NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -95-


__ADS_3

Pagi itu di kelas.


"Gue bilang juga apa? Makanya lo buruan ngomong dong Sel ke Adam!" sungut Cia merespon cerita Selenia soal Adam yang mulai mempertanyakan sikap anehnya.


"Niiih...." Selenia menyodorkan aplikasi kalender di ponselnya ke Cia. "Tinggal bentar lagi. Lo pikir gue sabar? Gue sebenernya juga nggak sabar tau pengen segera kasih tahu ini ke Adam."


Cia menatap angka-angka di kalender tersebut lalu bergantian menatap Selenia.


"Terus rencana lo apa?" tanya Cia.


Selenia mengerling sebelum akhirnya menceritakan pada Cia konsep yang akan dia gunakan untuk memberikan kejutan di hari ulang tahun Adam. Dia juga ingin sahabatnya itu membantu mempersiapkan semuanya.


Jadi di malam ulang tahun nanti, dia ingin mengajak Adam makan malam romantis di satu tempat yang tempatnya bahkan sudah dia pilih dari sekarang.


"Lo yakin tempat itu nggak bakal keduluan dipesen orang lain?" tanya Cia di sela-sela Selenia menjelaskan konsep.


"Makanya itu nanti sepulang sekolah temenin gue ke sana. Gue mau yang VIP, jadi di ruangan itu nanti cuma khusus buat kita berdua aja," Selenia menaik turunkan alisnya. "Gimana? Bakalan romantis nggak?"


Cia mengacungkan jempol. "Keren, terus?"


Selenia menjelaskan lagi, dia akan membeli tespack. Jadi di pagi hari sebelum malamnya dinner date bareng Adam, dia akan mengetes urinenya menggunakan tespack tersebut supaya bisa menunjukkan garis dua, untuk mendukung surat dari dokter plus hasil USG di klinik tempo hari. Dia akan membungkus tiga benda berharga itu pada sebuah kotak, dan akan memberikannya ke Adam sebagai hadiah ulang tahun.


Cia bernafas lega mendengar rencana yang menurutnya sudah dipikir matang-matang oleh Selenia tersebut. Dan dia berjanji akan membantu Selenia untuk mempersiapkan semuanya.


"Oke, nanti pulang sekolah gue temenin lo. Emang lo udah ada pandangan mau di mana tempatnya?"


"Gue sih ada tiga tempat yang recomended banget. Cuman nanti deh lebih pastinya setelah kita lihat-lihat. Soalnya gue baru ngecek-ngecek di Google sama Instagram aja."


Cia manggut-manggut. Dia juga tampak begitu excited untuk membantu mempersiapkan rencana Selenia, sekaligus pengen tahu juga bagaimana reaksi Adam pas tahu kalau Selenia hamil.


Lala masuk kelas diikuti dua siswi lain, bersamaan dengan Tony yang tampak melintas di depan kelas mereka.


"Eh, itu Tony kan?" Cia berdiri. "TONY...!!" panggil Cia dari dalam kelas yang langsung mendapat tabokan dari Selenia.


Tony yang sudah berada sekitar 5 meter dari kelas Selenia saat mendengar seseorang memanggil namanya, celingukan. Dia hafal itu suara Cia. Jadi dia berjalan mundur sampai di depan pintu kelas Selenia.


"Hei, kamu udah masuk sekolah?" tanya Cia yang sudah berdiri di ambang pintu dengan Selenia.


Hal itu membuat Lala berkasak-kusuk membicarakan Selenia dengan dua temannya. Mereka bingung dengan hubungan Selenia dan Tony yang sempat santer beberapa bulan lalu, tapi tiba-tiba senyap begitu saja. Ditambah lagi kedatangan seorang pria yang sudah berumur yang datang ke kantin sekolah mereka dan langsung menghampiri Selenia waktu itu--yang pernah Lala sebut sugar daddynya Selenia.


"Ah udah lah Lala... ngapain juga ngurusin urusan orang lain? Males banget," sahut salah satu teman Lala yang mendengar kehebohan Lala membicarakan Selenia meski hanya dengan berbisik-bisik. Dan itu membuat Lala memutar bola matanya sebal karena niat bergosipnya tidak digubris.


"Iya..." jawab Tony pada Cia. "Alhamdulillah semalem Mama udah siuman, dan.... hari ini Papa minta aku buat pergi ke sekolah."


"Oh.. syukurlah..." ucap Cia dan Selenia bersamaan.


"Kamu harus selalu support beliau ya," Selenia membelai bahu Tony lembut. "Aku ngerti ini nggak mudah buat kamu. Tapi aku percaya kamu pasti bisa melewati semuanya."


