NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -88-


__ADS_3

Jam pelajaran pertama di kelas Selenia kosong. Jadi anak-anak pada heboh kegirangan di dalam kelas. Ada yang ngerumpi, nonton drakor, dan mabar. Tak terkecuali Cia dan Selenia. Kesempatan ini digunakan Cia untuk menceritakan pada Selenia tentang peristiwa semalam, saat dia dan Marvin bertemu dengan Bu Riska di bukit bintang, yang ternyata adalah Mamanya Tony.


Selenia terpaksa membagi perhatiannya pada cerita Cia dan pesan-pesan dari Adam masuk ke ponselnya. Dari semalem suaminya itu masih rempong banget perkara Tony dan hidungnya. Sikap Adam juga jadi super posessif hari ini. Beberapa kali Selenia mendengus membaca pesan tersebut, tanpa sepengetahuan Cia.


Adam: [Kamu kok bisa bales pesan sih sayang? Bukannya ini harusnya masih jam pelajaran ya?]


Selenia: [Lagi jam kosong. Gak ada guru. Kenapa sih? Salah lagi aku bales pesan kamu sekarang?]


Adam: [Kalau aku nggak bisa berhenti khawatir, aku bakalan samperin kamu ke sekolah]


Selenia tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. Mustahil sekali Adam akan melakukan itu, pikirnya. Lagian kenapa sih ni laki jadi over gini? Nggak biasanya deh. Selenia menggaruk-garuk tengkuknya.


"Sel, lo dengerin gue cerita nggak sih?!"


Selenia menyimpan ponselnya ke laci. "Iyaaaa gue dengerin Ci, sorry tadi sambil balesin pesannya Adam."


"Semalem jatahnya masih kurang?" Cia meledek.


"Asem lo!" Selenia melempar buku ke muka Cia tapi Cia berhasil menghindar. "Berarti yang pernah temuin gue sama Tony tempo hari di kafe itu nyokapnya Tony?" dia mengingat peristiwa saat Tony yang langsung membawanya keluar dari kafe begitu perempuan itu datang. Selenia belum begitu jelas dengan wajah perempuan itu. Tapi saat mendengar cerita Cia pagi ini, dia yakin itu pasti orang yang diceritakan Cia.


"Emang pernah?" tanya Cia.


"Kalau nggak salah sih," Selenia kemudian menceritakan pengalamannya bertemu dengan perempuan yang dia duga Ibunya Tony, ke Cia.


"Orangnya tinggi?" Cia memastikan. Selenia mengangguk pelan. "Ya nggak tinggi-tinggi juga sih menurut gue, trus rambutnya segini?" Cia menunjuk bahunya sendiri.


Selenia tidak yakin, jadi dia cuma mengangkat bahu. "Gue nggak begitu jelas juga waktu itu Ci, soalnya Tony langsung bawa gue keluar. Tapi kalau diurutin dari cerita lo, kayanya emang itu dia deh."


"Kasian tau Sel nyokapnya Tony," Cia menarik nafas. Semalam itu Bu Riska mencurahkan semua isi hatinya soal Tony padanya dan Marvin. Dia merasa hampir putus asa bagaimana caranya mengambil hati anaknya itu kembali. Tony seakan seperti tidak mau lagi mengenal bahkan menganggap keberadaannya. Beruntung Marvin bisa memberi pencerahan dengan menjanjikan padanya akan mencoba berbicara dengan Tony.


Dan kenapa malam itu Bu Riska ada di bukit bintang sendirian? Itu karena dia merasa memiliki banyak sekali kenangan di sana bersama Tony di masa kecilnya. Katanya dulu Tony sangat menyukai tempat itu. Dan memang benar, sampai sekarang pun Tony masih suka mengunjungi bukit bintang kan? Dan mungkin saja dia datang ke sana juga untuk bernostalgia dengan kenangan masa kecilnya bersama Bu Riska. Tidak ada yang tahu.


"Menurut gue, Tony juga terlalu keras kepala sih," Cia menyimpulkan. "Setega itu dia nggak mau buka hati buat nyokapnya sendiri."


"Eh jangan ngomong gitu Ci," Selenia menyela. "Lo kan baru denger dari satu pihak aja, bisa jadi Tony melakukan itu karena dia juga punyaku alasan kan?"


"Iya sih. Tapi gue ngerasa kasian aja sama Tante Riska. Dari raut wajahnya kelihatan banget kalau hatinya begitu terluka."


"Nama nyokapnya Tony, Riska?" tanya Selenia dan Cia menggangguk.


Selenia ingat Tony memang masih suka mendatangi tempat yang namanya bukit bintang. Dan dia juga pernah bilang pada Selenia--pas mereka pergi ke sana karena Tony menagih cerita soal pernikahan rahasia Selenia yang akhirnya malah kepergok sama Adam dan dia mengira dirinya dan Tony sedang berduaan--kalau di tempat itu menyimpan banyak sekali kenangan masa kecilnya. Tentang Mama, yang sekarang mungkin telah berbahagia dengan keluarga barunya. Begitu dia bilang waktu itu.


