
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. 🌻
Setelah semua yang Ais dan Rey alami, kini mereka memasuki babak baru dalam kehidupan mereka. Kini kebahagian keluarga kecil mereka bertambah setelah Ais melahirkan putri kembar mereka yang dipanggil Ira dan Iza.
sementara ini Ais dan Rey akan menetap diIndonesia sampai keadaan Ais benar - benar pulih. Setelah melahirkan kedua putrinya Ais berencana untuk fokus pada keluarganya saja dan sementara berhenti dulu untuk mengajar.
Alif kecil kini telah tumbuh menjadi anak lelaki yang cerdas dan telah bersekolah di Taman Kanak - kanak Permata Hati yang tidak jauh dari rumah yang mereka tempati saat ini. Kini Ais dan Rey telah menetap diJakarta salah satu kota teramai dan terpadat diIndonesia.
Ayah dan Ibu Ais kini ikut tinggal bersama mereka di Jakarta karena bisnis Rey juga sudah dikembangkan di jakarta. Semua Aset perusahaan yang ada di Amrik diserahkan kepada Maria dan Biyan, sedangkan yang dilondon diserahkan pada Angela dan Antonio. Sedangkan Aset yang diwariskan oleh kedua orangtua Hanif untuk Alif sementara dikelola oleh orang - orang kepercayaan Mira dan Bayu. Jadi Rey hanya fokus pada perusahaannya yang ada di Jakarta saja.
Tinggal dilingkungan elit membuat kedua orangtua Ais menjadi canggung, namun Ais memperlakukan mereka dengan sangat baik, ayah dan ibunya tidak bekerja lagi mereka paling hanya membantu Ais mengawasi kegiatan rumah. Namun namanya juga orangtua tidak akan betah hanya duduk diam saja, makanya kedua orangtua Ais membuka lahan perkebunan dengan sistem organik diperkarangan belakang rumah Ais yang luas.
Seperti pagi ini meski sibuk dan repot mengurusi kedua putri kembarnya, Ais menyempatkan diri untuk menyiapkan kebutuhan Rey untuk berangkat kerja kantornya.
"Bibi ... Lela ... tolong bawa dulu Ira dan Iza ya, saya mau menyiapkan kebutuhan Mas Rey," ucap Ais dengan suara yang lembut.
"Iya Nyah," ucap bik Inah.
"Panggil Ais saja Bik jangan Nyonya, nggak enak banget rasanya," ucap Ais.
"Ya sudah Bibi panggil Nak Ais aja ya."
"Iya Bik, itu lebih baik kayaknya."
Bi Inah dan Lela segera membawa kedua putri Ais ke kamar mereka.
"Ayang ... mandilah aku sudah menyiapkan air hangat untukmu, dan ini pakaian gantimu," ucap Ais sedang memilih pakaian Rey dilemari.
Namun tiba - tiba Rey telah memeluknya dari belakang, aroma lemon dari tubuh Rey yang baru selesai mandi sangat menenangkan hidung Ais.
"Kamu selalu yang terbaik, selalu menyempatkan diri untuk diriku," ucap Rey mesra.
"Yang ... lepas dong, nanti ada yang lihat, malu," ucap Ais dengan pipi yang telah merona merah.
"Ehmm rona wajahmu semakin membuatku mencintaimu Ayang." ucap Rey sambil mencium tekuk istrinya.
"Udah Yang, kapan mau ganti bajunya," ucap Ais berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Kamu masih saja malu saat bersamaku, anak kita udah tiga Yang," ucal Rey menghujani wajah istrinya dengan ciuman.
Aisyah tak dapat berbuat apa - apa saat Rey sudah begitu ia hanya pasrah menerima perlakukan manis suaminya.
Setelah puas bermanja dengan istrinya barulah Rey memakai pakain gantinya, sementara Ais setia membantu suaminya sampai dengan memakai dasinya.
"Oke selesai sekarang kita sarapan ya, jagoan sholeh kita pasti sudah menunggu dibawah," ucap Ais.
"Ayang ... terimakasih untuk semuanya."
