan rutin diminum. Gue temenin!"
"Iya deh...." jawab Selenia pasrah, lebih karena tidak mau mendengar sahabatnya itu ngomel-ngomel lagi. "Tapi gue harus minta izin juga dong sama Adam kalau gue mau keluar."
"Lo bilang aja mau cari bahan buat bikin tugas sekolah," sahut Cia cepat.
"Hmmmpfffhhh..." Selenia menahan tawa. "Jago banget lo kalo disuruh ngibul," dia menjawil pipi Cia yang wajahnya masih cembetut. "Jangan ngambek dong...."
"Gimana gue nggak ngambek liat tingkah lo kaya gini? Udah lah pokoknya entar sore gue temenin lo nyari susu bumil. Titik!"
Selenia tersenyum geli. Dia yang hamil, kenapa Cia yang rempong, batinnya. Tapi dia cukup bahagia karena meski dengan ngomel-ngomel, itu adalah bentuk perhatian Cia pada dirinya. Beruntung dia memiliki sahabat seperti Cia, yang meskipun rada bar-bar dan ceplas-ceplos, dia tetap menjadi pendengar yang baik dan bisa dipercaya.
Dan itulah kenapa, sore ini Cia sudah berada di rumah Selenia. Mereka masih duduk di ruang tamu, menunggu Adam membalas pesan Selenia. Bagaimanapun, Selenia tetap tidak berani meninggalkan rumah kalau Adam belum mengatakan 'Ya'.
Diluar dugaan, Adam tidak membalas pesan dengan pesan melainkan langsung menelfon. Selenia hampir melonjak kaget saat ponsel di genggamannya berdering. Dia melihat ke arah Cia yang justru mengangguk supaya dia segera menerima panggilan tersebut.
"Aduh, gimana ini ngomongnya Ci...??" Selenia gugup.
"Ya udah ngomong aja kaya yang gue bilang tadi. Mau cari bahan buat tugas besok. Udah buruan ngomong. Keburu sore!" tegas Cia.
Selenia mendengus lirih. Dia tidak terbiasa berbohong pada Adam. Tapi kali ini terpaksa harus dia lakukan karena tidak mau mendengar dan melihat Cia sentimen, sekaligus juga demi si baby.
"Halo... Dam..." ucapnya lirih.
"Kamu keluar sama siapa sayang?"
"Sama Cia kok. Aku c-cuma mau nyari bahan buat tugas besok," Selenia menatap Cia yang mengacungkan kedua jempolnya saat dia mengatakan alasan tersebut.
"Cuma sama Cia aja?"
"Iya. Cuma sama Cia kok."
"Ya udah hati-hati. Bilang sama Cia jangan bawa mobil ngebut-ngebut. Sama sekalian aku mau ngasih tahu kamu kalau mungkin nanti aku pulangnya agak malam karena masih ada yang harus aku selesaiin."
Bibir Selenia seketika memberut mendengar berita itu. Mulai deh hardworker garis keras. Padahal dulu udah janji nggak bakal lembur-lembur lagi.
"Malem banget?" tanya Selenia datar.
"Enggak kok sayang. Ya udah kamu hati-hati. Jangan pulang malem-malem."
"Oke deh, kalau begitu aku berangkat ya."
"Okey. Love you."
Selenia melirik Cia lagi. "Love you more," balasnya yang langsung mendapat cibiran dari Cia.
Setelah itu, mereka pun segera cabut dari rumah.
Mereka memutuskan untuk membeli susu bumil di supermarket karena sekalian Cia mau belanja kebutuhan bulanan untuk di rumahnya. Mamanya meminta tolong katanya mumpung sekalian Cia keluar.
"Emang hari ini Aldo nggak ada jadwal les?" tanya Selenia yang mengetahui kebiasan Cia yang biasanya selalu anter adiknya les.
Cia menggeleng. "Seminggu kan cuma tiga kali doang."