Tony mengangguk. "Makasih ya..." jantungnya sedikin dag dig dug mendapat belaian lembut dari Selenia. Ya ampun, kenapa perasaan ini susah banget hilangnya? jeritnya dalam hati.


"Pokoknya kamu harus tetep semangat!" dukung Cia.


"By the way, udah di jadwal kapan kemotrapinya?" tanya Selenia.


"Nunggu kondisi mama benar-benar stabil dulu."

__ADS_1


"Hei Ton!!" seseorang memanggil dari kelas Tony.


Tony menoleh ke sumber suara dan melambai. "Aku ke kelas dulu ya... bye..." dia berlalu meninggalkan kelas Selenia.


...🌺🌺🌺...


Siangnya, sepulang sekolah dengan ditemani Cia, Selenia mengunjungi tiga tempat yang nantinya akan dia pilih salah satunya untuk acara kejutan di hari ulang tahun Adam.


Pertama, Selenia mendatangi Yeong Dong Café. Sebuah cafe unik dengan aksen Korea. Tapi sayang di sana tidak menyediakan fasilitas khusus VIP, karena tempat itu telah di desain dengan model tongkrongan rame-rame. Padahal menurut Selenia tempatnya sangat bagus. Apalagi ada aksesoris-aksesoris khas Korea yang menambah kesan romantis.


"Hmmh... payah!" gerutu Selenia begitu keluar dari Yeong Dong.


"Ya gimana lagi dong? Eemang nggak menyediakan VIP," Cia mengangkat bahu. "Kemana lagi kita sekarang?"


"Beverly!" jawab Selenia cepat.


Selenia sudah beberapa kali searching di Google tentang tempat itu. Semoga saja masih ada fasilitas VIP yang bisa dibooking. Karena menurut informasi yang dia baca, fasilitas VIP di sana selalu sold di waktu-waktu tertentu.


Letak Beverly Café lumayan jauh dari Yeong Dong, tapi cukup dekat dari tempat tinggal Selenia. Tapi sayang, lagi-lagi Selenia harus menelan kekecewaan karena ternyata tempat VIP di Beverly sudah full booked.


"Duuuuuh.... padahal di Beverly tempatnya udah keren dan romantis banget!" gerutu Selenia di dalam mobil.


"Ya elo sih, udah dibilang jangan ngulur-ngulur waktu. Coba aja lo booking dari dua atau tiga hari yang lalu, kan beres," Cia menyahut.


"Memangnya Mbak Selenia mau ada acara apa to, kok pesen tempat di kafe segala?" tanya Pak Tono kepo sambil mengemudi.


Sebelum Cia keceplosan, Selenia langsung meremas pahanya perlahan. Cia nyengir kuda sekaligus melotot pada Selenia.


"Ulang tahunnya Pak Adam bentar lagi Pak. Jadi saya mau bikin kejutan," jawab Selenia.


"Oooh, begitu?" Pak Tono manggut-manggut.


"Tapi Pak Tono jangan bocorin ini ke Pak Adam lho ya... nanti bisa gagal surprisenya."


"Kalau soal itu ma beres Mbak Sel..."


Selenia mengacungkan jempolnya. Dia kemudian mengalihkan tatapannya ke Cia yang masih meringis kesakitan akibat cengkeramannya.


"Sorry.. takutnya lo keceplosan..." bisik Selenia dengan senyum jahil.


Cia tidak menjawab dan hanya melengos dengan wajah sebal.


Tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah Carlos De Santos Cafe. Tempatnya lumayan mewah dan elegant. Dan finally dewi fortuna berpihak pada Selenia. Dia berhasil mendapatkan tempat VIP di sana. Mereka disambut ramah oleh pelayan yang menjelaskan beberapa layanan VIP yang bisa didapat jika Selenia membooking dari jauh-jauh hari, karena dipastikan persiapannya bakalan lebih matang.


"Tolong bikin dekorasinya biar berkesan romantis ya mas," pinta Selenia pada seorang pelayan yang sedari awal dia datang kesini, sudah begitu sabar memberikan penjelasan. "Dan juga penyambutannya, saya mau seelegant mungkin. Musik terutama dan tata cahaya. Okey?"


"Baik mbak," pelayan itu mengangguk hormat.


Sementara pelayan perempuan yang kebetulan berada di dekat situ dan mendengar obrolan mereka, menatap heran ke arah Selenia dan Cia.


Anak SMA, pengen makan malam romantis, di tempat VIP lagi. Ckckck... hmmm... anak jaman sekarang memang hedon. Batin pelayan perempuan tersebut. Jangan-jangan simpanan Oom-oom.