"Kamu jangan lupa sholat duhanya Ayang nanti sampai dikantor."
"Iya Inshaa Allah, Humayrohku."
Aisyah tersenyum manis melihat tatapan suaminya yang penuh cinta. Keduanya turun bergandengan menuju ruang makan.
🌻Ruang Makan 🌻
Diruang Makan Alif dan nenek serta kakeknya telah menunggu kedua sejoli yang selalu tampak seperti orang pacaran.
"Assalamualaikum, maaf ya nunggunya lama ya," ucap Ais.
"Iya nih Umi sama Abi pacaran terus makanya lama nih makannya Alif udah laper," ucap Alif meledek ayah dan ibunya.
Semua orang tertawa mendengar celotehan Alif yang sudah seperti orang dewasa saja.
" Iya Abi mu ini tiap pagi selalu godain Umi," ucap Ais tersenyum.
"Habisnya umi mu ini selalu buat Abi gemes." Mencubit pipi Ais lembut.
Semua menahan senyum melihat tingkah keduanya yang selalu mesra dan hampir tak pernah mereka berselisih faham.
Sekarang semuanya makan dengan hikmat tidak ada suara yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu. Selesai makan Rey segera pamit untuk ke kantor sekalian mengantarkan putra kesayangannya.
"Ayang aku pamit ya, jangan lupa makan yang banyak suapaya Ira dan Iza sehat karena mendapatkan asi yang berkualitas dari Uminya." Mencium kening Ais.
"Ayang juga jangan lupa langsung duha sampai dikantor." Mencium tangan Rey.
"Inshaa Allah, nanti aku akan pulang makan siang kita zuhur berjamaah."
"Inshaa Allah."
"Umi ... Babang Alif berangkat ya, doa in Alif lancar sekolahnya." Mencium pipi Ais dan memeluknya erat.
"Iya Solgan umi, sekolah yang rajin dan patuhi semua nasihat ibu guru disekolah." Mencium pucuk kepala putranya.
Kedua orang tersayangnya kini telah masuk kr mobil dan berangkat menuju ke sekolah Alif dan ke kantor suaminya.
Setelah keduanya hilang dari pandangan barulah Ais masuk kedalam rumah dan memulai aktivitasnya sebagai seorang ibu rumah tangga.
Meski sangat repot Ais tidak pernah mengeluh, dan saat ia sudah kerepotan ibunya akan membantunya meski Ais menolaknya. Karena Ais tahu menitipkan anak pada orangtuanya adalah dosa.
"Ais ... sini Ira dan Iza biar main sama Ayah dan Ibu," ucap ibu Ais.
__ADS_1
"Nggak usah Bu nanti Ayah dan Ibu capek, mereka sudah mulai aktif lo, biar mereka sama Bi Inah dan Lela saja," ucap Ais.
"Ibu dan Ayah bosan nak, kalau nggak ngerjain apa - apa, hanya makan tidur saja kerjaan kami," ucap Ibu.
"Maaf ya Bu ... Yah ... kalau membuat kaluan merasa tidak nyaman, Ais hanya tidak mau Ayah dan Ibu capek,"
"Ya sudah nanti kalau Ayah dan Ibu capek, kasih sama bi Inah dan Lela ya," ucap Ais sambil memeluk ibunya.
" Maafkan Ais kalau selalu merepotkan Ayah dan Ibu."
"Kami tidak merasa direpotkan Nak, jangan merasa nggak enak," ucap Ibu mengusap pundak Ais.
"Ais tinggal masak dulu ya Bu ... Yah, biar nanti kalau Mas Rey pulang semua sudah beres.
Ais segera menuju dapur, namun sebelum masak ia kebelakang menuju mushola kecil yang dikelilingi taman bunga yang indah untuk sholat duha dan membaca Al Quran sebentar, karena itu sudah kebiasaan Ais sedari kecil.
Selesai sholat dan mengaji Ais langsung berkutat didapur untuk menyiapkan makan siang untuk keluarga besarnya, Ais tidak sendiri ia dibantu oleh beberpa orang ART nya.
