NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -108-


__ADS_3

Seperti yang pernah Adam janjikan dulu, sore ini Adam menemani Selenia check up ke klinik. Mereka memilih waktu sore hari karena, yah seperti biasa, kalau pagi Selenia kan harus tetap masuk sekolah. Tak lupa Bu Lisa juga turut mengantarkan. Karena justru dia lah yang sangat antusias dan tidak sabar menunggu waktu ini.


Oh iya, semenjak keluar dari rumah sakit, Adam meminta kelonggaran waktu pada Pak Anton karena dia belum bisa secepatnya kembali ke kantor. Dia meminta keringanan untuk bisa bekerja dari rumah. Pak Anton tentu tidak keberatan akan hal itu. Dia justru menyarankan kalau Adam kembali ke kantornya nanti saja sekalian selepas tahun baru--toh tinggal beberapa hari ini. Jadi untuk sementara, posisi Adam di gantikan oleh Irham (sebagai General Manager In Charge).


Bu Lisa berjalan dengan langkah elegant di depan, diiringi oleh Selenia dan Adam yang berjalan beriringan di belakangnya. Mereka bertiga menyusuri lorong menuju ruang SPOG. Tempat di mana Dokter Indari, orang yang pernah memeriksa Selenia untuk pertama kali dulu bertugas. Saat pertama kali masuk ke klinik tadi, jantung Selenia sudah berdebar tidak karuan. Dia bahagia, karena ini adalah kali pertamanya dia check up ditemani oleh Adam dan mama mertuanya. Tapi di sisi lain, dia was-was juga kalau tiba-tiba bertemu Dokter Lula yang suka heboh itu. Dia pasti bakal berkomentar banyak hal karena semenjak periksa entah kapan itu Selenia tidak pernah datang lagi sampai hari ini.


Mereka bertiga telah tiba di depan ruang praktek Dokter Indari. Bu Lisa mengetuk pintu, dan tak lama terdengar sahutan dari dalam, mempersilahkan masuk.


Namun betapa kagetnya Selenia begitu mendapati siapa sosok yang sedang duduk di atas kursi putar yang pernah diduduki Dokter Indari itu. Dokter Lula dengan mata yang sama membelalaknya dengan Selenia--tapi bedanya, dia membelalak senang karena bisa kembali bertemu dengan Selenia. Ssst... sebenarnya selama beberapa hari Selenia tidak pernah lagi menampakkan diri di klinik untuk memeriksakan kandungan, Dokter Lula memiliki perasaan khawatir atas anak itu. Dia berpikir, kenapa Selenia tidak datang lagi? Apakah pacarnya sudah tahu kalau dia hamil dan tidak mau bertanggung jawab? Apakah pacarnya memaksa dia untuk menggugurkan kandungannya? Dan beberapa pikiran buruk lain. Itulah kenapa saat melihat Selenia datang, Dokter Lula langsung bersemangat, seolah seperti baru saja menemukan permatanya yang hilang. Dia berlari menghampiri Selenia dan memeluk anak itu erat-erat.


Selenia cuma bisa melongo di balik punggung Dokter Lula. Begitu juga dengan Adam dan Bu Lisa. Mereka saling tatap heran. Tapi yang membuat Adam bingung, bukankah Dokter ini yang dulu melepas jahitan di kaki Selenia pasca kecelakaan itu? Kenapa sekarang pindah haluan jadi Dokter kandungan? Dan kenapa mereka tampak sangat akrab sekali?


"Lho? D-dokter Indari mana dok?" tanya Selenia gugup setelah tubuhnya berhasil terlepas dari dekapan Dokter Lula.


Dokter Indari? kening Adam mengernyit. Siapa lagi dia? Kok sepertinya selain akrab dengan Dokter ini, Selenia juga sudah sering datang ke sini diam-diam tanpa sepengetahuan dirinya deh. Buktinya dia tidak hanya mengenal satu dokter saja.


