
Adam menghentikan mobilnya tepat di depan kafe tempat Selenia dan Tony janjian untuk ketemu. Sebelum keluar dari mobil, mata Selenia sudah mendapati motor milik Tony terparkir di deretan motor pengunjung lain di bagian parkir khusus motor.
"Kok malah diem? Itu kayaknya Tony udah di dalem, itu di sana motor dia kan?" tangan Adam menunjuk ke motor Ducati merah milik Tony.
Entah kenapa, tiba-tiba ada perasaan aneh di dalam hati Selenia untuk melakukan ini. Memang sih, dia bertemu dengan Tony bukan untuk dating, tapi kok.... dia merasa nggak rela ninggalin Adam hanya untuk menemui Tony. Tapi lebih nggak mungkin lagi kalau Adam ikut ke dalam kan? Adam juga pasti nggak akan mau.
"Kamu nggak ikut keluar?"
"Hmmmpfffhhh..." Adam terkekeh. "Nggak mungkin lah sayang, nanti malah Tony nggak jadi ngomong sama kamu karena nggak enak sama aku."
"Terus, kamu mau nunggu aku di mana?"
"Aku sih gampang. Yang penting nanti kalau urusan kamu udah selesai, kamu telfon aja. Aku pasti akan langsung datang."
Kening Selenia mengerut. Dia menatap Adam untuk beberapa saat, mengamati penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kamu... nggak akan pergi ke tempat yang aneh-aneh kan?" tanya Selenia. Kafe tempatnya ketemu Tony ini tidak berada jauh dari Bar terkenal yang ada di sini. Dia takut Adam akan menghabiskan waktu menunggunya di sana.
Memang sih selama menjadi istrinya, Selenia tidak pernah sekalipun melihat Adam menjamah tempat-tempat semacam itu, tapi sekarang, siapa yang tahu kan? penampilan udah keren begitu.
"Maksud kamu aneh?"
"Jangan mampir ke Bar."
Adam terbahak demi mendengar kalimat itu. Bisa-bisanya Selenia berpikir demikian?
"Nggak mungkin lah sayang aku ke sana. Kepikiran buat datang ke sana aja nggak ada di otakku," Adam menunjuk kepalanya sendiri. "Aku mau ketemu temen di kafe juga, nggak jauh kok dari sini. Ya udah, buruan kamu temui Tony, kasihan dia, pasti udah nunggu dari tadi."
"Serius nggak pa-pa aku temuin dia?" Selenia mengulangi pertanyaan itu untuk yang entah ke berapa kali.
Adam menghela nafas. "Sayang... kan aku sudah bilang, iya nggak pa-pa. Kenapa sih? Kok kayaknya kamu malah berat gitu?"
"Ya.. aku tu ngerasa aneh aja Dam. Kesannya kaya, aku temuin cowok, tapi dianter suamiku sendiri."
"Yang penting kan aku sudah tahu tujuan kamu bertemu dia untuk apa. Kamu minta izin ke aku buat temuin dia aja, aku tu udah ngerasa dianggap dan dihargai sebagai suami, sayang."
Selenia tersenyum haru mendengar kalimat suaminya yang sangat bijak.
"Oke, kalau begitu aku keluar dulu ya," dia melepas seat beltnya. "Aku janji nggak akan lama kok."
Adam mengangguk dan Selenia keluar. Dia melambaikan tangannya pada Adam sebelum mobil mereka berlalu meninggalkan kafe.
Selenia menghela nafas panjang, menatap bangunan cafe yang dikunjungi banyak orang. Setelah memantapkan hati yang sempat bimbang, dia melangkahkan kakinya memasuki tempat itu.
Di dalam kafe, Selenia celingukan mencari di mana Tony duduk. Sampai akhirnya dia menemukan sosok yang melambai ke arahnya dari meja nomor 15. Dengan cekatan, Selenia segera menghampiri meja tersebut.
Wajah Tony terlihat sumringah menyambut kedatangan Selenia. Dia langsung menarikkan kursi di hadapannya dan mempersilahkan Selenia duduk. Perlakuan manis yang justru membuat Selenia semakin tidak enak hati.
"Makasih," ucap Selenia lirih dan duduk.
Melihat sama sekali belum ada makanan di atas meja, Selenia lantas melambai pada seorang pelayan yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk untuk memesan makanan.
"Eh, biar aku aja yang pesen makanannya," Tony menyahut. "Tadi aku emang sengaja nggak pesan dulu, takutnya kamu nggak cocok sama makanannya."
