NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -125-


__ADS_3

"Ibu Selenia mengalami preklamsia berat. Atau yang biasa disebut dengan Peb. Dimana kondisi tekanan darahnya sangat tinggi, trombositnya rendah dan... hal itu menyebabkan sedikit gangguan pada pernafasannya. Detak jantungnya juga tidak stabil. Itulah yang membuat dia tidak sadarkan diri."


Penjelasan dokter tersebut membuat semua orang yang ada di tempat itu kaget dan syok. Terlebih lagi Adam. Dia merasa tulang kakinya melunglai tapi sekuat mungkin tetap berusaha berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding.


"Lalu apa yang bisa kita lakukan dok?" tanya Adam cemas.


"Tolong selamatkan anak saya dok," sahut Pak Fendi gemetar.


Dokter itu menghela nafas. "Kondisi ini sebenarnya sangat berbahaya bagi Ibunya. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin. Dengan sangat terpaksa, kita harus segera melakukan persalinan secara caesar."


"Itu berarti menantu saya akan melahirkan prematur dok?" tanya Bu Lisa.


Dokter itu mengangguk. "Hanya itu yang bisa kita lakukan Bu, karena kalau kita memaksakan diri untuk mempertahankan janinnya sampai usia normal, saya tidak bisa menjamin akan..."


"Lakukan dok!" Adam menyela. "Lakukan yang terbaik untuk istri dan calon anak saya. Selamatkan keduanya dok," dia terisak.


Bu Lisa mendekati Adam dan memeluknya.


"Baiklah, tapi sebelum melakukan tindakan itu, kami terlebih dahulu akan memberikan obat untuk mencegah kondisi kejang-kejang pada Ibunya dan obat supaya paru-paru si bayi cukup matang untuk dikeluarkan dari rahim Ibunya."


Penjelasan itu semakin membuat kepala Adam terasa berat. Dia hanya mengangguk dan memasrahkan tindakan terbaik yang akan dokter lakukan untuk istrinya.


Sesaat kemudian, Selenia dibawa keluar dari ruang gawat darurat menuju ruang ICU. Adam mengikuti para suster dan dokter yang mendorong brankar tempat istrinya berbaring tak berdaya. Tangannya terus menggenggam tangan Selenia sampai mereka tiba di depan ruang ICU.


"Maaf Bapak, sebaiknya bapak tunggu di luar dulu. Kami akan melakukan tindakan sebelum persalinan Ibu Selenia dilakukan," terang salah seorang suster sembari menutup pintu.


Adam tidak bisa berhenti menangis dengan posisi masih berdiri menatap pintu yang tertutup. Dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain memikirkan Selenia dan calon anaknya. Ucapan dokter yang juga mengatakan bahwa kemungkinan kecil untuk menyelamatkan dua-duanya, membuatnya sakit hati. Dia tidak bisa mungkin bisa memilih, karena mereka begitu berharga.


Dia merasa sangat sakit hati memikirkan apa yang sebelumnya terjadi pada Selenia sehingga membuatnya tak sadarkan diri. Karena kondisi Selenia pada mulanya memang baik-baik saja. Selesai makan malam, seperti biasa dia memang akan langsung masuk kamar untuk istirahat. Dia juga sama sekali tidak pernah mengeluh pada Adam tentang kondisinya. Hanya sesekali dia mengeluh kalau kaki dan punggungnya sering terasa pegal-pegal. Namun saat check up dan mengatakan keluhan itu, dokter selalu mengatakan kalau keluhan seperti ini adalah hal wajar yang akan dirasakan pada Ibu hamil yang usia kehamilannya sudah memasuki usia 5 bulan keatas.


Andai saja tadi aku tidak meninggalkan Selenia di kamarnya sendirian.


Andai saja tadi aku langsung menyusul ke kamarnya setelah makan malam dan tidak sibuk dengan pekerjaanku sendiri.


Andai saja tadi aku datang lebih cepat ke kamarnya.


Ini semua pasti tidak akan terjadi.


Ya Tuhan...


