
Setelah mengantar pakaian kotor ke laundry, Tony kembali lagi ke rumah sakit dan langsung menemui petugas bagian keamanan di lantai 3. Dia datang ke ke sana untuk meminta diperlihatkan rekaman cctv khusus di ruang ICU tempat Adam di rawat, dan mencari tahu siapa orang yang mencoba mencelakai Adam.
"Stop, Pak!" ucap Tony saat sebuah kamera terlihat menyorot langkah laki-laki yang baru keluar dari ICU dengan terburu-buru karena aksinya terpergok oleh Tony. Sekilas ada juga gambar Tony di kamera itu saat dia berusaha mengejar. "Agak di zoom dikit Pak."
Petugas keamanan itu menuruti perintah Tony dan mengzoom hasil video yang telah dipause. Tony mengamati dengan seksama gambaran orang yang ada di layar. Dia lalu mengeluarkan ponsel dan memotretnya beberapa kali.
"Sudah Pak," dia kembali melasakkan ponselnya ke saku celana. "Terimakasih, saya permisi dulu."
Saat Tony berlalu, petugas itu cuma bisa bengong memandangi layar di depannya dan pintu ruangan bergantian. Dia intel muda kali ya? pikirnya.
...🌺🌺🌺...
"Tony mana mas? Kok ke laundrynya lama banget?" tanya Bu Riska lirih.
"Paling dia mampir dulu ke basecamp sebentar Ris, ketemu teman-temannya," jawab Pak Anton. "Sudahlah, kamu istirahat saja. Besok kan kamu harus kemo lagi, fisik kamu nggak boleh lemah."
Bu Riska tersenyum kecil. "Fisikku memang sudah lemah kan mas? Aku kan sudah tidak seperti dulu lagi...."
"Riska, kamu jangan putus asa. Kamu harus yakin kalau kamu pasti bisa sembuh," Pak Anton membelai rambut mantan istrinya itu ragu-ragu. Ada beberapa helai rambut yang turut jatuh saat tangannya turun ke bawah.
Melihat rambutnya yang rontok, Bu Riska hanya tersenyum getir. Apakah dia harus seyakin yang dikatakan mantan suaminya itu? Penyakit yang menggerogoti tubuhnya ini kan sudah parah. Pada awalnya, dia menolak saat Pak Anton meminta dia di rawat di rumah sakit dan menjalani kemotrapi. Dia merasa tidak pantas menerima semua ini dari mantan suaminya. Malah, suaminya yang sekarang saja tidak tahu lagi di mana rimbanya. Dia malu.
"Ris..." Pak Anton menggenggam tangan Bu Riska. "Ada satu hal yang ingin aku sampaikan ke kamu," tatapan matanya penuh arti.
"Apa mas?"
"Sebenarnya, aku masih mencintai kamu. Aku tahu, dulu kamu meninggalkan aku karena aku terlalu sibuk dengan duniaku, dengan bisnisku, sehingga kamu merasa terabaikan."
Bu Riska tidak menjawab. Apa yang dikatakan mantan suaminya itu memang benar adanya. Tapi dia sendiri pun juga memiliki rasa bersalah, karena memilih untuk melampiaskan rasa sepinya dengan cara mencari kebahagiaan dari pria lain. Pria yang di masa-masa sulitnya justru mencampakkan dirinya.
"Ris.... seandainya, aku minta kita untuk rujuk lagi.... apa kamu mau menerimaku kembali?"
Mata Bu Riska membulat. Dia menarik tangannya dari genggaman Pak Anton dan sedikit melengos. Apa dia tidak salah dengar? Mantan suaminya itu meminta rujuk dalam keadaan kondisinya seperti ini?
"Kamu ini bicara apa sih mas?" tepis Bu Riska pelan. "Ngomong kok ngelantur."
"Ris... aku ini bicara serius sama kamu," Pak Anton kembali meraih tangan Bu Riska. "Kita sama-sama salah, ayo kita perbaiki semuanya sama-sama juga...... demi Tony," imbuhnya.
Bu Riska menatap Pak Anton nanar.
"Mas... aku.... aku tidak tahu harus menjawab apa...."
"Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi?"
Bu Riska kembali terdiam. Perasaannya bimbang.
"Aku.... merasa tidak pantas untuk menjadi istri kamu lagi. Kamu lihat kan kondisiku sekarang?" Bu Riska sedikit menengadahkan kedua tangannya. "Apa yang kamu harap dari aku?"
__ADS_1
"Kenapa pertanyaanmu seperti itu? Yang aku harapkan cuma satu, kita bersatu lagi, bersama membangun keluarga kita."
