NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -21-


__ADS_3

Pemilik mata itu adalah Tony. Dia hampir saja tidak mempercayai apa yang dia lihat. Selenia tampak begitu akrab dengan laki-laki yang menurut Tony jauh lebih berumur dari pada dirinya. Siapa dia? Kakak?


Apa dia itu Adam yang pernah diceritakan Cia tempo hari? Yang marah-marah kalau Selenia nggak sarapan sebelum berangkat sekolah? Pertanyaan demi pertanyaan berseliweran di kepala Tony. Dia masih berdiri di depan konter pemesanan makanan.


"Ini pesanannya mas." suara seorang pelayan mengagetkan dirinya yang masih memperhatikan Selenia dan laki-laki itu. "Totalnya 185.000."


Tony menerima kantong plastik tersebut sekaligus menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan pada si pelayan. Setelah menerima kembalian, dia berjalan meninggalkan konter. Bersamaan dengan itu, Selenia dan laki-laki tersebut tampak meninggalkan meja makan dan keluar dari resto. Dengan cekatan, Tony mengikuti langkah mereka jauh dari belakang. Tony memperhatikan keduanya dari atas motornya di parkiran. FYI, tempat parkir motor dan mobil di depan restoran itu letaknya jauh berseberangan.


Selenia dan laki-laki itu berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Tangan kekar laki-laki itu juga merangkul pundak Selenia dengan akrab, membuat Tony mendengus. Ada rasa tidak suka di hatinya melihat pemandangan tersebut. Maka dengan sekali tarikan gas, dia langsung melesat meninggalkan halaman restoran. Namun sayang, karena sedikit kehilangan konsentrasi dari apa yang baru saja dia lihat, di depan pagar masuk restoran, dia hampir menyerempet seorang perempuan.


"Auuu!!" perempuan itu reflek melompat untuk menepi. "Lho, Tony??"


Tony menghentikan motornya. "Lala?"


Perempuan itu Lala. Teman sekelas Selenia yang terkenal lenjeh. Hobinya tebar pesona dan selalu merasa paling cantik di kelas. Selenia sih tidak kaget dengan sikap itu, karena memang dari awal masuk SMA Lala seperti itu orangnya. Lagipula dia juga tidak begitu akrab dengan Selenia.


Lala adalah satu dari sekian banyak murid perempuan di SMA Bhakti Nusa yang begitu menggandrungi Tony. Tapi di sekolah, dia tidak berani menunjukkan kekagumannya itu secara langsung. Meskipun terkenal lenjeh, namun sepertinya dia sengaja bersikap jaim di depan Tony. Sok kalem gitu. Caper. Tau lah ya.


"Kamu habis beli apa?" tanya Lala sok akrab.


"Ini, makanan buat makan malam." Tony menunjuk kantong plastik berisi makanan yang tergantung di stang motornya.


"Ooh, buat di rumah ya?"


"Iya." jawab Tony singkat.


Lala terdiam, tapi tidak juga beranjak dari sana.


"Kamu sendirian aja?" tanya Tony akhirnya.


"He'eh, aku juga cuma mau nyari makanan terus ku bawa pulang juga." jawab Lala antusias. "Rumahku deket aja dari sini. Mana tahu mau mampir." tawarnya.


"Oh gitu." Tony manggut-manggut. "Hehehe... enggak deh, lain kali aja. Ya sudah kalau gitu aku duluan ya." katanya kemudian dan segera berlalu.


Lala memutar tubuh mengikuti arah Tony yang kian menjauh. Dia memegangi dadanya sendiri karena merasa seperti ada yang mau melompat keluar dari dada kanannya karena pertemuan tidak sengaja dengan Tony malam ini.


Ya ampuuuuun.... itu anak cool bangeeeeeet!! Moga aja lo beneran mau mampir ke rumah gue kapan-kapan.


...🌺🌺🌺...


Sementara itu di lapangan parkir yang letaknya lumayan jauh dari tempat pertemuan Tony dan Lala tadi, Adam dan Selenia sudah bersiap untuk pulang dari restoran tersebut.


"Kita mau langsung pulang?" Selenia berhenti di depan mobil mereka. Dia menahan langkah saat melihat Adam mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.


Adam melirik jam tangannya. Belum begitu malam sih, baru jam 19.45 menit.


"Besok kamu sekolah kan?" Adam kembali bertanya.

__ADS_1


"Iya sih..." jawab Selenia lirih. "Tapi kan belum ada pelajaran."


