Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
PERMINTAAN WARDAH 2


__ADS_3

๐ŸŒปTerimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.๐ŸŒป


Rumah Ais ....


"Aku nggak mau pulang kepanti," pinta Wardah.


"Iya sayang, tante mengerti tetapi kita tidak bisa tidak pergi, katanya Wardah ingin jadi anak yang sholehah sayang?"


"Iya tapi ...."


"Kalau iya, kita harus pergi tidak boleh membantah perintah seorang ibu, kecuali ibumu memintamu melakukan sesuatu yg keji boleh kamu membantahnya," ucap Ais lagi.


"Hal ini sangat jelas diatur dalam agama kita, ini tidak hanya untuk Wardah tetapi untuk kita semua, ketahuilah kita wajib berbakti pada kedua orangtua kita baik masih hidup ataupun sudah meninggal, seperti yang dijelaskan berikut ini," ucap Ais panjang lebar.


Setelah mendengar penjelasan Ais, akhirnya Wardah mau ikut pulang kepanti meski dengan berat hati.


"Oke sekarang kamu balik kekamar, mandi dan pakai baju yang tante kasih kemarin ya, tante tunggu kamu nanti ditaman depan ya." Mencium kening Wardah lembut. Ada sekeping hati Ais yang tercabik saat mengatakan semuanya pada Wardah.


Wardah hanya diam dan mengangguk, mungkin dia juga merasa sangat berat untuk berpisah dari keluarga Alif yang sangat menyanyanginya meski baru berjumpa.


#Selang beberapa menit#


Tampak seorang gadis cilik berhidung mancung, dan berbibir tipis terlihat sangat angun menuruni tangga dalam balutan gamis berwarna hijau toska bermotif bunga-bunga kecil, namun wajahnya terlihat sangat sedih.


"Sayang apa kamu siap?" Memegang dagu Wardah.


Mata indah wardah telah berair, begitu pula dengan Ais, namun dengan cepat Ais menyekanya. Ia tidak ingin terlihat sedih didepan gadis manis didepannya.


"Bagimana? Kita berangkat sekarang?" Rey Melirik kekasihnya.


"Iya jadi, yuk!" Memegang tangan Wardah.


Baru berjalan beberapa langkah, Alif merenggek minta ikut mengantarkan Wardah ke panti.


"Umiiii ... Babang ikut ya?" Memasang wajah memelas.


"Ehmm Alif sayang, bukan umi nggak kasih ikut, tapi ini untuk kebaikan kita bersama, nanti kalau ikut Babang pasti sedihkan meninggalkan Wardah disana?"


Lama Alif termenung mencerna kata-kata uminya dan akhirnya ia mengangguk.


"Baiklah Umi ... Babang ngerti kok tapi apa boleh Babang peluk Wardah?"


Ais menoleh pada suaminya, seolah meminta persetujuan darinya. Dan Rey pun tersenyum.


"Iya boleh, ucapkan selamat jalan buat Wardah ya," pinta Ais pada putra kesayangnnya yang besok akan genap berusia 6 tahun dan juga merupakan hari perlombaan murojaahnya ditingkat provinsi.


"Iya Umi." Berjalan mendekati Wardah.


"Selamat jalan teman, semoga nanti kita bisa bertemu lagi." Memeluk sahabatnya.


"Terimakasih Alif sudah mau menerimaku menjadi sahabatmu, aku janji nanti akan mencarimu dan keluargamu kalau aku nanti dibawa Mamaku pergi jauh dari kalian," ucap Wardah membalas pelukan sahabatnya.


Kemudian Wardah segera melangkahkan kakinya mengikuti Ais dan Rey yang sudah berjalan lebih dulu.


Disepanjang jalan menuju panti Wardah hanya duduk diam dan melihat keluar jendela, entah apa yang dirasakan gadis kecil itu saat ini. Ais tidak berani untuk menegurnya.


Panti ....


Tidak butuh waktu lama, mobil Rey telah memasuki halaman panti. Tampak wajah Wardah semakin sedih dan kalut. Ia tidak mau turun dari mobil.


"Sayang, kita sudah sampai. Yuk turun!" ajak Ais.


