
Adam dan Selenia kembali makan malam untuk yang ke dua kalinya karena harus menemani Ayah mereka makan malam sepulang dari bandara. Pak Fendi terlihat lahap sekali menikmati makanan kesukaannya--nasi pecel--itu. Katanya selama di London dia tidak pernah makan makanan itu lagi. Terang saja, mana ada pecel di London.
Sepanjang malam itu Selenia begitu lengket dengan Ayahnya. Mereka berdua ngobrol di ruang tengah setelah makan malam. Adam hanya bergabung sebentar lalu memilih untuk pergi ke kamar. Bukan untuk menghindar, dia hanya ingin memberikan waktu pada istrinya itu untuk melepas rindu dengan Ayahnya. Selenia dan Pak Fendi bercengkerama hangat sekali. Mereka saling bercerita banyak hal yang tidak mereka alami saat tidak bersama.
"Sudah malam. Kamu tidur sana," Pak Fendi membelai rambut Selenia lembut. "Besok sore kita nyekar ke makam Mama ya," ujarnya.
Selenia mengangguk. Setelah mendapat kecupan sayang dari sang Ayah, dia lalu bergegas ke kamarnya.
Pintu kamar Adam terbuka dari dalam bersamaan dengan Selenia yang juga membuka pintu kamarnya.
"Ehmm," Adam tersenyum lebar menatap ke arah Selenia yang menoleh bengong.
"Lhoh, kok belum tidur?" tanya Selenia polos.
"Gimana? Suka sama surprisenya?"
Selenia melepaskan tangannya dari gagang pintu dan berjalan mendekati Adam. Adam pun turut keluar dari kamarnya.
"Makasih ya Dam. Aku seneeeeng banget," ucap Selenia sendu. "Nggak nyangka kalau malam ini Ayahku pulang."
"Seneng kok malah wajahnya sedih gitu sih?" tangan Adam mengangkat dagu Selenia.
"Hmmmm..." Selenia merajuk. "Ma'af juga ya kalau tadi sikap aku bikin kamu jengkel," dia ingat soal seat belt di bandara.
Adam terkikik. "Kok kamu baru sadar sih kalau kamu itu memang kadang suka ngeselin?" godanya.
Wajah sendu Selenia berubah menjadi pelototan tajam. Dia juga mencubit perut Adam.
"Adduhh!" Adam memundurkan tubuhnya. "Sakit Sel. Kenapa sih kok sekarang kamu jadi enteng tangan gini?" dia mencekal kedua tangan Selenia pelan. "Aku kan bercanda sayang."
"Ya habis kamu gitu ngomongnya," Selenia menggerutu.
"Aku bercandaaaaa sayaaaang. Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu..."
Selenia menghentakkan kakinya dan berbalik. "Ah udah ah aku mau tidur!"
Namun sebelum Selenia masuk ke kamar, tangan kekar Adam justru lebih sigap merengkuh tubuhnya dari belakang. Membuat jantung Selenia berdebar lebih cepat dari biasanya karena perlakuan itu. Dia merasakan ujung hidung Adam menempel di tengkuknya. Merinding.
"Daaaam, kamu mau ngapain?" bisik Selenia. "Nanti kalau Ayah lihat bisa heboh," Posisinya yang masih membelakangi Adam membuatnya sulit melihat bagaimana ekspresi wajah suaminya saat ini.
"Aku sayang kamu," bisik Adam tepat di telinga Selenia.
Kepala Selenia menggeliat. Dia merasa geli. Saat Adam melonggarkan dekapannya, tubuh Selenia berputar. Sekarang posisi mereka saling berhadapan tanpa jarak. Selenia mendongak memberanikan diri menatap mata indah yang juga tengah menatapnya.
"Aku sayang kamu... aku cinta kamu... aku nggak mau kehilangan kamu..." ucap Adam beruntun.
Jantung Selenia semakin terpacu mendengar kalimat-kalimat indah itu. Ada perasaan yang membuncah dari dalam hatinya. Dia bahagia. Tapi, apa benar Adam begitu padanya?
__ADS_1
"Tapi, Dam...." Selenia tidak melanjutkan kata-katanya.
"Apa?"
"Kamu nggak lupa kan kenapa kita bisa menikah?" Selenia menunduk, menghindari mata Adam yang tak berhenti menatapnya.
