
Adam menarik paksa tangan Selenia menjauh dari Tony. Melihat hal itu Tony tidak tinggal diam. Dia langsung mengejar keduanya dan mencekal salah satu tangan Selenia.
"Jangan kasar sama perempuan woey!!" teriak Tony berang. Dia berhasil menghentikan langkah Adam dan Selenia.
Nafas Adam memburu. Dia menatap ke arah Tony tajam. "Ini bukan urusan kamu!" ucapnya berat dan datar, lalu kembali menarik Selenia.
"Adam... lepasin... sakiiit..." Selenia merintih menahan ngilu di lengannya karena cengkeraman Adam yang begitu kuat. Dia berusaha melepaskan diri tapi sia-sia, hingga akhirnya Adam berhasil memaksanya masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya.
Saat Adam berjalan melewati mobil untuk masuk melalui pintu satunya, Tony dengan sigap kembali menghadang tubuhnya. Selenia semakin takut melihat dua laki-laki di depannya yang sedang saling tatap penuh emosi. Dia hanya bisa menangis. Pertama, karena tidak menyangka hal ini akan terjadi--Adam memergoki dia sedang berada di tempat seperti ini berdua, dia pasti berpikir kalau dirinya ada apa-apa dengan Tony. Kedua, dia juga merasakan sakit di pergelangan tangannya akibat cengkeraman Adam. Terdapat lingkar merah membekas di pergelangan tangannya.
"Minggir! Saya mau lewat," Adam mendorong pundak Tony.
"Kalau lo nggak bisa bikin dia bahagia, lepasin dia bro!" seru Tony saat Adam sudah membuka pintu. "Jangan serakah dan jangan egois!"
DEG! Kalimat itu membuat jantung Adam semakin memburu. Kata serakah membuat telinganya terasa panas. Apa itu berarti Tony sudah tahu hubungannya dengan Selenia? Dia menatap Selenia dan Tony bergantian. Selenia menunduk menghindari tatapan itu, masih menangis. Adam sudah mengepalkan kedua tangannya dan bersiap untuk menghantam wajah Tony. Tapi kemudian dia urungkan niatnya karena dia tahu itu tidak akan menyelesaikan apapun. Setelah melampiaskan emosinya dengan menghantamkan pukulannya ke body mobil, Adam langsung berlalu melewati Tony.
Tony masih belum puas dengan reaksi Adam. Dia merasa tidak terima dengan perlakuan kasarnya pada Selenia. Jadi dia tetap berdiri di tempatnya, menghadap mobil Adam yang mulai distarter. Tony menatap Selenia yang tampak tidak bisa berkutik di dalam mobil tersebut. Adam membleyer-bleyer mobilnya supaya Tony minggir, namun Tony sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Sampai akhirnya Selenia memberikan isyarat dengan anggukan kepala dan Tony perlahan menepi. Setelahnya Adam langsung melesat meninggalkan bukit cinta.
Selenia tidak berhenti menangis selama perjalanan menuju ke rumah dan Adam tidak mempedulikan itu. Dia terus menyetir mobilnya dengan tatapan tajam dan lurus ke depan. Cengkeraman tangannya pada kemudi menunjukkan amarahnya yang sedang membara. Dia bahkan beberapa kali menerobos lampu merah dan hampir menabrak pengendara lain.
"Dam kamu mau bikin aku mati?!" teriak Selenia ketakutan. Dia tidak tahan dengan cara Adam membawa mobil. Dan yang jelas dia mulai takut melihat kemarahan Adam yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Namun Adam tidak mengindahkan teriakan itu. Dia justru menambahkan kecepatan mobilnya saat jalanan sedikit lengang.
"Dam kamu apa-apaan sih?!" teriak Selenia lagi. "Kurangi kecepatan atau aku lompat?!" Selenia pura-pura mengancam.
