
...Hei I'm back 😊...
...Happy reading 🙏🏻...
...***...
Operasi persalinan Selenia akan segera dimulai. Semua tim dokter dan suster yang akan menangani operasi tersebut sudah bersiap di dalam ruangan. Sesuai janjinya, Adam akan menemani Selenia selama operasi berlangsung. Dia duduk di sebelah kanan Selenia, dan terus memberi semangat kepada istrinya supaya tidak merasa takut yang akan membuat mentalnya down.
Saat dokter mulai menyuntikkan obat bius di bagian punggung, Selenia menahan rasa sakit dari tusukan jarum itu dengan menggigit bibir sementara tangannya meremas tangan Adam. Sementara itu Adam terus menenangkan dengan berbisik padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan apapun yang terjadi, dia tidak akan pernah meninggalkan Selenia sendirian. Dia tahu Selenia takut dan tidak sepenuhnya siap mental untuk menghadapi operasi persalinan ini.
Dalam beberapa saat, begitu obat bius mulai bekerja, setengah badan Selenia--perut ke bawah--mulai mati rasa. Dokter memang sengaja hanya melakukan bius regional pada Selenia.
Sementara itu di luar ruang operasi, ketiga orang tua menunggu dengan gelisah. Cia juga ada bersama mereka. Pagi tadi setelah mendapat kabar dari Selenia yang menelfonnya melalui nomor Adam, dia berjanji akan datang. Dan sekarang anak itu menepati janjinya. Sama halnya dengan yang lain, dia juga gelisah dan was-was.
Bukan hanya di rumah sakit, di rumah pun Bi Iyah dan Pak Tono turut mendoakan Selenia supaya diberi kelancaran pada operasi persalinannya. Mereka berdua bahkan melaksanakan sholat hajat bersama.
Sampai akhirnya, sekitar satu jam kemudian, semua orang yang berada di luar ruang operasi mendengar suara tangis bayi yang begitu nyaring dari dalam. Mereka semua bernafas lega bersamaan.
"Alhamdulillah, Ya Allah.... akhirnya cucuku telah lahir," desis Pak Fendi seraya mengusap muka menggunakan kedua tangan. Matanya berkaca-kaca.
Bu Lisa dan Cia reflek saling berpelukan begitu mendengar suara tangisan bayi tersebut, sementara Pak Edwin mendekat dan turut memeluk keduanya.
"Tanteeeee, akhirnya..." Cia terisak. Dia turut menangis bahagia.
Di dalam ruang operasi, Adam pun sama bahagianya dengan semua orang yang menunggu di luar. Mimpi buruknya itu hanyalah mimpi dan tidak pernah menjadi kenyataan. Meskipun harus melahirkan dengan cara operasi di usia kehamilan yang masih jauh dari usia normal, kondisi Selenia jauh lebih sehat dari pada saat dia baru pertama kali dibawa kesini.
Adam menciumi kening Selenia, beberapa saat setelah anak mereka lahir.
"Terimakasih sayang, terimakasih telah berjuang untuk melahirkan buah hati kita," bisiknya sembari terisak.
Setelah tali pusar bayi dipotong, seorang suster meminta Adam untuk mengadzani bayinya.
Bayi mereka berjenis kelamin laki-laki, dengan berat badan yang tentu tidak seperti bayi usia normal pada umumnya karena dia lahir prematur. Namun kondisinya sudah cukup kuat untuk dikeluarkan dari rahim ibunya.
Begitu selesai diadzani baru kemudian bayi itu didekatkan ke pelukan Selenia. Dia tidak bisa menahan haru saat tubuh mungil itu menempel di dadanya. Seketika tangisan bayi itu berhenti dan hanya terdengar rengekan-rengekan singkat saat kepala bayi mungil tersebut bergerak-gerak mencari sesuatu di sana. Selenia tersenyum haru melihat tingkah lucu anaknya untuk pertama kalinya. Tangannya bergetar mencoba menyentuh si bayi yang masih berada dalam dekapannya tersebut. Dia masih belum bisa sepenuhnya percaya bahwa saat ini statusnya sudah naik tingkat menjadi seorang Ibu. Sesaat dia menangis, mengingat Ibunya. Pasti perjuangan yang dilakukan Ibunya waktu melahirkan dia dulu juga seperti ini. Kini aku turut merasakannya. Ma... mama sudah punya cucu sekarang.