Selenia manggut-manggut. Dia mengamati Cia yang mengemudikan mobil sambil kepalanya mengangguk-angguk dan kadang geleng-geleng mengikuti irama musik yang dia putar. Kadang dia juga bersenandung menirukan lirik lagunya. Dalam hati dia iri banget sama Cia, karena di usianya yang ke 17 tahun, dia sudah memiliki SIM dan diizinkan untuk bawa mobil. Sedangkan dia? Jangankan bawa mobil sendiri, ngomong pengen belajar nyetir aja, tatapan Adam sudah mewakili jawaban 'tidak'nya. Tunggu sampai kamu lulus SMA, nanti baru boleh latihan dan bawa mobil sendiri bonus dapat SIM. Begitu yang pernah dijanjikan Adam padanya. Tapi sama aja sih, Cia juga tidak pernah bawa mobil sendiri ke sekolah karena lebih sering dianter sopir dan dijemput Marvin.
Mereka tiba di supermaret. Setelah memarkir mobil, keduanya lalu keluar dan berjalan beriringan memasuki supermarket yang lumayan ramai oleh pengunjung. Tak lupa Cia mengambil keranjang dorong, lalu mereka berkeliling dari rak satu ke rak lain. Cia mencomot beberapa barang titipan Mamanya yang sudah dia catat di aplikasi notes di ponselnya. Ada susu, minyak goreng, gula, mentega, sarden, daging kaleng, cemilan, sabun mandi, sabun cuci, shampoo, dan beberapa kebutuhan rumah tangga lainnya.
Setelah dirasa cukup, mereka kemudian menghampiri rak yang berisi beraneka macam susu ibu hamil. Selenia bingung saat dihadapkan dengan rak yang menjulang tinggi dan memanjang di hadapannya. Berbagai macam susu bumil dengan berbagai merk terpajang di sana. Mana nih yang mau dibeli? pikirnya sembari menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.
"Aduh banyak banget lagi," keluh Selenia. "Yang mana nih Ci?" dia meminta pendapat.
__ADS_1
Sebagai orang yang sama-sama belum pernah membeli beginian, Cia pun juga bingung. Tadinya dia pikir susu bumil cuma satu doang, yang ada gambar ibu hamilnya. Tapi ternyata di sini juga ada susu bumil yang gambarnya bukan Ibu hamil melainkan perempuan dengan bentuk perut rata.
"Ini deh kayaknya Sel," Cia menunjuk ke salah satu produk yang bergambar Ibu berperut rata. "Ini kayaknya buat yang awal-awal hamil gitu kaya elo," dia mencomot satu dan membaca tulisan di belakang kotaknya.
Selenia mendekat turut membaca.
"Iya Sel, ini buat awal-awal kehamilan. Di sini keterangannya buat mencegah mual-mual gitu."
"Eh iya deh ambil yang itu. Biar gue nggak mual-mual terus."
"Lo mau beli berapa?"
"Satu aja dulu deh atau dua. Kan baru pertama kali, takutnya nggak cocok."
"Ya ampun Sel. Nanggung banget, udah jauh-jauh ini."
"Gue kan kudu mikir bawanya juga ke rumah, oneeeng. Kalau gue beli banyak terus ketahuan sama Adam, gagal deh rencana gue."
Cia memutar bola matanya dan mendengus sebal. Itu lagi. "Makanya nggak usah kaya gitu segala," dia mulai menggerutu.
"Udah deeeeh nggak usah mulai," sahut Selenia. "Udah bagus gue mau beli."
"Eh ini juga buat anak lo dodol!" Cia menabok lengan Selenia menggunakan susu kotak di tangannya.
"Auuhh...!" Selenia mengusap-usap bahunya. "Sakit! Ya udah makanya nggak usah ngomel-ngomel terus."
"Jadi fix lo milih yang ini?"
Selenia mengangguk. "Fix."
Sedang sibuk berdebat menentukan pilihan, seseorang tiba-tiba memanggil Selenia dari belakang mereka dan membuat mereka tersentak.
"Selenia?" itu suara Renata.
Spontan Cia langsung melempar susu bumil ke dalam keranjang belanjaan.
"Renata?" Selenia memutar tubuh dan tersenyum getir. Dia melihat barang belanjaan Renata di dalam keranjang yang juga lumayan banyak.
"Kamu ngapain di sini?" Kening Renata mengerut melihat rak yang berisi berbagai macam susu hamil di hadapan mereka.