"Ya udah lah Ci, kita nggak punya hak untuk masuk ke masalah orang lain terlalu dalam," ujar Selenia. "Biar aja Marvin yang mencoba berbicara sama Tony, dia pasti lebih tahu karena dia udah kenal lama sama Tony."


"Lo benar Sel. Ya, gue cuman... nggak tega aja kalau inget gimana nelangsanya Tante Riska semalam."


Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi dan anak-anak langsung menghambur keluar kelas, menyisakan beberapa anak saja termasuk Cia dan Selenia. Selenia merogoh laci dan mengeluarkan ponselnya. Matanya seketika membulat melihat notifikasi di layar.


12 missed call dan semuanya dari Adam. Selenia memang sengaja mensilent ponselnya setiap kali jam pelajaran berlangsung. Gila, ni laki kenapa sih?

__ADS_1


"Kenapa Sel?" Cia beranjak dari kursinya, heran menatap tampang Selenia. "Kantin yuk," ajaknya.


"Eehh tunggu-tunggu Ci..." Selenia menahan lengan Cia. "Gue mau nanya."


"Apaan?"


"Emang ada ya, misalnya yang hamil istrinya, terus yang ngidam suaminya gitu?"


Alis Cia terangkat mendengar pertanyaan Selenia. "Maksud lo?" Cia celingukan ke sekeliling kelas yang mulai hening karena semua muridnya telah keluar. "Adam ngidam?"


"Gue juga nggak tahu Ci, cuman gue ngerasa aneh aja sama sikap dia akhir-akhir ini. Dia tu kayak overprotective gitu lho... dan possesif banget."


"Sama lo?"


"Iya lah, sama siapa lagi?"


"Bisa jadi sih. Kan itu emang anak kalian berdua," Cia menunjuk perut Selenia. "Mungkin anak lo pengen orang tuanya sama-sama ngerasain yang namamya ngidam, biar adil.... hehehe..."


"Masa ni ya, gue kan semalem stalking Instagramnya Tony," Selenia mulai bercerita. "Lo tahu kan gue lagi candu banget sama hidungnya, eh dia malah marah-marah sama gue. Makanya ni dari tadi nge-WA terus. Dan bahkan sampe nelfon berkali-kali tapi gue nggak denger barusan karena ponselnya gue silent," dia memperlihatkan tulisan 12 missed call di layar ponselnya ke Cia.


"What the hell are you, Selenia??" mulut Cia ternganga mendengar cerita Selenia barusan. Langsung dia menoyor kepala Selenia pelan. "Itu namanya bukan ngidam, dodol! Lo aja yang aneh... ya bener tuh kalau Adam bersikap kaya gitu sama lo, itu namanya cemburu. Wajar lah kalau dia protes. Sekarang gue nanya sama lo, seandainya Adam di depan lo terang-terangan buka-buka Instagramnya Renata terus muji-muji dia juga. Lo marah nggak?"


Selenia menghentakkan kakinya. "Dih, apaan sih Cia? Ya kali gue nggak marah!"


"Tuh kan?" Cia menunjuk wajah Selenia. "Makanya realistis dong. Lo juga ngapain sih pakek demen liat hidung Tony segala? Heran deh gue," dia bersedekap.


Selenia mengangkat bahu. Karena dia sendiri pun juga nggak tahu.


"Uuuudah stop!" Selenia mengarahkan telunjuknya ke bibir Cia. "Pokoknya ini bakal jadi surprise, titik."


Bener-bener keras kepala. Batin Cia sembari menggeleng-geleng pasrah.


"HEI!" seseorang berteriak dari luar kelas, membuat Selenia dan Cia sama-sama menoleh. "KANTIN YUK!" Tony telah berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku.


"Stop soal hidung, tahan diri!" bisik Cia tegas sembari mengusap perut Selenia. "Yuk kantin," dia menarik tangan Selenia.


Di kantin Tony langsung menuju konter pemesanan makanan dan memesan makanan untuk mereka bertiga, tapi seperti biasa Selenia memilih untuk memesan minuman panas saja karena dia sedang tidak ingin makan. Lebih tepatnya, bayi di dalam perutnya sedang tidak bisa diajak kompromi. Saat memasuki kantin dan melihat banyak anak berlalu lalang, yang kemudian menguarkan macam-macam aroma parfum plus bau keringat, perut Selenia menjadi mual. Dia langsung menutup hidung dan mulutnya menggunakan tangan.


"Gue mual Ci," bisik Selenia tertahan. Tony masih di konter untuk memesan makanan.


"Ya ampun!" Cia celingukan, cemas. "Ya udah ke toilet yuk."


Selenia menggeleng. "Nggak nggak nggak... gue bisa tahan kok."


"Lo serius?"


Tony datang dengan membawa nampan berisi pesanan mereka semua.


"Kamu yakin nggak makan Sel?" Tony menyodorkan minuman milik Selenia. "Akhir-akhir ini aku perhatiin kamu jarang makan pas jam istirahat. Diet ya?" godanya sembari menyodorkan pesanan milik Cia.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Selenia langsung menenggak minumannya hingga setengah gelas. Cia dan Tony saling tatap melihat hal itu.