"Maaf Ibuk, bayinya saya bersihkan dulu ya," pinta seorang suster ramah beberapa menit kemudian dan segera mengangkat bayi itu dari tubuh Selenia.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
"Gimana Dam?? Ya ampun, dari tadi Mama nggak sabar banget nungguin kamu keluar, " sambut Bu Lisa begitu Adam muncul dari ruang operasi.
Perasaan cemas dan was-was yang sedari tadi meliputi perasaan orang-orang yang menunggu di luar ruangan, seketika lenyap dengan kemunculan Adam. Apalagi raut wajah Adam tampak begitu tenang dengan seulas senyum bahagia yang tercipta dari sudut bibirnya.
"Selenia baik-baik saja kan?" tanya Pak Edwin dan Pak Fendi hampir bersamaan.
"Alhamdulillah Selenia sangat sehat. Dan... anakku laki-laki," Adam belum bisa menyudahi rasa harunya.
Adam menyalami tangan Bu Lisa dan menciumi tangan itu beberapa kali sebagai ucapan terimakasih. Dia percaya ini semua tidak luput dari doa orang-orang di sekelilingnya.
Bu Lisa memeluk Adam erat sesaat. Dia menepuk-nepuk kedua bahu Adam dengan perasaan bangga dan bahagia.
"Selamat ya nak, kamu sudah menjadi seorang Ayah," ucap Bu Lisa seraya memberikan kecupan pada kening Adam.
"Selamat ya kak," Cia mengulurkan tangannya. "Aku ikut bahagiaaaa banget," dia belum bisa berhenti menangis sejak mendengar suara tangisan bayi tadi.
Adam menatap Cia dan tersenyum haru. Dia membalas uluran tangan itu lalu menarik tubuh Cia ke dalam pelukannya. Otomatis hal itu membuat Cia kaget. Bisa gawat ini kalau Selenia lihat suaminya meluk gue.... batinnya konyol. Dia buru-buru membuang jauh-jauh pikiran itu dan menegaskan pada dirinya sendiri bahwa pelukan ini tidak berarti apa-apa. Ya iyalah nggak berarti apa-apa. Gila aja pikiran lo Cia!
"Thanks berat ya Cia. Kamu adalah sahabat yang selama ini selalu ada buat Selenia. Kamu yang sudah menjaga Selenia bahkan saat aku belum tahu kalau dia hamil. Terimakasih banyak," ucap Adam di balik punggung Cia.
"Iya kak. Aku turut bahagia sekarang. Aku seneng banget keponakanku akhirnya sudah lahir. Aku nggak sabar pengen lihat dia," balas Cia. Ternyata pelukan Adam nyaman juga ya. Batin Cia lagi lebih konyol. ASTAGA CIA!! CAN'T YOU STOP THINKING ABOUT THAT?! Suara hatinya yang lain berteriak.
"Oh iya, karena bayiku lahir prematur, jadi untuk beberapa hari ke depan, dia akan berada di dalam inkubator di ruang bayi. Dan.... maaf ya Ma, Pa, Yah, kalau kali ini aku harus mengambil keputusan tanpa melibatkan kalian," ujar Adam.
Kening Bu Lisa mengernyit dan mereka berempat saling tatap heran.
"Apa itu Dam?" tanya Pak Fendi.
