NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -78-


__ADS_3

Adam, Irham dan Renata sedang berada di lokasi pembangunan rukan, berkeliling dan mengecek bangunan yang baru saja mulai dikerjakan hari ini. Peletakan batu pertama sukses dengan dihadiri seorang tokoh penting di kota tersebut.


Tring! Ponsel Adam di dalam saku celananya bergetar. Adam menghentikan langkah, membiarkan Renata dan Irham yang telah jalan duluan ditemani mandor yang bertanggung jawab atas pembangunan rukan.


Nomor misterius itu lagi! Adam terkesiap melihat dua file foto yang di kirim oleh nomor itu ke ponselnya. Foto pertama memperlihatkan gambar rumahnya yang tampak sepi. Lalu di foto kedua, menampilkan gambar jendela kamar Selenia yang tertutup rapat dengan lampu menyala remang-remang. Selenia memang terbiasa tidur dengan cahaya lampu seperti itu.


+6281234666xxx: [Ternyata kamu cukup siaga untuk menghadapi semuanya. Tidak salah kalau mantan istriku begitu tergila-gila padamu.]


Devan. Nama itu langsung terlintas di pikiran Adam saat dia membaca kata 'mantan istri' pada pesan tersebut. Tidak salah lagi. Siapa lagi kalau bukan Renata yang dia maksud mantan istri itu? Ya, Adam sangat yakin itu Devan. Apalagi belum lama ini dia sempat terlibat baku hantam dengan Devan karena berusaha menolong Renata dari ancamannya.


Berani-beraninya dia melampiaskan semuanya pada Selenia. Berani-beraninya dia mencelakai Selenia. Geraham Adam menggeretak menahan emosi. Ingin rasanya dia mendatangi orang itu dan menghabisinya sekarang juga.


Bukan aku yang memulai urusan denganmu, Devan. Tapi kamu! Batinnya geram.


"Pak." suara Renata mengejutkan Adam yang langsung menelusupkan ponselnya ke dalam saku celana. "Ditunggu yang lain di depan."


"Oh, iya Ren. Sebentar lagi saya menyusul."


Renata berlalu dan Adam mengikuti tak lama kemudian.


Sepanjang obrolan dengan beberapa client dan pesohor yang mensponsori pembangunan ini, Adam sama sekali tidak bisa fokus. Pikirannya terus berkelana pada Devan, sosok misterius yang telah mengusik ketenangannya. Adam menerka, Devan pasti dendam padanya karena menganggap dirinya sudah membuat dia kehilangan kesempatan untuk mengambil hak asuh Nola dari Renata. Tapi bukankah seharusnya dia sadar kalau itu semua terjadi karena memang dia tidak layak untuk mendapatkan hak asuh tersebut. Kenapa justru dendam dan melibatkan Selenia?


Ini tidak bisa dibiarkan.


...🌺🌺🌺...


Bik Iyah kaget mendengar cerita Pak Tono tentang orang asing yang mengintai rumah mereka semalam. Mereka sedang ngobrol di ruang belakang seperti biasa, sembari Bi Iyah melakukan aktivitas.


"Ssst... jangan keras-keras Mak. Nanti kalau Mbak Selenia denger, kasihan dia bisa cemas," ujar Pak Tono. "Yang penting selama Pak Adam tidak di rumah, kita harus siaga. Kayaknya permintaan Mbak Selenia buat kita nutup pintu sama jendela kemarin ada hubungannya sama ini. Pokoknya jangan sampai lengah."


"Tapi orang itu siapa Ton? Terus ngapain ngincer rumah ini? Kok aku jadi takut to ya," Bi Iyah bergidik dan mengusap-usap lengannya sendiri.


"Lha mana saya tahu Mak," Pak Tono geleng-geleng kepala. "Dulu tak kira persaingan bisnis yang membuat orang-orang kalap tu cuma ada di tivi-tivi. Tapi kok ternyata sekarang aku ngeliat sendiri ya," dia menyesap kopinya.


Bi Iyah menoleh dan membelalak. "Maksud kamu itu orang jahat? Pesaing bisnisnya Pak Adam gitu? Kamu ini ngomong apa sih Ton? Jangan sembarangan lah!"


