
Cia tertawa geli menyambut kedatangan Selenia di sekolah untuk pertama kalinya setelah absen karena kecelakaan. Untuk menutupi bekas luka yang membuat kakinya tampak belang, Selenia memilih untuk menggunakan rok abu-abu panjang.
"Gak usah ketawa deh!" gerutu Selenia saat baru keluar dari mobil. Jalannya pun masih sedikit pincang.
Beberapa anak yang baru datang di sekolah memperhatikan ke arah Selenia. Sebagian ada yang menaruh simpati dengan mengabarkan kondisinya pasca kecelakaan, sebagian lagi tak acuh dan hanya melihat sekilas kemudian berlalu.
"Duuuuh... kasian banget tuan putri jalannya pincang," goda Cia. Dia menggamit lengan Selenia untuk membantunya berjalan.
"Dih, anjrit lo!" Selenia menyodok pinggang Cia.
Mereka kemudian berjalan beriringan menuju kelas dengan langkah pelan. Kaki Selenia belum bisa diajak jalan cepat seperti biasa karena masih terasa nyeri dari bekas lukanya.
Sepanjang perjalanan menyusuri koridor, Selenia mengedarkan pandangan ke lapangan basket. Beberapa murid laki-laki tampak sedang bermain basket, tapi dia tidak menemukan Tony di sana. Mungkin dia belum berangkat, gumam Selenia sembari melirik jam tangannya.
Sesampainya di kelas, beberapa murid perempuan menyambut Selenia dan berkerumun di mejanya. Mereka semua kepo dan ingin tahu kondisi Selenia pasca kecelakaan.
"Alah kalian pada sok perhatian, jenguk aja nggak mau!" celetuk Cia kesal.
Mendengar hal itu Selenia langsung menginjak kaki Cia dan membuatnya melompat. Cia apaan sih kalo ngomong nggak kefilter banget.
"Auuhh... sakit Sel..." Cia merintih mengusap-usap kakinya.
"Bukannya kita nggak mau jenguk ya Sel..." sahut Lala si sekretaris kelas mereka. "Cuacanya kan nggak mendukung banget, dikit-dikit ujan, dikit-dikit panas, males aja mau keluar," nada bicaranya terdengat sok simpatik.
"Iya, lagian rumah lo juga udah pindah kan katanya. Dan semenjak itu lo kan nggak pernah kasih tahu alamatnya di mana. Jadi gimana kita bisa jenguk kalau rumahnya aja nggak tahu?" sambung Desty.
Cia cuma mencibir mendengar alasan-alasan itu. Tapi menurut Selenia, memang ada baiknya juga mereka nggak datang ke rumah. Dan memang, semenjak dia menikah dengan Adam lalu pindah rumah, tak ada satupun teman sekelasnya yang tahu alamat rumah Selenia yang baru kecuali Cia. Nggak bisa dibayangkan deh, seandainya mereka tiba-tiba datang dan.... arghh.... tidak menutup kemungkinan kan hal itu akan membuat pernihakan rahasia mereka terbongkar.
"Gue udah nggak pa-pa kok. Ini udah mendingan daripada kemarin," ucap Selenia.
"Terus lo udah ketemu sama orang yang nabrak lo?" tanya Lala.
"Mmmm.... udah sih..." Ingatan Selenia melayang pada sosok orang yang berpakaian serba hitam yang menubruknya di depan sekolah, hingga informasi dari Adam yang memberitahukan bahwa pengirim paket misterius itu adalah orang yang sama dengan orang yang menyerempetnya menggunakan motor. Dia jadi penasaran seperti apa wajahnya.
"Terus-terus???" sambung Feni. "Di jeblosin ke penjara nggak?"
Selenia menggeleng. "Sama suami gu...." bibirnya terkatup begitu sadar telah salah bicara. Begitu juga Cia yang tiba-tiba menoleh dan melotot. Beruntung teman-teman mereka tidak begitu ngeh dengan apa yang barusan Selenia katakan. "Maksud gue... keluarga gue sepakat untuk diselesaikan secara kekeluargaan aja. Jadi nggak diperpanjang."
Lala mendesis kecewa. "Aduh Sel, sayang banget. Kalau gue jadi elo... udah gue mintain ganti rugi banyak tuh orang."
Terdengar seruan "Huuuuuu..." dari yang lain mendengar celotehan Lala.
"Lhoh... iya dong. Itu namanya kriminal, tabrak lari guys. Gak bisa dianggap maen-maen," bantah Lala.
"Duit aja otak lo!" sahut Desty sembari menoyor kepala Lala pelan.
"Ya jelas dong. Ngobatin tuh luka kan butuh duit juga. Ya kalau cuman luka, kalau sampai patah tulang... emang cukup dibayar pake kata maaf doang."
"Dih patah tulang? Amit-amit," spontan Selenia mengetukkan tangannya di meja.
"Makanya itu," Lala terus merong-rong. Karakter dia memang seperti itu kalau ngomong. Dan kali ini dia tampaknya sedikit menunjukkan sikap yang friendly pada Selenia.