"Dokter Indari lagi ada acara. Keponakannya mau nikah, jadi dia nggak masuk. Makanya tugasnya diserahkan ke saya untuk sementara," jawab Dokter Lula. "Kamu apa kabar???" tanyanya kemudian, sok akrab.


"Baik kok dok," jawab Selenia malas.


"Ya sudah ayo silahkan..."


Dokter Lula mempersilahkan mereka bertiga duduk di sofa--karna kursi di depan meja kerjanya tidak cukup kan untuk mereka. Dia lalu mengambil alat untuk mengukur tensi darah.


"Tunggu dok," tahan Adam sebelum Dokter Lula memeriksa istrinya. Dokter Lula mendongak, menatap Adam. "Bukannya Dokter ini dulu yang ngelepas jahitan bekas luka di kaki Selenia ya?"


"Iya betul," jawab Dokter Lula enteng. " Ada masalah?" dia tahu kekhawatiran Adam.


Ada jawaban yang ingin Adam sampaikan tapi takut membuat Dokter Lula tersinggung. Apa dia bisa memeriksa kehamilan Selenia? Secara, ini kan bukan spesialis dia.


Dokter Lula terkekeh. "Anda tidak perlu meragukan saya lho....."


Lalu dengan cekatan, Dokter Lula mulai memeriksa tekanan darah Selenia yang ternyata normal. Sembari memeriksa, bukan Dokter Lula namanya kalau nggak heboh. Entahlah, penilaian itu sudah terlanjur melekat di diri Selenia tentangnya. Dari pertama kali kenal dan bertemu dia, dokter ini memang heboh dan rame banget.


"Jadi, kalian kapan nih mau menikah?" celetuk Dokter Lula sembari memompa alat tensi. "Jangan ditunda-tunda dong ya, kasian si baby nanti. Kasian juga si bumil kalau tidak ada suami siaga di sampingnya," imbuhnya, sok tau!


Selenia tersenyum getir saat melirik Adam dan Bu Lisa yang tampak kebingungan mendengar pertanyaan Dokter Lula. Aduh, ini Dokter kenapa culametan banget sih?


Adam baru saja akan membuka mulut dan mengatakan kalau sebenarnya mereka berdua ini sudah menikah, tapi Selenia sudah terlebih dahulu meraih lengannya dan meremasnya.


"Eee... sebentar lagi kok dok," jawab Selenia asal. "Iya kan sayang?" tanyanya pada Adam dramatis. Dia mengedip-ngedipkan matanya memberi isyarat supaya Adam mengangguk.


Adam bingung. Jadi mau tak mau dia pun mengangguk saja.


"Kamu tahu nggak sih? Saya sempet berpikir buruk lho, semenjak kamu tidak pernah datang lagi ke sini," lanjut Dokter Lula. Dia telah selesai memeriksa tensi darah Selenia.


"Berpikir buruk apa dok?" Selenia penasaran.


Dokter Lula menyimpan alat tensi darahnya ke dalam kotak.


"Iya, saya pikir kamu sedang dalam masalah. Kaya kamu sudah ngomong sama pacar kamu, dan ternyata pacar kamu menolak untuk tanggung jawab. Karena.... saya sudah sering menangani kasus-kasus semacam ini, hehehe... anak-anak yang... MBA--Married by Accident, gitu... dan nggak jarang lho, beberapa dari mereka yang meminta bantuan ke saya untuk melakukan...." Dokter Lula berbisik. "...aborsi. Tapi saya nggak mau, itu namanya pembunuhan. Dosa juga kan? Hiiihhhh..." dia bergidig .


Oh my God!! Baik Adam, Selenia maupun Bu Lisa sama-sama membelalak mendengar pernyataan Dokter Lula. Apa-apaan sih? Bisa-bisanya dia ngomong tanpa tedeng aling-aling di depan orangnya langsung begini? batin Selenia. Lagian siapa juga yang mau aborsi? Naudzubillah...


