NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -118-


__ADS_3

Bu Lisa baru diberi tahu oleh Adam malamnya setelah mereka selesai makan malam. Setelah mendapat kabar itu, dia langsung datang ke rumah Adam, sendirian. Pak Edwin tidak bisa ikut karena sedang ada tamu di rumah.


Mereka bertiga duduk di ruang tengah.


"Kamu kenapa baru ngomong sekarang sih Dam?" Bu Lisa gegeretan setelah mendengar bahwa penyebab dari semua ini adalah dari teman Selenia sendiri yang pernah dia temui di SPOG waktu itu.


"Mama nggak habis pikir sama tu anak... hhrrrggghhh, bisa-bisanya dia sampai berbuat kaya gitu... mana bikin gosip yang enggak-enggak. Belum aja dia ketemu mama lagi... pengen banget mama gampar mulut dia itu..." omelnya geram sambil mengepal-ngepalkan tangannya.


"Udah lah ma, jangan memperkeruh keadaan," ucap Adam. Dia duduk di hadapan Mamanya yang duduk di samping Selenia dan merangkul anak itu dengan hangat. "Yang terpenting saat ini, Selenia masih diberi kesempatan buat tetep bisa ikut pembelajaran walau harus home schooling..."


"Iya ma..." Selenia menyahut. "Aku nggak pa-pa kok. Awalnya, aku emang emosi dan marah banget sama kejadian ini, tapi sekarang aku udah jauh lebih tenang. Apalagi... aku nggak sendirian. Ada suami aku yang selama ini selalu bisa bikin semuanya terasa baik-baik saja," matanya menatap Adam lembut.


Sebutan 'suami' yang diucapkan Selenia terasa menyejukkan hati Bu Lisa. Dia mempererat rangkulannya pada Selenia dengan penuh kasih. Adam membalas senyuman Selenia dan beranjak. Dia duduk di sebelah Selenia, mengapit istrinya di tengah-tengah.


"Kita jalani ini sama-sama, kita lewati ini sama-sama. Semuanya akan tetap baik-baik aja," ucap Adam tenang sembari memeluk Selenia dan Bu Lisa.


...🌺🌺🌺...


Karena ujian sekolah tinggal 2 bulan lagi, Cia mulai mengurangi aktivitas jalan-jalan dan nongkrongnya bareng Marvin di luar rumah. Sebagai gantinya, Marvin yang sering main ke rumah Cia dan menemani pacarnya itu belajar. Bu Hilma tidak keberatan dengan hal itu. Marvin tidak hanya sekedar datang untuk apel, tapi juga membantu Cia memecahkan soal pelajaran yang sama sekali belum dia tahu.


Malam itu, mereka berdua duduk di ruang depan sambil menikmati coklat panas dan cemilan ringan yang dihidangkan Bu Hilma untuk menemani kegiatan mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Cia dengan pasrah menutup buku catatannya. Dia baru saja selesai merangkum beberapa artikel dari buku untuk memudahkan dia belajar. Itu tips yang diberikan Marvin, karena dia pernah melakukan metode itu dulu jaman masih SMA.


Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba mereka mendengar deru motor memasuki pekarangan rumah Cia. Cia dan Marvin saling tatap. Siapa yang datang?


Tapi kemudian Cia tahu siapa orang itu, karena suara motor itu begitu familiar di telinganya.


"Assalamualaikum!" teriak sebuah suara dari depan rumah setelah mesin motor dimatikan.


"Itu Tony," Cia bangkit dan berlari ke depan. "Waalaikumsalam..." balasnya sembari membuka pintu.


"Hei Ci," Tony tersenyum simpul. "Lagi sibuk ya?"


"Enggak kok, aku baru aja selesai belajar. Ada apa Ton? Tumben banget ke sini?" tanya Cia heran. Ini pertama kalinya Tony mendatangi rumahnya.


"Iya. Lagi pengen maen aja sama ngobrol. Tadinya pengen ke basecamp, tapi tiba-tiba males. Ya udah, akhirnya belok ke sini."


"Ooh, ya udah ayo masuk," sila Cia. "Itu di dalam juga ada Marvin."