"Ini sih cuma perkiraanku Mak. Tapi semoga aja nggak ada apa-apa deh. Semoga aja tu orang cuma kagum aja sama rumah ini." ujar Pak Tono.


Bi Iyah bergidik dan celingukan. Masa iya sih ada orang sejahat itu sama keluarga ini. Pak Adam kan orang baik. Pikirnya. Selama tinggal di sini, Bi Iyah sama sekali belum pernah melihat Pak Adam terlibat urusan sama orang yang sampai ribet dan ribut begitu.


Sementara itu di kamarnya, Selenia tiba-tiba merasa cemas dengan peringatan Adam kemarin. Padahal sebelumnya dia sudah merasa sedikit tenang karena semalam dia benar-benar tidur nyenyak dan tidak mendapat gangguan apapun. Tapi sekarang rasa takut itu muncul lagi saat dia ingat kejadian paket misterius tempo hari di sekolah. Bayang-bayang burung mati yang lehernya digorok membuatnya bergidik dan seketika merasa mual. Apalagi setelah Adam memberitahu bahwa kecelakaan yang dia alami adalah sesuatu yang sengaja di lakukan oleh seseorang. Siapa? Apakah sosok berpakaian hitam yang pernah menubruknya di depan sekolah waktu itu pelakunya?


Siapa dia sebenarnya? Dan kenapa melakukan ini padaku?


Selenia menimang-nimang ponselnya. Dia ingin menelfon Adam dan ngobrol dengannya untuk mengusir rasa takut yang tiba-tiba dia rasakan. Tapi ketika melihat jam dinding dan tahu ini adalah jam sibuk, dia pun memilih untuk mengurungkan niatnya.


Tenang Sel, kamu nggak perlu mikir yang aneh-aneh. Inget, sekarang ada sesuatu di dalam tubuh kamu yang harus kamu pikirkan perkembangannya. Tuhan bersama keluargamu. Tenang.... tenang... tenang.... batin Selenia menenangkan diri.


Selenia menunduk menatap perutnya dan mengelusnya pelan. Lagi-lagi dia tidak bisa menahan senyum bahagia setiap kali tangannya bersentuhan dengan perutnya sendiri.


...🌺🌺🌺...


Nomor misterius itu kembali menghubungi Adam saat dia sedang makan siang bersama orang-orang yang hari ini menghadiri pembukaan pembangunan rukan. Setelah memohon izin sebentar, dia pun segera beranjak dan keluar ruangan. Renata yang melihat gelagat kegelisahan itu bertanya-tanya dalam hati, apa yang sedang terjadi dengan atasannya? Sejak pagi tadi dia melihat Adam terus gelisah dan nampak tidak tenang. Apakah terjadi sesuatu dengan Selenia? Pasalnya kecemasan Adam tampak tidak biasa.


Begitu juga dengan Irham yang duduk di sebelah Renata. Saat melihat Adam yang buru-buru meninggalkan ruangan, dia menyodok lengan Renata dan mengangkat dagu bermaksud bertanya 'apa', tapi Renata hanya mengangkat bahu.


"Halo," sahut Adam datar setelah berada di luar ruangan. Sebenarnya dia sudah muak menanggapi orang ini. Tapi mengingat tindakannya yang sudah mencelakakan Selenia, dia tidak bisa tinggal diam.


Terdengar suara orang terkekeh di ujung telfon.


"Gue tahu lo siapa. Jadi apa sebenarnya yang lo mau hah?" sambung Adam menahan emosi.


"Gue nggak pernah ngajak lo bermain teka-teki. Tapi kalau lo emang udah tahu siapa gue, itu bagus. Berarti lo memang punya urusan sama gue."


"Gue nggak pernah punya urusan sama lo."


"Lo jangan bertingkah Dam! Lo udah ngehancurin semua impian gue. Lo sudah dengan sengaja masuk dan ikut campur urusan gue...."


"Impian seperti apa? Impian untuk mengambil Nola? Sekarang lebih baik lo tanya sama diri lo sendiri, apa pantas orang psikopat kaya lo menjaga Nola?"


"Tutup mulut lo Dam!"