Adam masih tidak bergeming. Dia hanya melirik Selenia dengan ekor matanya namun perlahan mulai mengurangi kecepatan mobilnya. Selenia sedikit bernafas lega karena merasa gertakannya diperhatikan.
Sesampainya di rumah mereka tidak langsung keluar. Adam menyandarkan punggung, menengadahkan wajah dan menutup mata. Sementara Selenia masih menangis dan menutupi wajah menggunakan kedua telapak tangannya.
"Jadi ini alasan kamu mendiamkan aku berhari-hari?" Adam akhirnya bersuara, sedikit lebih lembut. Nafasnya pun terdengar lebih teratur.
Selenia mendongak. Dia belum sadar juga dengan kesalahannya?
"Kamu juga bohongin Bibik," jadi pada saat Adam kehilangan jejak Selenia dan Tony di perempatan tadi, dia sempat menelfon Bi Iyah dan menanyakan apakah Selenia keluar? Dan Bi Iyah menjawab kalau Selenia tadi minta izin untuk pergi belajar kelompok bersama temannya. "Aku salah apa sih Sel sama kamu? Kita ada masalah apa sih sebenernya?"
"Kamu jahat Dam," Selenia terisak.
"Apa?" Adam menyipitkan mata. "Jahat? Apa maksud kamu?"
"Kamu jahat sama aku!" teriak Selenia. Banyak sekali yang ingin dia katakan pada suaminya, tapi hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulutnya.
Adam menghela nafas dan melepas seat belt lalu beringsut menghadap ke Selenia yang belum berhenti menangis.
"Iya makanya kamu ngomong sama aku Sel. Aku jahatnya di mana sama kamu? Aku beneran bingung. Aku tu bukan cenayang yang bisa selalu tahu isi hati kamu."
Selenia tidak menjawab. Hatinya benar-benar sakit melihat Adam yang terlihat begitu pintar menutupi semua kebohongan yang telah dia ketahui. Lihat, dia bahkan sama sekali tidak merasa bersalah!
__ADS_1
"Bukannya kamu yang jahat sama aku Sel?" lanjut Adam lirih.
Selenia menoleh dengan sewot. "Aku?!"
"Ya," sahut Adam cepat. "Kamu sadar nggak sih? Tiba-tiba diemin aku berhari-hari tanpa sebab, alasannya juga nggak jelas. Dan sekarang kamu malah jalan sama Tony. Asal kamu tahu Sel, selama beberapa hari ini aku berpikir keras, mati-matian mencari tahu apa dan di mana kesalahanku sama kamu dan ternyata..."
"Ternyata apa? Ternyata kamu salah Dam! Kalau kamu pikir aku jalan sama Tony, kamu salah!"
"Salah dari mana? Tadi yang aku lihat Tony kan? Bukan kloningannya kan? Kamu bohongin Bi Iyah, ngaku mau belajar kelompok tapi apa?"
"Jadi cuma aku yang nggak boleh bohong?!" sahut Selenia tak mau kalah.
"Maksud kamu?"
Selenia menggeleng pasrah dan menyangga dahinya dengan tangan. Lalu kembali mendongak.
"Kenapa sih Dam kamu nggak jujur aja sama aku?" tanya Selenia disertai tatapan sinis. "Kenapa kamu ngebiarin kita punya masalah sampai serumit ini? Kalau memang kamu udah nggak tahan sama pernikahan kita...."
"Masalah apa, makanya aku tanya sama kamu? Kita punya masalah apa Sel???" potong Adam cepat. Dia mulai kehilangan kesabaran.
"Ya coba kamu intropeksi diri kamu!" teriak Selenia tak mau kalah. "Orang kalau punya kesalahan dan merasa ada yang nggak beres dengan hubungannya, pasti ngerasa! Pasti peka!"
Adam memejamkan mata, mencoba meredam emosi yang sudah hampir naik ke ubun-ubun. Sempat terlintas pertanyaan di pikirannya 'Apa ini ada hubungannya dengan Renata? Apa Selenia sudah tahu bahwa dia pernah berbohong?'
