
Cia sedang santai di kamarnya malam itu. Duduk di tepi jendela, menikmati malam yang mendung di luar, sambil makan kuaci--cemilan favoritnya--yang katanya gak bikin gendut. Gerimis yang mengguyur sore tadi membuat suasana menjadi sedikit sejuk, cenderung dingin. Cia merapatkan badannya namun tak juga beranjak dari sana. Matanya menatap lurus ke arah rumah Marvin. Memang sih rumah itu tidak cukup jelas dilihat dari sini. Hanya pijaran lampunya yang seolah menunjukkan bahwa sudah ada tanda kehidupan di sana, setelah berbulan-bulan rumah tersebut tak berpenghuni.
Brak brak brak!
Gedoran keras pintu kamar membuat Cia reflek memutar tubuh.
Pasti Aldo, ngapain lagi sih tu anak? Cia menggeram sembari menghentakkan kaki berjalan menuju pintu.
"Bisa nggak sih ketok pintunya biasa aja? Gak usah pake tenaga dalam?!" gerutu Cia.
Aldo, adiknya yang masih duduk di kelas 2 SMP itu cuma nyengir. "Hehe... sorry sorry..."
"Mau apa?" tanya Cia ketus.
"Mau pinjem earphone... hehe..."
"Bukannya kamu baru aja beli beberapa hari yang lalu?" sergah Cia. Terhitung sudah lebih dari empat kali adiknya itu meminjam earphonenya namun benda itu tidak pernah kembali alias diakui jadi hak milik oleh Aldo. "Udah berapa kali kamu pinjem earphone punya Kakak? Udah kamu balikin belom?" Cia memelototkan matanya.
"Ya elah Kak, sama adek sendiri juga gitu amat. Cuma earphone doang." Aldo mulai merajuk.
"Bukan masalah 'cuma earphone doang'. Masalahnya kamu kalo pinjem barang tuh nggak pernah dibalikin lagi. Nggak ada tanggung jawabnya sama sekali!" balas Cia. Kali ini dia tak mau lagi terpancing dengan mimik memelas dari wajah Aldo.
"Janji deh yang ini bakal dibalikin," Aldi mengatupkan kedua tangannya seolah memohon. "Please Kak..."
Cia menyandarkan tubuhnya ke kusen pintu dan bersedekap. "Kakak mau nanya. Earphone kamu yang baru kemana?"
Aldo merogoh saku celananya dan memperlihatkan headset yang telah rusak. Kabel dan butiran headset tersebut telah terpisah menjadi dua bagian. Sontak saja melihat hal itu membuat Cia membelalak. Dia heran sekaligus kaget. Karena setahu dia, itu earphone mahal yang pernah dibeli Aldo lewat toko online shop.
"Kok bisa sih?" Cia mengerutkan keningnya.
"Ini kerjaan Cleo tuh," jawab Aldo. Cleo itu kucing peliharaan Aldo.
"Dih, pakek nyalahin kucing lagi!" sahut Cia. "Makanya kalau punya barang tuh ditaroh yang bener. Jangan cuma asal-asal aja. Mentang-mentang duit tau minta aja..."
"Ya mana Aldo tahu kalo ni earphone bakal dimainin sama Cleo. Orang Aldo naruhnya juga udah diatas rak," bantah Aldo tak mau kalah.
"Enggak. Kali ini kakak nggak mau minjemin earphone kakak buat kamu. Bisa-bisa nasibnya sama lagi kaya punya kamu tuh," kata Cia akhirnya.
"Aduh Kak Cia... please.... janji Aldo bakal balikin setelah nggak kepakek... janji nggak bakal ditaroh sembarangan. Please... please..." Aldo semakin merajuk dan merengek.
"Kalau kakak bilang enggak ya enggak. Udah udah udah, balik ke kamar sana," usir Cia pelan.
Namun Aldo bersikeras untuk tetap berada disitu sampai kakaknya itu meminjaminya earphone.
