NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -131-


__ADS_3

Di tempat lain, tepatnya di sebuah kedai perasan tebu yang terletak di pinggiran ladang tak jauh dari lokasi bukit bintang, Cia dan Marvin sedang menikmati minuman manis itu sambil duduk di kursi panjang yang ada di sana. Mereka baru saja pulang dari berbelanja barang-barang yang akan dibutuhkan Cia saat menjadi mahasisiwi baru nanti. Beberapa hari yang lalu, sebelum pengumuman kelulusan, Cia sudah mengurus pendaftarannya di kampus pilihannya, dan telah dinyatakan lolos.


Setelah menghabiskan es tebu miliknya, Marvin merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Sepagian ini dia sengaja men-silent gawainya itu karena ingin fokus menemani pacarnya berbelanja. Maklum, setelah menjalani masa isolasi alias Cia tidak boleh kemana-mana selama ujian nasional berlangsung hingga pengumuman kelulusan, ini adalah hari pertama mereka kembali jalan-jalan bareng.


Ada satu pesan masuk yang berasal dari Tony. Saat dia membacanya, Marvin spontan membelalak seperti tidak percaya.


"What?" pekiknya lirih.


Cia menoleh. Dia heran melihat tampang kaget di wajah Marvin.


"Kenapa yang?" Cia melongokkan kepala turut melihat layar ponsel Marvin.


"Hari ini Tony berangkat ke New York."


"Serius?" alis Cia terangkat. Dia juga kaget. Meskipun sebenarnya dia sudah mendengar rencana ini dari lama.


Marvin mengangguk. "Nih," dia menyodorkan ponselnya ke depan wajah Cia.


Tony: [Gue berangkat ke New York Vin. Sampai ketemu lagi ya.]


Cia membaca pesan itu sekilas dan melirik ke arah pacarnya. Selamat tinggal, Ton. Sampai ketemu lagi. Ucap Cia dalam hati pada orang yang pernah dikenalnya dengan baik selama mereka bersekolah di tempat yang sama. Kok ada rasa sedih juga ya? Cia mengingat kebersamaan yang pernah dia dan Selenia lalui bersama Tony. Ternyata waktu sesingkat itu.


"Kemarin sore ni anak ketemu sama aku nggak bilang apa-apa lh. Tahu-tahu udah berangkat aja ke amrik," komentar Marvin sembari mengetikkan pesan balasan untuk Tony.


Marvin: [Oke Ton. Sukses ya, sampai ketemu 👍🏻]


...🌺🌺🌺...


Satu bulan kemudian.


"Yeeee.... welcome back to our home... akhirnya...!" Selenia bernafas lega. Dia melangkah dengan riang memasuki rumahnya.


Bi Iyah yang sejak semalam sudah tidak sabar karena tahu bahwa Selenia dan Adam beserta anak mereka hari ini akan pulang, langsung memeluk majikan mudanya itu erat-erat. Sementara itu, Adam yang berdiri di belakang mereka sembari menggendong Ray di lengan kekarnya, turut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan istrinya.


Jauh dari ekspektasi Adam, ternyata Selenia dan Ray sudah diizinkan pulang oleh dokter setelah satu bulan berada di rumah sakit. Awalnya Adam pikir, anak dan istrinya itu akan membutuhkan waktu lebih lama. Dan dia bersyukur, karena setiap harinya Ray menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hanya butuh waktu dua minggu bayi mungilnya itu berada di dalam inkubator. Setelahnya ternyata Ray sudah mampu beradaptasi dengan suasana baru di luar inkubator. Hanya saja tubuhnya harus selalu dilapisi baju atau selimut tebal.


Bu Lisa lalu mengajak Selenia ke kamarnya karena dia ingin menunjukkan sesuatu.


"Jangan buka mata dulu ya kalau Mama belum minta," kata Bu Lisa sembari membimbing Selenia menuju kamarnya di lantai dua.


Pak Fendi, Pak Edwin, Adam dan Bi Iyah mengikuti di belakang mereka. Keluarga besar inilah yang menjemput Adam dan Selenia di rumah sakit. Mereka semua sangat antusias begitu mendengar kabar bahwa Selenia dan Ray sudah boleh pulang. Jadi tidak ada satu pun dari ketiga orang tua ini yang mau tinggal di rumah dan hanya menunggu kedatangan anak dan cucu mereka.