Terdengar hembusan nafas pelan. "Kita menikah bukan atas dasar cinta, itu maksud kamu?"
"Tapi itu bener kan?"
"Sel?" Adam mengendurkan rengkuhan tangannya dari pingganh Selenia. "Kamu nggak denger barusan tadi aku ngomong apa? Kurang jelas ya aku ngomongnya?"
Selenia terdiam.
"Kamu pikir aku bercanda ngomong kaya gitu? Malam-malam begini, cuma ada aku sama kamu. Kenapa sih kamu nggak bisa percaya sama aku?" nada bicara Adam terdengar putus asa.
"Bukannya aku nggak percaya Dam," potong Selenia lirih.
"Terus kenapa kamu ngomong kaya gitu?"
"Aku...." Selenia terbata. "Aku... cu... cuma ngerasa nggak pantes aja buat kamu."
"Apa?" Adam mengangkat dagu Selenia. Tatapan mereka kembali beradu. "Nggak pantes darimana? Apanya yang nggak pantes?"
Selenia sedikit menarik dirinya dari Adam. "Ya coba kamu pikir dong Dam, aku tu masih terlalu kecil buat kamu, aku juga masih sekolah, aku anak ABG. Dan kamu liat diri kamu..." dia menatap Adam dari atas ke bawah beberapa kali. "Kamu itu udah.... dewasa, mapan.... seharusnya kamu bisa mendapat pasangan yang sepadan sama diri kamu."
"Sekarang aku tanya sama kamu. Kenapa kamu berpikir seperti itu?" potong Adam. "Kamu memang masih sekolah, masih ABG, terus salahnya di mana? Aku nyaman kok sama kamu."
"Nyaman dari mana Dam? Kamu jangan bohongin diri kamu sendiri. Pernikahan yang kita jalani itu aneh. Kita nikah, tapi kita sama sekali nggak berperan layaknya suami-istri..."
"Hhhh..." Adam melengos sebentar. "Itu cuma soal waktu," ucapnya kemudian dengan lembut. "Aku sadar aku menikah dengan siapa. Aku nggak mau egois. Kamu punya mimpi, dan aku nggak mau merusak mimpi kamu cuma demi kepuasan batin aku. Aku percaya kok, Tuhan punya maksud lain lewat jalan ini. RencanaNya pasti lebih indah, dan aku percaya itu. Kamu nggak usah merasa bersalah ya..." tangannya kembali merengkuh pinggang Selenia.
Tanpa sadar air mata Selenia sudah menetes mendengar kalimat bijak yang keluar dari mulut suaminya tersebut. Apa yang diucapkan Adam saat ini hampir sama seperti saat dia berbicara dengan Mamamya waktu itu. Waktu Selenia tak sengaja mencuri dengar obrolan mereka di ruang makan.
Ya Tuhan, betapa berdosanya aku kalau sampai membuat laki-laki ini kecewa karena sikap-sikapku.
Selenia memeluk Adam erat dan menangis di sana. Rasanya berat sekali untuk sekedar menjelaskan kalau dia juga sangat mencintai suaminya. Adam tak lagi bergeming. Dia hanya membalas pelukan itu dan mengecup kepala Selenia lembut.
...🌺🌺🌺...
Sore itu, Adam, Selenia dan Pak Fendi pergi ke makam, ziarah ke pusara Kalila--Mama Selenia. Selenia membawa satu buket bunga warna-warni yang kemudian dia letakkan di depan nisan Mamanya. Sejak masuk ke area pemakaman, dadanya sudah mulai terasa sebak. Semua kenangan saat Mamamya masih ada dulu kembali memenuhi isi kepalanya. Dia sadar, sudah lama tidak mengunjungi makam Mamanya. Adam yang menyadari istrinya sedang merasa tidak baik-baik saja, berusaha menguatkan dengan cara merangkul bahu Selenia.
Mereka bertiga memanjatkan do'a di samping pusara dengan khusyuk.
"Maaf ya Ma," Pak Fendi membelai nisan istrinya. Suaranya terdengar serak. "Ayah baru bisa datang ke makam Mama lagi. Semoga Mama tenang di sana," dia menatap Selenia dan tersenyum. "Mama nggak perlu mencemaskan anak kesayangan Mama. Karena dia sekarang sudah bahagia."
