
Beberapa hari setelah kepulangan Selenia dan Ray ke rumah, keluarga besar mulai merencanakan acara aqiqahan untuk Ray. Namun mereka tidak akan mengundang banyak orang dan hanya dihadiri keluarga inti saja. Karena orang-orang di sekitar komplek mereka kan tidak banyak yang tahu juga hubungan Adam dan Selenia. Dan lagipula, orang-orang di komplek ini isinya orang sibuk semua. Tidak ada yang punya waktu untuk mempedulikan kehidupan pribadi seseorang.
Saat acara akan dimulai, semua keluarga besar mulai berdatangan. Mereka semua sebenarnya tahu tentang berita pernikahan mereka sekitar 3 bulan setelah pernikahan itu terjadi. Sempat ada beberapa pihak yang menyayangkan, namun kemudian memilih untuk tidak mau ambil pusing. Karena pada akhirnya semua kembali pada siapa dan bagaimana yang menjalani.
Tidak lupa, Adam juga mengundang Pak Anton, Irham dan Renata.
Acara itu berlangsung siang hari, dimulai dari pukul 10 dan berlangsung sangat khidmat. Sepanjang acara Ray lebih banyak tidur karena sepertinya dia begitu menikmati alunan sholawat yang mengiringi acara cukur rambut pertamanya itu.
"Selamat ya Dam," ucap Pak Anton setelah acara selesai. Dia mendekap Adam singkat lalu menepuk-nepuk bahunya. "Kadang saya masih suka belum percaya kalau kamu itu...." Pak Anton terkekeh. "Tapi sekali lagi selamat, karena penerus kamu telah lahir."
"Terimakasih pak," sahut Adam dan Selenia bersamaan.
"Selamat bro," Irham meninju lengan Adam lirih. "Jagoan lo cakep!" dia melirik Ray yang masih terlelap di atas bouncher.
"Thank you. Jadi lo kapan nih mau resmiin hubungan?" Adam melirik Irham dan Renata bergantian. Renata tampak menunduk dan tersipu.
"Harus secepatnya dong," Pak Anton menyeletuk. "Kamu jangan mainin mantan sekretaris terbaik saya lho. Dia sudah bela-belain resign demi kamu kan?!" guraunya.
Mereka semua sama-sama terbahak.
"Wah, Bapak bisa saja," Irham tersipu. "Secepatnya akan saya kabari."
"Sebelumnya selamat ya," Adam menimpali. "Tapi kok, Nola nggak ikut ke sini?"
"Iya pak, dia lagi happy sama Omnya di rumah," jawab Renata.
"Om?" kening Adam mengerut.
"Iya, Alhamdulillah kakak saya sudah bebas karena mendapat remisi," Renata tersenyum.
"Ooooh.... syukurlah Ren, saya turut bahagia mendengarnya. Salam saya buat kakak kamu ya."
"Iya pak. Nanti saya sampaikan."
"Eh ya udah kalau gitu, sorry banget ni bro, gue nggak bisa lama-lama. Masih ada urusan di luar," pamit Irham kemudian.
"Urusan apa sih Ham? Kan saya tidak ada intruksi apa-apa hari ini buat kamu," sahut Pak Anton yang langsung kembali mengundang tawa.
"Tahu ni, alesan aja lo. Ngomong aja mau kencan kan? Kencan jangan siang-siang, mana enak?" Adam meledek.
Selenia mencubit pinggang Adam gemas karena ternyata suaminya itu cukup renyah juga kalau lagi ngobrol dengan teman sebayanya.
"Auh..!" Adam sedikit berjingkat.
"Ya ada lah, hahaha!" Irham tergelak. "Ya udah gue pamit bro, yuk yang," dia meraih lengan Renata dan langsung mendapat deheman dari Pak Anton. "Hehehe... maaf Pak..."
"Hati-hati bawa anak orang," pesan Pak Anton.
"Siap pak. Dam, Selenia.... kami permisi dulu. Cepet gede ya anaknya."
"Kita balik dulu ya Sel," Renata bercipika-cipiki dengan Selenia.
"Sama-sama. Makasih ya udah datang ke acaranya Ray," ucap Selenia.
Mereka berdua lalu meninggalkan ruangan. Pak Anton geleng-geleng kepala menatap Irham dan Renata yang melenggang berdampingan meninggalkan tempat acara.
"Oh iya pak, apa kabar Tony? Lama banget saya nggak ngelihat dia," celetuk Adam begitu Irham dan Renata tak nampak lagi.
Pak Anton terkekeh kecil. "Dia sudah di New York sekarang Dam."
"Hah?!" reflek Selenia bersuara.
__ADS_1
"New York? Sejak kapan Pak?" sambung Adam.
Pak Anton menghela nafas. "Sekitar...,... empat hari yang lalu. Dia sudah menentukan pilihannya buat kuliah di NYIT (New York Institute of Technology)."
"Oooh...." Adam manggut-manggut. "Itu kampus yang bagus juga dan saya rasa cocok banget buat passion Tony yang suka game," dia tertawa kecil.
