
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. 🌻
🌻Mobil Rey 🌻
Setelah negosiasi untuk rencana ke mall, kini mobil itu akhirmya bergerak juga menuju kediaman mereka, sedangkan lima orang yang berada dibelakang menjadi pendengar setia kedua pasutri tersebut.
"Hemm dasar Umi dan Abi, selalu saja begitu, " ucap Alif yang membuat semua tertawa.
Sepanjang perjalanan menuju kerumah mereka mobil menjadi sangat ramai padalnya ketiga anak Ais dan Rey tidak ada yang tidur, sikembar asyik berceloteh sambil bertepuk tangan.
"Mi ... mi ...." ucap Ira sambil menarik jilbab Ais.
Melihat Ira menarik jilbab uminya Iza menangis merasa tidak bisa menarik jilbab uminya juga karena posisinya yang digendong oleh Bi Ijah agak jauh dari Ais. Suara tangisnya semakin nyaring saat Ais tersenyum padanya.
"Aduhhhh Dedek Iza jangan nangis dong, berisik nih," ucap Alif sambil menutup telinganya.
"Umi ayo dong ambil Dedek Iza biar dia diem," ucap Alif lagi.
"Iya sayang, sini Dedek Iza biar Umi yang gendong," ucap Ais.
Kini secara ajaib Iza langsung diam, karena sudah digendong oleh Ais, dan sekarang gantian Ira yang menangis karena Iza digendong Ais.
"Haduhhh gini deh repotnya punya adek kembar, yang satu nangis yang satu diam, dan eh yang satu mulai diam yang atu ikut nangis," ucap Alif sambil menepuk keningnya.
Semua tertawa melihat tingkah lucu Alif yang pusing dengan kedua adiknya.
"Babang Alif yang sabar ya, harus sayang sama adeknya," ucap Rey sambil tersenyum.
"Iya Abi, Babang Alif sayang kok sama Dedek Iza dan Ira." Mencium kedua adiknya yang sudah diam tentunya.
"Alhamdulillah, Umi senang mendengarnya, teruslah berkasih sayang sesama adik beradik sampai akhir kehidupan kalian ya anak - anak Umi dan Abi," ucap Ais sambil melirik ketiga anaknya.
Bi Ijah dan Lela ikut tersenyum, selama bekerja dengan Ais dan Rey, belum pernah keduanya mendengar Ais dan Rey berkata kasar pada ketiga anaknya.
Tak terasa kini mereka telah sampai dikediaman mereka. Perlahan mobil memasuki pekarangan rumah dan mulai berhenti.
Ayah dan ibu Ais telah menunggu didepan pintu menyambut cucu dan anak mantunya.
"Assalamualaikum Bu ... Yah," ucap Ais mencium tangan kedua orangtuanya yang diikuti oleh suami dan anak - anaknya.
"Yah ... Ibu ... kami berdua keluar lagi ya, mau membeli kebutuhan bulanan anak - anak dan rumah," ucap Rey.
"Iya Nak, kalian hati - hati ya jangan terlalu larut pulangnya.
"Inshaa Allah Yah ... Bu ...." ucap keduanya barengan.
"Kami titip anak - anak ya bi Ijah ... Lela ... kalau nanti mereka agak rewel obatnya jangan lupa dikasih, soalnya mereka habis disuntik tadi," ucap Ais sambil mencium ketiga buah hatinya.
Setelah berpamitan kini Rey dan Ais sudah kembali masuk ke mobil untuk menuju ke mall. Kini mobil perlahan mulai bergerak meninggalkan halaman rumah dan semakin menjauh.
Disepanjang perjalanan menuju ke mall keduanya seperti orang yang baru pacaran saja, sesekali Rey melirik kekasihnya lewat sepion dan yang dilirik tersenyum dengan wajah yang sudah merona.
"Ayang ... aku sekarang merasa kalau kita baru pacaran saja, walaupun sekarang kita sudah punya tiga anak, tetapi rasanya kita masih seperti pengantin baru, aku bawaannya mau nempeeeeel terus sama kamu," ucap Rey sambil melirik istrinya.
"Heem," jawab Ais singkat.
Dengan cepat mata Rey mendelik.
"Ayang ... kok gitu sih jawabnya, hemat amat," protes Rey dengan bibir yang sudah cemberut.
"Apaan sih Yang, emang kamu mau aku jawab bagaimana?"
