NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -104-


__ADS_3

"Alhamdulillah Pak, Bu, sepertinya kondisi pasien sudah mulai menunjukkan perkembangan yang positif," terang Dokter begitu keluar dari memeriksa kondisi Adam dengan mimik wajah lega. "Apakah akhir-akhir ini ada yang selalu mengajak pasien mengobrol? Menceritakan hal-hal yang pernah dilewati pasien saat sebelum koma mungkin?"


Bu Lisa dan Selenia mengangguk bersamaan.


"I... iya, Dok. Tadi saya baru saja dari kamar pasien dan....." Selenia terbata saking bahagianya. Apakah yang terjadi pada Adam barusan karena dia bisa mendengar apa yang Selenia ucapkan?


Dokter itu tersenyum. "Bagus lah kalau begitu. Karena sebenarnya mendengarkan suara orang yang dikenal oleh pasien, akan melatih sirkuit di otak yang bertanggung jawab atas ingatan jangka panjangnya. Jadi stimulasi seperti itu bisa membantu memicu secercah kesadaran pertama. Misalnya, seperti yang terjadi saat ini."


Pak Edwin, Bu Lisa dan Selenia tersenyum. Mereka menghela nafas lega bersamaan. Secercah harapan itu semakin terlihat nyata. Mereka saling berpelukan dan menangis haru.


...🌺🌺🌺...


Paginya, Selenia menceritakan tentang kondisi Adam yang semakin menunjukkan kemajuan pada Cia di sekolah. Cia senang mendengarnya. Apalagi saat melihat wajah Selenia yang mulai kembali menunjukkan aura keceriaan seperti biasanya. Dia pun berharap Adam lekas sadar, supaya dia bisa lebih memperhatikan Selenia dan kehamilannya. Kasihan dia, belum ada satu jam mengetahui kalau Selenia hamil, musibah itu tiba-tiba datang dan menghancurkan kebahagiaan mereka. Apalagi Selenia, dalam keadaan hamil seperti sekarang, jiwa dan pikirannya harus terus merasakan guncangan dan rasa panik yang teramat dahsyat dari peristiwa itu. Untung saja si baby kuat, pikir Cia.


"Terus gimana tu sama identitas si penyusup yang masuk ke kamar Adam dan mutusin selang oksigennya? Udah ketahuan belum?"


Mereka berdua ngobrol di kantin sambil menikmati sarapan.


Selenia menggeleng. Mengingat hal itu, kembali memunculkan rasa takut di hatinya.


"Tapi udah dilaporin kan?"


"Kata pihak rumah sakitnya sih udah. Gue juga masih nunggu kabar dari polisi siapa yang nusuk Adam di Carlos, Ci."


Cia menghela nafas. Sebenarnya ada beberapa dugaan yang akhir-akhir ini cukup mengganggu pikirannya.


"Sel, masa sih lo nggak ada orang yang lo curigain dalam hal ini?" selidik Cia.


Selenia melirik. "Memang lo curiga sama siapa?"


"Renata," jawab Cia cepat.


Kening Selenia mengerut dalam-dalam. "Kok bisa?" dia lantas tersenyum. "Bukan dia Ci, pelakunya. Gue yakin itu..."


"Oke Sel, gue mungkin nggak punya bukti kalau itu Renata, tapi gue punya alasan."


"Apaan?"


"Mungkin dia sakit hati karena..... cintanya bertepuk sebelah tangan gitu..... who knows kan?"


Selenia terkekeh yang justru membuat Cia memberengut.


"Ya ampun Cia, lo boleh nggak suka sama Renata. Tapi jangan terus semua hal buruk yang terjadi sama keluarga gue lo sangkut pautin sama dia dong, kasian. Nggak baik juga nuduh orang sembarangan kaya gitu. Lo percaya deh sama gue, Renata itu nggak sejahat yang lo pikir, dia itu baik banget malah."


"Ck..." Cia berdecak dan mengangkat kedua bahunya. "Terserah lo deh."

__ADS_1


"Lagian udah jelas banget kalau orang yang nusuk Adam malam itu laki-laki. Meskipun gue nggak bisa liat dengan jelas wajahnya kaya gimana, tapi gue yakin banget, dia laki-laki."


"Hmmmhh... bisa aja kan Renata bayar orang buat memuluskan aksinya," ujar Cia.


Selenia menegakkan kepala, kaget mendengar jawaban Cia yang terkesan memojokkan Renata di depannya.


"Ci.... udah deh, kita tunggu aja ya kabar dari polisi," dalam hati Selenia pun merasa was-was dan berharap semoga saja prasangka Cia itu salah. Renata tidak sejahat itu. Bukankah dulu dia telah mengakui semuanya, saat dia berusaha mendekati Adam, itu karena dia belum tahu status Adam yang sebenarnya. Dan setelah dia tahu Adam sudah menikah, buktinya dia mau menjauh.