"Aku udah putuskan untuk tinggal di rumah sakit ini sampai waktu yang tidak bisa aku prediksi. Kami akan pulang ke rumah kalau kondisi Selenia dan bayiku benar-benar sudah siap dan sehat. Aku tidak mau terlalu gegabah dan buru-buru membawanya pulang. Karena, bayi prematur itu kan sangat rentan. Jadi kalau keduanya ada di sini, pasti akan diawasi dan ditangani sama ahlinya kan?"
"Ooooooh...." sahut mereka berempat bersamaan.
"Usahakan yang VIP lho Dam, atau VVIP. Di sini tersedia kan? Pokoknya buat Selenia senyaman mungkin meski berada di rumah sakit," sambung Bu Lisa antusias.
"Mama nggak perlu khawatir. Pasti," jawab Adam.
Mereka semua setuju dengan keputusan Adam. Dan itu sudah sangat tepat. Sebagai Ayah kandung Selenia, Pak Fendi begitu bahagia melihat Adam yang memperlakukan anaknya dengan sangat baik.
Kalila, laki-laki pilihanmu yang menikahi anak kita ternyata adalah orang yang tepat. Dia bahkan memperlakukan Selenia seperti seorang ratu. Terimakasih Kalila, bahkan sampai di akhir hayatmu, kamu masih memberikan yang terbaik untuk anak kita.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Malamnya, Selenia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Ruangan kelas VIP itu terletak di lantai 4 rumah sakit. Beruntungnya, Selenia bisa berada dalam satu kamar dengan bayinya meski bayinya masih harus berada di dalam inkubator. Adam yang meminta pada dokter dan suster supaya anak mereka tidak diletakkan di ruangan bayi yang terpisah dengan mereka.
Karena masih rentan, jadi hanya Adam yang bisa menemani Selenia di dalam ruangan tersebut. Maka dari itu dengan berat hati, yang lainnya cuma bisa melihat mereka dari luar saja untuk sementara waktu. Tapi demi kebaikan semuanya, itu tidak masalah. Jadi Adam meminta supaya mereka lebih baik pulang saja untuk beristirahat.
"Jaga anak dan istri kamu baik-baik, Dam," pesan Pak Edwin sebelum mereka meninggalkan rumah sakit.
"Papa nggak perlu khawatir. Tanpa Papa minta, aku pasti akan melakukan itu, itu sudah menjadi kewajibanku."
Sementara Cia, dengan mata berkaca-kaca, dia melambaikan tangannya pada Selenia dari ambang pintu. Ingin rasanya dia memeluk sahabatnya itu dan mengucapkan selamat atas kelahirannya. Tapi sayang, untuk sementara keinginan itu harus dia tahan.
"Daaaghh..." ucap Cia sembari terisak lirih sebelum berlalu.
Selenia pun membalas lambaian itu dari atas tempat tidurnya. Dia sendiri juga sudah kangen sama Cia.
...🌺🌺🌺...
"ALHAMDULILLAH....!" seru Bi Iyah dan Pak Tono bersamaan begitu mendengar kabar dari Bu Lisa kalau Selenia sudah melahirkan.
Sementara Pak Fendi pulang ke rumahnya sendiri.
"Anaknya Pak Adam dan Non Selenia cewek apa cowok buk?" tanya Bi Iyah antusias.
Pak Tono menyodok pinggang Bi Iyah spontan. "Mbok ya nanti aja nanyanya, lihat dong Bu Lisanya masih capek."
Bu Lisa terkekeh pelan. "Iya Ton, saya memang capek dan ngantuk banget. Tapi hati saya bahagia. Cucu saya laki-laki."
"Waaah... pasti gantengnya kaya Pak Adam tuh nanti," sahut Bi Iyah lagi.
"Ya sudah bik, saya sama bapak mau istirahat dulu."
"Ibuk nggak mau makan malam dulu?" Bi Iyah menawarkan.
Bu Lisa menggeleng. "Saya belum pengen makan. Lihat, suami saya saja sudah masuk kamar. Nanti saja ya."
"Oh injih buk," Bi Iyah manggut-manggut.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...