Tony baru saja melangkahkan kakinya memasuki rumah dan langsung berhenti.


"Lhoh kenapa? Ayo masuk."


"Jadi kamu lagi sama Marvin? Aku ganggu nggak nih?"


Cia terkikik. "Ya ampun Tony apaan sih. Enggak lah, kaya apa aja ganggu."


Tony turut terkikik dan akhirnya melanjutkan langkah, mengikuti di belakang Cia.


Di ruang tengah, saat bertemu dengan Marvin, kedua anak itu langsung adu tos, sementara Cia terus ke ruang belakang untuk membuat minum.


"Apel terus. Enak lo ya, punya doi deketan rumahnya," goda Tony lirih. Dia masih canggung karena sebelumnya belum pernah main ke rumah Cia.


"Iya lah, nggak berat di ongkos. Kalau kangen tinggal melangkah," balas Marvin. "Dari mana lo? Rumah apa basecamp?"


"Gue dari rumah. Tadinya pengen ke basecamp, tapi tiba-tiba gak mood."


"Lo udah jarang mabar ya?"


"Gue vacum dulu, mau fokus sama ujian."


Marvin mencibir. "Tumben lo serius sama sekolah?" ledeknya. "Tapi bagus sih, ada kemajuan."


"Dih asem lo."


Cia muncul dari belakang sambil membawa segelas coklat panas untuk Tony.

__ADS_1


"Naaaah, ini buat kamu Ton. Diminum gih, mumpung masih panas," Cia menghidangkan coklat itu di atas meja.


"Aduh, repot-repot Cia. Makasih ya."


"Enggak kok, cuma minuman doang," Cia kembali menghempaskan bokongnya di sebelah Marvin.


Setelah ngobrol-ngobrol membahas soal game dan yang lainnya dengan Marvin, akhirnya Tony mengutarakan maksud kedatangannya malam ini ke Cia.


Pertama, hari ini dia cukup kaget setelah mendengar kabar kalau Selenia dinonaktifkan dari sekolah dan harus mengikuti pembelajaran dengan cara home schooling.


"Serius yang?" Marvin menoleh ke Cia, menyela omongan Tony.


Cia terpaksa mengangguk. Padahal dia memang sengaja tidak ingin cerita soal ini ke pacarnya itu. Bagaimanapun kejadian ini adalah hal yang tentunya membuat hati Selenia sedih, jadi dia tidak mau mengumbarnya ke siapapun, termasuk ke pacarnya.


"Aduh... sayang banget ya," desis Marvin lirih. "Kasihan Selenia. Tapi itu gimana ceritanya sih kok temen sekelas kamu bisa tahu dia hamil?"


"Dia emang sengaja cari tahu. Tu anak emang julidnya minta ampun! Dia nanya-nanya ke Dokter yang biasa memeriksa Selenia setiap kali check up, dan merekam percakapannya sama Dokter itu. Ahhh tau lah yang.... gedeg aku kalau ingat ngomongin dia!" gerutu Cia. "Sekarang aku jadi ngerasa sendirian di sekolah, ck.... biasanya kemana-mana selalu sama Selenia."


"Ya udah... ya udah... ya udah... nggak usah dilanjutin ceritanya," Marvin buru-buru merajuk saat melihat mulut Cia yang mengerucut sebal.


"Aku nggak nyangka Lala bakal senekat itu," sambung Tony. "Mana gosip yang beredar jelek banget di sekolah," dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Makin lama makin jijik aku lihat tampangnya di kelas," Cia bergidig. "Udah ah nggak usah bahas tu anak!"


Tony berharap, ada keajaiban yang bisa membersihkan nama baik Selenia di sekolah. Dia nggak pantas mendapat image seburuk itu di sekolah.


Selain itu, Tony juga mengatakan rencananya yang akan melanjutkan kuliah di Luar Negeri setelah lulus. Dia meminta tolong pada Cia supaya menyampaikan rencana itu pada Selenia--istilahnya, dia mau pamit.


"Kenapa kamu nggak dateng ke rumahnya aja Ton?" usul Cia.