"Oh iya, Ibuk ini... mamanya Selenia atau... mamamya pacarnya?" tanya Dokter Lula kepo.


Bu Lisa yang sudah menahan emosi semenjak Dokter Lula berpikir buruk tentang Adam yang dipikir hanya pacar Selenia dan tidak akan mau bertanggung jawab, mencoba menahan nafas pelan dan panjang.


"Saya mamanya Adam...." Bu Lisa memaksa senyum sembari menggamit lengan Adam. "...pacarnya Selenia," tegasnya menekankan kata Pacar.


"Ohh..." Dokter Lula manggut-manggut. "Oh iya... mau dengar detak jantung si baby?" tanya Dokter Lula tanpa sedikitpun mempedulikan ekspresi wajah Bu Lisa yang sudah menahan geram.

__ADS_1


Kening Selenia mengerut. "Memang sudah bisa Dok?"


"Bisa dong. Ayok ikut saya," Dokter Lula membimbing Selenia ke tempat tidur periksa, diikuti Adam dan Bu Lisa.


Selenia berbaring. Saat Dokter Lula menyibakkan pakaiannya dia sempat melirik ke Adam yang terlihat penasaran. Dokter Lula kemudian mengoleskan cairan yang terasa dingin ke perut Selenia sebelum akhirnya meletakkan alat yang terhubung dengan monitor di depan mereka.


Perlahan, layar di monitor memperlihatkan warna hitam dan putih yang sama sekali tidak Selenia mengerti. Namun Dokter Lula dengan tangkas menjelaskan di mana letak bayi, usia bayi, detak jantung, perkiraan berat badan dan panjang bayi--yang tentunya masih teramat kecil mengingat usianya baru lepas dua bulan.


Mereka bertiga bahagia melihat gambaran kecil di layar tersebut. Beberapa kali Adam mencium tangan Selenia, membuat Dokter Lula turut merasa berbunga-bunga.


"Duh, kalian ini benar-benar pasangan yang serasi," celetuknya.


Kehamilan Selenia baik-baik saja dan perkembangan janinnya normal. Setelah selesai pemeriksaan USG, Dokter Lula menuliskan beberapa resep yang harus ditebus di apotek. Dia juga berpesan pada Adam supaya senantiasa selalu memberikan perhatian lebih untuk Selenia di masa-masa kehamilannya.


"Harus makan teratur, vitaminnya juga diminum, terus.... jangan lupa minum susu."


...🌺🌺🌺...


Bu Lisa meluapkan emosinya begitu mereka bertiga sudah berada jauh dari ruangan Dokter Lula. Dia bilang Dokter Lula itu nggak pantes jadi Dokter karena kalau ngomong suka asal dan sok tahu.


"Biang gosip banget. Enak saja anak saya dianggap udah ngehamilin anak orang dulu sebelum nikah," sungut Bu Lisa. Dia terus menggerutu sepanjang lorong, membuat Adam dan Selenia saling sikut di belakang.


Selenia merasa bersalah banget karena asumsi Dokter Lula membuat mertuanya sakit hati.


Sampai akhirnya, Selenia pun terpaksa menghentikan langkah Bu Lisa untuk menjelaskan semua kesalah pahaman tersebut. Mereka bertiga duduk di kursi kosong yang ada di lorong.


Hampir 20 menit mereka bertiga berbicara di sana. Selenia menjelaskan dari A sampai Z, alasan Dokter Lula mengira seperti itu pada Adam. Dan untunglah Bu Lisa mau mengerti. Begitu juga dengan Adam yang baru mengerti alasan sebenarnya hari ini. Dia mengacak-acak rambut Selenia gemas. Bisa-bisanya.... errrgghhh.


Mereka kembali melanjutkan langkah sebelum hari beranjak petang.


Di ujung lorong, tak sengaja mereka berpapasan dengan dua orang perempuan beda usia. Lala! Melihatnya, membuat Selenia reflek melepaskan gamitan tangannya dari lengan Adam yang sedari tadi dia gelendotin dengan manja.