"Eee... ini aku... nemenin temen aku belanja sama nyariin titipan tantenya dia yang lagi hamil muda," jawab Selenia asal. "Iya kan Ci..." dia melirik Cia dan mengangguk, mengirimkan signal supaya Cia juga melakukan hal yang sama.
Fyuhh!! Selenia bernafas lega. Cia memang top soal ngibul ternyata.
"Oooh..." Renata manggut-manggut.
"Kamu sendiri ngapain? Kamu udah pulang ya?"
"Biasa, aku juga lagi belanja," Renata menunjuk isi dalam keranjang dengan matanya. "Kebutuhan Nola sih yang banyak. Dan iya aku sengaja nggak ambil lembur. Capeeek."
Selenia melihat isi dalam keranjang belanjaan Renata yang didominasi Pampers dan susu bayi.
"Ya sudah kalian lanjut. Aku juga mau ke kassa," kata Renata kemudian sembari mengambil beberapa snack khusus bayi yang ada di rak yang berhadapan dengan rak susu bumil. "Daaa Sel... aku duluan ya."
Cia mengamati langkah Renata yang kian menjauh dan gantian melihat Selenia yang mengambil satu kotak susu bumil lagi kemudian dia masukkan ke keranjang belanjaan Cia.
"Lo baikan ya sama Renata?" tanya Cia posessif.
"Semenjak dia minta gue kembali ke rumah Adam waktu itu, gue udah nggak bisa neting lagi sama dia."
"Lo yakin dia bisa dipercaya?"
"Gue percaya sama Adam Ci. Dan sejak saat itu gue nggak pernah ngerasa bad feeling lagi. Kali ini gue percaya sama feeling gue.
"Bagus deh kalau gitu. Semoga aja Renata juga lebih tahu diri kalau mau deketin seseorang."
Selenia tersenyum dan mengangguk. "Ya udah kita balik yuk. Lo udah cukup kan belanjanya?"
Cia mengamati barang-barang belanjaan di dalam keranjangnya sejenak dan mengacungkan jempol.
"Sip. Yuk kasir."
...🌺🌺🌺...
Malamnya, tanpa sepengatahuan Bi Iyah, Selenia menyelinap masuk ke dapur untuk mengambil termos kecil berisi air panas sekaligus gelas kosong lalu membawanya ke kamar. Karena dia tidak mungkin untuk membuat susu bumil di dapur. Beruntung saat dia pulang dari supermarket tadi, Adam belum ada di rumah. Dia masih di kantor, katanya lembur sampai jam 7 malam. Jadi tidak ada yang over posessif bertanya dan korek-korek isi tasnya.
Selenia membuka salah satu susu bumilnya--karena dia hanya beli dua tadi--dan mencium aromanya yang seketika justru membuat perutnya eneg. Ya ampun, belum juga dicobain, udah eneg aja. Selenia menutup hidungnya. Katanya buat mencegah supaya nggak mual-mual. Selenia membaca ulang tulisan kecil di pojok kotak susu tersebut. Namanya juga iklan, buk.
__ADS_1
Tapi dia tidak mau menyerah, ini kan demi bayinya juga. Kasian sudah beberapa minggu tidak mendapatkan asupan yang sesuai. Mana nggak dapat perhatian dari Bapaknya lagi. Eh tapi ini bukan salah Adam. Selenia saja yang memang rada keras kepala. Hihihi...
Setelah susu bumilnya jadi, Selenia menghela nafas panjang sebelum menenggak susu tersebut.
Glek glek glek glek!
Selenia berhasil menghabiskan segelas susu sembari menutup hidungnya. Baunya amis banget dan bener-bener bikin eneg. Kenapa beda banget sama susu biasa sih?
Setelahnya dia justru merasakan perutnya makin mual. Masa iya baru diminum harus dimuntahkan sekarang juga? Jangan dong sayang. Selenia mengelus-elus perutnya.
"Jangan rewel ya sayang. Mommy kan lagi kasih kamu makanan enak," ucapnya pada perutnya sendiri.
Tapi sayang, semakin dia menahan, semakin isi perutnya memberontak ingin keluar. Selenia kemudian berlari ke kamar mandi di kamarnya dan langsung memuntahkan semua susu yang baru beberapa menit masuk perut.
