
Tok tok tok!
Tony sedang memantau live streaming turnamen game online yang diikuti teman-temannya di kamar, saat mendengar pintu diketuk.
"Masuk!" sahutnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Jeglek!
Pak Anton berdiri sejenak di ambang pintu, memperhatikan Tony yang mengacuhkan kedatangannya. Dia menghela nafas berat kemudian berjalan mendekati Tony.
"Lagi sibuk Ton?"
Tony menutup tayangan live streaming yang sedang dia tonton dan meletakkan ponselnya.
"Kenapa Pa?" tanya Tony malas.
"Papa panggil-panggil kamu dari bawah buat makan malam, kenapa kamu nggak turun?"
Tony tersenyum sinis. Apa iya Papa harus menanyakan sesuatu yang sudah dia ketahui jawabannya? Lagipula Tony juga heran dan kaget kenapa Papanya malam ini mengundang Mamanya untuk makan malam di rumah mereka? Bikin mood rusak saja.
"Kan aku udah bilang kalau aku nggak lapar," jawab Tony datar.
"Kamu jangan bohong," Pak Anton menyangkal. "Kamu nggak mau turun karena ada Mama kamu kan?"
Tony kembali tersenyum sinis. "Kalau begitu Papa harus nanya? Papa kan sudah tahu alasannya," dia menyilangkan kedua tangannya di dada.
Pak Anton menarik nafas dan melihat sekeliling kamar Tony yang dipenuhi dengan poster-poster game online dari masa ke masa. Hanya ada dua buah fotonya di kamar ini. Satu foto Tony sendiri saat masih di SMA lama, dan kedua foto Tony bersama Ayahnya saat liburan di Singapore. Tak ada satupun gambar atau kenangan yang mengingatkan dia dengan sosok Riska, Ibunya.
"Ton...." ucap Pak Anton kemudian. "Kamu tahu kan, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua?"
"Maksud Papa?"
"Mungkin selama ini kamu berpikir kalau Mama kamu adalah orang yang jahat karena sudah tega meninggalkan keluarga demi laki-laki lain."
"Memang kenyataannya begitu kan Pa?" sahut Tony. Moodnya mulai berantakan setiap kali membahas soal itu. "Udah lah Pa, nggak usah dibahas lagi kenapa sih? Dia datang ke sini pasti karena keluarga barunya nggak sesuai ekspektasi dia. Makanya dia cari pelarian."
"Ton!" bentak Pak Anton dengan suara agak meninggi.
Tony spontan menegakkan leher melihat ekspresi Papanya.
"Jaga bicara kamu ya Ton. Biar bagaimanapun dia itu tetap mama kamu, perempuan yang melahirkan kamu. Nggak pantas kamu bicara seperti itu."
"Tapi dia udah ninggalin kita Pa. Dari aku masih kecil..." bantah Tony. "Demi apa coba? Hah?!"
"Papa tahu apa yang dilakukan mama kamu memang tidak bisa dibenarkan," suara Pak Anton terdengar mulai memelan. "Tapi semua itu terjadi bukan sepenuhnya kesalahan dari mamamu saja, Ton."
Tony menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku makin nggak ngerti ya Pa. Dulu saat dia pergi dan nggak pernah temuin kita lagi kayaknya Papa biasa-biasa aja. Tapi sekarang kenapa kaya gini? Apa sih sebenernya yang terjadi?!"
Pak Anton kembali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakan semuanya, supaya tidak terus berlarut-larut. Dia tidak tega setiap kali melihat raut muka mantan istrinya yang menyimpan luka karena sangat merindukan Tony. Malam ini, dia sengaja mengundang mantan istrinya itu untuk datang karena berharap mereka bertiga bisa kumpul bersama di meja makan dan berbicara dari hati ke hati. Tapi ternyata tidak semudah itu untuk membujuk Tony dan meluluhkan hatinya. Tatapan mata Tony pada Bu Riska sarat akan kebencian.
"Dulu, Papa nggak pernah cerita sama kamu karena Papa pikir kamu masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya Ton," mata Pak Anton menatap langit-langit kamar. "Tapi ternyata Papa terlalu sibuk dengan urusan Papa, sampai-sampai tidak pernah ada waktu untuk berbicara dan menjelaskan hal ini pelan-pelan sama kamu, saat kamu beranjak dewasa."