__ADS_1
"Udah, nggak pa-la lagi Ton. Kan aku yang undang kamu buat ke sini, so let me yah..." Selenia menerima buku menu yang disodorkan si pelayan dan langsung membuka-buka untuk memilih menu. "Kamu mau makan apa?" tanyanya kemudian.
"Terserah kamu aja deh Sel," jawab Tony.
"Ih jangan terserah dong," Selenia menautkan alis menatap Tony dari balik buku menu di tangannya. "Selera kita kan nggak sama."
Tony terkikik. "Iya tahu, seleraku kan yang berbau game-game gitu," candanya, dan Selenia turut terkikik. "Tapi kali ini beneran deh terserah kamu, aku bakal nyamain seleraku sama kamu, mana tahu kan ini jadi pertemuan terakhir kita sebelum...."
"Ton..." Selenia menutup buku menunya dan melotot. "Kok kamu ngomongnya gitu sih?"
"Sebelum aku ke New York maksudku..." Tony melanjutkan. "Kan aku tadi belum selesai ngomong."
Selenia menggeleng-gelengkan kepala dan kembali membuka buku menunya.
"Jangan suka ngomong terakhir-terakhir," gerutu Selenia lirih sambil terus menatap buku menu. "Gak baik... pamali."
Tony tersenyum melihat ekspresi itu. Ada setitik rasa bahagia yang menyelip di dadanya, rasanya Selenia seperti tidak mau ada pertemuan terakhir di antara mereka. Pun begitu, ada rasa sedih yang membersamai perasaan bahagia itu. Jelas lah Selenia tidak mau ini dianggap pertemuan terakhir karena dia kan menganggapnya teman.
...🌺🌺🌺...
"Sel," ucap Tony setelah dia selesai makan.
"Ya?" Selenia juga baru saja selesai makan.
Lalu tanpa Selenia duga, tiba-tiba saja tangan Tony terulur ke sudut bibirnya dan menyeka sesuatu dari sana. Reflek Selenia memundurkan kepalanya sesaat setelah sentuhan jari Tony menempel di sudut bibir tersebut. Dia celingukan ke sekeliling, takut kalau saja tiba-tiba ada Adam yang baru datang dan melihat adegan ini. Bisa salah paham pasti. Tapi untunglah Selenia tidak menemukan sosok yang dia maksud.
"Maaf Sel, tadi ada makanan di situ."
Selenia menarik tisu di atas meja dan buru-buru menyeka seluruh permukaan bibirnya. Dia hanya tersenyum getir membalas ucapan maaf Tony.
Selenia mengangguk pelan. Tiba-tiba dia merasakan ada keheningan yang tercipta dari kalimat pamit yang Tony ucapkan. Belum ada setahun dia mengenal anak ini. Tapi secara tidak langsung Tony sudah banyak berkorban untuknya dan Adam.
"Iya Ton, semoga apa yang kamu impikan, bisa terwujud. Oh iya, kamu kenapa sih, mau pamit aja harus lewat Cia? Kamu kan bisa ke rumah aku, atau... kamu memang pengen diem-diem pergi tanpa ngomong ke aku ya?" gurau Selenia. "Kamu nggak mau ketemu aku lagi?"
Tony terkekeh pelan. "Enggak mungkin lah aku pergi nggak ngomong sama temen sendiri," ucapnya menekankan kata teman lebih ke untuk menjaga perasaannya. Karena baginya, Selenia bukan hanya sekedar teman. Dia adalah pujaan hati yang tak akan pernah mampu diungkapkan secara gamblang.
"Tadi barusan apa kamu bilang? Datang ke rumah kamu?" Tony lagi-lagi terkekeh. "Sel, apa kata Adam kalau tiba-tiba aku datangi kamu cuma karena mau pamit kaya gini doang?"
"Kamu terlalu bad think sih. Buktinya malam ini aku diizinin sama dia buat ketemu kamu," Selenia memberengut. "Kita kan temen, iya kan?"
"I-iya, kita temen," Tony tersenyum getir.
"Tapi kan tetep aja aku nggak enak Sel, kalau tiba-tiba aku datang ke sana," imbuhnya. "Kalau kaya gini kan lain, kamu udah izin dulu."
"Hmmmhh..." Selenia menyesap minumannya dan mendengus lirih.
"Oh iya, aku turut sedih sama apa yang terjadi sama kamu. Aku nggak nyangka Lala bisa berbuat senekat ini."
"Aku sendiri juga nggak nyangka. Tapi ya..... udah sih, itu aku anggap sebagai.... ya memang seperti ini jalan yang harus aku lewati. Hmmmm.... harusnya dari awal aku nikah, aku langsung ambil home schooling aja kan kalau tahu akhirnya bakalan kaya gini?"