Tak lama kemudian, saat Selenia masih di kamar mandi, dia mendengar deru mesin mobil Adam memasuki garasi. Jadi sebelum Adam naik dan melihatnya sedang teler, Selenia buru-buru membasuh muka, dan kembali ke kamar untuk menyimpan susunya di dalam laci nakas.
Tok tok tok! Pintu kamarnya diketuk dari luar. Itu pasti Adam.
"Masuk!" sahut Selenia.
Pintu terbuka. Adam menyunggingkan senyum pada Selenia yang sedang duduk di atas tempat tidur.
"Malam sayang," Adam melangkah dengan gontai memasuki kamar Selenia. "Kamu lagi ngapain?"
"Nggak lagi ngapa-ngapain kok. Nggak ada temen di bawah, jadi aku... di kamar aja deh."
"Maaf ya..." Adam mengusap-usap kepala Selenia. "Tadinya aku nggak pengen lembur, tapi terpaksa daripada besok kerjaan makin numpuk."
"Iya nggak pa-pa kok. Yang penting kasih kabar aja."
"Bahan buat tugas sekolah udah dapet?"
"Ee... u-udah Dam. Tapi dibawa Cia. Soalnya kan aku satu kelompok sama dia... jadi biar sekalian ngumpul barangnya," jawab Selenia bohong.
"Ohhh... tugas kelompok?" Adam manggut-manggut.
Dia duduk di tepi tempat tidur Selenia saat matanya menatap heran ke termos air panas kecil yang ada di atas nakas kamar Selenia dan gelas kosong yang terlihat telah dipakai. Sepertinya bekas susu. Keningnya mengerut.
Selenia yang sadar akan hal itu, mengumpat dalam hati kenapa dia bisa sampai lupa tidak memasukkan termos dan gelas itu ke dalam laci juga?
"Kamu... habis minum susu? Bikinnya di kamar?" tanya Adam.
"Eee... tadi aku tuh di dapur... trus... karena takut nggak ada temennya jadi aku bawa ke kamar dan aku bikinnya di sini. Males bolak-balik soalnya," jawab Selenia asal. Semoga aja Adam nggak curiga.
"Ya ampun, takut kenapa sih sayang? Kan Ada Bibik...." seketika Adam ingat cerita Pak Tono tentang orang yang mengintai rumahnya saat dia di luar kota. "Ada yang mengintai rumah ini lagi?"
Kini giliran Selenia yang mengerutkan kening. Kenapa jadi ngomongin pengintai?
"Enggak kok," Selenia menggeleng. "Emang ada yang suka ngintai rumah kita?" kepalanya celingukan.
Aduh, kenapa jadi salah ngomong gini sih? batin Adam. Selenia kan tidak pernah tahu soal ini.
"Enggak. Bukan gitu maksudnya. Aku cuma bercanda."
"Hmmmm.... Ya udah kamu buruan ganti baju gih... bau keringat niiih," Selenia pura-pura menutup hidungnya.
Adam mencium pangkal lengannya satu per satu. "Apaan orang aku masih wangi gini," protesnya.
"Iya tapi buruan mandi juga sana. Biar fresh."
Adam tersenyum dan mengacak-acak rambut Selenia gemas lalu bangkit dari duduknya. "Oke sayang."
Dia baru saja berjalan beberapa langkah saat tiba-tiba berhenti dan menoleh.
"Oh ya kamu udah makan malam?"
"Udah kok tadi. Kamu sendiri?"
"Udah juga tadi di kantor."
"Ya udah cepetan mandi sana....!" Selenia pura-pura mengusir Adam dengan mengibas-ngibaskan tangannya.
"Baik tuan putriiiii...." jawab Adam sembari bergaya menunduk hormat sebelum meninggalkan kamar Selenia.
Saat pintu kamarnya kembali tertutup, Selenia bernafas lega karena Adam tidak menaruh curiga padanya. Sabar ya sayang, bantu Mommy supaya rencana kita berjalan lancar. Ucapnya lagi sembari mengelus-elus perutnya sendiri.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...