"Jawab yang panjang lah, bilang aku sweet kek atau aku gombal kek, atau yang lain juga boleh ... ini cuma ... heem ... pelit amat."
"Ayang jangan marah dong, nanti cepat tua lo." Mencubit hidung Rey.
"Nah gitu dong, pegang - pegang aku kek atau lirik - lirikan gitu."
"Ayang ...." Tersenyum sambil mengulum bibirnya.
"Yang ... plis deh jangan mengulum bibirmu, nanti aku khilaf." Melirik Ais.
Dengan cepat ais menutup bibirnya dengan tangannya, wajah Ais sudah merona mendengar gombalan suaminya. Tiba - tiba Rey merutuk.
"Huhhh sudah sampai rupanya."
"Loh kok marah sih Yang, bukannya bersyukur kita sudah sampai dengan selamat." Memegang tangan suaminya.
"Iya sih Yang maaf, aku cuma kesal aja nggak bisa lagi ngegombalin kamu." Memancungkan bibirnya.
Ais tersenyum melihat tingkah manja suaminya dan perlahan Ais mendekati wajahnya pada wajah suaminya, dan ia mencium pipi Rey lembut.
"Ayang ...." Ucap Rey kaget.
"Udah ah yuk kita turun." Membuka sitbelt.
"Stop! Jangan turun dulu biar aku bukakan pintunya.
Dengan cepat Rey turun dan membuka pintu buat Ais. Perlahan ia mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Ais. Setelah Ais menyambut tangannnya perlahan Rey mencium lembut tangan istrinya.
"Ayang udah dong, ini tempat umum lo," protes Ais.
"Biarin kita udah sah." Manarik Ais keluar mobil.
Ais hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang manja. Dan benar saja perbuatan Rey menjadi bahan tontonan untuk orang - orang yang ada disekitaran parkiran mall.
"Tuh kan Yang, kita jadi bahan tontonan," ucap Ais sedikit kesal.
"Biarinlah Yang, yang penting sekarang kita masuk."
🌻Didalam Mall 🌻
Akhirnya keduanya memutuskan untuk segera masuk ke mall. Dari awal masuk saja keduanya sudah jadi bahan perhatian orang - orang karena Rey tiba - tiba menjadi sangat posesif, ia memeluk erat pinggang istrinya.
"Ayang lepasin dong, nggak enak dilihatin oramg - orang," berbisik ditelinga Rey.
"Yang jangan berbisik nanti kau membangunkan komandan perangku."
"Tus," Ais mencubit perut suaminya.
"Auuu," sakit Yang.
"Makanya jangan gombal."
"Iya deh ... iya, kita kemana dulu Yang?"
"Bagian perlengkapan mandi ya." Melirik Rey.
"Oke nggak masalah."
__ADS_1
Keduanya berjalan menuju ke lorong yang menyiapkan perlengkapan mandi mulai dari. bayi hingga orang dewasa. Sedang asyik memilih sabun, sampo, dan sikat gigi anak, tiba - tiba Hp Rey berdering.
"Halo Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam,ini betul dengan Pak Reyhan?"
"Iya betul, tapi maaf ya ini dengan siapa?"
"Saya Fransisca Pak, klien baru yang ngaju kontrak kemarin."
"Oh iya, apa ada yang bisa saya bantu Bu?"
"Eh iya Pak tapi tolong jangan panggil saya Ibu kesannya tua banget, saya masih lajang Pak."
"Oh maaf kalau begitu saya panggil Nona saja."
"Apa saya bisa ketemu Bapak sekarang sekalian kita makan malam, soalnya tadi sore saya hanya ketemu sekretaris Bapak saja."
"Ehhmm tapi apa masih ada yang perlu dibahas Sis, rasanya semua sudah clear."
"Iya sih, saya hanya mau kenalan lebih jauh dengan Bapak biar kerjasama kita bisa lancar."
"Baiklah temui aku di mall Anggrek, kita makan malam disini, kebetulan saya lagi di mall Anggrek."
"Oke, saya meluncur sekarang."
Seorang Fransisca tersenyum lebar, ia merasa menang, karena menurut kevin seorang Reyhan tidaklah mudah untuk diajak ngedate, namun kenyataannya hanya dengan sekali telepon ia berhasil mengajak Reyhan makan malam.
