NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -50-


__ADS_3

...Hei gess, makasi banyak buat yang udah ttp stay tuned di NO DIGAS ADIÓS 🙏🏻, gracias muchas 🤗....


...Jangan bosen ya baca novelku 🙏🏻...


...---🌹🌹🌹---...


Biar pada enggak lupain visual-visualnya nih, jadi wajib dimunculin lagi. Biar gregett juga 😍








...---🌹🌹🌹---...


Selenia dan Cia sedang berada di dalam kelas. Dengan mata takjub, Selenia membuka lembar demi lembar album foto milik Cia yang dibawa ke sekolah. Ya, foto-foto hasil jepretan Marvin tempo hari yang diberikan ke Cia, telah Cia rangkai dengan apik ke dalam satu set album bermotif bunga-bunga.


"Ih sumpah, lo kelihatan cakep banget deh di sini," puji Selenia mengakhiri membuka lembaran terakhir.


"Hmmm, jadi maksudnya lo mau bilang gue nggak cakep gitu??" Cia mencibir.


"Enggak gitu juga kali," Selenia menutup album tersebut dan menyodorkan pada Cia. "Tapi emang foto lo jadi keliatan aestethic banget nih," dia mengacungkan jempolnya. "Marvin kayaknya jago motret ya."


"Siapa dulu dong objeknya... ckckck," Cia berdecak sembari menepuk-nepuk dadanya sendiri. "Gracia Lula Palwinta gitu loh."


Giliran Selenia yang mencibir. "Diihh ke PD-an." dia mencubit hidung Cia gemas. "Jadi, hubungan kalian udah sejauh apa nih?"


"Sejauh komplek rumah sampai bukit tempat gue difoto-fotoin sama dia," jawab Cia asal.


Selenia menoyor kepala Cia pelan. "Iiihhhh ditanya serius malah asal."


Cia tergelak. "Mmmm... sejauh apa ya??" dia menatap langit-langit. "Bumi sama Mars, mungkin?"


"Lo mau gue tampol Ci?" Selenia sudah bersiap melayangkan buku paket ke arah Cia. "Gue serius nanya oneng? Lo kenapa sih jadi aneh gitu?" gerutunya.


"Ih gue nggak aneh, gue cuma lagi seneng aja," Cia mendekap album fotonya erat.


Mendengar jawaban itu tingkat kekepoan Selenia meningkat. Apa iya mereka sudah jadian?


"Jadi artinya?" Selenia menggantung kalimat bermaksud memancing respon Cia.


"Enggak ada," jawab Cia cepat, membuat Selenia mendengus.


"Lo lama-lama beneran gue tampol deh Cia!" Selenia membanting bukunya di atas meja.


"Eh ampun-ampun," Cia beringsut sedikit menghindar. "Enggak Sel. Gue enggak jadian kok sama Marvin," jawabnya. "Maksudnya belum, eh enggak... belum... pokoknya belum aja," imbuhnya muter-muter.


Mata Selenia melebar mendengar jawaban Cia yang menurutnya lucu dan aneh.


"Ehmmm!!" sebuah suara menghentikan keributan kecil mereka. Cia dan Selenia sama-sama menoleh ke arah sumber suara.


"Lagi pada ngomongin apa nih? Kayaknya lagi asyik banget? May I join?" Tony dengan tegap sudah berdiri di ambang pintu, menatap lurus ke arah mereka sembari memamerkan senyumnya yang merekah.


"Of course, why not?" Cia menyahut. "Baru berangkat Ton?"


Tony mengangguk kemudian melangkah dengan gontai ke arah mereka. Dia lalu menarik album di dekapan Cia yang tidak bisa Cia elakkan.


"Apa nih?" Tony membuka-buka album tersebut dan seketika senyumnya kembali mengembang.


"Aduuuh jangan diliatin dong, malu...!" ucap Cia tersipu. Dia berusaha mengambil kembali albumnya tapi Tony cukup gesit menangkis tangannya.