__ADS_1


"Apa mau lo Devan?! Dan kenapa lo ganggu Selenia? Kalau lo memang punya masalah sama gue, hadapi gue! Jangan bawa-bawa dia! Dia nggak tahu apa-apa!"


"Lo juga nggak tahu apa-apa soal gue sama Renata...."


"Renata cerita semuanya sama gue. Dan gue tahu semua tentang lo. Lo aja yang brengsek dan tidak tahu diri Devan."


"WOW!! hebat... hebat.... udah kaya bang jago lo ya. Udah ngerasa hebat?? Oke, asal lo tahu, sebenarnya gue nggak mau bawa-bawa Selenia dalam masalah kita. Tapi karena gue tahu dia adalah kelemahan lo, jadi gue terpaksa...."


"Lo emang bangsat Devan! Lo udah bikin dia celaka! Lo sadar nggak apa yang sudah lo perbuat!!" Adam berteriak pada ponselnya. Dia tidak lagi mempedulikan orang-orang yang lewat di depannya dan sempat memandang ke arahnya dengan tatapan heran.


"Itu belum seberapa Adam. Tapi gue belum puas aja kalau belum berhadapan langsung sama lo. Jadi gue bakal tunggu lo."


Nafas Adam memburu. Dengan suara berat karena menahan diri supaya tidak lagi berteriak, dia mulai berbicara. "Gue bakal datang. Denger baik-baik, gue bakal datengin lo sore ini. Tapi gue peringatin sama lo, sampai lo berani sentuh Selenia lo bakal tahu akibatnya!"


"Hahaha...!! Okeee... okeee gue bakalan berhenti libatin Selenia dalam masalah kita. Tapi gue juga punya peringatan buat lo."


"Apa?"


"Sampai lo libatin orang lain atau polisi, lo bakalan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup lo. Lo tahu kan siapa? Selenia."


Dan setelah mengatakan itu, Devan langsung memutuskan telfonnya. Adam merasa semakin geram dan ingin secepatnya menemui Devan. Dia sudah tidak peduli lagi dengan pekerjaannya. Dizinkan atau tidak oleh Pak Anton, dia akan tetap pulang sore ini juga.


"Pak," Renata sudah berdiri tidak jauh dari posisi Adam saat Adam hendak berbalik untuk kembali bergabung dengan yang lain ke meja makan.


Namun ternyata tempat itu sudah kosong. Hanya ada dua orang pelayan yang mengemasi sisa makan siang mereka. Adam menatap Renata lurus dan sinis. Dalam otaknya terlintas sebuah pikiran bahwa 'gara-gara aku membantu kamu, keselamatan Selenia jadi terancam'. Tapi sesegera mungkin dia menghapus pikiran itu. Ini semua bukan keinginan Renata. Kendalikan dirimu Adam. Sebuah suara dalam hatinya memperingatkan.


"Sore ini saya memutuskan untuk pulang Ren. Ada sesuatu yang tidak bisa saya lewatkan. Tolong urus semuanya sampai selesai dengan Irham ya. Saya yakin kalian bisa menghandle semuanya," ucap Adam.


Renata melongo. "Lho, Pak. Kenapa begitu? Ada masalah apa?"


Adam menghela nafas panjang. Dia tidak bisa mengatakan alasannya pada Renata, jadi dia hanya berlalu begitu saja.


Renata memutar tubuh dan menatap langkah Adam yang kian menjauh dan terburu-buru. Apa yang sedang terjadi?


...🌺🌺🌺...


"TERNYATA ELO BIANG KELADI DARI SEMUA INI?!!" Tony menyerang seorang laki-laki yang baru saja selesai menelfon karena dia telah mendengar apa yang orang itu katakan.


"Siiaphaaa lo.. auu... berhenti .. tolong... auuhh...!!" dia Devan. Devan berusaha melindungi diri dari amukan Tony yang tiba-tiba datang menyerangnya. "Guue... auuu... g-gak punya... auuhhh urushaan sama... l-loo... auu!!"


Tony tidak mempedulikan rintihan Devan dan terus menonjok, menghantam, dan menendangnya dengan beringas.