"Lagian kamu tuh jangan maen PS sama game online terus! Belajar sana!" bentak Cia.
"Aduuuuh ini kenapa sih ribut-ribut??!!" Bu Hilma, Mama mereka datang menghampiri. "Ada apa sih? Aldo kenapa nggak belajar?"
Cia mencibir ke arah Aldo. "Tuh dengerin orang tua ngomong!" imbuh Cia.
Merasa tidak ada yang memihak dirinya, Aldo pun menghentakkan kakinya dan beranjak dari situ.
"Awas kalau kakak minta tolong aku buat beliin ini itu!" Ancamnya sembari berlalu.
__ADS_1
"Eeeeh... malah ngancem..." Cia sudah hampir mengejar anak itu tapi kemudian ditahan oleh Mamanya.
"Udah dong Cia," Ucap Bu Hilma kalem. "Tuh di luar ada yang nyariin kamu."
"Hmmm?" Cia menegakkan lehernya. "Siapa Ma?"
"Mama juga nggak tahu," Bu Hilma menggeleng. "Sebelumnya belum pernah lihat dia datang ke sini."
Cia menggaruk kepalanya yang nggak gatal.
"Ya udah temuin sana. Kasian."
"Oke deh," jawab Cia. Dia melangkah malas menuruni tangga.
...🌺🌺🌺...
"Hai Ci," sapa Marvin lembut.
Ternyata orang yang dimaksud Bu Hilma adalah Marvin. Dia datang ke rumah Cia sambil membawakan martabak manis.
"Eh, Marvin? Udah lama?" tanya Cia.
"Enggak kok, baru aja," Marvin menyodorkan bungkusan berisi martabak manis tersebut kepada Cia. "Nih buat kamu."
Mereka kemudian duduk di kursi teras. Cia membuka bungkusan tersebut. Matanya berbinar melihat makanan kesukaannya. Meskipun dia takut gendut, tapi kalau sudah melihat martabak dan donat, ketakutannya itu seperti menguap begitu saja.
"Wah... makasih ya," ucap Cia. "Tapi ini banyak banget, sampai 3 kotak."
"Ya nggak pa-pa. Kan bisa buat dimakan bareng sama orang rumah," kata Marvin. Dia mengusuk-usukkan kedua belah telapak tangannya untuk mengusir rasa dingin.
"Udah nggak usah repot-repot Ci," Marvin menggeleng.
"Enggak kok, cuma minuman aja. Ya udah tunggu ya."
Cia masuk ke dalam rumah dan memberikan martabak itu ke Bibik supaya menyiapkan di piring sementara dia menyeduh coklat hangat.
"Siapa sih Ci tamunya?" Mama menghampiri Cia yang sedang meracik minuman.
"Itu orang baru di komplek ini Ma. Rumahnya di depan sana. Selisih 4 rumah dari rumah kita," jawab Cia.
Bu Hilma manggut-manggut. Bibik telah selesai menghidangkan martabak ke piring.
"Wah... martabak manis," Bu Hilma mencomot sepotong dan memakannya. "Ini dia yang bawain?"
Cia mengangguk. Dia pun telah selesai membuat coklat hangat.
"Manis banget dia," goda Bu Hilma.
Cia tidak terlalu menghiraukan godaan Mamanya dan mulai mempersiapkan semuanya di atas nampan. Lalu setelah itu membawa hidangan tersebut keluar. Marvin yang sedang bermain dengan ponselnya saat Cia keluar, buru-buru meletakkan ponsel ke atas meja.
"Diminum Vin," Cia menyodorkan secangkit coklat hangat pada Marvin. "Mumpung masih anget."
"Makasih lho Ci."