"Iya tapi kan Selenia nggak patah tulang dodol!" sahut Cia nggak terima.
"Maksud gue.. 'kalau sampai' Cia.... seandainya... gitu..." ucap Lala lagi. Yang lainnya cuma ngangguk-ngangguk membenarkan kalimat terakhir Lala.
"Tapi untung aja cuma luka ya Sel?" Poppy, murid yang terkenal paling kalem--dia satu-satunya siswi yang memakai hijab di kelas--menengahi. "Meskipun itu pasti sakit juga. Banyak ya jahitannya?"
"Lumayan sih Pop. Gue nggak ngehitung," Selenia tersenyum kecil. "Dan ini masih sedikit nyeri juga."
"Kalau emang masih sakit, mendingan tadi nggak masuk aja dulu Sel," Feni menimpali.
__ADS_1
"Surat izin dari Dokter cuma sampe kemarin Fen."
"Ya udah bubar bubar bubar bubar......!" Cia mengusir kerumunan mereka. Dan bersamaan dengan itu terdengar bell masuk kelas berdering. "Tuh udah bel. Bubar... bubar..."
Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Lala dengan gaya centilnya--pesaing Cia--menggoyang-goyangkan kepala sebelum pergi ke bangkunya.
...🌺🌺🌺...
"Kok dari tadi pagi gue nggak liat Tony ya Ci?" Selenia mengarahkan pandangannya ke luar kelas.
Di jam istirahat siang itu Selenia memilih untuk tidak pergi ke kantin. Selain karena kakinya masih pincang buat jalan, dengan kondisinya yang seperti ini juga, pergi ke kantin cuma buang-buang waktu. Dia kan sedang tidak bisa bergerak cepat. Apalagi letak kantin dari kelasnya lumayan jauh. Beruntung Cia bisa mengerti keadaannya dan mau menemaninya di kelas. Sahabatnya itu cuma makan snack sereal sambil nonton drakor yang lagi On Going.
Cia mempause tontonannya dan memutar tubuh menghadap ke Selenia. "Dia memang akhir-akhir ini nggak pernah masuk sekolah Sel," ujarnya.
"Ditambah lagi kena kasus kemarin yang seperti lo bilang ke gue. Dia nggak pernah nongol lagi di sekolah."
"Dia ada masalah apa ya?" Selenia menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal menggunakan ujung telunjuknya. "Kayaknya tuh auranya beda gitu sekarang.
"Maksud lo?"
"Lo nggak inget, pas tempo hari dia datang ke rumah gue sama lo buat jengukin gue? Dia tuh tampangnya kaya.... gimana sih....ck... kaya nyimpen sesuatu gitu. Semacam beban pikiran gitu lho."
"Masa sih?" Cia mengangkat sebelah alisnya. "Hmmmm... kayaknya kalau itu gue tahu deh." senyumnya mengembang.
"Apaan?"
"Kalau yang di rumah lo dia kelihatan bad mood, itu mungkin karena dia jealous sama Adam. Jadi rada-rada menyimpan beban perasaan plus pikiran gitu... hahaha"
Selenia reflek memukul bahu Cia. "Ck, gue serius Cia. Lo perhatiin deh, jangan Marvin mulu."
"Hahaha... ya iyalah mending gue perhatiin Marvin. Dia cowok gue..."
"Emang lo mau ngapain sih nelfon dia?"
Selenia menghela nafas. "Gue mau bilang makasih sama dia Ci. Biar bagaimanapun, dia itu udah nolongin gue. Kalau bukan karena dia, mungkin tuh peneror belum ketahuan sampai sekarang," dia mencari-cari nomor Tony di kontak dan mencoba menelfon.
The number you are calling is not actived, please try again later...
"Tuh kan masih nggak aktif juga," Selenia menggembungkan pipinya.
"Oh iya bener. By the way... siapa tuh penerornya. Gue jadi penasaran."
Selenia terdiam. Haruskah dia mengatakan pada Cia siapa orangnya?
"Siapa Ci? Kok malah diem, dia beneran udah ketangkap kan?
Mendengar pertanyaan itu, Selenia semakin tidak yakin untuk memberitahu Cia. Betapa hebohnya reaksi sahabatnya itu kalau tahu pelaku teror tersebut hanya mendapat hukuman sebagai tahanan kota.
"Gue kasih tahu, tapi lo jangan heboh," Selenia memperingatkan. Cia mengangguk cepat. "Orang itu.... mantan suaminya Renata...."
Cia sudah membuka mulutnya menganga saat Selenia dengan cepat langsung menunjuk dan memelototi. Membuatnya tidak jadi memekik atau berteriak atau apalah. Namun raut wajah Cia masih menunjukkan kekagetan.
"Kok bisa sih dia ngelakuin itu sama lo? Why?"
Selenia akhirnya menceritakan tentang Adam yang pernah membantu Renata mencarikan pengacara untuk menghadapi tuntutan mantan suaminya yang menggugat hak asuh anak mereka. Sampai tentang kejadian tabrak lari yang dengan sengaja dilakukan oleh mantan suami Renata padanya. Dan ternyata dugaan Cia tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah dipikirkan Adam.