"LO YANG KIRIM PAKET ITU! LO YANG TERROR DIA! APA MAU LO BRENGSEK?!! RASAIN INI SEKARANG!! BANGSAT LO!!"


Bug! bug! bug!


Hantaman demi hantaman terus menghujam tubuh Devan tanpa ampun.


Baku hantam itu terjadi cukup lama hingga membuat beberapa orang yang lewat di taman berbondong-bondong menghampiri mereka untuk melerai. Saat itu kondisi Devan sudah babak belur dengan banyak luka di bagian wajah. Dia sudah tele-tele tidak berdaya.


"Mabok ini bocah berdua!" celetuk salah satu dari orang-orang itu.


"Jangan-jangan malah narkoba!" sambung yang lain.


"Bawa ke kantor polisi aja. Meresahkan ni kaya gini."


"Bener! Bawa ke kantor polisi aja!"


Tony yang masih berusaha menerjang Devan, terus ditahan oleh beberapa orang yang mencekalnya. Sementara Devan terus merintih menahan sakit di sekujur tubuhnya. Mereka berdua di arak menuju kantor polisi terdekat.


...🌺🌺🌺...


"Apa?!! Kantor polisi??!" Pak Anton syok bukan main mendengar kabar yang menyatakan bahwa Tony telah ditangkap karena memukul seseorang. Saat itu dia sedang mengecek beberapa laporan di ruangannya. "Baik, saya akan segera kesana."


Dengan tergesa-gesa, Pak Anton menumpuk laporan di atas mejanya dengan asal dan segera keluar. Sepanjang perjalanan menuju kantor polisi, dia tidak habis pikir dengan apa yang telah anak semata wayangnya itu lakukan. Dia memukul siapa? Ada masalah apa?


"Agak cepat sedikit Pak!" ucap Pak Anton pada sopirnya.


"Nggak bisa Pak. Di depan macet banget," jawab si sopir.


Pak Anton mendengus lirih saat memperhatikan sekeliling mobilnya yang seperti di kepung mobil lain. Dia semakin gusar manakala mobil sama sekali tidak bergerak selama hampir sepuluh menit.

__ADS_1


Ini ada apa sih sebenarnya?! gerutunya dalam hati.


...🌺🌺🌺...


Saat Pak Anton tiba di kantor polisi, Tony sudah berada di dalam sel. Malu sekali rasanya Pak Anton dengan kejadian ini. Seorang Polisi menjelaskan kronologi kejadian yang mengakibatkan Tony dan lawannya di tangkap. Menurut pengakuan Tony, dia memukul orang itu karena telah melakukan terror kepada temannya. Tapi karena laporan baru berasal dari satu pihak, maka terpaksa kasus belum bisa diproses kelanjutannya.


"Siapa lawan duel anak saya Pak? Apa dia juga di tahan?"


"Dia sedang berada di klinik kami karena kondisinya cukup parah dan sempat pingsan. Maka dari itu, untuk menunggu kelanjutan kasus ini, anak bapak harus kami tahan sampai seseorang yang berurusan dengan anak bapak itu bisa dimintai keterangan," Polisi itu menerangkan. "Kita tidak bisa menerima laporan dari satu pihak saja pak, jadi kita tunggu saja sampai keadaan orang itu membaik ya."


Pak Anton meremas jari jemarinya. Darahnya seolah sudah mendidih menahan amarah yang hampir meledak. Anak semata wayangnya akan menjadi napi? Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Lututnya serasa lemas mendengar pernyataan Polisi tersebut. Dia mencoba meminta kompensasi agar anaknya menjadi tahanan rumah sampai kondisi lawan duelnya membaik, namun di tolak.


"Kalau begitu apa boleh saya berbicara dengan anak saya Pak?"


Polisi itu mengangguk dan kemudian mengantarkan Pak Anton menuju sel tempat Tony di tahan.


Tony duduk menekuk lutut di sudut ruangan sel tahanan dengan kepala menunduk. Dia masih mengenakan seragam sekolah lengkap. Hal yang cukup membuat Pak Anton sedikit merasa lega karena dia tidak dipakaikan baju tahanan.


"Tony," panggil Pak Anton begitu polisi yang mengantarkannya kembali ke ruangan.


