
🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌻
Selamat Membaca!
Rumah Sakit Cinta Bunda ....
Baiklah, ibu akan istirahat sekarang tetapi benar ya besok kita pulang, dan ibu masih ingin kembali ke kebun buah itu. Ibu masih ingin memakan buah kuning itu rasanya sangat manis." Aminah tampak bersemangat.
"Iya Bu. Inshaa Allah kita pulang besok jika dokter sudah mengizinkan." Ais tersenyum.
"Baiklah ibu istirahat sekarang ya!" Aminah menepuk-nepuk bantalnya bersiap untuk tidur.
Ais memeluk sang ibu erat seolah tak rela untuk melepasnya begitu juga dengan Aminah. Namun perlahan tangan Aminah terkulai.
"Ibuuuuuuuuu!" teriak Ais histeris.
Dengan cepat ia membaringkan sang ibu yang sudah terkulai. Ais segera menekan tombol darurat yang ada tepat di atas tempat tidur sang ibu. Suami dan kakak-kakak Ais yang sudah terlelap segera terbangun dan segera mendekati Ais.
"Ibu kenapa, Ais?" tanya kak Ari yang terlihat sangat pucat wajahnya karena terkejut mendengar teriakan Ais.
"Iya Dek, ibu kenapa? Kenapa kamu berteriak?" Ali mengusap wajahnya kasar merasa sangat gusar daj khawatir terhadap ibu serta adiknya.
Namun Ais sudah menangis dalam pelukan sang suami, ia membenamkan wajahnya seolah mencari kedamaian di sana. Dengan sabar Rey merengkuh tubuh mungil istrinya, perlahan dia mengecup pucuk kepala sang istri untuk memenangkannya.
"Kenapa, hmm?" Rey berbisik di telinga sang istri. Belum sempat Ais menjawabnya tim medis sudah datang.
"Pasien kenapa?" tanya Dokter segera memeriksa Aminah.
Ais menceritakan semua yang ia dan Aminah alami sebelum hal ini terjadi. Dokter mendengarkan cerita Ais sambil terus memeriksa keadaan Aminah.
"Beliau masih ada, hanya saja kondisinya sekarang semakin kritis. Semoga saja beliau bisa melewati ini semua dalam tiga hari kedepan. Jika bisa melewati batas tiga hari, inshaa Allah harapan untuk sembuh itu ada." Dokter menyudahi pemeriksaannya.
"Kalian harus sabar dan banyak berdo'a, semoga ada mu'jizat yang Allah berikan untuk ibu kalian." Dokter itu tersenyum untuk menguatkan kami semua, sebelum akhirnya beliau berserta beberapa perawat yang ikut bersamanya keluar ruangan ibu.
"Dek, kenapa kamu nggak bangunin kita kalau tadi ibu bangun dan ngobrol sama kamu?" Ari terlihat kesal, pasalnya sudah sangat lama ia tidak menatap manik teduh milik sang ibu.
"Maaf, Kak, ibu melarangku untuk membangunkan kalian." Ais tertunduk sedih di dekat pembaringan sang ibu yang kini terbaring tak berdaya.
Ari tampak mondar mandir seperti seterikaan, ia kesal bercampur sedih. Sesekali ia menarik nafas besar dan membuangnya kasar. Melihat kegusaran kakak iparnya tentu saja Rey tak tinggal diam.
"Kak! Sebaiknya kakak segera berwudu dan salat, agar dapat merasa lebih tenang." Rey menepuk pundak kakak iparnya itu dengan lembut.
"Iya Kak, Rey benar." Ali ikut menimpali, membenarkan ucapan suami adiknya, Aisyah.
Tanpa bicara Ari menghentikan kegiatan bolak baliknya, ia berjalan menuju ke toliet yang ada di kamar sang ibu untuk berwudu. Ia hendak melakoni apa yang disarankan oleh Rey barusan.
Tidak butuh waktu yang lama, Ari segera keluar dari toliet. Kini wajahnya tampak jauh lebih tenang setelah tersirami oleh air wudu.
"Ais! Jaga ibu, kakak salat dulu di mushala depan." Tanpa menunggu jawaban Ais kini ia bertanya juga pada Ali, adik lelaki satu-satunya.