Tidak butuh waktu yang lama semua sudah terhidang dimeja makan, dan ditata dengan rapi, meski sudah menjadi orang berada namun menu yang Ais siapkan bukanlah seperti seperti orang - orang kebanyakan, ia tetap menyiapkan menu rumahan sederhana seperti waktu ia masih dikampung, hal ini juga untuk membuat ayah dan ibunya betah agar tetap merasa seperti dikampung halamannya.
Selesai masak Ais segera membersihkan dirinya kemudian segera menyusui kedua putrinya yang sebentar lagi akan berumur satu tahun. Kelahiran putrinya sama dengan kelahiran putranya jadi tidak susah untuk mengingat kelahiran anak - anaknya.
🌻Kantor Rey 🌻
Dikantor barunya di Jakarta Rey punya sekretaris baru bernama Kevin temanya waktu SMA di Bandung tempo hari, karena Antonio sudah mengurusi perusahaannya yang diluar negeri.
"Vin ... apa saja jadwal ku setelah makan siang."
"Jadwal loe sepertinya kosong abis makan siang, tetapi nanti jam 15.00 wib loe ada meeting dengan perusahaan baru yang mengaju kontrak kemarin."
"Ehmmm meetingnya bisa loe wakilin nggak, soalnya jam tiga sore itu gue punya janji sama Ais untuk imunisasi sikecil sekalian mau mengajak mereka belanja bulanan."
"Oke bisa kok soalnya hanya membicarakan rencana kontrak saja nggak yang lain."
"Oke terimakasih ya Vin, loe emang yang terbaik selalu bisa gue andelin." Menepuk pundak kevin.
"Sekarang gue pamit ya, gue titip kantor gue," ucap Rey meninggalkan Kevin yang masih geleng - geleng kepala pada sahabatnya itu.
Rey segera memasuki Lip menuju ke lobi kantornya dan saat sampai lobi tak sengajania melihat keributan kecil para pegawainya.
"Ada apa ini ribut - ribut !"
Semua langsung terdiam karena CEO meraka yang berbicara.
"Kenapa semuanya diam, ayo ceritakan apa yang terjadi," ucap Rey lembut untuk menghilangkan rasa canggung pegawainya.
Yah Rey memang terkenal sebagai seorang CEO yang merakyat, artinya sangat perduli dengan semua bawahannya dan sangat menghargai dan juga menghormati privasi mereka.
"Apa itu benar Lusi?"
"Iya Pak, saya terpaksa karena saya benar - benar membutuhkannya," ucap Lusi menunduk, ia pasrah atas hukuman yang akan diterimanya.
"Kalau kamu butuh kenapa nggak minta baik - baik, yang kamu lakukan ini salah," ucap Rey.
"Iya Pak saya tahu, maafkan saya," ucap Lusi dengan terisak.
"Ya sudah kembalikan barang - barang yang kamu ambil, dan sekarang pergi ke bagian HRD dan bawa surat dari saya ini." Memberikan selembar kertas.
Perlahan Lusi mengeluarkan barang - barang yang dia ambil dan menyerahkannya pada satpam. Kemudian menerima kertas yang Rey berikan. Saat membaca isi kertas itu Lusi langsung menangis bersimpuh dilantai karena tak menyangka kertas itu berisi pemberian bonus untuknya dan Jumlahnya tidaklah sedikit.
"Ya Allah ... terimakasih banyak Pak."
"Berangkat lah Lusi, segera ke HRD dan gunakan sebaik - baiknya, masalah ini selesai dan mohon jangan diulangi lagi."
Setelah menyelesaikan masalah bawahannya Rey segera meluncur menuju ke sekolah Putranya untuk menjemput putranya.
🌻TK Permata Hati 🌻
Mobil Rey telah berhenti tepat didepan sekolahan putranya, lama menunggu tetapi yang ditunggu belum juga muncul, akhirnya Rey turun dan masuk ke halam sekolah.
"Permisi," ucap Rey sopan.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?"
"Iya saya mau menjemput anak saya Muhammad Alif, apa dia sudah pulang?"
