
š»Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.š»
Happy Reading!
Ruang Makan ....
"Ayang, mulai dah kumat lagi." Ais beranjak dari duduknya menuju ke kamar untuk berwudu yang diikuti oleh suaminya.
Mereka salat isya berjama'ah setelah selesai dilanjutkan dengan zikir serta do'a. Setelah selesai baru lah keduanya kembali ke meja makan untuk menikmati makan malam spesial di hari jadi meraka yang ke delapan tahun.
Meja Makan ....
"Yang! Aku suapin ya?" Ais menatap suaminya mesra.
"Boleh, kita saling suap aja ya?" Rey menatap tak kalah mesra.
"Hmm boleh deh," jawab Ais malu-malu.
Keduanya mulai menyilangkan tangan kanannya yang telah memegang sendok, kemudian perlahan mulai mengambil nasi dan dengan sudah payah akhirnya bisa menyuapi pasangannya.
"Hhhhh, Ayang kalau kayak gini makannya nanti subuh baru kita kelar."Ais Memanyunkan bibirnya.
"Ha ... ha ... ha ...." Rey tertawa lepas melihat wajah istrinya yang telah cemberut.
"Jangan cemberut khumairohku, aku nggak mau kamu cepat menua teruslah muda bersamaku." Rey menggombali istrinya yanh semakin terlihat kesal.
"Ayang! Jangan bercanda saat makan." Ais terlihat membesarkan bola matanya yang melihat sanggar kearah suaminya.
"Iya-iya maaf." Rey segera menutup mulutnya.
"Udah Ah, kita makan masing-masing saja." Ais mulai menyedokkan nasi dengan lauk capcay dan sambal kentang yang tadi mereka buat dengan lahap.
"Ayang, tungguin jangan cepat-cepat. Nanti aku nggak kebagian." Rey protes karena melihat Ais begitu lahap menyantap makan yang sebenarnya memang sangat lezat dan maknyus. Kalau ia boleh jujur masakan istrinya bisa mengalahkan rasa masakan yang ada direstoran.
Ais pura-pura tidak mendengar ucapan suaminya ia masih terus saja makan dengan lahap.
"Kalau makanan ini habis, dan kamu tak menyisakannya untukku, makan aku akan memakanmu," ucap Rey spontan karena merasa tak bisa menghentikan istrinya. Benar saja setelah mendangar ucapannya Ais tersedak.
Uhuk ... uhuk ...!
Ais tersedak, dengan cepat Rey memberikan segelas air untuk kekasihnya.
"Pelan-pelan saja makannya, Ayang." Rey menggosok lembut punggung istrinya.
"Hmm," jawab Ais singkat dan melanjutkan makannya.
*Huhhh masih aja terus makan, padahal udah tersedak.*
Rey menatap kesal pada istrinya, kemudian ikut makan dengan lahap. Ia tidak ingin semua makanan enak bin lezat yang tersaji di meja habis di lahap sang pujaannya.
*Akhirnya dia ikut makan tanpa banyak suara.*
__ADS_1
Ais menahan sedikit senyumnya melihat Rey ikut makan dengan tenang dan lahap bersamanya. Setelah merasa kenyang Ais segera menghentikan makannya.
"Kamu udah selesai?" tanya Rey dengan mulut yang masih penuh makanan.
Ais sengaja tidak menyahuti ucapan suaminya, bukan karena ia ingin durhaka pada suaminya atau membangkang, melainkan ia ingin suaminya sadar kalau apa yang sedang dilakukannya adalah salah.
Ais berlalu membawa piring kotornya menuju tempat pencuci piring kemudian mulai mencuci piring yang tadi dipakainya untuk makan.
Setelah selesai ia kembali duduk di samping suaminya dengan tanpa suara. Ia memperhatikan suaminya makan. Sesekali pandangan mata keduanya bertemu, namun Ais sangat pandai menyimpan perasaannya kali ini.
"Ayang, aku sudah selesai." Rey menyodorkan piring bekas makannya pada Ais.
"Bersihkan! Ini masih banyak sisa nasinya." Ais mendorong kembali piring itu ke depan suaminya.
"Tapi ini sudah habis, Yang." Rey terlihat kesal.
"Ya sudah sini." Ais menarik piring yang tadi di pakai suaminya kemudian mulai memakannya hingga tak satupun butir nasi yang tertinggal di sana.
Rey menatap heran pada istrinya, memang sejak menikah belum pernah ia melihat Ais menyiksakan makanan dipiringnya meski cuma sebutir nasi. Dan ia akan mengambil makanan secukupnya tidak pernah berlebihan.
Setelah piringnya bersih Ais membawanya ketempat cuci piring dan mulai mengasuhnya.
"Oke selesai." Wajah Ais terlihat ceria seperti biasa.
*Istriku aneh, tadi wajahnha ditekuk sekarang kembali ceria, apa sih sebenarnya yang ada dipikirannya atau jangan-jangan dia hamil maka itu moodnya berubah-ubah.*
Tampak Rey Menggaruk-garuk kepalanya meski itu tidak gatal.
*Tuh kan, aneh! Sekarang malah manja.*
Rey tersenyum dan menganggukkan kepalanya meski ia bingung dengan sifat sang istri yang sebentar-sebentar berubah.
