
Setelah satu minggu dirawat pasca hilang kesadarannya. Akhirnya Ais diperbolehkan pulang, dan mereka berencana pulang ke rumah orangtua Ais.
Ais telah lumayan pulih. Dia sudah bisa merapikan tempat tidur yang ditempatinya selama dirumah sakit, dan berencana untuk pamit kepada semua tim medis yang telah merawatnya selama tinggal di rumah sakit.
Rey pun sudah membawa semua barang - barang Ais ke dalam mobil. Namun, Ais masih bersikeras menunggu tim dokter yang merawatnya. Rey merasa sedikit kesal, ia mulai merasa cemburu karena dokter yang merawat Ais adalah laki - laki yang cukup tampan.
"Ais sayang, apa tidak sebaiknya kita pulang saja? Sepertinya Dokter itu tidak datang hari ini," ucap Rey sedikit kesal.
Ucapan Rey seperti angin lalu saja, bukan Ais namanya, kalau tidak keras kepala.
"Sebentar lagi, Kak Rey! Kalau benar dia tidak datang, maka barulah kita serahkan buah tangan ini kepada perawat yang ada dibagian administrasi saja," tukas Ais sambil tersenyum. Dia belum menyadari, jika Rey mulai gusar.
Semoga saja Dokter itu tidak datang, Aaamiin, batin Rey
Setelah beberapa menit menunggu. Datanglah rombongan perawat jaga untuk ganti sip, dan Ais menyempatkan diri untuk bertanya, dan ternyata benar Dokter itu tidak datang. Akhirnya Ais menyerahkan bingkisan terima kasihnya kepada semua perawat-perawat itu .
Alhamdulillah nggak jadi datang, yes! batin Rey gembira.
Ais merasa heran, mengapa imamnya tersenyum senang? Sepanjang perjalanan menuju ke rumah orang tua Ais. Mereka hanya diam dan sesekali curi pandang, lalu saling melempar senyum. Kedua pasangan itu, seperti orang yang baru akan pacaran saja.
Mobil pun mulai memasuki pekarangan rumah Ais, dan para tetangga sudah banyak yang berkumpul di rumah Ais untuk menyambut kepulangnya. Mereka juga kepo ingin melihat suami Ais.
Banyak ibu-ibu yang ada di kampung Ais merasa kecewa karena batal menjadikan Ais menantu di keluarga mereka. Oleh karena itu, mereka ingin melihat lelaki yang berhasil naklukkan hati Ais- gadis salihah yang menjadi idaman ibu-ibu kampung.
Rey dan Ais disambut layaknya selebiriti. Semua menyambut haru kedatangan pasangan pengantin baru itu. Di tambah lagi hebohnya kasus yang mereka alami tempo hari.
Setelah pengucapan doa selamatan yang ditunjukkan sebagai ungkapan rasa syukur, akhirnya kediaman Ais kembali normal seperti sedia kala. Hanya saja yang membuat Rey bingung karena tidak ada kamar khusus untuk mereka berdua tempati.
"Ais sayang! Apa tidak ada kamar untuk kita berdua, " tanya Rey binggung.
Melihat ekspresi suaminya yang sangat mengemaskan membuat Ais tersenyum gemas.
"Imamku sayang. Selama satu minggu kedepan kita tidak akan punya kamar sendiri, karena begitulah kebiasaan yang ada dikampungku ini, sampai kita selesai menyelenggarakan selamatan untuk memgumumkan pernihakan kita, setelah selesai acara itu barulah kita akan punya kamar pengantin sendiri." Ais menjelaskan dengan menahan tawanya, sebab ekspresi Rey yang jelas kecewa.
Ya, di kampung Ais, ada yang namanya Adat pingitan pengantin .Di mana pengantin pria dan wanita tidak diperbolehkan saling berdekatan sampai hari pelepasan pingitan berupa selamatan untuk kelanggengan pernikahan kedua pengantin. Sekarang kebiasaan ini biasanya akan berlangsung selama satu minggu.