"Memangnya kamu mau kemana lagi?" Adam tersenyum sambil membelai rambut Selenia pelan. Dia sendiri sebenarnya juga belum pengen cepet-cepet pulang.


"Mmmm..." Selenia hanya menggumam. Dia juga tidak tahu lagi mau kemana. Yang ada di otaknya malam ini cuma satu, dia ingin berlama-lama menikmati kebersamaan dengan suaminya. Entahlah, Selenia merasa kalau dia mulai nyaman berada di dekat Adam.


"Kok malah diem? Kamu mau kita nonton?" Adam mengusulkan.


Selenia mendongak. "Memangnya ada film bagus?"


Adam mengingat-ingat tentang review film yang pernah dibahas dengan rekan kerjanya di kantor beberapa hari yang lalu.


"Aku nggak yakin sih kalau yang aku suka, kamu bakalan suka juga. Soalnya war movie." Adam mengangkat bahunya.


Selenia menghela nafas panjang. "Nggak deh." dia menggeleng, nggak suka sama film perang.


"Atau ke mall? Jalan-jalan aja..."


Selenia mengangguk antusias. Dia menyetujui ajakan tersebut. Dan mereka pun segera bergegas meninggalkan resto.


Saat mereka berjalan mendekati mobil, Selenia tersentak manakala merasakan kedua bahunya seperti ditutup dengan sesuatu yang hangat. Saat dia menoleh, ternyata Adam tengah memakaikan jas yang tadinya dia pakai padanya. Aroma harum menguar dari jas yang kini menempel di tubuh Selenia.


"Makasih." ucap Selenia lirih sebelum masuk ke mobil.


...🌺🌺🌺...


Setelah makan malam, Tony langsung pergi ke kamar meninggalkan Pak Anton yang terheran-heran melihat sikap anaknya. Tidak biasanya anak semata wayangnya itu bertingkah demikian. Biasanya, mereka akan ngobrol-ngobrol dulu setelah makan. Tapi ya sudahlah, Pak Anton tidak ingin meributkan hal itu. Setiap orang pasti memerlukan me time bukan? Mungkin saja Tony memang sedang tidak mau diganggu.


Padahal di SMA-nya yang dulu Tony merasa mendapatkan gebetan atau mencari pasangan adalah hal yang tidak perlu diambil pusing. Dia memang rada-rada fakeboy. Pertama kali kenal pacaran saat masih duduk di bangku SMP kelas 2. Dan itu nggak hanya satu kali. Jaman cinta monyet, hubungan bertahan selama 1 bulan itu sudah paling lama bagi Tony. Jadi bisa kalian bayangkan sudah berapa cewek yang pernah singgah di hatinya?


Tapi sekarang, Selenia itu lain untuk Tony. Meskipun dia bukan tergolong anak yang famous di sekolah, rasanya sulit sekali untuk ditaklukkan. Dia merasa harus punya cukup nyali untuk mengungkapkan perasaannya pada Selenia. Tapi belum apa-apa, pemandangan tadi sudah membuat hatinya pias, ragu, dan tidak percaya diri.


Tony membuka ponsel dan mencari nomor kontak Cia.


Tony: [Ci... kamu lagi di mana?]


Namun pesan yang belum dia kirim itu di hapus, dan diganti dengan pesan lain.


Tony: [Lagi sibuk nggak Ci?]


Lalu dihapus lagi. Pikirannya kacau. Dia menertawai dirinya sendiri yang bersikap demikian--yang bahkan untuk sekedar menanyakan kabar Selenia melalui sahabatnya saja, rasa percaya dirinya hilang entah kemana. Akhirnya dia hanya melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan turut menghempaskan tubuhnya di sana.


...🌺🌺🌺...


Adam dan Selenia duduk di deretan bangku kosong di depan food court. Mereka baru saja selesai berkeliling mall, masuk dari toko satu ke toko lain, berbelanja printilan aksesoris lucu dan bermain game. Terakhir, Selenia membeli donat mini di food court dan menikmatinya dengan lahap.


"Kamu masih lapar atau bagaimana Sel?" tanya Adam. Dia tersenyum geli melihat Selenia yang tampak menikmati donatnya.

__ADS_1


"Ini enak banget Dam. Ini tuh kesukaan aku banget." jawab Selenia sambil terus mengunyah. "Setiap kali aku jalan ke mall sama Cia, aku selalu beli ini." Dia menyodorkan sepotong Donat ke Adam, bermaksud memberinya suapan. "Nih, kamu cobain, ini enak banget..."