Tony yang duduk berada tak jauh dari mereka dan sempat mencuri dengar apa yang mereka obrolkan, cukup geli juga saat mendengar asumsi Cia yang begitu kekeuh kalau pelaku penusukan itu Renata. Bukan Renata Ci, tapi mantan suaminya. Batin Tony geram. Sejak menemukan gelang kemarin, dia masih mencari cara untuk membuat Devan mati kutu dan mengakui perbuatannya. Karena menurut Tony, orang seperti Devan terlalu berbelit-belit dan pintar beralibi.


Dua sejobat (sejoli sahabat) itu masih asyik ngobrol saat ponsel Selenia berdering. Ternyata telfon dari Mama mertuanya.


"Mertua gue," ucap Selenia tanpa suara pada Cia. "Iya, ma... halo?" sapanya kemudian. "Apa???!!!" mata Selenia membelalak kaget. "Iya iya iya.... aku aja yang ke sana... Iya... mama jagain Adam aja di rumah sakit.... okey..."


"Ada apa Sel?" tanya Cia penasaran.


Seleni mulai terlihat panik. Dia mencoba mengendalikan dirinya dengan menghela nafas perlahan. "Ci, barusan mama Lisa bilang, katanya polisi udah berhasil nangkap orang yang nusuk Adam. Lo temenin gue ke kantor polisi yuk!"


"Hah? Sekarang banget?" Cia melongo antara bingung dan juga senang karena mendengar kabar itu.


Begitu juga dengan Tony. Dia bahkan hampir tersedak minumannya saat mendengar hal itu. Jadi Devan sudah tertangkap?


"Iya, ayok!" Selenia menarik tangan Cia dan keluar dari kantin.


Mereka berdua tidak mempedulikan bel masuk kelas yang berdering. Saat di mana anak-anak berlarian menuju kelas masing-masing, Selenia dan Cia justru melawan arus karena mereka akan pergi dari sekolah.


Mereka berhasil lolos dari pintu gerbang yang hampir tertutup.


"Woey!! kalian mau kemana?!! ayo masuk!!" teriak Pak Sauhari--satpam sekolah--dari balik gerbang yang masih terbuka sedikit.


Saat itu Selenia sudah terbungkuk-bungkuk di tepi jalan sambil memegangi perutnya. Dia nyengir-nyengir menahan sakit.


"Ya ampun Sel??? Lo nggak pa-pa kan??" Cia turut membungkuk untuk melihat keadaan Selenia.


Mereka tidak mempedulikan Pak Sauhari yang terus meneriaki dan meminta kembali masuk ke sekolah.


"Kita duduk dulu di sana yuk," Cia memapah Selenia dengan hati-hati menuju halte. "Aduh Sel.... lo lupa kali ya kalau lo lagi hamil? Gue juga nggak sadar kenapa kita lari-larian kaya tadi."


"Kalau nggak gitu keburu gerbangnya ditutup, kita malah nggak bisa pergi sekarang Ci," Selenia terus memegangi perutnya. "Sayang maafin mommy ya.... yuk kita kuat yuk... demi daddy...."


"Ya udah, gue pesen taksi online sekarang ya," Cia mengeluarkan ponselnya.


Tak lama kemudian, taksi mereka datang. Mereka baru saja beranjak, dan Cia baru saja membuka pintu taksi tersebut saat tiba-tiba mendengar ribut-tibut dari arah gerbang. Ternyata Tony dan Pak Sauhari sedang adu mulut karena Tony memaksa Pak Sauhari supaya membukakan pintu gerbang.


"Eh, itu Tony ngapain?" celetuk Cia saat melihat Tony yang nekat menaiki gerbang sementara Pak Sauhari mencoba menahan dengan memukuli bokongnya menggunakan tongkat lalin yang biasa digunakan untuk mengatur keluar-masuk kendaraan para murid dan guru saat jam berangkat dan pulang sekolah.

__ADS_1


Sampai akhirnya, Tony pun berhasil keluar dan mendarat dengan selamat di luar gerbang.


"Makasih ya Pak! Sampai ketemu nanti! Titip motor saya... jangan digadein..!!!" ocehnya sembari berlari ke arah taksi yang sudah di pesan Cia.


"Kamu mau kemana Ton?" tanya Selenia heran.


"Aku mau ikut kalian. Tadi nggak sengaja aku dengar katanya pelaku penusukan itu udah ketangkep ya?"


Selenia dan Cia saling tatap. Namun karena tidak ada banyak waktu lagi untuk berdebat dan menanyakan alasan Tony mengikut mereka, akhirnya mereka pun membiarkan Tony turut masuk ke dalam taksi tersebut.


...🌺🌺🌺...