"Kalau kamu emang ngerasa udah nggak bahagia sama pernikahan kita, kenapa kamu nggak ceraiin aku aja?" lanjut Selenia yang seketika membuat mata Adam melebar.
Selenia menutup kedua telinganya mendengar teriakan itu. Dia lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan memperlihatkan sebuah video kepada Adam.
"KALAU MEMANG KAMU NGGAK AKAN PERNAH CERAIIN AKU, TERUS INI APA?!! HAH?!!" teriak Selenia tak mau kalah. "INI APA NAMANYA?!!"
Adam terperangah melihat tampilan video di hadapannya. Video yang memperlihatkan kebersamaannya dengan Renata di Greenosh sore itu sepulang mereka dari kantor pengacara. Ternyata benar dugaan Adam barusan. Sekarang jelas sudah apa yang membuat Selenia akhir-akhir ini bersikap dingin padanya. Tapi siapa yang membuat rekaman itu?
"Kenapa kamu diem Dam?!" Selenia menarik kembali ponselnya dan melemparkan ke dalam tas. "Kamu nggak bisa jelasin? Kamu mau nanya lagi kenapa sikapku aneh?"
"Sel... itu semua...."
"Itu semua tidak seperti yang aku lihat? Basi, Dam!" Selenia melepas seat belt dengan kasar lalu keluar dan membanting pintu dengan keras.
"Selenia tunggu!" Adam berlari mengejar Selenia yang sudah berjalan dengan cepat menaiki tangga. "Sel, tapi beneran itu semua nggak seperti yang kamu lihat... itu..."
"Maksud kamu itu bukan Renata?" Selenia berbalik dengan sewot. Dia sudah sampai di depan kamarnya. "Itu bukan kloningannya kan?" dia tersenyum sinis dengan puas karena merasa berhasil membalas kata-kata Adam yang menyebut Tony punya kloningan.
"Makanya please dengerin dulu penjelasan aku Sel. Aku berani sumpah! Itu nggak seperti kamu bayangkan," Adam memohon. Dia mencoba meraih tangan Selenia tapi selalu ditampik.
"Apapun alasannya kamu udah bohongin aku Dam!" Selenia menunjuk wajah Adam dengan telunjuknya dan kembali menegaskan. "KAMU UDAH BOHONGIN AKU!"
"Aku nggak bermaksud buat bohong sama kamu. Please tolong beri aku kesempatan buat jelasin yang sebenarnya sama kamu... please Sel..."
__ADS_1
"Kamu ternyata jago acting banget ya Dam?" Selenia tersenyum getir. "Di rumah kamu bisa bersikap maniiiis banget sama aku...." dia kembali terisak. "... sampai-sampai bisa membuat aku sama sekali nggak berpikir kalau kamu bakalan duain aku di luar sana."
"Seeel... aku nggak duain kamu. Aku bahkan nggak pernah kepikiran buat ngelakuin itu...."
"Cukup, Dam. Aku capek. Dan aku nggak pengen denger apapun dari mulut kamu malam ini," Selenia menunduk menghindari tatapan memelas Adam yang hampir meluluhkan hatinya. Aslinya dia nggak tega melihat sikap Adam seperti itu padanya, tapi dia sudah terlanjur sakit hati karena dengan menunjukkan video itu Adam baru bisa menyadari kesalahannya.
"Sel... please..."
Selenia masuk kamar dan langsung menutup pintu mengabaikan Adam yang masih berusaha menjelaskan banyak hal padanya. Dan di balik pintu, Selenia masih menangis dan memerosotkan tubuhnya hingga bersimpuh di lantai.