"Eh!" Tony buru-buru menyela ucapan Selenia. "Jangan dong, kalau kamu begitu, berarti kita nggak bakalan bisa saling kenal."
"Berarti nggak perlu ada kata pamit juga kan?" sahut Selenia santai.
__ADS_1
"Yhaaaa, nggak gitu juga lah konsepnya."
Mereka tertawa bersamaan. Suasana yang tadinya dirasa canggung, kini semakin terasa mencair. Selenia kembali memanggil pelayan dan memesan makanan ringan untuk menemani obrolan mereka.
"Kalau boleh tahu, kehamilan kamu udah jalan berapa bulan Sel?" tanya Tony pada akhirnya sambil menikmati cemilan. Satu hal yang sebenarnya tidak ingin dia masukkan dalam topik pembicaraan, tapi entah kenapa tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulutnya. Mungkin karena sudah saking asyiknya obrolan mereka selama satu jam lebih ini.
"Sekarang jalan 4 bulan," Selenia mengelus perutnya dan menunduk.
Tony tersenyum getir tanpa sepengetahuan Selenia. Terselip rasa sakit di hatinya melihat hal itu--Selenia yang begitu bahagia dengan hidup yang dia jalani saat ini.
"Oh iya..." Selenia mendongak, dan Tony segera memalsukan senyum bahagianya. "Ton, ini kayaknya udah malem deh," dia melirik jam tangan yang melingkar di lengannya. "Tuh kan udah hampir jam 10, kita pulang yuk."
Tony mendesis kecewa. Kenapa waktu begitu cepat berlalu saat obrolannya bareng Selenia mulai asyik? Apalagi sekarang dia tidak akan bisa bertemu dia setiap waktu. Tapi Tony tidak ingin Selenia melihat kekecewaan itu dan tetap memalsukan senyum.
"Bener ih, udah malem aja," ucap Tony. "Nggak kerasa ya kalau udah asyik ngobrol."
Selenia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Adam benar-benar memberinya waktu, bahkan dia sama sekali tidak menghubungi selama Selenia ngobrol dengan Tony. Adam lagi di mana ya kira-kira? pikir Selenia sembari mengetikkan pesan. Setelah pesan terkirim, dia memanggil pelayan yang kebetulan ada di belakang meja mereka.
"Eh biar aku aja yang bayar Sel..." dengan gesit Tony menahan tangan Selenia yang hendak mengeluarkan uang dari dompet.
"Ton... udah nggak pa-pa kali, ini kan undangan aku, so let me... okey?"
Pelayan yang berdiri di samping meja mereka tersenyum melihat dua sejoli yang rebutan ingin membayar makanan.
"Tapi Sel, kan..." Tony merasa tak enak hati. Belum pernah dia jalan sama temen terus temennya yang bayarin makanannya. Apalagi ini sama cewek.
"Udah stop, jangan protes. Oke?" Selenia mengedipkan matanya. "Berapa total semuanya mbak?" tanyanya pada si pelayan.
Pelayan itu kemudian mencatat semua makanan yang sudah di pesan di notes kecil kemudian menyerahkan pada Selenia.
"Oke, sip. Ini mbak," Selenia menyerahkan beberapa lembar uang. "Kembaliaannya buat mbak aja."
Pelayan itu tersenyum senang. "Waduh, terimakasih mbak," ucapnya sembari menunduk hormat.
...🌺🌺🌺...
Tony dan Selenia berjalan bersamaan keluar dari kafe. Dan saat mereka tiba di luar, sebuah mobil tampak meluncur dari arah pintu masuk. Mobil itu langsung berhenti tepat di depan Tony dan Selenia. Kaca mobil terbuka, dan Adam menyunggingkan senyum ke arah mereka.
"Hei Ton!" sapa Adam.
"Hei. Makasih ya, sudah izinin Selenia buat ketemu sama aku."
Adam tersenyum. Dia lantas keluar untuk membukakan pintu mobil untuk Selenia.
"Aku duluan ya Ton, sampai ketemu lain waktu," ucap Selenia lembut sebelum berlalu melewati Tony.
Selenia juga melempar seulas senyum pada Adam sebelum masuk mobil. "Makasih sayang," bisiknya.
Andai saja gue yang ada di posisi Adam. Tony menatap nanar ke mobil di hadapannya. Saat Adam masuk mobil, dia cuma bisa menunduk memandangi kakinya sendiri. Ya Tuhan, kenapa sakit banget?
Tinn!! tinn!!
Adam membunyikan klakson mobilnya sebelum meluncur meninggalkan kafe dan Tony yang masih mematung di tempatnya.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...