"Kalau begitu anda bisa mengisi formulir pemesanan di meja kasir sebelah sana, sekaligus membayar uang muka," pelayan itu menunjuk ke salah satu meja kasir yang tampak sepi.


"Oke mas. Terimakasih untuk waktunya," ucap Selenia sebelum pergi ke meja kasir.

__ADS_1


Saking semangatnya, sampai-sampai mereka tidak menyadari kalau waktu telah beranjak sore. Selenia baru saja keluar dari Carlos De Santos saat ponselnya berdering.


"Pasti Adam," tebak Cia sembari melirik jam tangannya. "Gila udah jam 5 aja. Udah berapa lama kita muter-muter Sel?"


"Hallo Dam," Selenia mengangkat telfonnya sekaligus mengarahkan telunjuknya ke mulut, meminta supaya Cia diam.


"Kamu di mana sayang, kok belum pulang? Aku udah di rumah lho."


"Maaf tadi aku diajak Cia nyari pesanan mamanya Dam," Selenia mengerling ke arah Cia yang melotot. "Disuruh ambilin kebaya di butik temennya gitu dan kebetulan pas sampai sini masih antri."


Bener-bener nih anak kalau disuruh ngibul. Batin Cia.


"Oh ya udah kalau udah beres cepet pulang ya, ini udah sore banget sayang."


"Iya ini juga udah mau pulang kok."


"Okeey, sampai ketemu di rumah ya. Bye... love you..."


"Love you too."


Cia mencibir setelah Selenia selesai menelfon. Tangannya kemudian diarahkan ke perut Selenia dan berkata....


"Ya ampun sayang, nanti kamu jangan kaya Mommy kamu yang pinter ngibul ya. Kasihan itu Daddy kamu. Punya istri kaya Mommy kamu aja udah bikin bingung... please... kamu jadi anak yang baik ya... yang kaya tante Cia."


Selenia terkekeh. "Apaan sih lo? Nggak jelas," dia menampik tangan Cia pelan. "Pulang yuk."


...🌺🌺🌺...


Tony dan Pak Anton duduk berdampingan di luar ruang ICU. Mereka membicarakan rencana kemotrapi pertama yang akan dijalani Bu Riska. Meskipun Bu Riska sudah sadar sejak semalam, tapi kondisinya belum stabil sampai sore ini. Tubuhnya masih lemah dan dia belum bisa berbicara. Pagi tadi sebelum berangkat sekolah Tony mencoba mengajaknya berbicara, namun dia hanya merespon dengan tatapan sayu hingga menitikkan air mata.


Dokter menjadwalkan kemo pertama akan dilaksanakan lusa.


"Kamu nggak perlu khawatir Ton," Pak Anton merangkul anaknya. "Mamamu itu orang yang kuat. Dia pasti bisa sembuh dari penyakitnya."


"Aku tahu Pa..." bisik Tony lirih. "Mama memang orang yang kuat," terbukti dia bisa bertahan tanpa pengobatan dengan penyakit leukimia yang sudah parah dan hidup pas-pasan di kontrakan kecil.


"Tapi aku nyesel Pa...." Tony terisak. "Aku nyesel karena udah...."


"Ssshhhh...." Pak Anton mempererat rangkulannya. "Kamu jangan pernah ngomong seperti itu. Kalau mama denger, dia pasti sedih. Perlu kamu tahu Ton, saat ini Mamamu pasti bahagia karena kamu sudah mau menerima dia kembali."


"Tapi aku merasa ini sudah terlambat Pa..."


"Siapa yang bilang begitu?" sahut Pak Anton. "Kamu jangan berpikir begitu. Kamu harus yakin kalau mama pasti sembuh dan kita bisa berkumpul lagi."


"Kita?" Tony menoleh.


"Maaf kalau kamu tidak berkenan dengan keinginan Papa," Pak Anton melepas rangkulannya. "Tapi sebenarnya, jauh di dasar hati Papa yang paling dalam, Papa masih sangat mencintai mamamu. Papa ingin keluarga kita bersatu kembali, Papa ingin menebus semua kesalahan Papa dulu ke Mamamu yang membuat keluarga kita tercerai berai..."


Tony kaget dan setengah tidak percaya mendengar ucapan Papanya.


"Itu hak Papa," Tony menatap wajah Pak Anton. "Tidak ada alasan buat aku untuk tidak mau melihat kebahagiaan kalian berdua."


"Terimakasih, Nak," Pak Anton membelai kepala Tony. "Tapi sekarang, kita fokus dulu untuk pengobatan Mama ya."


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2