NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -48-


__ADS_3

Malam itu, Tony diam-diam masuk ke ruang kerja Ayahnya di rumah. Ruangan besar dengan banyak buku, berkas, dokumen dan map itu tampak hening. Dia berjalan mendekati almari kaca besar untuk mencari sesuatu. Ya, Tony akan memulainya dari sini. Sejak mendengar percakapan Cia dan Selenia waktu itu, pikirannya tidak bisa abai begitu saja. Kalau dulu Ayahnya pernah bilang Adam masih single, kenapa Selenia menyebut laki-laki itu suaminya. Atau itu cuma panggilan Selenia pada Adam? Sebagai penekanan bahwa hubungan mereka tidak main-main?


Ah! Nggak mungkin. Itu terlalu naif. Mana mungkin Selenia seserius itu menjalin hubungan, apalagi Adam itu kan..... sudah tua untuk ukuran pacar seorang Selenia yang masih 17 tahun.


Tony membuka map bersampul coklat dengan tulisan STAFF CV. PERKASA ADIGUNAWA. Dia meneliti setiap nama di dalam lembaran map tersebut dan pencariannya berhenti saat menemukan nama seseorang.


Nama : Adam Lucas Prawira


Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 18 December 1991


Pendidikan Terakhir : .......


Belum selesai Tony membaca CV milik Adam, dari luar terdengar suara mobil memasuki garasi. Dengan cekatan Tony menarik lembaran CV milik Adam tersebut, menggulung dan menyelinapkan ke dalam kaus yang dia kenakan. Tak lupa sebelum keluar dia mengembalikan map bersampul coklat tersebut ke tempatnya semula.


"Fyuuhhhhh..." Tony menghela nafas lega di balik pintu kamar. Beruntung dia sudah keluar dari ruangan tersebut sebelum Pak Anton memergokinya.


...🌺🌺🌺...


Renata terduduk lesu di kamarnya. Tangannya memegang selembar kertas sementara matanya menatap sendu ke arah Nola yang sudah tertidur pulas. Dia tidak pernah mengira Devan--mantan suaminya--akan melakukan tindakan seperti ini. Sudah hampir 2 tahun mereka tidak bertemu, tidak menjalin komunikasi, dan tiba-tiba saja sekarang mantan suaminya itu melayangkan gugatan untuk meminta hak asuh Nola. Bagaimana bisa dia melakukan itu?


Renata menangis dalam kesendirian. Dia lelah, ngantuk, tapi tidak bisa tidur. Harinya mendadak terasa begitu berat setelah dia menerima surat itu. Apa yang harus dia lakukan?


...🌺🌺🌺...


Marvin datang ke rumah Cia dan di sambut oleh Aldo yang sedang bermain dengan Chloe--kucing kesayangannya--di teras. Siang tadi dia sudah berjanji pada Cia untuk mengajaknya menikmati city light kota Jakarta. Cia yang dasarnya memang senang keluar, jalan-jalan dan kongkow langsung antusias dan mengatakan setuju.


"Daaaghh...! Aku jalan dulu ya Ma," teriaknya sembari berlari keluar rumah.


"Jangan pulang malem-malem Cia," pesan Bu Hilma. Dia mengantar anak perempuannya itu sampai di teras.


"Malam tante," sapa Marvin sopan pada Bu Hilma.


"Marvin, kamu mau ngajak Cia kemana sih memangnya?" tanya Bu Hilma kalem.


"Cuma jalan-jalan aja kok tante. Saya janji, nggak pulang malem-malem."


"Ya udah yuk Vin," ajak Cia penuh semangat. "Daaa Mamah... mmuah mmuaahh," dia mencium pipi kanan dan kiri Bu Hilma.


Mereka berdua berpamitan dengan Bu Hilma sebelum meluncur menikmati city light Ibukota.


...🌺🌺🌺...


Pak Fendi sedang berbicara dengan rekan bisnisnya di UK melalui sambungan telephone di lantai bawah. Sedangkan Selenia tengah berkutat dengan PR-nya di kamar. Keningnya berkedut-kedut memandangi soal matematika di depannya. PR yang menyisakan tiga soal itu hampir membuatnya menyerah.

__ADS_1


Ini kenapa susah banget sih?! Geramnya sembari melempar pensil ke atas lembaran PR tersebut. Dia meraih ponselnya dan menghubungi Cia untuk menanyakan apakah sahabatnya itu sudah mengerjakan semua PR-nya. Tapi sialnya Cia malah sama sekali tidak mengangkat telfonnya.


Arggh! Selenia melempar ponselnya ke meja. Dia beranjak untuk mengambil air minum dan cemilan di dapur. PR itu harus selesai malam ini atau besok dia akan mendapatkan nilai merah. Bu Ningsih, guru matematika kelas Selenia terkenal pelit memberikan nilai dan jarang ada toleransi.