Fransisca telah merias dirinya dengan sangat cantik, ia berdandan layaknya selebriti dengan mengenakan gaun malam dengan belahan dada yang rendah berwarna hitam dan panjangnya hanya setengah paha,ditambah bahan baju itu sesuai dengan lekuk tubuhnya yang seksi,membuat kulitnya yang putih bersih terekspose sempurna ditambah lagi memang parasnya yang cantik membuatnya semakin cantik.
"Oke sudah cantik, sekarang waktunya berangkat, aku yakin Rey akan bertekuk lutut malam ini, dan tentunya ini akan menjadi malam yang panjang buatku," ucap Fransisca pada dirinya sendiri dan tersenyum.
Kini mobil Fransisca telah meluncur deras menuju ke mall Anggrek tempat ia janjian dengan Rey untuk makan malam.
Sementara itu, Rey segera menemui Ais yang sedang sibuk belanja.
"Yang sebentar lagi akan ada klien aku yang datang untuk mengajak makan malam, jadi sekalian kita makan bareng ya?"
"Iya Yang, tapi selagi aku belanja kamu ngobrol aja dulu dengan klienmu itu ya, ini aku sebentar lagi selesai."
"Baiklah sayang tapi jangan lama - lama ya, soalnya klienku itu perempuan, kalau nanti dia menggodaku bagaimana?"
"Emang kamu mau digoda wanita yang bukan istrimu?"
"Enggak."
"Ya udah makanya aku percaya Ayang nggak akan macam - macam."
Dengan cepat Rey memeluk istrinya dari belakang.
"Aku makin mencintaimu Khumairohku." Mencium kepala Ais dari belakang.
"Ayang ... ini di mall bukan dikamar kita."
"Iya maaf aku khilaf mulu kalau didekatmu."
"Gih sono nanti klienmu udah datang."
"Aku udah pesan meja nomor 8 nanti kamu cepat datang ya, aku nggak enak nih tanpamu Ayang."
"Iya Inshaa Allah aku akan cepat selesai."
Tak lama menunggu seseorang menyapa Rey.
"Maaf apa ini meja 8 dengan Pak Reyhan," ucap seorang wanita dengan lembut.
"Iya benar."
*Astagfirullah pakainnya batin Rey.*
"Silahkan duduk," ucap Rey dengan menundukkan pandangannya dalam hatinya tak henti ia beristiqfar.
"Bapak apa saya boleh panggil Mas Rey gitu biar lebih akrab," ucap Fransisca memulai aksinya.
"Maaf sepertinya saya keberatan, panggil saya Pak saja."
"Kesannya tua lo kalau dipanggil Pak."
"Saya memang sudah tua kok, nggak apa - apa."
Wajah Fransisca sudah memerah menahan malu dengan ucapannya, tetapi ia tidak menyerah begitu saja untuk menaklukkan Rey.
"Ya sudah kalau nggak boleh aku panggil Pak saja."
"Bapak sudah pesan makanan?"
"Belum."
"Kalau begitu aku pesan sekarang ya."
"Oh silahkan."
Fransisca segera memesan makanan kesukaannya dengan dua porsi, namun diralat oleh Rey.
"Pesan tiga porsi ya."
"Wah Bapak makannya banyak ya?"
"Ya begitulah."
Tak lama pesanan merekapun datang dan Fransisca segera mengajak Rey makan.
"Yuk Pak kita makan." Melihat kearah Rey.
"Oh ia silahkan, tapi maaf ya saya permisi ketoilet dulu ya sebentar."
"Iya Pak silahkan, tapu jangan lama - lama ya."
Rey segera ketoilet, ia tidak mau makan bareng Fransisca yang terlalu seksi.
Sedang makan akhirnya Ais datang. Semua belanjaannya sudah ia masukkan kedalam mobil mereka.
"Maaf terlambat," ucap Ais dengan tersenyum.
Merasa terganggu Fransisca sedikit mendongkak.
"Maaf kamu siapa? Sepertinya anda salah meja," ucapnya dengan nada sedikit tinggi.
Namun Ais menaggapinya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Enggak kok aku nggak salah meja, ini benar meja delapankan, Pak Rey nya mana?"
"Apa hubungan anda dengan Pak Rey gadis kolot?"
"Saya istrinya." Mengulurkan tangan.
Namun tangan Ais ditepis oleh Fransisca.