"Tapi mas...."
"Kamu tahu nggak Ris?" Pak Tono menyela. "Aku pernah meminta pendapat Tony soal keinginanku ini. Dan kamu tahu dia ngomong apa?"
"Tony ngomong apa mas?" perasaan Bu Riska sudah tidak enak. Tony pasti menolak dan tidak mau Papanya kembali padanya.
"Dia menyerahkan semuanya padaku. Dia bilang, dia tidak punya hak untuk melarang apa yang membuat Papa dan Mamanya bahagia."
Bu Riska tersenyum haru. Benarkah Tony mengatakan demikian?
Jeglek!
Tiba-tiba pintu terbuka dari luar, saat Bu Riska baru saja akan membuka mulut untuk merespon ucapan Pak Anton. Tony muncul dengan wajah lelah dan langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa. Pak Anton dan Bu Riska sama-sama menatap ke arah Tony.
"Kamu dari mana aja Ton?" tanya Pak Anton dan Bu Riska bersamaan.
"Mampir sebentar tadi ke basecamp," jawab Tony bohong.
"Tuh kan bener apa ku bilang," Pak Anton melirik Bu Riska.
"Mama kok belum tidur. Bukannya besok harus kemo lagi?" Tony mengingatkan.
Ada hawa sejuk yang menerpa hati Bu Riska demi mendengar pertanyaan Tony yang penuh perhatian.
"Ya udah, sekarang kan Tony sudah di sini. Kamu tidur ya. Aku sama Tony nggak kemana-mana kok," sahut Pak Anton.
Bu Riska tersenyum dan mengangguk. Setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya, Pak Anton segera beranjak dan bergabung dengan Tony di sofa.
...🌺🌺🌺...
Malam telah larut. Tapi Selenia tidak bisa tidur. Dia takut, saat dia terlelap, orang jahat itu akan kembali dan mencelakai Adam. Sedangkan Cia dan Marvin telah pulang. Selenia melihat mertuanya yang telah tidur dengan posisi duduk di sofa. Jadi, di rumah sakit ini, di dekat ruang ICU kelas VIP, ada satu ruangan khusus di sebelahnya yang dikhususkan untuk keluarga yang menginap menunggu pasien. Ruangan ini menyerupai kamar. Terdapat tempat tidur, lemari untuk menyimpan pakaian dan juga kamar mandi di dalamnya.
Selenia berjalan mengendap-endap keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan hati-hati. Dia ingin menghampiri Adam di ICU dan menemaninya di sana. Selenia kangen banget dengan canda tawanya.
"Sayang...." Selenia menggenggam tangan Adam erat dan menciumnya berkali-kali. "Banguuun.... aku kangeeen sama kamu," dadanya terasa sebak sekali.
"Kamu udah janji sama aku, kita bakal sama-sama terus kan? Kamu juga janji bakalan jagain aku dan anak kita kan?"
Don't ever leave me..... Kamu itu separuh jiwaku, kamu berarti banget buatku, and I feel so blessed to have you... you are my everything.
Kalimat yang diucapkan Adam langsung di depannya saat mereka birthday dinner di Carlos kemarin masih terngiang jelas di telinga Selenia. Kilasan-kilasan kebersamaan mereka selama ini juga berkelebatan di benaknya, membuat Selenia semakin menangis pilu.
Selenia masih ingat apa yang dilakukan Adam saat dia memberinya kejutan di hari ulang tahunnya yang ke 17 dengan meletakkan kue ulang tahun diam-diam di depan pintu kamarnya. Caranya memberikan perhatian khusus sebagai seorang suami, yang justru dibalas cuek dan jutek oleh Selenia.
Selenia juga ingat bagaimana dia yang akhirnya mencoba untuk membuka hati dan menerima kenyataan bahwa Adam bukanlah orang lain untuknya. Meski terkadang dia masih merasa canggung untuk menunjukkan semuanya.
__ADS_1
Selenia masih ingat jelas semuuuuuuaa yang pernah mereka lalui bersama. Pertengkaran, perdebatan kecil, yang ujung-ujungnya selalu Adam yang mengalah dan meminta maaf. Pelukan, ciuman, perhatian, semua tertata rapi di dalam memori Selenia. Dia membenamkan wajahnya di samping Adam dan terisak. Kebersamaan yang indah itu terasa begitu singkat.