Tanpa sadar aku telah menghancurkan mimpinya. Aku sudah membuat masa-masa remajanya hilang. Aku juga telah mengingkari janjiku sendiri untuk tidak pernah menyentuhnya sampai dia menyelesaikan sekolah.


Dan sekarang ini semua terjadi. Kalau kau marah karena aku melanggar janjiku, kenapa bukan aku saja yang kau hukum, Tuhan?

__ADS_1


Kenapa harus dia yang menderita?


Kenapa harus dia yang menanggung semua ini?


Tolong jangan ambil dia dariku. Jangan ambil calon anak kami. Hukum saja aku, Tuhan...


Adam duduk membungkuk di kursi dengan kedua tangan meremas-remas rambutnya sendiri. Bu Lisa tidak tega melihat semburat keputus asaan yang terpancar dari wajah anaknya. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain terus menenangkan Adam. Hatinya sendiri ketar-ketir karena dia tahu seberapa bahayanya preklamsia. Dia ingat, pernah ada satu temannya yang meninggal dunia karena menderita penyakit tersebut. Bu Lisa memejamkan mata dan menggeleng. Tidak, ini tidak boleh terjadi pada Selenia. Aku harus yakin kalau semuanya akan baik-baik saja. Selamatkan menantu dan calon cucuku, Tuhan...


Saat terdengar pintu ICU terbuka, Adam langsung berdiri menghadang Dokter dan suster yang baru saja keluar.


"Bagaimana dok? Bagaimana keadaan istri saya?"


"Kami sedang melakukan tindakan untuk membantu kondisi pasien supaya bisa stabil sebelum operasi caesar dilakukan. Kami minta bapak bisa bersabar ya," Dokter itu meremas bahu Adam pelan.


"Tapi istri saya akan baik-baik saja kan dok? Istri dan calon anak saya bisa diselamatkan kan dok?" tanya Adam memburu.


"Begini pak..." Dokter menghela nafas panjang. "Kami tidak bisa berjanji, tapi kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin. Maaf, ini memang berat. Namun sebagai seorang dokter, saya juga harus mengatakan kemungkinan terburuk yang akan terjadi mengingat..."


"Tolong dok... tolooong... selamat nyawa istri dan calon anak saya..." Adam tidak sanggup lagi mendengar kelanjutan kalimat yang akan Dokter ucapkan. "Saya akan bayar berapapun, sekalipun harus dengan nyawa saya..." dia meraih tangan dokter itu dan meremasnya penuh permohonan.


Dua orang suster yang bediri di samping dokter itu pun turut berkaca-kaca melihat Adam yang terus memohon sembari menangis. Terlihat sekali betapa dia sangat takut kehilangan istrinya.


"Baiklah Pak, kami akan berusaha. Mohon doanya ya," ucap dokter kemudian dan berlalu meninggalkan ruang ICU.


Sepeninggal dokter, Adam kembali duduk lemas. Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain menunggu.


Amiin. Jawab Adam dalam hati.


Pak Fendi dan Pak Edwin hanya bisa diam. Kenyataan ini sangat membuat Pak Fendi terpukul.


...🌺🌺🌺...


Selenia dikeluarkan dari ruang ICU dan dibawa ke ruang operasi karena akan segera dilakukan persalinan. Adam berjalan mengiringi brankar yang membawa istrinya dengan perasaan cemas tidak karuan. Selenia yang sudah mampu membuka mata, hanya menatap lemah pada Adam yang terus berusaha berada di sampingnya.


"Sayang, aku yakin kamu bisa. Kamu kuat..." ucap Adam tanpa sedikitpun melepas genggamannya pada tangan Selenia.


Selenia mengedipkan matanya pelan sebagai respon bahwa dia mendengar apa yang diucapkan suaminya.


Sesampainya di depan ruang operasi, suster menahan langkah Adam yang bermaksud ingin ikut masuk ke dalam.


"Maaf Pak, sebaiknya bapak menunggu di luar."


"Tapi sus, saya ingin menemani istri saya. Tolong izinkan saya masuk."

__ADS_1


"Maaf Pak, tapi ini sudah menjadi prosedur rumah sakit," kata si suster dan langsung menutup pintu ruang operasi.