"Kamu nggak ikut salat?"
"Iya Kak, aku ikut. Kakak duluan saja ya, aku berwudu dahulu baru menyusul nantinya." Ali tersenyum pada sang kakak yang kini sudah lebih tenang tanpa riak emosi seperti tadi.
Ari segera berjalan kekuar kamar menuju ke mushala yang berada tidak jauh dari kamar sang ibu, Aminah.
Sepeninggalan kedua kakaknya, Rey mendekati sang istri yang duduk sambil membaringkan kepalanya di pinggir tempat tidur sang ibu.
"Ayang, kamu yang sabar ya. Inshaa Allah, apapun yang Allah berikan itu adalah yang terbaik nantinya." Rey kembali mengusap kepala sang istri yang tertutup hijab berwarna coklat muda.
Ais tak bergeming, pikirannya berkelana sangat jauh. Ia membayangkan kisah masa kecilnya bersama sang ibu, mulai dari masalah makan, saat mandi, saat di kebun bersama, saat mengaji, saat salat bersama, dan teringat saat melihat ibu bermunajat di tengah malam dengan linangan air mata, ia bercerita dengan sang kekasih pemilik jiwa tentang masalah kehidupan yang tengah dialaminya.
__ADS_1
Air mata Ais lolos begitu saja, ia sangat rapuh kini. Membayangkan akan kehilangan separuh jiwanya, tidaklah membuatnya merasa rela untuk melepas meski itu harua dia lakukan saat sampai waktunya.
*****
Kini lantunan azan subuh sudah bergema di seluruh pelosok rumah sakit Cinta Bunda. Irama azan yang merdu seperti para penari yang sedang meliuk-liuk, tentu saja membuat semua orang yang sehat dan normal tergetak untuk salat.
Sama seperti Ais dan suaminya mereka sudah siap untuk salat. Kedua kakak Ais juga sudah siap. Tetapi kali ini Ais tidak ikut berjamaah dengan suami dan kakak-kakaknya, ia akan salat di kamar sang ibu yang sedang dalam masa kritis.
Sebelum berangkat ke mushala, Rey menghampiri sang istri.
"Ayang, inshaa Allah siang ini ananda Alif akan kerumah sakit untuk memjengguk ibu. Sekarang dia sudah ada di rumah dan tertidur karena kecapean. Dia sudah sampai di rumah kita tadi malam." Rey berbicara dengan setengah berbisik sambil tetap membelai kepala sang istri yang sudah terbalut mukena.
"Benarkah?" Ais menyeka air matanya. Sejenak ia melupakan kesedihannya terhadap sang ibu, dan berganti dengan sedikit rasa senang karena akan bertemu putra yang amat dirinduinya.
"Inshaa Allah." Rey tersenyum dan segera berlalu menuju pintu keluar, karena kedua kakak Ais sudah berangkat duluan.
Kini hanya tinggal Ais di dalam ruangan sang ibu, ia segera memulai salat subuhnya yang diawali dengan salat sunat dua rakaat sebelum subuh. Dimana pahala salat sunat ini lebih baik dari dunia beserta isinya, makanya Ais selalu berusaha sebisa mungkin untuk salat sunat dulu sebelum salat subuh.
Selesai salat Ais segera membaca Al Qur'an yang sudah menjadi kebiasaannya sejak duduk di bangku SMP. Sedangkan kedua kakaknya, Ari dan Ali, sehabis salat ikut pulang bersama Rey sekalian menjemput Alif . Barulah nanti ada Ara, Ani, serta Amy dan juga Anis yang akan ikut ke rumah sakit untuk ikut menjaga Aminah, ibu mereka.
Saat di kesendiriannya Ais tak berhenti menangis sambil memegang jemari kaki sang ibu yang mulai dingin. Ais semakin yakin jika ibunya akan segera meninggalkan dirinya untuk selamanya. Hal ini lah yang membuat Ais enggan jauh dari sang ibu, meski tubuhnya sudau terasa lelah dan letih. Namun ia sama sekali tidak menghiraukannya, Ais sudah bertekad akan selalu ada di sisi sang ibu hingga di penghujung nafasnya.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Ais masuk ke toilet untuk membersihkan dirinya dan berwudu untuk menunaikan salat duha. Selesai membersihkan dirinya Ais kembali menyentuh kaki sang ibu. Kini rasa dingin itu telah menjalar hampir ke paha sang ibu.