"Bukit bintang," gumam Tony masih sambil melihat isi album. Seketika ingatannya melayang pada masa lalu, dimana dia sering mendatangi tempat itu bersama Ibunya. Ternyata tidak banyak yang berubah dari tempat itu, pikirnya.


Selenia dan Cia saling berpandangan. Tony tahu soal bukit itu?


"Ini pasti hasil jepretan Marvin kan?" tebaknya.

__ADS_1


"Kok kamu bisa tahu?" Cia mengernyit.


Tony menyerahkan album itu pada Cia dan Cia menerimanya.


"Ya tahu lah. Aku udah kenal Marvin lama dan dia memang jago motretnya. *P*lus kamu sama Marvin lagi deket, jadi... kesimpulannya kalian datang berdua ke sana," jawabnya mendetil membuat Cia sedikit tersipu.


"Soal bukit bintang?" Selenia menyahut.


"Itu cuma asal-asalan aku aja kasih nama," Tony tersenyum kecil. "Soalnya memang viewnya keren banget kalau kita di sana pas malem trus ditambah cuacanya cerah. Bukan begitu Ci?" dia mengalihkan tatapannya pada Cia.


Cia mengangguk mantap. "Bener banget," dia melirik Selenia. "Dan lo harus coba buat datang ke sana."


"Kita," Tony menyahut. Dia menunjuk dirinya, Cia, dan Selenia. "Bertiga."


"Boleh banget. Kapan?" sahut Cia antusias.


Mendengar respon Cia, Selenia spontan menoleh dan menatap Cia nanar. Mana mungkin dia akan ikut mereka ke sana? Izinnya sama Adam bagaimana?


"Gimana Sel?" tanya Tony pada Selenia karena dia tidak merespon.


"Mmm...." Selenia bingung.


"Eh jangan bertiga dong." Cia menyela. "Sama Marvin juga."


Selenia tambah melotot. Maksud lo Ci? Semacam double date gitu?


"Boleh," Tony mengiyakan. "Atur waktu aja, Oke?"


Cia mengacungkan jempolnya. Sementara Selenia cuma bisa tersenyum kecut dan pasrah. Alasan apa yang tepat untuk menolak ajakan mereka? Untuk saat ini nggak ada.


Diam-diam,Tony memperhatikan ekspresi Selenia. Kenapa kesannya berat banget buat Selenia pergi ke sana? Padahal kan berempat. Gelagat itu semakin membuatnya penasaran. Tapi dia yakin, cepat atau lambat, rasa penasarannya pasti akan terjawab.


"Pada punya rencana mau kemana sih?" Lala tiba-tiba nimbrung mereka bertiga.


Selenia, Cia dan Tony bersamaan menatap ke arah Lala yang entah tiba-tiba muncul dari mana. Anak itu memasang senyum sumringah yang dipaksakan. Cia yang selalu ilfil sama teman sekelasnya yang satu ini cuma mendengus lirih dan melengos.


"Praktek membedah katak buat cari tahu mana jantung, mana hati sama paru-parunya," jawab Cia asal tanpa sedikitpun melihat Lala.


"Ck, ditanyain serius kok segitunya banget sih?!" gerutu Lala. "Mau kemana sih Ton memangnya?"


"Hehehe... nggak kemana-mana kok La. Kita cuma ngobrol aja tadi."


"Kalau kalian mau ngongkrong, bolehlah ajak-ajak aku."


"Yaaa nanti gampang lah," jawab Tony kemudian.


Seketika Cia menoleh ke arah Tony dan memberikan tatapan tajam. Tony apa-apaan sih?!


"Eh ini kayaknya udah hampir bel. Aku ke kelas dulu ya. Yuk Sel... Cia... Lala..." Tony berlalu meninggalkan kelas Selenia.


"Lo ngapain masih di sini?" tanya Cia sinis ke Lala yang masih berdiri di dekat mejanya.