Tony lantas menggeleng. "Nggak mungkin lah Cia, dia itu kan udah punya suami. Apa yang bakal dipikir suaminya kalau ngeliat istrinya dipamitin cowok lain yang mau pergi?"


Sebenarnya menurut Cia itu nggak masalah. Karena dia berpikir, wajar kan namanya juga teman. Tapi dari sini, Cia menangkap maksud lain kenapa Tony memilih untuk tidak pamit langsung ke Selenia dan mendatangi rumahnya. Dari dulu Cia memang sudah feeling kalau Tony memendam perasaan terhadap Selenia.


"Iya juga sih," sahut Cia. "Tapi aku yakin sebenarnya Selenia ataupun Adam pasti nggak masalah kalau kamu..."


Marvin yang sepertinya juga sepemikiran dengan Cia, menyunggingkan senyum dan menepuk-nepuk bahu Tony. Dia ingat apa saja yang pernah Tony lakukan untuk membantu Selenia. Semua itu cukup jelas di mata Marvin kalau Tony melakukan itu bukan hanya sekedar menolong. Tapi karena memang dia ada rasa terhadap Selenia.


"Memangnya lo punya pandangan mau kuliah di mana Ton?" tanya Marvin mengalihkan pembicaraan.


"Antara Jerman dan New York. Gue masih bingung."


Membahas soal kuliah, membuat Cia menunduk lesu.


"Hmmmhhh... jangan pada bahas kuliah dong."


Marvin dan Tony sama-sama menoleh ke Cia.


"Kenapa?" tanya mereka hampir bersamaan.


"Ck!" Cia berdecak sebal. "Kalian tau nggak sih, kebersamaan aku sama Selenia di sekolah tuh bener-bener udah berakhir semenjak hari dimana Lala ngebongkar itu," tangannya mengepal. Dia masih emosi kalau membahas Lala. "Terus, setelah lulus nanti, Selenia bilang dia nggak mau langsung lanjut kuliah..."


"Hah???" mata Tony membulat. "Kenapa?"


"Karena dia mau fokus sama kehamilannya dulu, sampai anaknya lahir. Dan baru mau daftar kuliah tahun depan. Dan itu otomatis dia bakal jadi adek tingkat aku kan? Jadi kita nggak mungkin sama-sama lagi."


Tony mendengus lirih. Dia baru tahu soal rencana itu. Ada sejumput perasaan kecewa di hatinya.


...🌺🌺🌺...


"Mama pulang dulu ya sayang, udah malam nih. Nanti Papa nyariin," Bu Lisa bangkit dari sofa sambil merapikan pakaian.


"Memangnya tadi Mama nggak minta izin sama Papa?" tanya Adam.


"Ya minta izin dong Dam. Kalian istirahat ya," Bu Lisa mencium kening Selenia sebelum akhirnya berjalan meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Adam dan Selenia mengantar Bu Lisa sampai di depan pintu.


"Hati-hati ya ma. Jangan ngebut," pesan Selenia sebelum Bu Lisa masuk mobil.


Setelah mobil Bu Lisa melaju meninggalkan rumah mereka, Selenia masih mematung di teras sambil memegangi perutnya. Sementara Adam yang sudah berjalan memasuki rumah, kembali menoleh saat menyadari istrinya belum beranjak dari tempatnya.


"Sayang, ayo masuk," Adam merangkul pinggang Selenia dari belakang. "Di luar dingin lho."


Selenia menghela nafas panjang. Malam ini, setelah berdiskusi banyak dan merancang rencana yang akan dia lakukan setelah dia lulus nanti dengan Bu Lisa, hatinya menjadi jauuuuuuh lebih tenang dan pikirannya semakin terbuka. Tidak ada lagi penyesalan di hatinya hanya karena telah dinonaktifkan dari sekolah. Dia justru bersyukur karena masih diberikan kesempatan dan dia berjanji akan berjuang semaksimal mungkin demi masa depannya.


Selenia memutar tubuh menghadap Adam. "Makasih ya sayang..." ucapnya dengan bibir bergetar dan wajah terangkat ke atas. Matanya berkaca-kaca.