Mereka berdua sudah berjalan bergandengan menuju taman belakang yang dihiasai lampu temaran, gemericik air mancur yang ada di kolam ikan menambah suasana romantis kali ini.
"Yang duduk sini." Ais menepuk tempat kosong di sebelahnya. Posisi mereka yang tepat berada di pinggir kolam ikan benar-benar sangat pas. Sesekali kaki Ais menyentuh permukaan air yang ada dihadapannya tempat yang duduki saat ini.
"Ayang kamu pasti penasaran dan bingung kenapa aku tiba-tiba tadi makannya lahap?" Ais mainkan kakinya menyentuh air kolam.
"Iya, kok kamu tahu?" Rey tersenyum kecut, ia merasa malu karena ketahuan sama istrinya.
"Aku sengaja melakukan itu." Ais menggantungkan ucapnnya.
"Kenapa?" tanya Rey lagi.
"Agar kamu berhenti bicara dan bercanda saat makan." Ais menoleh sebentar untuk memperhatikan ekpsresi suaminya.
Rey terdiam, ia telah sangka pada istrinya. Kemudian ia memberanikan diri untuk menatap balik manik coklat yang bening milik kekasihnya itu.
"Tujuannya?"
"Agar kamu tahu kalau makan itu tidak boleh bicara apa lagi bercanda. Hal ini telah dijelaskan secara medis Ketika makan sambil berbicara yang dikhawatirkan saluran tersebut akan bingung untuk memilih, mana yang makanan atau udara. Akan berbahaya jika makanan yang dikonsumsi masuk dalam untuk jalan pernapasan. Hal yang bisa terjadi ketika makanan masuk jalan pernapasan akan menyumbat dan membuat sesak napas.." Ais memberikan alasannya.
__ADS_1
"Ooo jadi itu alasannya, aku baru tahu maaf ya tadi membuatmu tersedak, Ayang. Nah kalau yang tadi, kamu memakan semua sisa nasi di piringku?" Rey tampak penasaran.
"Nah kalau itu aku juga sengaja melakukannya. Ayang mau tahu alasannya nya?"
"Ya iya lah, masa ya iya dong!" Rey berusaha merenyah untuk menghangatkan suasana diantara keduanya.
Ais ikut tersenyum sebelum ia melanjutkan penjelasannya.
"Agama Islam mengajarkan pada umumnya agar menghargai makanan yang sedang dihidangkan. Bagaimana caranya? Jangan sampai ada sisa makanan yang ada di piring kita." Ais menjeda penjelasannya ia mau melihat apa suaminya masih penasaran.
"Apa cuma itu penjelasannya?" Rey ternyata benar masih penasaran.
"Oke kita lanjut." Ais mengelus lembut pipi suaminya.
"Ayanggg, jangan memulainya." Rey menyentuh tangan istrinya dan mengusapnya lembut.
Ais tersenyum dikulum, dan menggelengkan kepalanya.
"Oke aku lanjut." Ais menarik ujung gamisnya yang terkena air kolam.
"Imam Al-Gahazali pernah mengatakan, bahwa sebutir beras yang jadi nasi melalui proses yang panjang. Mulai dari mencari bibit, menanam, merawatnya dari serangan hama, memanen, sampai menghidangkan menjadi nasi adalah proses panjang dan melibatkan banyak orang." Ais menarik napas sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Bagaimana Islam mengajarkan umatnya dalam menghargai makanan? Rasulullah Shallallahu āalaihi wa Sallam bersabda, āJika satu suap makanan kalian terjatuh, maka hendaklah dia mengambil dan membersihkannya, lalu memakannya. Janganlah ia membiarkannya dimakan setan.ā (HR. Imam Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasaāi, dan Ahmad).
"Rasulullah juga menyunahkan untuk membersihkan piring makan agar bersih dari sisa-sisa makanan. Karena kalian tidak tahu di mana letak keberkahan makanan kalian.ā(HR. Imam Muslim dan Abu Dawud)." Ais menyudahi penjelasannya.
"Pantesan," celutuk Rey sambil menggeser duduknya semakin dekat dengan sang istri.
"Pantesan apa?" Ais balik bertanya.
"Kamu kalau makan selalu bersih piringnya, dan nggak pernah membuang sisa makanan." Rey memberikan penjelasan atas pertanyaan istrinya.
"Maka itu Hadits-hadits diatas tadi memberi pelajaran pada kita, agar tidak mubadzir, maka hendaknya kita mengambil makanan secukupnya, tidak berlebihan, agar bisa menghabiskannya. Dengan cara seperti itu, maka ada dua faidah dalam menghabiskan makanan tersebut. Pertama, kita tidak memberi makan setan dengan makanan yang ada di piring; dan kedua, dengan makanan yang habis dan tidak bersisa di piring itu akan memberi keberkahan." Ais tersenyum manis pada suaminya.
"Terimakasih sayang, aku mengerti sekarang. Ini akan menjadi ilmu pengetahuan baru buat aku. Tapi ... ngomong-ngomong apa kamu tidak merasa dingin atau mengantuk gitu?"
"Enggak!" jawab Ais spontan, yang membuat suaminya semakin gemes.
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula untuk Tap jempol serta komennya!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ke 2 ku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik. ini adalah daftar novel favoritku, kalian boleh coba untuk mampir pasti suka.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik. ini adalah daftar novel favoritku, kalian boleh coba untuk mampir pasti suka.
__ADS_1