"Aku udah kenyang Sel..." tolak Adam lembut.


Selenia mencibir. "Hmmm, ya udah... " Dia melanjutkan menikmati donatnya.


Adam menunggu Selenia menghabiskan donatnya dengan sabar. Dia sangat menikmati kebersamaan malam ini. Tapi sayang sebentar lagi mall tutup. Jadi saat beberapa toko terlihat mulai berkemas dan satu per satu karyawannya meninggalkan toko, Adam segera mengajak Selenia pulang saat Selenia sudah menghabiskan sekotak donat mininya.


"Bentar Dam, aku ke toilet dulu ya..." izin Selenia karena merasa ingin buang air kecil.


"Ya udah aku tunggu di luar ya." Adam melirik jam tangannya. Menurut peraturan, 10 menit lagi mall ini akan segera closed.


"Iya nggak pa-pa. Aku cuma sebentar kok." Selenia berlari terbirit-birit menuju toilet.


Toilet nampak sepi. Saat Selenia masuk, dia berpapasan dengan dua orang perempuan yang tampak sibuk bersolek di depan cermin besar. Udah malem juga, sempet-sempetnya dandan. Tinggal pulang ini. Batin Selenia tentang mereka. Selenia masuk ke salah satu toilet yang pintunya tampak terbuka.


"Hiks... adek mau pee diyumah aja Mah..." rengek anak kecil dari toilet di sebelah Selenia.


"Iya sayang. Ini Mama ganti pampersnya dulu ya... Adek kan pup, jadi pampersnya kotor harus diganti..." sahut suara seorang perempuan terdengar lembut.


Selenia tersenyum mendengar obrolan Ibu dan anak tersebut.


Sekitar tiga menit kemudian, Selenia keluar bersamaan dengan orang yang berada di toilet di sebelahnya. Seorang perempuan menggendong anak kecil yang masih merengek. Selenia membelalak saat melihat perempuan itu. Kok kaya pernah lihat, tapi di mana ya? batin Selenia. Dia mengamati perempuan yang tampak kerepotan--karena menggendong anak sekaligus menenteng tas perlengkapan bayi--itu.


Nah, Gue inget sekarang! pekik Selenia dalam hati. Ya, tidak salah lagi. Itu perempuan yang pernah gue lihat bersama Adam di sekolah kan? Jadi dia sudah punya anak? Berarti dia sudah menikah dong?


Selenia menarik nafas perlahan dan berjalan mengikuti perempuan itu di belakangnya.


"Adek duduk di sini dulu ya, Mama siapin susu." Perempuan itu mendudukkan anaknya di atas meja permanen besar di depan cermin besar toilet.


Dengan cekatan, perempuan itu mulai membuatkan susu formula ke dalam botol. Ternyata bawaannya banyak banget di tas.


Bermaksud ingin memastikan kalau dia tidak salah menerka, Selenia mendekati mereka berdua dan berdiri di sebelah perempuan itu. Dia pura-pura merapihkan rambut dan baju sambil sesekali memperhatikan wajah perempuan itu dari cermin. Tidak salah lagi, dia adalah perempuan yang pernah gue lihat di sekolah sama Adam waktu itu.


Si anak kecil yang tadinya merengek, seketika terdiam dan tersenyum ke arah Selenia. Dia juga mengoceh khas anak seusianya yang terdengar lucu. Selenia membalas senyuman manis itu dengan membelai dagu si anak.


"Eeeh... ada siapa sayang?" Perempuan itu membalas tatapan Selenia dari cermin. Dia tersenyum. "Ini susunya Nola..."


Anak kecil bernama Nola itu menerima sebotol susu dari Mamanya dan langsung meminum dengan lahap.


Alunan lagu Fight Song menggema dari ponsel Selenia, menyentakkan dirinya yang sedang memperhatikan Nola minum susu. Ternyata telfon dari Adam.


"Iya halo Dam? Iya... iya... aku sebentar lagi keluar..."


Mendengar kata 'Dam', sontak perempuan yang masih berdiri di samping Selenia itu menoleh. Selenia mengangguk dan tersenyum ke arahnya kemudian keluar dari ruangan.


"Dam...?" Perempuan itu menggumam. Sesaat kemudian dia hanya tersenyum dan segera menggendong anaknya keluar.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2