"Bener tuh dia dendam sama Adam. Tapi saiko banget kalau yang jadi sasarannya elo. Kurang ajar banget sumpah. Gue jadi pengen liat tampangnya kaya apa. Sosoan neror orang!" omel Cia geram.
Selenia tertawa geli melihat ekspresi itu.
"Lo jangan ketawa Sel. Dia udah ngancam keselamatan lo," Cia masih tidak terima.
__ADS_1
"Ya gue sebenernya juga gedeg Ci. Tapi mau gimana lagi? Udah kejadian ini. Untung aja sih gue masih selamat. Ya nggak sih?"
Cia mencibir. "Yeeeee.... selamat sih selamat, tapi nggak gitu juga konsepnya, main ngawur. Eh tapi Sel..." Cia beringsut. "Seandainya nih, tuh orang kan nggak dibui, trus semisal nih, lo ketemu sama dia... lo mau apain orang itu?"
Selenia menggeleng. "Nggak tahu."
"Kok nggak tahu sih?" Cia menatap Selenia heran. "Hajar dong. Gue yakin deh tuh orang pasti bakalan sering berkeliaran di sekitar kita. Apalagi dia bukan orang jauh."
"Ya gimana gue mau ngehajar kalau gue aja nggak pernah liat gimana wajahnya?" ucap Selenia enteng sambil tersenyum geli demi melihat ekspresi Cia yang sejak membicarakan si peneror itu tampangnya terlihat sangat geram. "Kalau salah orang gimana? Malah gue dong yang dipenjara. Igghhh..." Selenia bergidig.
Cia mendengus lirih "Lagian kenapa sih dia nggak dipenjara aja. Meresahkan banget. Emang cuma jadi tahanan kota, bisa ngejamin dia nggak ngelakuin kejahatan lagi? Enggak kan??"
"Ya udah lah Ci, nggak usah overthinking. Lo malah bikin gue jadi takut deh."
"Gue bukannya overthinking Sel. Logika aja deh, namanya juga manusia. Apalagi karakternya kaya gitu. Nyerang orang aja ngawur." Cia masih tampak menggebu-gebu. "Eh... tapi Adam sama Tony pasti tahu tuh. Kan mereka udah saling tatap muka kan di kantor polisi?"
"Ah udahlah Ci, nggak usah dibahas lagi," Selenia menepiskan tangannya. "Gue tuh udah pengen ngelupain masalah ini, malah dibahas lagi. Udah ah!"
Bersamaan dengan itu, mata mereka melihat Tony yang melintas di depan kelas menuju ke kelasnya. Dia masih mengenakan jaket dan tas yang menggantung di punggung.
"Eh itu Tony." Cia berdiri. "TONY!" teriaknya lantang.
Selenia langsung menarik lengan Cia, memprotes sikapnya yang berteriak di dalam kelas.
"Cia... jangan teriak gitu napa sih? Kebiasaan deh."
Tony yang tadinya sudah berjalan melewati kelas mereka, tiba-tiba menongolkan kepalanya di ambang pintu, lalu perlahan memundurkan tubuhnya. Sebuah senyum tersungging di bibirnya melihat Selenia sudah kembali ke sekolah.
"Selenia?" Tony melangkah dengan gontai mendekati meja Selenia.
"Kamu udah masuk lagi? Udah sembuh ya?" dia menunduk, melihat kaki Selenia yang tertutup rok panjang. "Pakek rok panjang?" Tony tersenyum geli.
"Iya, baru hari ini aku masuk lagi. Kamu kok masih bawa tas?"
"Aku emang baru berangkat kok," jawab Tony enteng.
"Kamu bolos lagi?" sahut Cia.
"Bangun kesiangan, terus daripada nggak berangkat, mending telat kan?"
Cia dan Selenia saling pandang. Ni anak kok kaya sepele banget sih sama urusan sekolah? Batin mereka hampir bersamaan.
"Mmmm, oh iya Ton, nanti kita ada waktu buat ngomong nggak?" tanya Selenia kemudian.
"Mau ngomong apa?" kening Tony mengernyit.
Cia menatap Selenia. Perkara bilang makasih aja kenapa pakek nanti sih? batinnya.
Baru saja Selenia mau membuka mulut, bel tanda istirahat berakhir berbunyi.
"Nanti aja pulang sekolah ya. Udah bel soalnya." Selenia tersenyum canggung.
"Oh, oke deh. Aku juga mau ke kelas. Bye...!" Tony memutar tubuh dan berjalan keluar dari kelas Selenia.
Tanpa mereka tahu, Lala ternyata dari tadi nguping pembicaraan Selenia dan Cia. Meski mendengar bagian cerita lain, tapi dia hanya fokus mendengarkan bagian saat Tony rela mengorbankan diri menjadi napi 24 jam hingga menjadi tahanan kota hanya demi menolong Selenia.
Tony segitunya banget sih bantuin Selenia? Ugh! Lala masuk kelas dengan wajah masam memandang ke bangku Selenia. Tapi tampaknya Selenia tidak menyadari hal itu.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1