Tony mendengus lirih. Papanya sekarang menyadari betapa minimnya waktu yang dia luangkan untuk keluarganya. Waktu paling longgar hanya saat setelah jam makan malam. Itupun tidak setiap hari. That's why, Tony lebih sering menghabiskan waktunya di basecamp daripada di rumah.
"Perpisahan Papa dan Mamamu terjadi karena kesalahan Papa juga," imbuh Pak Anton.
"Dulu Papa pikir, dengan memberikan materi sebanyak-banyaknya pada Mama supaya semua kebutuhan dan keinginannya terpenuhi, sudah cukup dan akan selalu membuatnya bahagia...." Pak Anton mulai bercerita dengan nada sedih. "Tapi ternyata Papa salah."
Tony masih tidak bergeming. Tak ada satu kata pun yang ingin dia ucap untuk menyela Papanya. Entahlah... mendengar penuturan itu justru membuat perasaan dan logikanya seolah saling berbenturan.
"Bagaimanapun... waktu, perhatian dan kasih sayang, tetap menjadi sesuatu yang paling berharga dalam keluarga. Dan ternyata Papa tidak bisa memberikan semua itu...." Pak Anton mengusap wajah dengan kedua tangannya. ".... sampai akhirnya..... Mamamu bertemu seseorang yang bisa memberikan apa yang tidak bisa Papa berikan untuknya. Itu juga lah yang akhirnya membuat hak asuh kamu jatuh ke tangan Papa, Ton. Keluarga Papa yang tidak mengerti akar permasalahan yang sebenarnya, menganggap kalau Mamamu sudah mengkhianati Papa. Itu memang benar, tapi Papa tahu Mamamu melakukan itu karena dia punya alasan. Dan Papa sadar itu semua terjadi karena kesalahan Papa juga."
Suasana hening. Terlintas di ingatan Tony bagaimana masa lalunya bersama Mamanya. Bu Riska mungkin gagal menjadi seorang istri, tapi dia tidak gagal menjadi seorang Ibu. Saat keluarga ini masih utuh, Bu Riska selalu mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya untuk keluarga. Khususnya untuk Tony. Tidak pernah sekalipun dia membentak atau memarahi Tony di masa kecilnya dulu. Tapi semua itu memang seolah lenyap begitu saja semenjak dia menentukan pilihannya untuk berpisah dari Pak Anton. Terlebih saat dia mulai tidak pernah lagi datang untuk menemui Tony semenjak menikah lagi. Hal itulah yang mungkin membuat rasa rindu Tony berubah menjadi kebencian yang mendalam, dan menciptakan sebuah persepsi tersendiri dalam dirinya, bahwa Mamanya adalah orang yang tega meninggalkan keluarga demi laki-laki lain.
__ADS_1
"Ton... perceraian memanglah bukan sesuatu yang mudah untuk diterim," Pak Anton memegang bahu Tony dan meremasnya pelan. "Papa tahuuu banget, korban terbesar dari setiap perceraian adalah anak," matanya tampak berkaca-kaca.
"Tapi Papa mohon sama kamu, tolong.... tolong buka hati kamu untuk Mama. Dia sangat merindukan kamu, nak....."
Dada Tony seketika terasa sesak. Dia melengos karena tidak tahan melihat Papanya menangis. Tapi hatinya juga masih sakit dengan sikap Mamanya yang selama 10 tahun ini tidak mempedulikan dirinya. Jangankan peduli, ingat saja mungkin tidak. Dan prasangka itu telah terpatri begitu kuat dalam benaknya.
"Ton... kamu denger Papa ngomong kan? Kamu mau kan memaafkan Papa? Memaafkan Mama kamu juga?" Pak Anton menyeka air matanya. "Jangan diam saja Ton...."
"Untuk apa Papa minta maaf sama aku?" tanya Tony datar. Dia menengadahkan wajahnya ke atas mencoba menahan air mata yang tiba-tiba sudah mengambang di pelupuk matanya. "Papa kan selama ini selalu ada buat aku. Yah... meskipun kadang masih lebih sering sibuk juga."
"Kamu akan maafin Mama kamu kan Ton?"