Ais sangat memahami perasaan suaminya- Rey. Dia akan merasa begitu tersiksa karena menahan hasratnya untuk bersama dirinya.
Sebenarnya, adat pingitan ini mempunyai tujuan untuk lebih mengeratkan cinta kasih di antara pasangan yang baru menikah.
"Jadi kak Rey akan tidur dimana?" Akhirnya Rey memberanikan diri untuk bertanya.
"Imamku, kamu akan tidur bersama semua pria di ruang depan sampai waktu pingitan itu berakhir," jelas Ais sambil kembali tersenyum pada suaminya..
"Jadi selama itu kakak harus berpuasa dong?" Rutuk Rey kesal.
Ais tak kuasa menahan tawanya melihat ekspresi lucu sang suami yang merajuk. Kejadian ini, tentu saja adalah hal sangat langka untuk bisa dinikmati.
Akhirnya, Ais hanya mengangguk dan tersenyum.
Rey merasa sangat kesal, karena semua samgat jauh dari ekspektasinya. Dalam benakknya, setelah pulang dari rumah sakit, ia akan leluasa bermesaraan dengan istrinya. Namun, semua angannya memghilanh seketika seperti embun pagi yang ditelan sinar matahari di pagi hari. Rey merasa adat yang di kampung istrinya sangat menyebalkan.
Setelah malam itu, mereka benar-benar dipisahkan. Rey hanya bisa menatap nanar istrinya dari kejauhan.
Tunggu saja setelah lepas pingitan ini. Aku akan memakanmu sampai habis istriku tersayang, batin Rey.
Demikian pun dengan Ais, ia menyimpan setiap rasa rindunya untuk kekasih halalnya dalam untaian doa disepertiga malamnya.
Bagi seorang Rey waktu terasa begitu lama berlalu. Menunggu waktu satu minggu, tetapi berasa satu tahun. Setiap harinya, dia habiskan bersama ayah dan kerabat Ais yang laki - laki untuk mempersiapkan acara pelepasan pingit mereka. Mulai dari mencari kayu bakar, membuat bangsal untuk acara nanti kalau di kota seperti tenda untuk pesta, bahkan menyiapkan umbut- bagian dalam pohon- kelapa untuk dijadikan sayuran.
__ADS_1
Selama melakukan kegiatan itu, tubuh badan Rey terasa remuk. Tentu saja sebabnya adalah karena Rey tidak terbiasa untuk mengerjakan semua pekerjaan kasar itu. Lelaki itu biasanya hanya duduk manis di depan komputer.
Ya Tuhan, begini amat nasibku menikahi gadis kampung dengan adat yang kolot ini, andai saja aku kepala kampungnya akan aku hapus semuanya, batin Rey kesal.
Sedangkan Ais sangat menikmati masa pingintannya. Semua dilakukannya dengan riang gembira bersama kakak dan adik perempuannya. Kelak, hal seperti ini, mungkin tidak akan pernah lagi ia rasakan, karena semua akan sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing.
Dalam acara pelepasan pingitan nanti, rencananya keluarga Rey akan hadir, dan Ais juga sudah sangat merindukan Papi, Mami, dan sahabatnya Maria.
*****
Akhirnya acara inti pelepasan pingitan pun tiba.
Rey sedari habis sholat subuh di masjid terlihat sangat gembira, pasalnya hari ini semua penderitaan lahir batin yang ia rasakan akan segera berakhir.
"Alhamdulillah, akhirnya hari ini semuanya akan berakhir. Ais, tunggulah kekasihmu ini," monolog Rey yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri tentunya.
Rey tidak henti-hentinya tersenyum sendiri, dia mengingat kekonyolan pikirannya yang telah melayang kemana-mana.
"Asstaqfirullah. Apa yang telah aku pikirkan? Ampuni aku, ya, Allah." Rey segera kembali ke akal sehatnya.
Keluarga Rey sudah datang, dan mereka semua disambut dengan penuh hormat oleh keluarga Ais. Keluarga itu adalah orang - orang yang sangat berjasa dalam kehidupan Ais-putri mereka.