Wardah diam mematung seolah tidak mendengar perkataan Ais barusan.


"Sayang, kita turun ya. Tante ikut kamu kedalam kok," ucap Ais berusaha meyakinkan Wardah. Dan akhirnya membuat gadis kecil itu mau menurutinya.


Mereka bertiga berjalan beriringan. Dan Rey berbalik. Ia segera menggendong Wardah yang sedang dituntun Ais layaknya anak sendiri. Tampak segores senyum muncul diwajah mendung gadis kecil itu.


Sampai didepan pintu panti sudah berdiri ibu kandung Wardah dengan wajahnya yang memerah karena menahan marah terhadap Rey dan Ais yang membawa putrinya.

__ADS_1


"Segera turunkan putriku! Kalian beruntung aku tidak melapor kepolisi atas tuduhan penculikan anak," ucap Ibu kandung Wardah dengan wajah geramnya.


Wardah memeluk erat pundak Rey seolah tidak mau turun dari gendongannya. Yang membuat kemarahan ibunya semakin menjadi.


"Wardah! Turun! Cepatlah sekarang ibu sudah datang untuk menjemputmu, sesuai janji ibu waktu itu," teriak ibu Wardah.


Namun Wardah masih tak bergeming. Suasanapun terasa sedikit gerah bagi Rey dan Ais.


"Sayang, kamu turun ya. Ingat ulasan tante tadi pagi kan? Kalau ingin menjadi anak yang sholehah maka turutilah ibumu," ucap Ais lembut penuh kesabaran, yang berhasil membuat seorang Wardah mau menuruti ucapnnya.


Perlahan pegangan Wardah pada Rey merenggang, dan ia mau turun dari gendongan. Baru saja dia turun dan menjejakkan kakinya ditanah, tangannya sudah disambar oleh ibu kandungnya dengan kasar.


"Kamu kenapa tidak mendengar perintah Mama, sudah dibilang nggak usah pergi kemanapun dan dengan siapapun." Menarik jilbab Wardah hingga terlepas dan mencampakkan kesembarang arah.


Air mata Wardah sudah menetes, saat ibunya menarik jilbabnya dan membuangnya asal. Hatinya tergores berasa sangat pedih.


"Hey ... maaf bisakah anda memperlakukan seorang anak dengan baik?" ucap Ais kesal.


"Anda siapa? Dan anada tidak berhak mengatur tentang saya ataupun anak saya, sebaiknya anda urus saja anak anda sendiri bukan anak orang lain," jawab ibu Wardah kasar.


Belum sempat Ais menjawab wanita itu kembali bersuara.


"Ayo kita pergi Wardah, lihat mobil papamu sudah datang." Menarik tangan Wardah kasar berjalan menuju parkiran. Tampak sebuah mobil berwarna hitam memasuki parkiran.


"Tunggu Sus!" teriak bu Santi pemilik panti.


Langkah kaki ibunya Wardah terhenti.


"Kenapa Bulek? Apa lagi yang ingin Bulek sampaikan setelah melanggar permintaanku?" tanyanya kasar.


"Kamu mau bawa kemana Wardahnya, bukankah katamu kalau papanya tidak menyukai dia?"


"Itu benar, dan Bulek nggak berhak untuk tahu apa yang akan aku lakukan, dia anakku bukan anakmu," Menarik tangan Wardah kasar.


Namun kali ini Wardah memberontak dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan genggaman tangan ibunya.


"Wardah! Apa yang kamu lakukan?" Bentak ibunya.


"Wardah janji akan ikut Mama tapi tolong lepasin dulu, saya mau pamit pada om Rey dan tante Ais," teriak Wardah dengan linangan air mata.


"Plakk! Menampar pipi Warda."Dasar anak kurang ajar, masih saja tidak berubah, kasar dan brutal," ucap ibu Wardah.


Turunlah seorang lelaki dari dalam mobil dan membawa seutas tali, berjalan mendekati Wardah dan ibunya. Wajahnya yang dingin tanpa senyum membuatnya terlihat semakin sangar.


Ibu Wardah menyambutnya dengan senyuman dan ia meraih tali yang diberikan lelaki itu dengan cepat hendak mengikat tangan putrinya yang masih meronta.