Tony kembali terdiam dan menatap Pak Anton lurus. Untuk pertanyaan itu dia belum menemukan jawabannya. Dia tahu Papanya pasti menginginkan dia supaya memaafkan Mamanya. Tapi itu sangat berat untuk Tony lakukan saat ini.
"Aku belum tahu Pa. Aku masih butuh waktu."
...🌺🌺🌺...
"Gue nggak bisa minum susunya Ci, eneeegggg bangeeeeet!" rengek Selenia di telfon.
Selenia menelfon Cia dan menceritakan pengalamannya minum susu bumil untuk pertama kalinya. Dia berbicara hati-hati sambil sesekali melihat ke arah pintu mengawasi kalau saja tiba-tiba Adam masuk ke kamarnya.
"Ya orang ngidam kan emang gitu Sel... makanya lo tuh ngomong sama Adam. Aduhhh gue tuh greget banget sama sikap lo ini. Errrghhhh...!" Cia mengerang di ujung telfon.
"Ah... nggak nggak nggak..." bantah Selenia. "Pokoknya kalau gue bilang nggak sekarang ya enggak. Titik!"
"Ini nih, entah efek hamil atau bukan, lo tu sekarang juga jadi keras kepala banget. Lo nggak mikir? Siapa tahu aja kondisi lo yang sekarang ini tuh karena bayi lo juga pengen dapet perhatian dari Bapaknya. Peka dikit dong..."
"Ck, enggak lah. Gue baca di artikel online, ngidam emang kaya gini. Nggak ada hubungannya sama yang lo bilang barusan."
"Ya udah kalau gitu lo ngapain telfon gue? Ngeluh-ngeluh ke gue kalau ternyata saran gue aja nggak lo gubris, dodol?!!" gerutu Cia yang malah membuat Selenia terkikik. "Jangan ketawa lo. Sumpah ya Sel gue beneran gregetan sama sikap lo ini."
"Duuuh jangan sebel sama gue dong Ciaaaaa.... gue kan curhat. Masa lo malah kaya gitu sih tanggepannnya?"
"Gue kan cuma curhat Cia, nggak minta saran. Gue cuma curhat kalau gue abis minum susu itu gue malah jadi eneg. Udah itu aja."
"Arrrggghhh ya udah lah Sel... pusing gue. Terserah lo deh terserah... gue dengerin aja sambil nonton drakor. Ugggghhh!"
Selenia tertawa mendengar keputusasaan Cia. Bersamaan dengan itu, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dari luar, yang ternyata Adam.
"Eh Ci, udah dulu ya, ada Adam. Bye..." Selenia langsung mematikan sambungan telefon.
"Happy banget? Ngomong sama siapa sih?" Adam masuk dengan membawa sebuah bingkisan di tangannya. Dia sudah rapih dan terlihat fresh dengan balutan piyama tidur berwarna abu-abu dengan line putih di bagian kancing. Tapi matanya terlihat kuyu, entah karena kelelahan atau ngantuk.
Selenia yang tadinya rebahan langsung bangkit dan mengatur posisi duduknya.
"Sama Cia," jawabnya. "Itu apa Dam?" Selenia menunjuk bingkisan di tangan Adam.
Adam mendaratkan tubuhnya di samping Selenia dan meletakkan bingkisan tersebut di depan mereka.
"Ini dari Renata," kata Adam. "Sebenarnya sudah diberikan beberapa hari yang lalu, katanya sebagai ucapan terimakasih karena aku udah bantuin dia waktu itu. Tapi aku baru keinget tadi siang. Buka deh sayang, kamu pasti suka," dia merangkul pinggang Selenia.
Ada perasaan berdesir di tubuh Selenia saat tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Adam.
"Masa sih bisa sampai kelupaan?" cibir Selenia sembari membuka bingkisan tersebut. "Waaah..... couple? Lucu ih..." tangannya merentangkan salah satu baju couple di dalam kotak.
"Suka?"
"Ini buat kita? Renata ngasih ini buat kita?" Selenia menempelkan T-shirt seukurannya ke tubuhnya. "Ini kayaknya pas deh di aku."
"Syukur deh kalau kamu suka."
"Ini satunya buat kamu Dam."
__ADS_1
"Ya udah sekarang di simpen dulu," Adam menarik T-shirt dari tangan Selenia dan mengembalikannya ke dalam kotak. "Sekarang ini waktunya buat kita."