"Maafin aku yang selama ini selalu bawel, cerewet dan bikin kamu kesel. Tolong sekarang kamu banguuuun.... sayang..." ucap Selenia tersengal-sengal. Lalu dia kembali mengangkat kepala, menopang dahinya dengan tangan dan menatap wajah Adam dengan pandangan sayu karena terlalu banyak menangis akhir-akhir ini.
"Kamu tahu nggak? baby kuat banget.... dia nggak rewel meski kondisi aku kaya gini.... dia ngertiin aku banget... jadi aku mohon kamu juga kuat ya sayang. Kita bakalan rawat dia bareng-bareng kan? Iya kan? hiks hiks hiks."
Tanpa Selenia sadari, seseorang mengawasinya dari balik pintu ruang ICU. Dia Pak Anton yang sengaja datang untuk melihat keadaan Adam. Pak Anton sudah mendengar semua kejelasannya--tentang Adam yang ternyata sudah menikah (siri)--dari Renata. Awalnya dia cukup kaget dan tidak percaya kalau yang dinikahi staff kesayangannya itu anak ABG yang masih sekolah. Tapi saat kini dia melihatnya sendiri, mau tak mau dia mempercayainya. Dan ternyata istri dari staff kesayangannya itu adalah teman sekolah Tony.
Awalnya mereka memang menikah karena dijodohkan, Pak. Tapi yang saya lihat sekarang, mereka saling mencintai. Kata Renata saat itu.
Saya mohon ya Pak. Tolong bapak jangan sebarkan berita ini ke semua orang kantor. Saya tidak mau, mereka berasumsi buruk pada Pak Adam hanya karena dia menikahi anak yang masih sekolah. Sebagian dari mereka mungkin bisa mengerti, tapi saya tidak yakin dengan yang lain. Saya takut, kalau asumsi mereka akan membawa dampak buruk bagi Pak Adam dan menghancurkan citra baik yang selama ini sudah susah payah dia bangun.
Melihat Selenia yang tampak terpukul atas peristiwa yang menimpanya, Pak Anton yakin apa yang dikatakan Renata adalah benar. Mereka terlihat saling mencintai satu sama lain. Kesedihan dan kekhawatiran Selenia, sama seperti saat dia mendengar berita tentang mantan istrinya yang menderita leukemia.
Mungkin ini alasan Adam tidak bisa menerima program study itu.
Semoga kamu cepat sadar dari koma Dam. Semua yang ada di sini membutuhkan kamu. Perusahaan juga kalang kabut tanpa kamu. Pak Anton menghela nafas kemudian berlalu.
...🌺🌺🌺...
"Sayang.... kamu denger aku ngomong?" mata Selenia berbinar di tengah isakannya. Dia melihat air mata mengalir dari ujung mata Adam yang masih terpejam. Selenia bangkit dan memencet tombol di atas kepala Adam untuk memanggil dokter atau suster.
Tak lama kemudian seorang dokter dan suster mendatangi ruangan Adam.
"Dokter, tolong suami saya. Tadi saya melihat dia meneteskan air matanya.... dia pasti sudah sadar kan dok? Dia bisa mendengar saya kan dok?" tanya Selenia antusias. Ada setitik kebahagiaan dan harapan di dalam hatinya.
"Mohon tenang dulu ya Ibuk," balas si suster ramah. "Ibuk sebaiknya menunggu di luar, biar kami cek kondisi dan keadaan pasien."
Selenia menurut. Di luar, dia berpapasan dengan mertuanya yang memasang wajah panik.
"Ya ampun sayang, kamu dari mana?" Bu Lisa langsung menghampiri. "Mama udah bingung banget, pas Mama bangun, kamu nggak ada di tempat tidur. Kamu kemana aja? Kamu kan harus istirahat sayang..."
"Ma... tadi aku ke kamar Adam... aku ajak ngobrol dia dan dia ngerespon ma.... dia netesin air matanya...." jawab Selenia menggebu-gebu.
"Beneran sayang? Terus sekarang gimana? Ayo kita ke dalam..." Bu Lisa sudah menarik tangan Selenia mengajaknya masuk ke ruangan Adam.
Pak Edwin turut tersenyum mendengar kabar itu. Dia mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah dan berbisik 'Alhamdulillah'.
"Ma..." Selenia menahan langkah Bu Lisa. "Ada dokter dan suster di dalam. Mereka lagi ngecek kondisi Adam. Kita tunggu di sini ya ma... semoga saja Adam sudah berhasil melewati masa-masa kritisnya...."
"Amiin sayang... amiin..." Bu Lisa kembali berbalik dan mendekap Selenia.
Malam itu mereka bertiga sama-sama menunggu dengan perasanan tak menentu.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1