Sementara di luar, Adam berbalik dan memasuki kamarnya dengan gamang. Emosi dan pikirannya begitu terkuras hari ini hanya untuk satu masalah. Satu masalah yang sebenarnya hanya salah paham. Adam ingat dengan adegan di video itu. Video yang memperlihatkan kedekatannya dengan Renata sama sekali bukan kemesraan. Waktu itu Renata hanya berusaha menghapus sisa makanan di sudut bibirnya. Itu saja, tidak lebih. Tapi siapa yang sudah memanfaatkan hal itu hingga membuat keadaan jadi sekacau ini? Siapa yang sudah mengikutiku dan Renata sore itu?
Adam melempar tas dan jasnya sekaligus ke lantai. Tanpa terlebih dahulu berganti pakaian dia langsung membanting tubuhnya ke tempat tidur. Errrgggghhh! Dia mengerang sembari memukul-mukul bantal berulang kali, menumpahkan amarah dan emosi yang telah berusaha dia pendam.
Andai saja kamu bisa kasih aku waktu sebentar untuk jelasin semuanya Sel. Itu semua benar-benar tidak seperti yang kamu lihat sayang. Aku sama sekali nggak pernah berpikir untuk berpaling dari kamu. Tak terasa air mata Adam menitik.
Bi Iyah yang tadinya ingin menyiapkan makan malam saat mendengar mobil Adam tiba di rumah, langsung kembali ke kamarnya begitu melihat kedua majikannya saling adu mulut.
"Aduuuh, Pak Adam sama Non Selenia kenapa lagi ya?" gumamnya sambil garuk-garuk kepala.
...🌺🌺🌺...
"Dari mana saja kamu baru pulang?" tanya Pak Anton saat Tony baru saja masuk rumah.
"Mabar Pa," jawab Tony pendek dan langsung berlari ke lantai dua.
"Kamu bilang kamu mau ke kantor Papa lagi!" teriak Pak Anton. Tony sudah sampai di ujung tangga. Anak itu menoleh. "Kapan?"
Tony mendengus dan memutar bola matanya. Dia sudah tidak lagi berpikir ke sana. Atau mungkin belum. Otaknya hari ini sedang kacau dengan apa yang baru saja terjadi. Pikirannya melayang memikirkan keadaan Selenia di rumah. Bagaimana kalau Adam berbuat sesuatu padanya?
"Aku masih sibuk di sekolah Pa," jawabnya beralasan. "Sama bentar lagi ada turnamen game online. Mungkin setelah itu aku bakal maen lagi ke kantor Papa," imbuhnya.
Pak Anton geleng-geleng kepala mendengar jawaban Tony. "Kamu jangan mabar terus dong. Perusahaan Papa juga masa depan......." dia tidak melanjutkan kata-katanya karena Tony langsung berkali-kali dan menghilang ke kamarnya. ".... masa depan kamu Ton," lanjutnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.
...🌺🌺🌺...
Malam itu menjadi malam yang menyedihkan bagi ketiga makhluk yang baru saja dipertemukan dalam situasi yang membuat semuanya tenggelam dalam kesalah pahaman.
Selenia dengan prasangkanya bahwa Adam telah mendua di belakangnya.
Adam dengan penyesalannya karena sudah berbohong pada Selenia hanya demi membantu Renata.
Dan juga Tony yang begitu mencemaskan keadaan Selenia setelah melihat perlakuan Adam yang begitu kasar saat menyeret Selenia dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
Tony menghempaskan diri di kursi gaming kebesarannya dan merenung. Dia telah memiliki perasaan pada Selenia, entah sejak kapan. Yang jelas bukan sejak pertama kali bertemu--saat tragedi bola basket--karena pada saat itu sikap Selenia masih asing. Namun kini dia harus rela mengubur perasaannya semenjak dia tahu bahwa Selenia sudah menjadi milik seseorang. Ikatan hubungan mereka begitu kuat. Pernikahan. Apapun bentuk pernikahan mereka, hubungan itu tetap yang paling suci dan paling tinggi.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...