Acara berlangsung dengan khidmat, Ais tampak sangat cantik menggunakan gamis putih yang sederhana. Namun, dia tetaplah terlihat sangat elegan senada dengan hijabnya yang tetap syar'i. Gamis cantik itu adalah pemberian mami Rey yang dipesan khusus dengan harga yang fantastis.
Rey memandang Kekasihnya tanpa berkedip. Meski hanya mengenakan riasan sekedarnya, tetapi mampu memancarkan aura kecantikan Ais yang terpendam.
Semua mata memandang takjub pada pengantin wanita. Cantik, itulah satu kata yang dilontarkan para tamu. Rey merasa sangat kesal, pasalnya bukan hanya kaum perempuan yang memandang takjub Aisnya, melainkan kaum adam juga. Ingin rasanya Rey memasukkan Ais dalam kelambu saja biar tak ada yang melihatnya. Sifat posesif Rey semakin hari semakin tampak. Rangkaian acara demi acara telah selesai dijalani, dan semua telah kembali normal.
Rumah kediaman keluarga Ais yang tidak terlalu besar maka keluarga Rey memutuskan untuk kembali ke kediaman keluarga mereka yang memang sedikit jauh dari rumah Ais.
Setelah mengantar kepergian keluarga Rey dan Ais tampak sangat kelelahan, dan memutuskan untuk segera beristirahat.
Ais segera membersihkan diri di kamar mandi, dan saat akan berwuhu tiba-tiba.
"Ya Allah, tamu bulananku datang, pasti kak Rey akan semakin kesal," ucap Ais sambil menahan tawa. Ia membayangkan ekspresi kesal suaminya.
Ais telah selesai berganti pakaian dan segera menyuruh kak Rey untuk membersihkan dirinya juga.
Rey membersihkan dirinya dengan sangat cepat, ia tak sabar ingin segera menunaikan kewajibanya sebagai suami istri seutuhnya.
"Ais sayang!" sapa Rey mesra. "Apa malam ini kita bisa menunaikan ibadah sebagai suami istri yang seutuhnya?"tanya Rey dengan senyum yang begitu manis, semanis gula aren buatan Pak Udin di kampung Ais.
"Imamku yang soleh dan ganteng, sepertinya kita akan kembali menundanya, karena tamu bulananku baru saja datang," jawab Ais sedikit geli menahan tawa, karena ingin melihah reaksi suaminya.
"Apaaa? ya Tuhan, puasa lagi." bisik Rey sambil memeluk manja istri tercintanya.
Ais tertawa melihat tingkah konyol suaminya. Akhirnya malam itu Rey harus menunaikan salat malam seorang diri, sebab bidadarinya sedang mendapat dispensasi. Ais dengan setia menemani suaminya sebelum akhirnya mereka berdua berlayar ke alam mimpi yang indah.
Ditengah malam...
Ais terbangun karena suara aneh yang Rey keluarkan membuat tidur Ais terganggu, ingin rasanya Ais tertawa. Akhirnya keisengan Ais muncul, ia mengambil Hp dan merekam video suaminya yang sedang mengigau.
Bersambung ....
Ikuti kisah selanjutnya ya..
Thanks for reading 😍
Makasih juga like and Komennya yang menjadi penyemangat Author 😍
__ADS_1
Makasih juga yang udah kasih vote nya semoga rezekinya lancar 😍
Semoga readers loverku selalu sehat dan bahagia, aamiin
Salam Manis
🤗
Author
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan karya apik author yang lain :
Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Mengejar Cinta Ariel
Almaira My Secret Wife
My Love My Babysitter
*Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu
Kembar Tidak Identik
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
My Heart Is Only For You
*Sudrun
Penjelah Malam
Samudra
*Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
*Sisca Nasty
Mafia in Love
*Cindyelvira
Ketika Muslimah Jatuh Cinta
Istri Sholehah
*Karlina Sulaiman
__ADS_1
Mencintaimu Dalam Diam