NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -17-


__ADS_3

Suasana di SMA Bhakti Nusa begitu meriah. Hingar bingar suara murid beradu dengan suara sound system yang membahana dari arah panggung. Di awal acara tadi, Kepala sekolah membuka pagelaran acara ulang tahun ini dengan mengadakan acara potong tumpeng di lapangan. Acara itu di saksikan oleh semua murid dan para guru. Kemudian setelah itu disusul acara pelepasan balon yang digantungi spanduk besar bertuliskan Selamat Ulang Tahun untuk sekolah mereka. Kini, tinggalah acara-acara hiburan sampai dua hari ke depan. FLEXY, band kebanggaan sekolah itu tengah beraksi di atas panggung membawakan beberapa lagu disaksikan para murid yang siap melompat dan bergoyang di depan panggung.


Sementara itu di area bazaar, para murid sibuk bertransaksi. Selenia dan Cia pun tampak sibuk melayani pembeli yang meminati barang-barang preloved milik mereka. Tidak hanya murid, beberapa guru juga turut antusias menjadi pembeli dagangan mereka. Karena meskipun preloved, barang-barang yang dijual oleh Selenia dan Cia tergolong masih bagus dan layak pakai.


"Auuhh... aduuh duhh..." tubuh Selenia sedikit terhuyung saat sedang melayani pembeli dan membuat Cia reflek menahan bahunya.


"Eh eh eh... Sel, lo kenapa?" Cia panik. "Eh guys.... makasih udah pada beli barang kita, lanjut nanti atau besok ya. Closed for a while... temen gue lagi pusing. Kalian ke bazaar lain dulu atau liat Flexy manggung aja..." celoteh Cia sembari meminta pembeli yang berkerumun di depan meja mereka untuk bubar.


"Yaaaaaah...." terdengar ungkapan kekecewaan dari mereka. Satu per satu mereka pun meninggalkan meja penjualan.


Cia duduk di samping Selenia yang sedang memijit-mijit kepalanya sendiri. Selenia sendiri sudah merasa ini pasti karena tekanan darahnya rendah. Dia memang memiliki penyakit darah rendah sejak SD.


"Sel... lo nggak pa-pa kan? Lo istirahat aja gih di UKS, biar gue yang jagain bazaar-nya." Cia khawatir karena melihat wajah Selenia yang tampak pucat. Dia meraba kening anak itu.


"Nggak nggak nggak..." Selenia menolak. "Gue nggak mau ke UKS. Gue bisa minta tolong sama lo aja nggak Ci?"


"Apaan?"


"Tolong beliin gue minuman panas di kantin ya..." Selenia meraba-raba tasnya untuk mencari uang.


"Udah, pake duit gua aja. Lo tunggu sini ya. Awas jangan layanin pembeli dulu." kata Cia. "Atau mau sekalian gue beliin obat sakit kepala?"


"Nggak usah Ci. Beliin gue minuman panas aja."


Cia mengangguk. "Ya udah lo tunggu sini ya."


Cia berjalan setengah berlari menuju kantin, menerobos kerumunan anak-anak yang tumpah ruah di halaman sekolah. Di depan ruang Kepala Sekolah, dia tak sengaja bertubrukan dengan Tony yang baru muncul dari lorong dengan pakaian yang sudah berbeda dengan yang dia kenakan pagi tadi. Saat ini dia memakai setelan kaos tanpa lengan dengan tulisan angka 20 di bagian punggungnya. Tubuhnya tampak berkeringat.


"ADUH!" mereka sama-sama berteriak.


"Cia? Kamu mau kemana? Kok buru-buru banget?"

__ADS_1


"Eh iya ini... aku... aku mau ke kantin, nyari minuman panas buat Selenia..." jawab Cia gugup.


Tony mengernyitkan kening. "Minuman panas?"


"Iya tadi pas lagi ngelayanin pembeli tiba-tiba dia pusing trus wajahnya pucet gitu. Ya udah ya aku ke kantin dulu!" Cia tidak bisa berlama-lama ngobrol dengan Tony dan melanjutkan perjalanannya.


Mendengar apa yang dikatakan Cia, Tony pun menjadi cemas. Dia yang tadinya mau ke toilet untuk membersihkan diri setelah selesai latihan, langsung berlari menuju bazaar untuk menemui Selenia.


Sesampainya di sana dia melihat Selenia tengah membenamkan wajahnya diatas meja.


"Sel..." Tony menarik kursi kosong dan duduk di samping Selenia.


Selenia mendongak, wajahnya tampak kuyu.


"Kamu sakit?" Tony mencoba menyentuh kening Selenia, tapi Selenia memundurkan kepalanya.


"Tony?" ucap Selenia lirih. "Cia belum dateng ya?"


Tony menggeleng. "Sel, kalau boleh aku saranin mending kamu pulang deh. Wajah kamu pucet banget... atau kamu mau aku antar ke rumah sakit?"


"Tapi beneran kamu pucet banget lho." Kata Tony khawatir. "Atau mau aku anter pulang?"