"Ya mau bagaimana lagi, sebenarnya berat sih melepas anak semata wayang pergi sejauh itu," Pak Anton mengangkat kedua bahunya.
"Tapi demi masa depannya, saya tidak punya hak untuk melarang. Dan... oh iya, akhirnya yang berangkat ke Frankfurt cuma satu orang dan formulir satunya terpaksa hangus, sayang sekali ya..."ujar Pak Anton kemudian kembali membicarakan soal tawaran study yang pernah Adam tolak.
"Berarti memang belum menjadi rezeki siapapun pak. Sekali lagi saya minta maaf untuk hal itu."
"Ya sudahlah, nggak perlu dibahas lagi."
Sementara Pak Anton dan suaminya sibuk berbincang, Selenia juga sibuk dengan pikirannya sendiri sembari mengayun Ray yang masih tenang di atas bouncher.
Tony beneran berangkat ke New York dan dia masih memblokir nomorku. Kenapa aku merasa dia seperti memusuhiku ya. Jadi apa itu artinya yang pernah dikatakan Cia waktu itu benar?
...🌺🌺🌺...
"Sayang, aku boleh cerita sesuatu sama kamu nggak?" tanya Selenia malam itu pada suaminya saat Ray telah tidur pulas.
Adam yang saat itu sudah hampir memejamkan mata, langsung menatap wajah istrinya penuh perhatian.
"Apa sayang? Cerita aja," ucapnya lembut.
Semenjak kembali dari rumah sakit dan kamar bayi berada di kamar Selenia, otomatis Adam harus rela mengosongkan kamarnya dan tidur bersama Selenia.
Selenia menatap wajah suaminya beberapa saat sebelum akhirnya menegakkan tubuh dan duduk bersandar di atas tempat tidurnya. Adam mengikuti gerakan itu--turut menyandarkan tubuh dan kemudian merangkul Selenia dan menyandarkan kepala Selenia pada pundaknya.
Selenia ingin bercerita, tapi tiba-tiba dia merasa berat karena takut akan membuat hati Adam sakit atau bagaimana. Masalahnya dia ingin menceritakan tentang Tony. Melihat sikap Adam yang seperhatian itu, kok rasanya berdosa sekali, malam-malam begini malah curhatin laki lain di depan suami.
"Kok malah diem? Katanya mau cerita?"
"Enggak sayang. Aku nggak akan marah," tukas Adam pada akhirnya. "Cerita aja, aku dengerin kok."
Selenia menarik nafas. Dia lalu menarik selimut untuk menutupi seluruh kakinya dan kaki Adam. Belum juga memulai cerita, rasanya jantungnya sudah berdegup dua kali lipat lebih kencang.
"Tony blokir nomorku," ucap Selenia. Namun sedetik kemudian dia menyadari betapa bodohnya dia karena harus mengawali cerita dengan kalimat seperti itu. Dia merasa Adam sedikit menarik diri darinya.
"Terus?" tanya Adam lirih, pelan, tapi terdengar menyakitkan bagi Selenia. Yang tentu saja juga menyakitkan bagi Adam bukan?
"Kamu tahu kan terakhir aku ketemu dia waktu itu pas di kafe, kamu yang nganter aku?" Selenia melanjutkan ceritanya dan Adam mengangguk. "Setelah itu kan aku nggak pernah ketemu lagi sama dia. Dan ternyata.... dia malah blokir nomorku," argghh!! Selenia mengumpat dirinya sendiri dalam hati yang merasa tidak bisa menceritakan secara berurutan supaya mudah dimengerti. Malah terdengar blunder.
Adam yang menyadari kegugupan istrinya, mencoba bersikap berbesar hati dan meminta supaya Selenia mengatakan dengan lebih jelas supaya dia juga bisa mengerti maksud yang ingin Selenia sampaikan.
"Kamu cerita pelan-pelan aja sayang, cerita yang jelas, supaya aku juga enak dengernya. Kan tadi kamu bilang kamu pengen curhat. Nggak usah gugup, aku dengerin cerita kamu dan aku nggak pa-pa kok."
Akhirnya setelah mendengar penjelasan Adam, Selenia pun mulai menceritakan apa yang mengganjal di hatinya secara perlahan.
Tentang Tony yang Cia bilang tidak pernah muncul lagi di sekolah setelah melengkapi berkas.
Tentang Tony yang tiba-tiba pergi ke New York dan seolah terkesan sangat menghindari dia.
Ya nggak sih? Dia memang sempat mengatakan rencananya untuk kuliah ke New York pada saat mereka bertemu di kafe kala itu. Tapi dengan kepergiannya yang tiba-tiba dan tanpa ada kata selamat tinggal atau sejenisnya, membuat Selenia merasa dimusuhi. Bagaimana tidak? Untuk apa coba Tony harus memblokir nomornya sementara tidak dengan nomor Cia. Padahal mereka berdua tidak pernah terlibat permasalahan apapun.
Dari cerita itu Adam baru bisa menangkap satu kesimpulan.