Ais sudah tak dapat menahan sesak dihatinya, ia menangis dalam pelukan suaminya.


"Ayang bisakah kita membawa Wardah kembali? Aku merasa yakin bahwa masa depan anak itu akan semakin kelam dan suram kalau masih bersama ibunya?" ucap Ais disela isakannya.


"Ayang jangan bicara seperti itu, kita tidak boleh mendahului ketetapan yang maha kuasa, kamu ingat dalam surat Al hujarat ayat 1 yang berbunyi,"


ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู„ุง ุชูู‚ูŽุฏูู‘ู…ููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ูˆูŽุงุชูŽู‘ู‚ููˆุง


ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุณูŽู…ููŠุนูŒ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Memgetahui."


"Ya Allah, ampunilah aku bukan maksudku mendahului ketetapanMu, aku hanya merasa iba pada anak itu, aku tak ingin dia menderita," ucap Ais semakin sedih dalam pelukan suaminya.


Saat ibunya mau mengikat tangan Wardah, ia berhasil kabur. Dengan cepat ia berlari menuju Ais dan Rey. Segera dipeluknya kedua orang yang begitu menyayanginya meski ia bukan keluarga kandungnya.


Kedua orangtua Wardahpun mengejarnya. Namun langkah mereka terhenti tepat didepan Rey dan Ais. Tadinya mereka mengira anak itu akan kabur. Namun dugaannya salah.


"Tante bolehkah Wardah meminta sesuatu sebelum pergi?" Menangis dalam pelukan Ais.


Reypun ikut membelay lembut rambut gadis kecil itu.


"Iya sayang, katakan apa yang ingin kamu pinta, semoga tante bisa mengabulkannya." Mencium lembut kening Wardah dan menghapus air mata gadis itu.

__ADS_1


"Bolehkah aku memanggil om dan tante dengan panggilan umi dan abi sama seperti Alif?"


Sesak menyeruak dalam kalbu Ais dengan linangan air mata ia mengangguk memenuhi permintaan gadis kecil dihadapannya.


"Terimakasih Umi, aku janji akan jadi anak yang sholehah, yang selalu sholat dan mengaji serta menuruti perintah mama. Aku akan jadi akan yang baik, aku ingin menjadi seorang ibu seperti umi kalau nanti aku dewasa. Aku akan selalu berdoa pada Allah agar nanti kita bisa bertemu lagi-Umi. Dimanapun aku berada nanti. Aku sayang umi dan abi. Selalu doakan aku juga agar tetap jadi anak yang sholehah." Memeluk Ais erat dan gantian memeluk Rey juga.


Ibu kandung Wardah diam tanpa ekspresi dan jujur dalam hati kecilnya iapun sangat menyayangi putrinya itu, namun ia tidak berdaya saat berhadapan dengan suami barunya yang tidak menyukai Wardah. Dan ia semakin yakin untuk menitipkan Wardah kepondok pesantren ditempat tinggalnya agar anakknya itu nanti benar-benar bisa jadi anak yang sholehah.


Sikap kasarnya yang tadi sangat arogan kini sirna entah kemana, dengan pelan ditariknya tangan Wardah menuju kemobilnya. Wardah melambaikan tangannya pada Ais dan Rey, walau berat namun itulah kenyataan yang harus dia jalani.


Rey dan Ais juga melambaikan tangan mengiringi kepergian Wardah, meski terasa berat keduanya harus ikhlas. Hanya doa yang dapat Ais panjatkan semoga Wardah selalu dalam lindungan Allah dimanapun ia berada, dan mereka bisa dipertemukan kembali walaupun itu entah kapan.


Selamat jalan Wardah sayang, semoga kau tumbuh menjadi anak yang sholehah, dan ibumu tergerak hatinya untuk menyayangimu, love you sayang.


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Sudrun


Samudra


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


*Cindy Elvira


Ketika Muslimah Jatuh Cinta


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*WIB (Write in Box)


Ya Dia Istriku


*Patma


Kun Fayakun

__ADS_1


*Zanuba Ririn


Masjid Cinta


__ADS_2