Tony mendongakkan kepala dan menatap Pak Anton dengan wajah tanpa dosa. Dia menyunggingkan sedikit senyum dan kemudian berdiri, berjalan mendekati jeruji besi yang memisahkan dia dan Papanya.


"Apa yang sudah kamu lakukan nak? Kenapa kamu tega melakukan ini? Kenapa kamu mencoreng nama Papa?" suara Pak Anton terdengar sendu. Kemarahannya yang sempat hampir meledak, seketika hilang manakala melihat wajah anaknya yang seperti menyimpan luka. Dia ingat bagiamana sore itu saat Tony melihat Mamanya yang tiba-tiba ada di rumah mereka. Kentara sekali luka yang dia pendam.


"Aku sudah dewasa Pa. Jadi biarkan aku mengatasi semua masalahku sendiri."


"Tapi kenapa sampai sejauh ini Ton? Apa kata orang kalau mereka dengar dan tahu kalau kamu masuk penjara gara-gara mukulin orang?"


"Kenapa Papa begitu peduli dengan omongan orang? Memangnya mereka tahu apa? Mereka cuma bisa bergosip tanpa melihat fakta yang ada."


Pak Anton terdiam. Dia menarik nafas berat dan menatap Tony sayu. "Kamu berurusan dengan siapa? Kenapa kamu mukul orang? Bagaimana kalau keluarga orang itu tidak terima dan kamu dihukum berat?" tak terasa air mata Pak Anton menetes. Perasaannya begitu takut kalau sampai penahanan Tony ditangguhkan dan diperpanjang sesuai pasal.


"Berarti memang sudah jalanku seperti ini," jawab Tony enteng. Dia terpaksa membuang muka, karena hatinya tidak tega melihat Papanya menangis. Bagaimanapun, dia juga memiliki rasa iba.


"Ton..."


"Lebih baik Papa pulang sekarang. Dan do'akan yang terbaik buat aku," Tony berbalik dan kembali ke sudut sel.


Pak Anton tidak sanggup berkata-kata lagi karena dadanya begitu sakit dan sesak menahan gejolak perasaan yang tiba-tiba menyerang.


"Mohon bapak hubungi saya lagi kalau orang yang bermasalah dengan anak saya sudah bisa di ajak berbicara," pesan Pak Anton pada seorang Polisi sebelum meninggalkan tempat itu. Polisi itu mengangguk.


Setelah itu, dia segera meninggalkan kantor polisi dan menangis di dalam mobil.


...🌺🌺🌺...


Adam sudah dalam perjalanan pulang. Dia sengaja tidak memberitahu Pak Anton karena tidak mau tujuannya kali ini ada yang menghalangi. Baginya keselamatan Selenia lebih penting. Dia tidak peduli kalau gara-gara ini Pak Anton akan memecatnya.


Tring! Ponselnya berbunyi.


Selenia: [Sibuk ya? Kangeeeeen 🥺]


Mata Adam berkaca-kaca membaca pesan itu. Dia merasa begitu bersalah dengan semua yang telah terjadi pada Selenia. Istrinya itu tidak tahu apa-apa tapi justru jadi sasaran Devan.


Maafkan aku sayang, aku janji akan menebus semua ini.


Adam: [Baru kelar sayang. Tapi masih ada acara lagi nanti. Aku juga kangen kamu.]


Air mata Adam menitik saat membalas pesan itu. Dia terpaksa berbohong karena tidak mau Selenia tahu kalau hari ini dia pulang. Rencananya dia tidak akan langsung pulang ke rumah dan akan memesan hotel. Dia ingin menyelesaikan urusannya dengan Devan. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya laki-laki itu mau.


Selenia: [Ya udah okey. Hati2 yach... jangan telat makan, istirahat yang cukup, dan jaga kesehatan.]


Adam: [Pasti sayang. Kamu juga ya. Love you ♥️]


Selenia: [Love you more ♥️]


Adam tidak bisa lagi membendung air matanya. Dia memandangi foto Selenia di layar ponsel dan menciumnya sambil terisak. Perasaan takut, bersalah, marah berkumpul jadi satu di dalam hatinya.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2