Deg! Jantung Selenia berdegup cepat. Jangan lagi please. Dia meraba perutnya pelan.
Adam memindahkan bingkisan tadi ke atas nakas. Dia lalu menutupi setengah tubuhnya dan tubuh Selenia menggunakan selimut.
"Dam... kita mau ngapain?" tanya Selenia lirih.
"Aku pengen tidur di sini. Boleh kan?"
Selenia mengatupkan bibirnya. Pikirannya sudah kemana-mana. Dia menatap Adam ragu.
"Kamu kenapa sayang? Boleh kan aku tidur di sini?"
"Tapi Dam... bibik..."
"Bibik kenapa?"
"Entar kalau tiba-tiba bibik masuk ke kamarku terus liat kamu..."
"Nggak mungkin lah sayang," bantah Adam. "Memangnya selama ini bibik suka masuk kamar kamu tanpa izin?"
"Enggak sih...."
"Kamu kenapa sih sayang? Kok kaya takut gitu?" Adam mengerutkan kening. "Ini aku lhoo... suami kamu..." candanya sembari mencondongkan tubuhnya ke Selenia yang otomatis membuat Selenia memundurkan tubuhnya.
"Eee... Dam... kamu boleh tidur di sini, tapi.... kita... nggak ngapa-ngapain kan?"
"He?? Hmmmpppfffhhh..... ya ampun sayang..." Adam mendekap tubuh Selenia gemas. "Emangnya kita mau ngapain?"
Selenia tersipu. "Kamu sendiri ngapain tidur di kamar aku segala?"
"Lhoh... memangnya nggak boleh? Kan tidur sama istrinya sendiri."
Sialan! Emang bener sih yang Adam bilang. Duh kenapa aku jadi oon gini sih? gerutu Selenia dalam hati. Dia cuma menggeleng pelan.
Adam yang sebenarnya tahu kekhawatiran Selenia, cuma bisa menahan geli dan membatin. Ternyata istrinya sudah peka dengan hal-hal seperti itu.
"Kamu nggak usah khawatir sayang. Malam ini kita nggak ngapa-ngapain kok. Aku cuma pengen tidur bareng sama kamu aja. Boleh kan?" dia menatap lembut ke wajah Selenia. "Lagipula aku juga udah ngantuk banget plus capek juga. Dan.... buat 'bermain' kayanya juga udah nggak mood."
Selenia mencibir mendengar kata-kata nggak mood itu. Boleh bangeeeeet....!! batinnya. "Boleh kok..." jawabnya lirih.
Adam lalu merebahkan dirinya dan Selenia bersamaan. Dia mendorong Selenia supaya membelakangi tubuhnya jadi dia bisa memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. Selenia cuma bisa pasrah. Dia merasakan sensasi bahagia tersendiri saat tangan Adam menyentuh bagian perutnya. Seperti merasa legaaaa sekali. Mungkin jabang bayi di dalam sana juga merasakan hal yang sama. Dia merasakan sentuhan lain yang belum pernah dia rasakan selama ini. Sayang, itu tangan Daddy kamu, batin Selenia berbicara pada bayinya di dalam perut. Bibirnya mengatup menahan senyum bahagia.
Selenia merasakan hembusan nafas teratur di kepalanya dan suasana kamar yang tiba-tiba menjadi hening. Lalu disusul dengkuran lirih yang nyaman banget didengar oleh telinganya.
"Dam..." panggil Selenia lirih.
Tidak ada sahutan.
"Dam... kamu udah tidur?" panggil Selenia lagi.
Masih tidak ada sahutan dan justru dengkuran yang kian teratur. Adam udah tidur?
Selenia tersenyum. Perlahan dia memutar tubuh menghadap ke Adam yang telah memejamkan mata begitu lelap. Ya ampun, kelihatan banget kalau capek. Baru juga rebahan bentar, udah ngorok aja. Batin Selenia geli.
"Love you soooooo much my husband. Good night and have a nice dream," bisik Selenia lirih yang tentu sudah tidak di dengar lagi oleh Adam. Dia memberikan kecupan lembut di bibir Adam yang tidak bereaksi karena telah dibuai mimpi.
Selenia kemudian bergelung mendekat ke tubuh Adam dan merapatkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
Malam yang indah.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...