"Diet tapi minum manis langsung tenggak aja," Tony duduk dan mulai menikmati makanannya.


Cia nyengir kuda mendengar ocehan Tony. Dia mengangkat alisnya ke arah Selenia, tapi sahabatnya itu tidak menggubris.


Rasa mual di perut Selenia berangsur-angsur hilang setelah dia minum minuman panasnya. Tapi dia tetap bergidig melihat Cia dan Tony yang begitu lahap menikmati makan siang. Ya ampun sayang, masa Mommy nggak boleh makan di sekolah sih.


Sesekali Selenia mencuri pandang ke arah hidung Tony yang tampak berkeringat karena habis makan mie rebus panas. Cia yang menyadari akan hal itu, langsung menyodok pinggang Selenia sekaligus memberikan tatapan peringatan.


Seseorang tiba-tiba mendaratkan tubuhnya di sebelah Tony--di depan Selenia dan Cia--bersamaan dengan suapan terakhir makan siang mereka. Orang itu melipat kedua tangannya di atas meja dan menatap Selenia penuh arti.


"Adam?!" Selenia hampir memekik. Tony reflek beringsut menjauh. Mereka bertiga sama-sama kaget dengan kedatangan Adam yang tak disangka. Hal itu juga mengundang perhatian anak-anak di kantin yang langsung mengarahkan perhatian mereka ke bangku Selenia. Meski cuma sebentar, tapi tetap membuat Selenia risih.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Selenia tanpa suara.


"Katanya di kelas lagi nggak ada pelajaran. Tapi pesan nggak dibales, ditelfon pun juga nggak diangkat," jawab Adam santai.


Tony mendengus, melirik sinis Adam dengan ekor matanya. Setelah menghabiskan makanan dan minumannya dia langsung pergi tanpa permisi.


...🌺🌺🌺...


Sampai malam hari, Selenia masih ngomel-ngomel karena merasa dongkol dengan apa yang Adam lakukan hari ini. Gara-gara dia datang ke sekolah, beberapa anak justru mengira dirinya sedang disamperin sugar daddy. Gila nggak tuh. Bahkan si Lala, teman sekelas Selenia yang centilnya ngalahin Cia, terang-terangan berucap 'Mau dong dikenalin sama Oomnya'. Kan sebel.


"Kan aku udah bilang sama kamu, kalau kekhawatiran aku nggak bisa ilang, aku bakal samperin kamu ke sekolah, eh malah pesanku nggak dibalas, telfon nggak diangkat, taunya lagi asyik sama Tony di kantin!" tutur Adam dengan nada serius.


"Terus memangnya kenapa? Kita kan temen, wajar lah kalau sering ketemu. Namanya juga satu sekolah," Selenia membantah dengan nada biasa. Dia tidak sanggup kalau harus ngomel dengan intonasi tinggi karena tubuhnya terasa lemas dan matanya juga ngantuk. Cuman dia belum lega aja kalau belum mengeluarkan semua unek-uneknya ke Adam malam ini juga.


"Sayang, aku tu cemburu! Kamu ngerti nggak sih?"


"Iya tapi itu nggak beralasan. Berapa kali aku ngomong sama kamu kalau aku enggak ada perasaan apa-apa sama Tony. Kamu ni kenapa sih?"


"Perasaan aku nggak enak aja. Apalagi kamu sekarang mulai demen tuh stalking akun Instagram dia, liatin foto-fotonya. Apaan coba?"


Selenia mendengus kasar. Andai saja hal itu bisa dijelaskan sekarang--pasti Adam bakal maklum dan ngerti kalau ini efek dari ngidam. Tapi tidak. Pokoknya berita kehamilan ini akan Selenia katakan pada Adam nanti pas hari ulang tahunnya. Toh tinggal beberapa hari ini. Sabar Sel....! Batinnya sembari menarik nafas panjang. Namun menilik dari itu semua, ada perasaan berbunga-bunga di hati Selenia di balik rasa kesalnya. Yakni kecemburuan Adam. Dia tidak menyangka Adam akan sebegitu over posessif hanya karena takut dia dan Tony ada apa-apa. Lucu nggak sih? Efek ngidam apa cemburu doang tuh?


"Udah lah Dam. Nggak usah bahas itu lagi. Aku capek. Mau istirahat," Selenia merasakan kepalanya sedikit pening.


"Sayang..." Adam menahan lengan Selenia.


"Dan satu hal lagi yang perlu kamu inget," Selenia berbalik. "Bagaimanapun Tony udah nolongin aku dari peneror brengsek itu. Jadi aku harap kamu jangan terlalu intimidasi dia buat nggak boleh deket sama aku. We just friend," dan pintu kamar Selenia langsung tertutup.


Adam memejamkan mata, menahan gejolak emosi yang hampir meledak dari kepalanya. Dia tidak pernah melupakan jasa Tony kok. Tapi dia juga tidak suka kalau Selenia terlalu dekat dengan Tony. Apa itu salah?


Aaarrgghhh!!


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


...**Like, Comment and Vote 🤗...


...PS: Demen sama Cia n Marvin tak? ✌🏻**...


__ADS_2