Selenia menggeleng lagi. "Nggak usah Ton, aku nggak pa-pa kok. Nanti kalau udah minum minuman panas juga mendingan. Ini mungkin cuma capek aja."


"Beneran?" tanya Tony.


Selenia mengangguk. Tak lama kemudian Cia datang dengan membawa satu cup teh panas dan langsung memberikannya pada Selenia. Selenia meminum teh itu sedikit demi sedikit sampai menghabiskan setengah cup.


"Tadi pagi lo sarapan kan Sel?" tanya Cia dengan nada menyelidik.


"Ya iyalah, kalau gue nggak sarapan Adam pasti bakalan...." Ups! Selenia membelalak, begitu juga dengan Cia. Dia lalu menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.

__ADS_1


"Adam?" sahut Tony. Dia melihat Selenia dan Cia bergantian. Namanya seperti begitu familiar di telinga Tony.


"Ee....kakaknya Selenia...!" ucap Cia cepat dan asal. "Dia itu protektif banget sama adiknya, jadi ya... gitu deh... kalau dia tahu Selenia nggak sarapan sebelum berangkat sekolah, dia bakalan marah..."


Selenia memutar bola matanya mendengar jawaban spontan yang keluar dari mulut Cia. Dalam hati dia berterimakasih untuk jawaban Cia yang asbun tapi cukup menyelamatkan posisinya.


Tony manggut-manggut. "Bener tuh kakak kamu." Ucapnya. "Jaman serba instan kaya gini, kita tu harus pinter-pinter jaga kesehatan diri sendiri. Eh tapi...." dia tidak melanjutkan kata-katanya. Mata Tony menyipit menatap Selenia.


Selenia dan Cia saling melirik. Mereka menunggu Tony melanjutkan ucapannya yang masih menggantung.


Tiba-tiba Tony keingat peristiwa tempo hari saat lemparan bola basketnya yang tidak sengaja menghantam kepala Selenia. Jangan-jangan hantaman bola itu ada hubungannya dengan sakit kepala Selenia saat ini, pikirnya. Semacam keluhan jangka panjang. Sakit kepala yang bisa kambuh karena pernah terjadi hantaman yang cukup keras.


"Tapi.... apa Ton?" tanya Cia tak sabar.


"Sel... maaf ya sebelumnya. Tapi... setelah kepala kamu kehantam bola basket tempo hari, apa kamu pernah periksa ke rumah sakit? Coba city scan atau X-ray gitu? Soalnya kan gara-gara itu kamu jadi pingsan."


Selenia terkikik pelan. "Buat apa Ton? Aku nggak pa-pa kali. Ini nggak ada hubungannya dengan peristiwa itu. Aku pusing karena capek aja, dari kemarin bongkar lemari sendiri, pilih-pilih barang sendiri..."


Tony tersenyum kecil lalu terdiam. Dia pun berharap dugaannya itu salah. Semoga Selenia memang baik-baik saja.


...🌺🌺🌺...


Malam itu Selenia sedang asyik di kamarnya, menghitung uang hasil penjualan barang prelovednya hari ini.


"Wah.... Alhamdulillah...." senyumnya mengembang tatkala menata lembaran demi lembaran ke dalam box kecil berkarakter Pokemon. "Baru sehari aja udah laku keras. Moga aja besok bisa seperti ini lagi." Gumamnya. Dia menyurukkan box tersebut ke dalam laci nakas di samping tempat tidurnya.


Sementara itu di ruangan lain, tepatnya di ruang tengah, Adam sedang nonton TV. Sesekali dia mengarahkan pandangannya ke tangga. Dia heran, setelah makan malam tadi Selenia terlihat buru-buru pergi ke kamar. Wajahnya juga tampak sumringah. Ada apa ya? Adam penasaran. Pengen rasanya nyamperin Selenia ke kamar sekaligus ingin tahu apa yang membuatnya sesumringah itu. Tapi lagi-lagi dia bimbang. Takut membuat Selenia berpikir macam-macam. Adam tidak ingin Selenia menganggap dirinya hilang batasan karena berani masuk kamar istrinya itu seenaknya--padahal sebelumnya tidak pernah.


Akhirnya, Adam memilih untuk diam di tempat. Menonton televisi sambil menikmati secangkir kopi buatan Bik Iyah. Kebetulan malam ini dia juga tidak terlalu sibuk, karena semua berkas untuk peninjauan besok sudah dia siapkan sore tadi sebelum pulang dari kantor.


Tentang agenda kunjungan itu, Adam tidak bilang ke Selenia. Dia tidak mau membuat Selenia merasa kurang nyaman kalau tahu tentang hal ini. Toh mereka juga belum tentu bakalan ketemu. Sekolahan Selenia itu kan luas. Memang sih Adam belum pernah datang ke tempat itu, tapi dia telah melihat gambaran denah sekolahnya. Dan letak aula yang akan di renovasi, cukup jauh dari kelas-kelas para murid.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2