"Ada apa sih Ma? Aku penasaran deh."


"Tunggu ya, dikit lagi. Pokoknya Mama jamin, kamu pasti bakalan suka," tegas Bu Lisa yakin.


Mereka semua telah sampai di depan pintu kamar Selenia. Bu Lisa lalu mengarahkan tangan Selenia untuk menyentuh gagang pintu dan memutarnya.

__ADS_1


"Buka pintunya sayang, terus kamu buka mata," Bu Lisa memberikan instruksi.


Selenia mengikuti intruksi itu dan saat pintu terbuka lebar Adam pun kaget saat melihat Cia yang sudah ada di dalam kamar istrinya. Dengan gaya centil, dia melambai pada semua orang.


"HAI SEMUAAAA!!" Pekik Cia riang.


"Cia?!!" mata Selenia berbinar. Nafasnya tertahan manakala melihat barang-barang yang sebelumnya tidak pernah ada di kamarnya. Cia berdiri diantara box bayi, stroller, bouncher, lemari baju bayi, meja yang berisi berbagai macam kebutuhan bayi dan banyak lagi barang yang berhubungan dengan bayi, tertata rapi di kamar Selenia. Di sudut kamar yang tak jauh dari jendela juga ada kursi khusus. Kursi yang katanya bisa digunakan Selenia saat menyusui Ray supaya bisa sambil lihat pemandangan di luar. Kursi itu berbentuk memanjang, cukup untuk diduduki dua orang.


"Welcome home...!!" sambut Cia seraya berlari dan memeluk Selenia.


Namun sepertinya Selenia tidak ingin berlama-lama berada dalam pelukan Cia karena dia begitu terpesona dengan barang-barang baru di dalam kamarnya, jadi dia segera menarik diri. Selenia lalu berjalan mendekati barang-barang baru tersebut. Tangannya menyentuh benda itu satu per satu. Barang-barang inilah yang dulu pengen banget dia beli, tapi Adam menjanjikan akan membelikan saat usia kandungannya masuk 8 bulan, alias satu bulan sebelum bayinya lahir. Namun ternyata takdir berkata lain.


"Ma... ini bagus-bagus banget. Mama yang beliin?" Selenia menatap haru ke arah Bu Lisa.


Bu Lisa tersenyum. "Mama yang beli, tapi... ditemani Cia juga," dia menunjuk Cia.


"Iya, dan gue seneeeeng banget akhirnya ada kesempatan buat ikut andil beli kebutuhan keponakan gue," celetuk Cia bangga. "Soalnya kalau ngomong elo dulu kan, belum tentu dibolehin juga. Karena lo pasti bilangnya gini... 'orang gue belanja buat anak gue, ya belinya sama suami gue lah... bla bla bla...', ya nggak sih?" imbuhnya dengan gaya bibir mencibir-cibir.


Semua orang di dalam ruangan itu tertawa. Selenia kemudian kembali mendekati Cia dan merangkul sahabatnya itu manja. Selenia bahagia banget dengan kejutan yang dia terima pagi ini. Cia ternyata punya selera tinggi juga buat milih barang-barangnya Ray.


"Thanks ya Ciaaa.... lo tu emang sahabat gue yang paling best!" puji Selenia sambil menciumi pipi kanan dan kiri Cia bergantian.


"Dam, kamu boboin Ray di box nak," pinta Bu Lisa.


Dengan cekatan Adam pun segera meletakkan Ray ke dalam box bayi baru. Selenia dan Cia sama-sama mendekat. Mereka bertiga melihat Ray yang menggeliat-geliat aktif di dalam box dengan bibir lucu seperti mencari sesuatu.


"Sayang, Ray kayaknya haus deh. Kan dari rumah sakit tadi dia belum mimi lagi," kata Adam lirih.


"Uuuhh.... iya sayang... haus ya? mau mimi sama mommy?" Adam kembali mengangkat Ray.


"Sini sayang biar aku kasih mimi dulu," pinta Selenia. Selama berada di rumah sakit, dia belajar banyak tata cara menggendong bayi dari suster. Jadi Selenia sudah tampak ideal banget menggendong Ray.


"Jadi lo udah bisa kasih ASI langsung Sel?" tanya Cia.