Ais segera membentang sajadahnya dan mulai salat duha, dalam sujud panjangnya Ais memohon segala ampunan dan kemudahan untuk sang ibu berpulang, ia akan berusaha untuk tegar dan ikhlas melepaskan sang ibu.
Saat sedang berzikir ponsel Ais berdering, ia pun segera mengangkatnya.
"Halo, Assalamu'alaikum! Kenapa kak Ara?" tanya Ais yang menerima teleponnya.
"Kami sebentar lagi akan berangkat, apa bapak juga kami ajak ya? Kasihan beliau minta ikut." Ara menjelaskan maksudnya menelpon.
"Baik, Dek! Kami segera berangkat." Ara mematikan ponselnya.
Kini Ais kembali bersedih rasa dingin itu kini sudah merambat sampai ke perut sang ibu.
"Yaa Allah, jika memang Engkau hendak mengambil ibuku tolong permudahkanlah, ampunilah segala dosa-dosanya dan jadikanlah setiap perbuatan baiknya menjadi amal ibadah untuknya," gumam Ais sambil memegang jemari ibunya yang semakin dingin.
Saat ini waktu tepat menunjukkan jam sepuluh pagi, terlihat dada sang ibu mulai bergelombang turun naik, dan terlihat ada reaksi seperti orang yang sedang gelisah. Ais semakin tegang, benarkah sang ibu akan segera meninggalkannya. Ia segera mendekat pada Aminah.
Dengan lembut Ais berbisik di telinga sang ibu, Ais yakin kalau ibunya pasti akan mendengar apa yang ia bisikan.
"Bu, jika ibu ingin pergi sekarang, pergilah Bu. Inshaa Allah kami sudah ikhlas, pergilah ibu dengan tenang, aku akan menyampaikan amanah ibu pada adik dan kakak serta bapak," bisik Ais di telinga sang ibu.
Tampak ada reaksi dari sang ibu, buliran bening mengalir dari sudut matanya yang terpejam.
"Bu, ikuti kata-kata Ais ya! La ilaha illallah," ucap Ais perlahan di telinga kanan sang ibu. Tampak perlahan mulut Aminah mengikuti ucapan sang anak meski tidak terdengar tetapi Ais bisa menyaksikan sang ibu mengikuti ucapannya. Perlahan tapi pasti tubuh Aminah mulai dingin dan melemah. Mulutnya tertutup rapat dengan menyunggingkan sebuah senyum terindah di penghujung hayatnya.
"Innalillahi wainnalillahi rojiun, yaa Allah ibu benar-benar telah pergi," ucap Ais lirih sambil terisak.
Ais tak lagi dapat berkata-kata, hanya air mata saja yang terus menetes perlahan di kedua pipinya yang mulus. Ibunya kini benar-benar telah pergi untuk selama-lamanya. Dia tidak lagi merasakan sakit, ia telah tenang kembali kepangkuan sang illahi. Dzat yang maha memiliki segalanya termasuk jiwa kita sebagai makhluknya.
Ingatlah wahai saudaraku pengucapan 'La ilaha illallah' sangat diharapkan menjadi ucapan terakhir yang keluar dari bibir kita saat di penghujung usia. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW; " Siapa saja yang ucapan terakhirnya ‘La ilaha illallah', masuk surga." Maksudnya ia masuk surga bersama orang-orang yang beruntung di akhirat. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang diwafatkan dalam husnul khotimah.
Selamat jalan ibu, do'aku selalu ada untukmu sampai akhir hayatku. Semoga janah Allah adalah tempatmu.
Bersambung.....🌻
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
__ADS_1
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
My Prince Fauzan
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
Ceo dingin dan Gadis Kampung
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Ceo Somplak
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Di bumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
* Syala Yaya
Istri kedua tuan Krisna
* Cherin Kauma
l Love My Army Wife
*Oktavia Tresiani
Pacarku Hantu
__ADS_1