Lala mengangkat sebelah bibirnya dan kemudian menghentakkan kaki dengan sewot sebelum berjalan ke bangkunya sendiri.


"Cia... lo kenapa sih segitunya banget sama Lala?" desis Selenia lirih.


...🌺🌺🌺...


"Ren hari ini kamu......" Adam masuk ke ruangan Renata tanpa mengetuk pintu, dan mendapati sekretarisnya itu sedang membenamkan wajahnya di meja.


Mendengar suara Adam, Renata buru-buru menegakkan tubuh, merapihkan rambut, baju dan..... menyeka air matanya. Hal itu membuat Adam kaget bercampur heran. Baru kali ini dia melihat sekretarisnya terlihat menyedihkan di kantor.


Renata kenapa nangis? Dia ada masalah kah?


"Eh... Pak Adam... silahkan duduk Pak," sambut Renata sedikit gelagapan.


"Kamu kenapa Ren? Kamu ada masalah?" tanya Adam.


"Ohh...nggak kok Pak. Saya cuma... agak capek aja hari ini."


Adam manggut-manggut. Dia mengamati sekeliling ruangan sampai akhirnya matanya disuguhkan pada secarik kertas dengan kop Pengadilan Negeri terselip pada sebuah map. Penasaran, Adam menarik kertas itu yang langsung membuat Renata tambah gugup. Padahal dia sudah berusaha menyembunyikan benda itu. Tapi kenapa atasannya itu jeli sekali?


Adam membaca dengan seksama isi surat tersebut dan seketika mengerutkan kening dalam-dalam. Dia melirik Renata yang tampak salah tingkah dari balik lembaran yang dia baca.

__ADS_1


"Bisa-bisanya mantan suami kamu melakukan ini Ren?" Adam menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalian sudah lama tidak komunikasi kan?"


"Saya juga heran Pak," ucap Renata lirih.


"Kamu harus gugat balik lho Ren. Jangan diam saja," kata Adam penuh dukungan.


"Saya tahu saya bisa melakukan itu. Tapi.... saya tidak yakin bisa memenangkannya," Renata menggeleng pelan. Nada bicaranya terdengar putus asa.


Adam menghela nafas dan mengembalikan surat itu ke meja Renata. "Kamu ada saudara kandung?"


Renata mengangguk.


"Kamu minta bantuan saja sama dia. Itu bisa menguatkan kamu. Apalagi kalau saudara kamu tahu bagaimana perjuangan kamu membesarkan Nola selama ini tanpa suami kamu," Adam memberi saran. "Nola lebih membutuhkan sosok seperti kamu ketimbang Ayah yang tidak bertanggung jawab," imbuhnya.


Renata hanya tersenyum getir. "Saudara saya tentu sangat tahu bagaimana perjuangan saya. Tapi sepertinya untuk masalah ini dia tidak akan pernah bisa membantu saya Pak," ucapnya lirih.


Adam memiringkan kepalanya. "Oh ya? Kenapa?"


"Saya cuma punya satu kakak laki-laki dan...." Renata tidak melanjutkan kalimatnya. Dia justru melihat sudut lain dengan tatapan nanar dan sayu.


"Kenapa Ren?" tanya Adam penasaran.


Renata menoleh dan kembali melihat atasannya. "Dia sedang menjalani hukuman yang baru akan berakhir dua tahun mendatang," ucapnya kemudian.


"Apa?!" sahut Adam tanpa suara. Tubuhnya melunglai mendengar kenyataan itu. Baru beberapa hari yang lalu dia tahu kalau kedua orang tua Renata telah meninggal dan sekarang dia kembali dihantam kenyataan kalau saudara Renata satu-satunya berada di sel. Itu artinya selama ini dia hanya hidup dengan Nola?


"Maksudnya, kakak kamu di penjara?" lanjut Adam hati-hati.