__ADS_1
Mereka pun akhirnya ngobrol-ngobrol. Dari obrolan ringan itu Cia jadi tahu alasan Marvin dan keluarganya pindah ke komplek ini. Anak itu menjelaskan dengan gamblang. Seolah tidak keberatan kalau Cia tahu banyak hal tentang dirinya. Pun begitu dengan Cia. Meskipun baru kenal, dia menganggap Marvin itu nyambung diajak ngobrol. Nggak jaim. Marvin kuliah semester 4 di salah satu Universitas di kota ini. Letaknya tidak jauh dari SMA Bhakti Nusa.
Marvin merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara. Semua kakaknya perempuan. Mereka sudah menikah dan tinggal dengan keluarganya masing-masing. Jadi hanya Marvin lah yang kini tinggal bersama kedua orang tuanya di sini.
...🌺🌺🌺...
"Minum obat, terus tidur," pesan Adam sebelum Selenia masuk ke kamarnya. "Besok belum masuk sekolah kan?"
Selenia menggeleng. "Kamu juga istirahat ya," ucap Selenia.
Adam mengangguk pelan sembari tersenyum. Selenia berbalik dan masuk kamar. Namun baru beberapa langkah, dia kembali berbalik lagi dan mendapati Adam yang masih berdiri di tempatnya.
"Kok balik lagi? Ada apa?" tanya Adam.
"Dam..." ucap Selenia lirih. Dia tidak melanjutkan kalimatnya.
"Ya?"
"A-aku... aku minta ma'af," ucap Selenia terbata.
Adam mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ada apa dengan Selenia? Tanyanya dalam hati. Dia lalu berjalan mendekati Selenia. Sekarang posisi mereka berada di kamar Selenia, tepatnya di ambang pintu.
"Kamu kenapa sih? Kenapa ngomong gitu? Minta ma'af untuk apa?" tanya Adam lembut.
"Karena aku belum bisa menjadi istri yang seutuhnya buat kamu," tiba-tiba dada Selenia terasa sebak saat mengatakan hal itu. Dia ingin menangis tapi sebisa mungkin ditahan.
"Ssshhh," telunjuk Adam menyentuh bibir Selenia. "Kamu jangan ngomong begitu, aku nggak suka."
"Aku tahu Dam kamu sebenarnya juga capek kan jalanin semua ini?"
"Siapa yang bilang? Aku nggak pernah ngomong begitu kan?"
"Kamu memang nggak ngomong, tapi aku ngerasain itu... Dam." Selenia terisak. Dia sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.
Adam menangkup wajah Selenia dan menyeka air mata itu dengan kedua jempolnya.
"Hei... hei... sayang... kamu nggak perlu ngomong gitu. Itu cuma perasaan kamu aja. Aku nggak pernah ngerasa seperti itu selama ini. Kamu percaya sama aku," tutur Adam.
"Tapi Dam...."
Adam menggeleng. "Nggak ada tapi. Sekarang kamu minum obat, terus istirahat. Jangan mikir yang macem-macem. Oke."
Selenia menghela nafas panjang dan mengangguk. Sekarang dia jadi semakin tahu, kalau memang tidak ada orang tua yang ingin membuat hidup anaknya sengsara. Permintaan Ibunya kala itu memang aneh dan sulit diterima. Menikah di usia masih sekolah. Tapi ternyata, orang pilihan Ibunya adalah orang yang tepat. Orang yang selalu bisa mengerti dan memahami posisinya. Orang yang tidak banyak menuntut meskipun dia tahu dia punya hak.
Cup!
Kecupan lembut mendarat di kening Selenia, membuat anak itu tersentak. Kali ini Adam terang-terangan melakukan itu padanya, dan dia tidak marah. Justru butiran bening kembali jatuh ke pipinya. Selenia terharu. Entahlah, tidak bisa dilukiskan. Yang dia tahu sekarang, dia takut kehilangan sosok ini.
"Good night, have a nice dream," ucap Adam sebelum meninggalkan kamar Selenia.
"Night," balas Selenia lirih.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...