Tak lama kemudian lampu di atas pintu ruang operasi menyala. Pertanda operasi sedang berjalan. Adam menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia berbalik lalu duduk di kursi di depan ruang operasi. Di deretan kursi itu, ketiga orang tuanya juga tengah menunggu hasil operasi dengan kecemasannya masing-masing.


Sekitar setengah jam lebih mereka menunggu di depan ruang operasi namun belum ada tanda-tanda operasi telah selesai. Adam semakin gelisah dan tidak tenang berada di kursinya. Dia berdiri, mengintip melalui pintu ruang operasi yang jelas-jelas tertutup rapat, mondar-mandir sambil terus berharap yang terbaik.


Sampai akhirnya, telinganya mendengar suara tangis bayi yang begitu nyaring dari dalam ruang operasi. Adam berhenti dari kegiatan mondar-mandirnya dan berlari ke depan pintu. Begitu juga dengan ketiga orang tuanya yang langsung berdiri bersamaan. Mereka saling melempar senyum dan bernafas lega. Cucu mereka telah lahir ke dunia.


Kepala Adam mendongak ke arah lampu operasi yang masih menyala dengan tidak sabar. Anaknya sudah lahir, itu berarti operasi persalinan telah selesai. Tapi kenapa dokter belum keluar?


Satu detik... dua detik... tiga detik... empat detik.... lima... enam... tujuh... delapan... sembilan... sep


Jeglek!


Pintu ruang operasi terbuka. Seorang Dokter dengan masih menggunakan seragam operasi lengkap keluar ruangan dan wajahnya tampak begitu lelah.


"Anak saya sudah lahir dok??" sambut Adam dengan wajah berbinar. Semenjak mendengar suara tangisan bayi tadi kecemasannya berangsur-angsur menghilang.


"Anak bapak telah lahir dengan selamat," jawab Dokter itu datar. "Tapi...."


Kening Adam mengerut. "Tapi? Apa dok???" raut wajah Adam yang semula berbinar kembali meredup.


Bu Lisa, Pak Fendi dan Pak Edwin mendekati Adam bersamaan. Apa yang terjadi?


Dokter itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengatakan....


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi... kami tidak bisa menyelamatkan nyawa Ibunya," ucap Dokter itu dengan berat hati. "Ibu Selenia telah meninggal dunia," dia menunduk.


"APA??!!" Pekik Adam. Dia menggeleng-gelengkan kepala, tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar.


"SEL...!!" tanpa mempedulikan Dokter yang masih berusaha memberikan penjelasan, Adam langsung menerobos masuk ke ruang operasi. Dia melihat anaknya sedang diurusi beberapa suster di dekat kotak inkubator. Sementara seorang suster tampak mulai melucuti peralatan medis yang menempel pada tubuh Selenia.


"Sel bangun Sel!!!" Adam menubruk brankar tempat Selenia berbaring dan memeluk tubuh yang begitu tenang dan dingin itu erat. "Sayang bangun... lihat anak kita sudah lahir sayang, kamu luar biasa, kamu sudah berjuang, tapi kenapa kamu malah tinggalin aku... kamu sudah janji sama aku untuk merawatnya bersama-sama kan?? Bangun Sel... jangan pergi...! Jangan tinggalin aku..." dia menangis sejadinya sambil terus menciumi pipi Selenia.


"Bapak yang sabar ya," kata si suster yang telah selesai melepas semua alat medis dari tubuh Selenia. Dia mengusap-usap punggung Adam.


"Tolong pasang lagi alat-alatnya sus. Istri saya masih hidup, tolong sus...." Adam menahan tangan suster yang akan menutupi tubuh Selenia.


Tapi suster itu menggeleng pelan. "Maaf Pak, tapi istri bapak telah meninggal."


Tubuh Adam kian melunglai saat seluruh tubuh Selenia telah tertutup rapat dengan kain. Dia bersimpuh di tepi brankar dengan tangan yang masih tidak ingin terlepas dari tangan Selenia.


"Bangun sayang.... jangan tinggalin aku... banguun...!"

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2