Lala masih ingat betul dengan Adam. Ini bukannya orang yang pernah temuin Selenia di kantin dulu?


"Lala? Lo... ng.... ngapain di sini?" tanya Selenia gugup.


Bu Lisa memperhatikan gerak-gerik Lala dan caranya menatap Selenia.


"Gue? Gue temenin kakak gue periksa kandungan. Karena suaminya lagi di Singapore," jawabnya sedikit angkuh. "Lo sendiri ngapain di sini? Dari SPOG lagi?" tatapnya penuh rasa curiga.


Jantung Selenia sudah berdebar. Dia tahu tidak bisa mengelak lagi.


"Ee.. gue lagi..."


"Dia keponakan saya," sahut Bu Lisa kemudian, menyelamatkan kegugupan Selenia.


"Kami baru saja dari SPOG, memeriksa kondisi rahim saya, karena sudah dua bulan saya tidak datang bulan. Mungkin kondisi hormon kali ya...." Bu Lisa tersenyum sinis pada Lala. Dia melakukan itu, karena tahu anak ini pasti sudah berpikir benar atas Selenia. Tapi dia tentu tidak ingin Lala mengetahui yang sebenarnya dan akhirnya itu akan membahayakan Selenia. Anak ini sepertinya ratu gosip di sekolah. Terlihat cocok banget kalau disandingkan dengan Dokter tadi. batin Bu Lisa geram.


"Oow..." wajah Lala menciut mendapat tatapan tajam dari Bu Lisa.


"Ya udah dek, ayok," kakak Lala menarik tangan Lala. "Kami duluan ya, permisi semua."


Selenia bernafas lega karena Bu Lisa berhasil menyelamatkannya. Tapi bukan Lala namanya kalau nggak kepo. Karena saat berlalu menuju ruang SPOG pun, dia masih sesekali menengok ke belakang memperhatikan Selenia dan Adam yang juga berlalu ke luar klinik.


...🌺🌺🌺...


Selenia dan Cia sudah tiba di sekolah 10 menit lebih awal dari biasanya. Hari ini sudah mulai akan diadakan simulasi ujian nasional setiap dua kali seminggu. Jadi khusus anak-anak kelas 3 harus sampai di sekolah lebih awal dari biasanya.


Saat baru saja memasuki kelas, keduanya langsung disambut oleh Lala dan grupnya yang memberikan tatapan penuh selidik ke arah Selenia. Cia sudah tahu apa maksud mereka, terutama Lala. Karena semalam Selenia sudah menceritakan padanya tentang pertemuannya dengan Lala di klinik dan dia sangat khawatir Lala bakalan culametan dan ngomong yang enggak-enggak di sekolah.


"Kayaknya emang bakal gitu deh, kaya lo nggak tahu modelnya Lala aja," celetuk Cia semalam.

__ADS_1


Cia yang sudah hafal banget sama karakter Lala, sudah menduga hal itu bakalan jadi gosip. Dan ternyata benar. Tatapan Lala ke Selenia pagi ini, pasti masih ada hubungannya dengan pertemuannya di klinik kemarin.


"Ngapain lo liatin kita kaya gitu?" tanya Cia sewot.


"Siapa juga yang liatin lo?" balas Lala tak kalah sinis. "Gue ngelihatin Selenia kok."


"Kenapa lo ngelihatin gue? Ada yang salah sama gue?" tanya Selenia lebih kalem.


"Mmm.... sorry sorry to say ya Sel... tapi sumpah, gue sebenarnya masih penasaran banget sama pertemuan kita di klinik kemaren," ucap Lala lenjeh.


"Penasaran? Maksudnya?"


"Ya... gue nggak percaya aja gitu kalau yang ke SPOG kemarin tante lo. Dan... cowok yang kemaren... eh bukan cowok ding, tapiii Om-Om..." Lala menutup mulutnya sekilas setelah menyebut kata Om-Om.