*Ya Tuhan ini ayahnya Alif sungguh tampan, pantas saja Alif juga tampan, sayang udah nikah, gue jadi yang kedua juga boleh, batin salah satu guru Alif.*
"Bu ... ibu ...." Sapa Rey.
"Eh iya ... maaf Pak, tadi kepala sekolah pesan kalau ada yang jemput Alif disuruh langsung menghadap ke kepala sekolah," ucap guru itu tergagap karena malu katahuan melamun.
"Oh begitu, saya permisi." Berjalan meninggalkan bu guru Alif yang terpesona dengan ketampanan Rey.
"Tok ... tok ...." Rey mengetuk pintu.
"Masuk !"
"Klek ." Membuka pintu.
"Permisi saya orangtua Alif," ucap Rey.
__ADS_1
"Abiiiiiii," teriak Alif berlari memeluk Rey.
"Anak Abi, kok disini sih."
"Iya Bi, kata Bu Guru ada yang mau dibicarakan sama Abi."
"Iya Pak, kami sengaja menahan Alif disini supaya bisa bicara dengan Bapak, ini mengenai ananda Alif."
"Oh iya Bu silahkan, apa putraku membuat masalah?"
"Oh tidak Pak bukan begitu, kami rencananya mau memilih ananda Alif sebagai peserta lomba hafalan surat - surat pendek dan azan, rencananya minggu depan, karena sepertinya ananda Alif sudah banyak hafalannya."
" Oh ... begitu, iya nggak apa -apa Bu, kebetulan ananda memang sudah lumayan hafalannya sedikit lagi dia akan khatam mengajafal juz 30 karena Uminya. yang rajin membantunya mengahafal."
"Alhamdulillah kallau begitu Pak, semoga ananda selalu sehat dan siap mentalnya."
"Iya Bu Inshaa Allah, ada lagi yang ingin disampaikan Bu?"
"Oh sepertinya sudah tidak ada lagi Pak?"
"Oke Bu kalau begitu kami permisi, Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Setelah berpamitan dengan kepala sekolah Rey dan Alif segera meninggalkan sekolah. Dan ketampanan Rey menjadi perbincamgan disekolah Alif.
"Hus ... kalian semua sudah bergosipnya, nggak baik ngegosipin suami orang," omel. kepala sekolah.
Semua guru akhirnya bubar sambil senyam senyum karena dimarahi kepala sekolah mereka.
Kini mobil Rey telah meninggalkan sekolah menuju kerumahnya, dan Rey selalu merasa gembira saat akan pulang kerumah karena sudah ada tiga bidadari syurga yang menantinya dirumah.
Tak butuh waktu lama kini mobil Rey telah memasuki halaman rumahnya, dan benar saja ketiga bidadarinya sudah menantinya didepan pintu.
"Umiiiiiii," teriak Alif sambil memeluk Ais dan mencium pipi kedua adiknya.
"Assalamualaikum khumairohku." Mencium pucuk kepala Ais dan juga mencium kedua putrinya.
Setelah penyambutan selesai Ira dan Iza segera diambil oleh Bi Ijah dan Lela, sedang Ais membawa tas suaminya, dan Rey menggendong putranya. Sungguh oemandamgan yang membuat iri orang tang melihatnya.
"Ayang kita sholat zuhur dulu ya baru makan."
"Siap Bu," ucap Rey memberi hormat yang diiringi tawa oleh Alif yang digendong Rey.
Semuanya segera membersihkan diri dan bergegas menuju mushola, Alif kecil telah mengumandangkan azan dengan suaranya yang merdu, sementara yang lain sudah siap untuk sholat berjamaah yang diimami oleh ayah Ais Abdullah.
Susana sholat berjamaah bukanlah pemandangan baru dikeluarga Ais sedari kecil Ais selalu berjamaah bersama ayahnya.
Selesai sholat berjamaah barulah mereka makan bersama.
Bersambung.....
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
dan karya apik author yang lain :
* Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
* Almaira My Secret Wife
My Love My Babysitter
Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu
Kembar Tidak Identik
Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
My Heart Is Only For You
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Sudrun
Penjelah Malam
Samudra
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
*Sisca Nasty
Mafia In Love
__ADS_1