Selenia mengangguk. Dia lalu membawa Ray kursi baru khusus untuk menyusui dan duduk di sana. Selenia baru saja akan membuka kancing baju, saat tatapannya mengarah pada beberapa pasang mata yang memandang ke arahnya.


Sadar apa yang akan dilakukan Selenia, Pak Edwin dan Pak Fendi pun langsung keluar kamar tanpa permisi. Rupanya Selenia masih memiliki rasa canggung untuk menyusui anaknya di depan banyak orang. Karena biasanya saat di rumah sakit, hanya Adam yang melihat aktivitas itu.


"Mama juga keluar nih?" Bu Lisa nyengir karena Selenia tak juga melanjutkan aktivitasnya meski Pak Fendi dan Pak Edwin telah keluar kamar.


Adam terkekeh. "Maaf ya ma, soalnya Selenia belum terbiasa."


"Hmmm... oke deh, kalau begitu Mama keluar. Tapi sebentar..." Bu Lisa berjingkat mendekati Ray dan mencium pipi bayi mungil itu singkat sebelum akhirnya meninggalkan kamar.


"Kayaknya gue juga mesti ikutan keluar nih," sambung Cia. "Kasian itu Ray keburu haus. Daaah Sel... gue ke bawah dulu ya."


Di kamar tinggal menyisakan mereka bertiga. Sebelum tangisan Ray semakin kencang, Selenia sudah terlebih dahulu menjejalkan putingnya ke mulut mungil Ray yang seketika membuat tangisannya berhenti.

__ADS_1


"Kamu kenapa ngelihatin aku kaya gitu?" tanya Selenia saat melihat Adam yang teramat fokus menatap wajah Ray yang menempel pada ***********. "Nafsu?"


Adam tersentak. "Ehhh ssst... kok ngomongnya gitu sih. Aku ngeliatin Ray sayang. Lihat deh, dia tu udah pinter banget miminya."


Selenia mencibir. "Masaaaa...??"


"Iya sayang... astaga," Adam merangkul pinggang Selenia gemas.


"Yang beneeeer...??" nada Selenia semakin menggoda.


Adam mengangkat sebelah alisnya sementara bibirnya menahan senyum. Tetiba dia merasa gairahnya seperti disulut. Dia lalu merapatkan tubuhnya ke Selenia dan...


"Dam kamu mau ngapain?" Selenia menoleh dan sedikit mendongak.


"Kamu cantik banget sih?" bisik Adam menggoda.


Selenia sedikit memundurkan kepala, tapi Adam justru melakukan hal sebaliknya. Kini posisi wajah mereka sangat dekat. Lalu dengan cepat, Adam menempelkan bibirnya ke bibir Selenia dan ********** lirih.


"Oeeeeek...!"


Suara itu mengejutkan keduanya yang sedang berpagut mesra. Saat ciuman itu berakhir, mereka sama-sama terkikik. Ternyata Ray tidak mau daddy dan mommynya mengganggu aktivitasnya yang lagi mimi.


"Aduuh ya ampuun... maafin daddy sayang. Daddy udah nggak tahan banget," celetuknya nakal sembari mengusap kepala Ray.


Selenia mencubit pinggang Adam. Dia lalu kembali menjejalkan putingnya ke mulut Ray yang sempat terlepas karena terganggu adegan tadi.


"Udah kamu keluar sana sayang, temuin yang lain," pinta Selenia.


"Kamu ngusir aku nih?" Adam pura-pura cemberut.


"Sayang, bukan ngusir.... lihat deh kamu kalau nungguin aku kaya gini malah jadi nggak fokus sama Ray kan, kasian... dia masih mau mimi."


"Ya udah oke oke oke... kalau begitu aku keluar. Tapi..." Adam mengedipkan matanya jahil.


"Apa??!!"


"Malam nanti kalau Ray bobok...."


"Apa lagi....." Selenia tidak bisa menahan geli melihat ekspresi wajah Adam yang memelas.


"Sayang, udah satu bulan lebih lhooo... kamu nggak kasian sama aku??"


"Hmmppffhhhh...!" Selenia menahan tawa. "Udah ah, aku belum mikir itu. Belum selesai nifas lhooo... gaboleh," dia meledek dengan menjulurkan lidahnya.


Adam menghela nafas berat. Dia lalu keluar kamar sembari mengacak-acak rambutnya. Dalam hati Selenia memang kasihan juga sama suaminya.


"Dasar laki," gumam Selenia.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2