Selenia, Cia dan Tony keluar dari ruang pemeriksaan di kantor polisi, setelah hampir satu jam berada di sana. Selenia dimintai keterangan, sementara Cia dan Tony menunggu di ruangan lain. Pelaku penusukan memang sudah berhasil ditangkap, dan ternyata dia hanya orang suruhan. Dia pun begitu keras kepala tidak mau menyebutkan siapa orang yang telah menyuruhnya melakukan perbuatan keji itu. Selenia hampir saja emosi dibuatnya, namun beruntung Tony dan Cia mampu menahan dan membawanya keluar.


Menurut Polisi, orang yang saat ini dia tangkap memang sudah sering keluar masuk penjara. Banyak sekali kasus yang menjeratnya, mulai dari narkoba, perampokan, dan begal. Namun Polisi mengatakan, mereka akan tetap terus menyelidiki kasus ini sampai menemukan dalangnya. Mereka menggabungkan dengan laporan dari pihak rumah sakit yang melaporkan kejadian pengguntingan selang oksigen di ruang ICU tempat Adam di rawat. Mereka menyimpulkan, dialah otak dari peristiwa ini. Mungkin dia merasa belum puas, karena pekerjaan orang suruhannya tidak membuahkan hasil. .


Selenia terduduk lesu di luar kantor Polisi. Dia kembali menangis. Ketakutannya kembali muncul. Pelaku penusukan itu memang sudah ditangkap, tapi kalau dalangnya masih bebas, berarti percuma dong? Dia mungkin masih bisa dan akan terus berusaha mencelakai Adam. Seperti yang Polisi katakan tadi. Mungkin dia belum puas, karena pekerjaan orang suruhannya tidak membuahkan hasil. Hasil seperti apa yang dia inginkan? Membunuh Adam?


Ya Tuhan..... kepala Selenia mendadak terasa sangat pusing. Dia terhuyung dan akhirnya harus dibimbing Cia untuk duduk di kursi yang ada di luar ruangan.


"Kenapa ada orang sejahat itu sama Adam Ci?" bisik Selenia lirih. "Kesalahan seperti apa yang sudah Adam perbuat sehingga dia memiliki niat untuk membunuh dia? Gue takut Ci.... gue takut banget....." dia merasa kedatangannya ke sini seolah sia-sia.


Cia memeluk Selenia dan membiarkan dia menangis. Dia turut geram dengan orang di dalam tadi. Bisa-bisanya sudah dalam kondisi tertangkap basah seperti itu masih tidak mau juga menyebut siapa orang yang nyuruh dia. Dibayar berapa sih dia sama orang itu?


Begitu juga dengan Tony. Kalau saja tidak sedang berada di kantor Polisi, mungkin dia dan orang itu sudah terlibat baku hantam. Geram sekali rasanya melihat dan mendengar jawaban demi jawaban dari preman itu saat dimintai keterangan yang terkesan berbelit-belit.


Ternyata lo memang udah ngerencanain semuanya sematang itu, Van? Bahkan orang suruhan lo juga bener-bener pilihan dan begitu setia. Oke.... lo sekarang mungkin bisa bernafas lega.... berkeliaran kemanapun yang lo suka....puas-puasin aja dulu... karena sebentar lagi gue punya kejutan spesial buat lo.


Tony mengepalkan tinjunya. Kalau dulu dia pernah memukul Devan karena sikapnya yang membahayakan Selenia, kali ini dia akan kembali berurusan dengannya demi Adam. Peristiwa ini membuatnya berpikir, bahwa mungkin keberadaannya dalam situasi ini memang sudah menjadi takdir Tuhan. Beberapa hari yang lalu Pak Anton pernah berbicara dengannya, kalau semenjak Adam koma, kinerja di perusahaan cukup kalang kabut. Memang sih ada Irham, Maya dan Renata yang menghandle semuanya. Tapi tetap saja, ada beberapa proyek besar yang terpaksa harus dilepaskan, karena mereka merasa belum sanggup untuk mengurusnya. Sebesar itu pengaruh Adam di perusahaan Papanya, maka tidak salah kalau dia menjadi staff kesayangan Papanya di sana.


Sepak terjang Adam selama hampir 4 tahun di perusahaan Pak Anton jelas sekali terlihat. Dari perusahaan yang awalnya biasa-biasa saja sampai sekarang di kenal hampir di seluruh Indonesia bahkan mancanegara. Dan itu semua tidak lepas dari campur tangan Adam.


Apalagi kalau semua bukan karena takdir Tuhan.


Mulai dari golongan darah yang cocok.


Memergoki orang yang berusaha mencelakainya di ruang ICU dan menemukan barang sebagai petunjuk untuk membungkam pelaku utamanya.



Tuhan menunjukkan semua ini padaku pasti bukan karena kebetulan.


Ya, mungkin saat ini aku memang harus benar-benar bertindak. Batin Tony yakin. Dia lalu duduk di sebelah Selenia, dan turut merangkul bahunya yang masih terisak di pelukan Cia.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2