Saat Selenia membuka pintu, Adam juga ternyata hendak keluar dari kamarnya sendiri. Mereka saling tatap dan sama-sama keluar. By the way, Selenia sudah melupakan kejadian di pemakaman sore tadi, karena Adam terus meyakinkan padanya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang Renata. Selenia memutuskan untuk percaya dan tidak mau memikirkan lebih jauh.


"Kamu kenapa sih kok suntuk gitu mukanya?" tanya Adam. Dia menjajari langkah Selenia.


"PR susah banget," jawab Selenia lesu. "Mana besok dikumpulin lagi. Ck!"


"Mau aku ajarin?" Adam menawarkan.


Langkah Selenia terhenti. "Memangnya kamu bisa?"


Adam terkekeh. "Kamu ngeremehin aku apa gimana nih?"


Selenia nyengir. Iya sih. Adam memang pintar dalam segala hal. Termasuk meluluhkan hatinya akhir-akhir ini (haisshh!).


"Ya udah boleh deh. Aku udah pusing banget soalnya," Selenia mengacak-acak rambutnya sendiri. "Tapi bentar ya, aku mau ambil minum sama cemilan dulu," ucapnya sembari berlalu.


"Boleh sekalian aku minta tolong?"


"Minta tolong apa?"


"Hmmm, oke. Tunggu ya," gumam Selenia sembari menuruni tangga.


...🌺🌺🌺...


Selenia sengaja membuka pintu kamarnya selebar mungkin untuk menghindari pikiran negativ Pak Fendi, karena Adam sedang berada di kamarnya. Mereka berdua duduk di atas karpet, mendiskusikan soal matematika yang hampir membuat kepala Selenia pecah.


Ternyata memang benar. Soal yang Selenia anggap sulit itu bisa di selesaikan dengan mudah oleh Adam. Dia membuat coretan di selembar kertas sembari menjelaskan satu per satu pada Selenia, layaknya guru les privat mengajari muridnya.


Kenapa penjelasan Adam lebih mudah dipahami daripada penjelasan Bu Ningsih? Batin Selenia.


Tidak butuh waktu lama, Selenia sudah berhasil menyelesaikan sisa soal-soal matematika itu.


"Makasih ya Dam," Selenia menutup bukunya dan memasukkan ke dalam tas. "Aduh, nggak tahu deh kalau nggak ada kamu."


"Makanya kamu tuh kalau ada apa-apa jangan diem aja dong. Ngomong sama aku kenapa sih Sel?"


"Takutnya kamu juga lagi sibuk. Kan nggak enak."


"Aku pasti luangin waktu buat kamu kok. Kapanpun itu," Adam mengacak-acak rambut Selenia. "Kamu harus dapat nilai bagus, biar nanti bisa lanjutin kuliah ke Universitas favorit kamu."

__ADS_1


Selenia tersenyum simpul. "Sekali lagi, makasih ya."


Adam membalas senyuman itu. Duh, gemesh banget rasanya melihat wajah ABG ini! geram Adam dalam hati.


Saat hendak mencium kening Selenia, Adam mendengar langkah kaki mendekat ke arah kamar, jadi dia kembali menarik kepalanya dari dekat kepala Selenia. Mereka berdua gugup karena tahu itu pasti Ayah. Adam menyabet buku tebal di depannya, dan Selenia dengan asal malah meraih majalah fashion yang memang sudah ada di situ sejak lama.


"Kalian lagi pada ngap...?" Pak Fendi tidak melanjutkan pertanyaannya.


Dia tertegun diambang pintu melihat Adam dan Selenia yang tengah fokus dengan buku di tangan masing-masing. Meskipun ada rasa heran saat melihat buku yang dibaca Selenia, tapi Pak Fendi memilih untuk tidak mengacaukan kebersamaan mereka.


"Sepertinya kalian lagi sibuk ya? Oke deh, biar Ayah turun aja. Kamu jangan tidur malem-malem lho Sel," pesan Pak Fendi sebelum berbalik meninggalkan kamar.


"Iya Ayah," gumam Selenia. Begitu Pak Fendi menghilang dari ambang pintu, mereka saling pandang dan terkikik bersamaan.


Adam pun dengan sigap langsung menarik tubuh Selenia ke dekatnya, mendekap dan mencium kening istrinya itu berkali-kali.


"Aku tu gemessss banget sama kamu sayang! Ya ampun....! Errgghhh!!"


...🌺🌺🌺...


Pendidikan Terakhir : Magister Of Architecture, University Of Washington.


Status Pernikahan : Single


Dan beberapa baris data identitas CV milik Adam, Tony baca sampai tuntas. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa di dalam kamar dan berpikir.


Suami?


Pacar?


Tunangan?


Atau...... dia laki-laki yang suka memanjakan gadis-gadis dibawah umur?


Kepala Tony menggeleng kuat-kuat. Nggak mungkin! Selenia bukan cewek seperti itu.


"Hfffhhhhhhh...!!" Tony mendesah, bangkit dan menyelipkan lembaran tersebut pada buku di meja belajar.


Pencariannya belum membuahkan hasil.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2