Renata mengangguk lemah. "Kasus narkoba."


Adam menghela nafas berat. Dia menatap prihatin pada Renata. Tidak pernah terpikir olehnya, bahwa dibalik sikapnya yang selalu terlihat biasa ternyata sekretarisnya itu menyimpan beban hidup yang begitu berat.


Adam menatap wajah perempuan yang tengah menunduk di hadapannya tersebut dan melihat air mata mengalir di pipinya. Renata tampak menahan isakan tangisnya. Lalu dia mulai mengeluarkan foto berukuran kecil dari dalam tas dan menatapnya dalam-dalam.


"Saya tidak masalah kehilangan suami saya, membiarkan dia memilih wanita lain. Tapi saya tidak bisa kalau harus kehilangan Nola," ucapnya sendu. "Dia hidup saya Pak. Dia segalanya untuk saya."


Adam tahu betul apa yang tengah dirasakan oleh Renata. Meskipun dia sendiri belum punya anak, tapi setidaknya dia tahu bagaimana kuatnya ikatan antara Ibu dan anak. Seorang Ibu akan melakukan apapun demi anaknya. Seperti halnya Renata yang berjuang untuk Nola. Adam mungkin hanya tahu sedikit, tapi itu cukup membuatnya bisa menilai kalau Renata adalah Ibu yang baik untuk Nola.


"Maaf kalau akhirnya Bapak harus tahu masalah saya," Renata melanjutkan. "Saya benar-benar tidak tahu harus bicara dengan siapa."


"Kamu nggak perlu minta maaf Ren," potong Adam. Dia berdiri dan berjalan mendekati Renata dan mengambil sapu tangan di saku celananya lalu memberikan pada Renata.


"Kamu jangan sungkan untuk menceritakan keluh kesah kamu ke saya," Adam tersenyum kecil. "Kita ini kan rekan kerja, yang penting kamu percaya sama saya."


Renata mendongak. "Terimakasih Pak," Renata menerima sapu tangan tersebut dan menyeka air matanya.


"Jangan suka memendam masalah sendirian. Itu nggak bagus untuk kesehatan kamu, baik fisik ataupun mental," Adam kembali duduk. "Ingat, masih ada Nola yang selalu ingin melihat Mamanya tersenyum bahagia."


Renata menarik ujung bibirnya perlahan. Dia tersenyum tipis.


"Masalah kamu ini bukan masalah kecil Ren. Kamu harus punya seseorang untuk bisa diajak bertukar pikiran."


"Sekali lagi terimakasih Pak. Dan saya juga minta maaf karena saya benar-benar nggak ada maksud untuk membawa masalah saya ke kantor."


Sekarang gantian Adam yang tersenyum. "Kamu jangan ngomong begitu. Naif banget rasanya kalau kita punya masalah terus nggak kepikiran sama sekali. Apalagi masalah yang sedang kamu alami ini bukan masalah biasa."


Adam kemudian beranjak dari duduknya hendak meninggalkan ruangan Renata.


"Pak Adam," Renata turut berdiri. "Jadi kata Bapak tadi saya harus apa?" dia mengembalikan topik pembicaraan yang merupakan tujuan utama Adam mendatangi ruangannya.


"Oh... tidak jadi Ren, saya pikir saya bisa menyelesaikannya sendiri. Kamu fokus saja sama pekerjaan kamu," jawab Adam. Tadinya dia mau memberitahu kalau Renata harus ke kantor pajak siang ini untuk mengurusi pajak perusahaan bulan lalu. Tapi saat tahu sekretarisnya itu sedang memiliki masalah, tidak tega rasanya nekat meminta dia pergi ke kantor pajak.


"Saya mau balik ke ruangan saya dulu," Adam berlalu meninggalkan Renata yang masih menatapnya bengong.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


...---...


...comment below ya readers 👇🏻...


...Kritik dan saran kalian semangatku 😘...

__ADS_1


__ADS_2