"Dia suka sama kamu sayang. Dan karena dia tahu dia tidak akan pernah bisa mendapatkan kamu, makanya dia memilih untuk pergi. Tapi dia gentle lho, aku akui. Dia bisa memendam perasaannya karena dia sadar, dia tidak akan mungkin mengungkapkan perasaan pada orang yang telah menjadi milik seseorang. Karena kalau dia memaksakan diri mengatakan perasaannya, itu pasti malah akan menjadi beban. Beban untuk dia, dan mungkin juga.... untuk kamu," tutur Adam panjang. Jauh di dalam hatinya dia merasa lega mendengar apa yang Selenia ungkapkan malam ini. Selenia memang kadang masih suka childish. Tapi malam ini, dia sangat menghargai sikap istrinya yang mau curhat 'tentang cowok lain' padanya, padahal dia punya sahabat sedekat Cia. Itu membuat Adam juga merasa dihargai.
Kok yang dibilang Adam nggak jauh-jauh beda sama dugaan Cia ya?
__ADS_1
"Masa sih dia kaya gitu?" Selenia masih belum yakin. Dia bukan primadona yang pantas disukai Tony yang jelas-jelas punya nama di sekolahnya dulu. Aku bukan murid famous!
Adam tersenyum tipis. "Sekarang gantian aku mau nanya sama kamu."
"Apa?"
"Selama kamu kenal Tony, kamu pernah nggak ada rasa sama dia?"
Selenia menggeleng.
"Serius?"
"Serius lah. Memangnya kenapa?"
"Alasannya?"
"Kan aku udah punya kamu," jawab Selenia polos tapi yakin.
Kening Adam mengerut. Dia menegakkan tubuhnya dan beringsut menghadap lurus ke Selenia.
"Sayang, aku nggak bercanda. Sekarang kita main jujur-jujuran nih, jangan bawa suasana malam ini. Tapi yang dulu, kita kan pernah tuh berantem hebat gara-gara salah paham, dan kamu jadi lebih sering deket sama Tony. Masa iya kamu nggak ada perasaan apapun sama dia?"
Selenia menggeleng lebih mantap. "Enggak ada. Ya memang sih waktu itu aku lebih sering sama dia, tapi serius, perasaan semacam cinta, suka atau sejenisnya itu nggak ada. Aku tu cuma ngerasa... nyaman aja karena pada saat jauh dari kamu aku masih ada temen buat ngobrol, curcol, sama aja kaya seperti pas aku sama Cia."
Adam menatap wajah Selenia sendu. Perasaannya terharu mendengar ungkapan itu. Tidak pernah dia bayangkan dulu bahwa inilah yang dirasakan Selenia saat terpaksa harus jauh darinya karena kesalah pahaman.
"Aku mungkin terdengar lebay ya Dam? Tapi, kalau kamu nanya lagi ke aku alasannya apa, jawabanku ya tetap sama, karena aku udah punya kamu." imbuh Selenia lirih.
"Terimakasih sayang." Adam langsung menghambur ke pelukan Selenia.
"Tunggu..." Selenia menahan tubuh yang hampir mendekapnya itu.
"Kenapa sayang?"
"Tadi kan kamu bilang kita main jujur-jujuran nih, sekarang giliran aku nanya sama kamu."
Adam memundurkan tubuhnya kembali. "Apa?"
"Kamu sendiri gimana dulu pas dekat sama Renata? Pernah nggak punya perasaan sama dia?"
Adam menggeleng. "Sama sekali enggak."
"Bener? Terus waktu itu kenapa kamu bantuin dia sampai segitunya? Cariin pengacara, baku hantam sama mantan suaminya.." Selenia mencibir.
Adam terkekeh. "Sayang, itu manusiawi aja. Aku kenal dia dan dia lagi punya masalah. Sementara aku tahu aku punya kapasitas untuk menolong, masa iya aku harus diam aja?"
"Uuuuuhh ternyata suamiku ini berjiwa besar juga ya." Selenia mencubit pipi Adam gemas.
Adam menggenggam kedua tangan Selenia erat.
"Aku sudah punya seseorang yang spesial di hati aku semenjak aku mengucap ijab qobul di depan penghulu, di sana aku bersumpah atas nama Tuhan, berdosa sekali aku kalau sampai mengkhianati kalimat suci itu. Apalagi, sekarang kita sudah punya Ray yang Tuhan anugerahkan di tengah-tengah keluarga kecil kita..." Adam menoleh ke arah box bayi, tempat di mana Ray tengah terbuai dalam tidurnya. "... apalagi yang mau aku cari di dunia ini kalau aku sudah memiliki kalian yang sangat berharga melebihi apapun? Nggak akan pernah aku seperti itu sayang."
Selenia dibuat terharu dengan semua kalimat yang terlontar dari mulut Adam malam ini. Ditambah lagi suasana malam yang semakin hening dan terkesan syahdu. Lega sekaligus bahagia menyelimuti hatinya. Rasanya dia tidak tahu lagi dengan cara apa dan bagaimana untuk mengungkap syukur karena memiliki suami yang mendekati sempurna seperti Adam.
Selenia menghambur ke pelukan Adam dan terisak. Dia menangis bahagia.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
Numpang promo 🙂
__ADS_1
Ada cerita baru nih... cek ya... dan semoga juga suka ☺️