"Dia yang pernah nyamperin lo di kantin dulu kan?"


Selenia meradang mendengar Lala menyebut Adam dengan sebutan Om-Om. Tapi dia berusaha keras menahan diri untuk tidak emosi.


"Iya, terus kenapa?" tanya Selenia tenang tapi ketus.


"Dia pacar lo? Eh... maksud gue... bukan lo yang.... hamil juga kan?"


Jantung Selenia berdebar kencang dan dia mencoba untuk tetap tenang. Calm down, Selenia... she don't know the truth... Selenia meraba perutnya pelan. Lala cuma menebak-nebak saja kan?


"Emang gue kelihatan kaya orang hamil kah?" untung saja perut Selenia belum tampak menonjol dan masih terbilang rata. "Gila lo ya nuduh gue sampai segitunya."


Mata Cia melotot. "LALA?!! Lo apa-apaan sih? Bisa nggak lo sedikit aja kontrol ucapan? Lo udah nuduh orang sembarangan tau nggak?!!"


"Eh Cia, gue nggak ngomong sama lo ya!" sahut Lala. "Lagian mana ada gue nuduh. Gue kan nanya, lo nggak denger?"


Beberapa anak di belakang Lala saling berkasak-kusuk sambil mencuri pandang ke Selenia, membuat Selenia merasa risih.


"Ya tapi lo sadar dong, pertanyaan lo itu anjrot banget! Harus gitu lo nanya pertanyaan semacam itu?? Nggak sopan banget sih jadi orang?!" Cia begitu emosi. "Dan lagi, lo tu kenapa sih, dari dulu mau tahu banget sama urusan orang lain? Lo nggak cukup puas apa gimana sama kehidupan lo sendiri?!"


"Udah-udan Ci... udah..." Selenia menengahi. "Lala, gue jawab pertanyaan lo ya... tentu aja bukan gue yang hamil, dan juga bukan tante gue. Bukannya kemarin lo denger sendiri apa yang dibilang sama tante gue? Kita datang ke sana, karena tante gue pengen periksa kandungannya. Karena apa? Lo juga pasti udah tahu jawabannya kalau kemarin kuping lo nggak tuli!" tandasnya panjang.


Bibir Lala memberengut dan dia meraba kedua telinganya. Enak aja gue dibilang budeg.


"Gue nggak tuli ya Sel. Kuping gue masih normal!" sungutnya.


Selenia mengangkat bahu. "Ya udah, kalau gitu ngapain lo nanya?"


"Sama satu lagi..." Cia menyahut. Dia mengarahkan telunjuknya ke Lala. "Lo mendingan insyaf deh dari kang gosip. Sampei gue denger lo gosipin macem-macem soal Selenia atau gue, gue nggak bakal tinggal diem!" ancamnya lalu menarik tangan Selenia dan pergi ke bangkunya.


Anak-anak di belakang Lala saling sikut dan bisik-bisik lalu duduk di bangkunya masing-masing meninggalkan Lala yang masih mematung di tempat.


Tony yang saat keributan itu berlangsung sedang melintas di depan kelas Selenia, menghentikan langkah dan berhenti di balik pintu. Hatinya terasa ngilu setiap kali ingat kenyataan bahwa Selenia telah hamil.


Bukankah itu menandakan bahwa hubungan Selenia dan Adam tidak hanya main-main. Kenapa sulit sekali melepaskan perasaan ini? Stop Ton. Jangan terlalu berharap sesuatu yang tidak akan mungkin kamu miliki.


"Hei, Ton!" Febri menepuk pundaknya dari belakang. "Lo ngapain di sini, ke kelas yuk. Udah hampir bel bro."


Tony tersentak. Dia memutar tubuh dan kemudian mengangguk. Mereka berdua lalu berjalan beriringan meninggalkan kelas Selenia.


"Lo rencana mau kuliah di mana?" tanya Febri.


Tony menggeleng pelan. "Gue belum tahu."


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2