"Kamu bisa bikin semuanya terasa baik-baik saja. Aku beruntuuuung banget punya suami seperti kamu. Yang sabar, peduli, ngerti, dan bisa melengkapi semua kekurangan aku."


"Sayang....." Adam menangkup kedua pipi Selenia dan menatap wajahnya penuh kasih. "Kalau kita memang sudah ditakdirkan berjodoh, peran kita memang untuk saling melengkapi. Bukan cuma kamu, tapi aku juga beruntung. Aku juga masih banyak kekurangan sayang, kita sama-sama belajar ya," dia mengecup kening Selenia lembut.


"I love you." bisik Selenia.


Kening Adam mengerut dan bibirnya menarik sedikit senyum. "Apa sayang? Aku nggak denger," godanya.


Selenia menegakkan leher dan memberengut melihat ekspresi wajah Adam yang terlihat ingin menggodanya. Iiih... ngerusak suasana romantis aja deh.


"Kok malah cemberut? Kamu tadi ngomong apa, ulangi dong... aku nggak denger soalnya," tangan Adam menyeka air mata di pipi Selenia.


"Iihhh... bohong ah..."


Adam mengatupkan bibir menahan senyum. Dia sebenarnya sudah mendengar apa yang diucapkan Selenia, hanya saja saat ini momennya lain. Istrinya itu biasanya mengungkapkan kalimat itu duluan disaat mereka sedang bercumbu dan dia akan mengucapkannya berkali-kali yang tentunya diiringi nafsu yang membara. Tapi saat ini, itu terasa lain dan dalam karena tanpa nafsu dan lebih ke hati dan logika. Feelnya lebih dapat.


"Iya aku denger kok. I love you too," Adam mendekap Selenia erat. "Tapi kenapa ngucapnya cuma sekali doang ya?" dia masih terus menggoda.


"Maksudnya?" Selenia menarik tubuhnya dari tubuh Adam.


Adam tersenyum jahil sambil mengedipkan sebelah matanya. Selenia yang langsung paham, memukuli dada Adam gemas.


"Iiih... kamu ngerusak suasana deeeh...." ucapnya manja. "Apaan sih? Iiiiih maluuuuu...." Selenia menutupi wajahnya. Kok kesannya kaya aku yang agresif kalau lagi main, padahal dia juga...!


Adam terbahak. "Hei kenapa harus malu.... sayang...???" dia membuka tangan Selenia yang menutupi wajahnya. "Kita kan suami istri, wajar lah kalau..."


"Iihhhh udah jangan dilanjutin ngomongnya," sebelah tangan Selenia terulur menutupi mulut Adam. "Kalau ada orang lain denger... tetangga denger...." Selenia celingukan.


"Ya udah, kalau begitu ayo masuk, lanjutin di dalam aja kalau takut didenger tetangga," Adam menggenggam lengan Selenia.


"Tunggu," Selenia menahan langkah. "Apanya yang dilanjutin?"


"Ngobrolnya sayang, memangnya apaan?" alis Adam terpaut.


Selenia kembali merasakan wajahnya memerah karena malu. Duh kenapa gue jadi gini siiih...?


"Tuh kan..." Adam menunjuk wajah Selenia. "Kayaknya sekarang kamu mulai pinter deh mikirnya."


"Ihhh enggaaaaak..." Selenia ngeles. Maluuu.


"Nggak salah kan?"


"Ih Adam kamu kenapa sih kok gitu sama aku? Ah sebel ah!" Selenia nyelonong masuk rumah karena tak tahan terus digoda.


"Tuh kan, panggilan sayangnya juga hilang," Adam menyusul di belakangnya.


"Adaaaaam...." Selenia geregetan. Dia berbalik dan mencubit pinggang Adam.


Tidak tahan melihat sikap Selenia yang begitu menggemaskan, dia kembali memeluk Selenia seerat mungkin.


"I love you sooooooo much my wife!!"


Malam itu, sebelum masuk ke kamar mereka saling berpagut mesra di ruang tamu.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2