Selenia menatap Ayahnya nanar. Air matanya yang sedari tadi tertahan akhirnya jatuh juga. Dia menghela nafas berat dan membaca Al-Fatihah dengan suara lirih. Adam dan Pak Fendi menengadahkan tangan masing-masing, turut mengaminkan doa-doa Selenia.
__ADS_1
"Yuk pulang," ucap Pak Fendi begitu Selenia mengakhiri do'anya dan berdiri. "Udah sore nih."
Selenia dan Adam berdiri bersamaan. Sebelum meninggalkan pusara Mamanya, Selenia mengecup nisan bertuliskan Kalila Binti Rahardjo itu dengan lembut.
"Pak Adam?"
Sebuah suara memanggil dari belakang saat mereka bertiga sudah berjalan jauh meninggalkan pusara. Mereka pun menoleh bersamaan.
"Renata?" kening Adam mengerut.
Renata dengan masih mengenakan baju kerja, berjalan menghampiri mereka bertiga. Nola dan Mbak Ami mengikuti di belakang. Dengan sopan, Renata menyalami Pak Fendi dan juga Selenia.
Selenia hanya membalas salam Renata dengan tatapan dingin. Dia mulai merasa tidak nyaman. Apalagi saat melihat Nola yang terlihat begitu senang saat melihat Adam. Anak kecil itu melambaikan tangannya pada Adam bermaksud meminta digendong. Dan dengan tulus, Adam pun menyambut Nola dengan cara mengangkat tubuh anak kecil itu tinggi-tinggi, membuat Nola tergelak kegirangan.
"Dia sekretaris aku di kantor Pa," Adam memperkenalkan Renata pada Pak Fendi.
"Oh...ya ya ya," Pak Fendi manggut-manggut. "Jadi kalian ini rekan kerja? Sudah lama?"
"Belum kok Oom," jawab Renata sopan.
Selenia melengos. Hatinya pedih melihat Adam yang tampak begitu akrab dengan Nola. Hfffhhh... dia memang Daddyable kalau kaya gitu,
"Oom, dan semua ini dari mana?" tanya Renata.
"Kami dari nyekar pusara istri saya," Pak Fendi merangkul pundak Selenia. "Mamanya Selenia, anak saya satu-satunya."
Renata mengernyit. Jadi kenapa ada Pak Adam juga di sini? batinnya. Dia hanya manggut-manggut walau dalam hati begitu penasaran ingin tahu. Saat Pak Fendi mengatakan itu, Adam juga sempat menatap kaget ke Renata sekilas.
"Kamu sendiri dari mana Ren?" tanya Adam.
"Saya juga dari nyekar makam kedua orang tua saya Pak," jawab Renata.
"Ooh," mulut Adam membentuk huruf O. Dia baru tahu kalau ternyata Renata sudah yatim piatu. "Maaf, saya baru tahu kalau..."
"Iya nggak pa-pa kok Pak."
Selenia semakin suntuk melihat hal itu. Entah kenapa dia benci banget melihat Adam berbicara begitu akrab dengan Renata. Padahal jelas-jelas mereka cuma membicarakan hal-hal yang wajar.
"Pa, aku ke mobil dulu ya. Kepalaku tiba-tiba pusing," desisnya pedas seraya melayangkan tatapan sadis pada Adam sembari berlalu.
Adam hanya mampu tersenyum kecut melihat gelagat Selenia. Perasaannya mulai tidak enak. Dia mengembalikan Nola pada Mbak Ami.
Dari dalam mobil, Selenia masih menyaksikan Ayah dan suaminya berbincang dengan Renata. Entah apa lagi yang mereka bicarakan. Sesekali dia melihat Ayahnya tersenyum dan tertawa, begitu juga dengan Adam.
Kenapa sih Renata ada di antara aku dan Adam? pikirnya.
Aku sayang kamu, aku cinta kamu, aku nggak mau kehilangan kamu.... Selenia tersenyum getir mengingat ucapan Adam semalam dan kembali menatap ke arah Renata lagi. Perempuan itu terlihat menyalami Ayahnya dan Adam sebelum akhirnya meninggalkan pemakaman.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...