"Cih kalau orang tampan dan tajir seperti Pak Rey itu banyak yang suka ngaku - ngaku ya, asal kamu tahu ya aku itu pacar barunya Pak Rey." ucap Fransisca menyombongkan diri.
Ais hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya kemudian segera menarik kursi hendak duduk.
"Hei jangan duduk disitu, itu tempat Pak Rey," ucap Fransisca marah dengan cepat ia mengambil syrup didepannya dan menyiramnya pada Ais.
"Byurrr."
"Astagfirullah halazim apa yang kamu lakukan," ucap Ais mengebas jilbabnya.
"Kamu boleh saja cantik, tetapi Rey tidak akan tertarik melihat pakaianmu yang kolot." Tersenyum sinis.
Sedang mengebas jilbabnya Rey datang memghampiri keduanya.
"Sayang apa yang terjadi? Kenala kamu basah?"
Mendengar panggilan sayang yang Rey ucapkan wajah Fransisca telah memucat, ia yakin semua usahanya kerjasama akan hancur.
"Oh ini tadi aku yang kurang hati - hati sayang, tidak melihat pelayan membawa minuman jadi deh aku ketumpahan minuman," ucap Ais yang tak ingin masalah menjadi panjang.
"Oh ya udah kamu cepat ganti baju gih, nanti kamu masuk angin, yuk aku temenin ya."
"Oh ya Nona Fransisca ... kenalkan ini istriku Aisyah."
Tanpa canggung Aisyah segera mengulurkan tangannya yang disambut gemetar oleh Fransisca.
"Maaf ya kami tinggal dulu sebentar." Segera merangkul pinggan Ais.
*Uh sebel ternyata benar wanita kolot itu istrinya, tetapi mengapa wanita itu tidak mengatakan yang sebenarnya, apa yang dia mau dari aku, batin Fransisca.*
Tak butuh waktu lama Ais dan Rey telah kembali, dan Ais semakin cantik dengan balutan gamis pink dengan motif bunga putih dan dipadu dengan jilbab yang senada.
"Maaf ya harus menunggu."
Kini mereka makan dengan tenang hanya Fransisca yang tampak gelisah.
"Maaf apa boleh Bapak tinggalka kami berdua saja," pinta Fransisca.
Rey merasa heran dan menatap istrinya, dan Ais menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah saya permisi dulu." Mendorong kursinya dan pergi meninggalkan keduanya menuju kasir.
"Ada yang bisa saya bantu," tanya Ais.
"Apa yang kamu mau? Mengapa kamu menutupi semuanya?"
"Pertama aku tidak mau apa - apa, dan yang kedua aku menutupinya karena aku tidak ingin masalah kecil ini akan berefek panjang untuk bisnis kalian."
Mendengar jawaban Ais barulah Fransisca melemah.
"Ehmm maafkan saya, dan terimakasih untuk semuanya."
"Sudahlah tidak perlu dipersoalkan lagi, aku sudah memaafkanmu karena ini cuma salah Faham, dan untukmu sebaiknya berpakaian lah yang lebih rapi, kasihan nanti suamimu kalau semua miliknya kau umbar pada semua lelaki yang tak seharusnya melihat semuanya yang bukan mikik mereka."
Mendengar ucapan Ais yang memang mengena membuat Fransisca seperti tertampar, dan ia merasa sangat malu untuk itu.
"Iya terimakasih banyak, sekali lagi maafkanlah aku."
Ais segera merangkul Fransisca, diusapnya lembut pundak gadis itu.
"Kamu sangat cantik, inshaa Allah kamu akan mendapatkan seseorang yang baik dan tampan juga."
Dari kejauhan Rey tersenyum melihat istrinya. Ia sungguh bersyukur memiliki Ais dalam hidupnya. Ais memang selalu dapat memberikan solusi bagi masalah siapapun itu.
Setelah selesai Rey segera menghampiri mereka dan Fransisca segera mohon pamit.
"Ayang ... terimakasih untuk segalanya." Mencium kening Ais lembut.
Ais menatap suaminya dengan penuh cinta dan keduanya saling bergandengan menuju pintu keluar mall. Dan semua orang memandang takjub pada kedua pasutri itu.
Bersambung.....
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
dan karya apik author yang lain :
* Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
* Almaira My Secret Wife
My Love My Babysitter
*Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu
Kembar Tidak Identik
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
My Heart Is Only For You
*Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Sudrun
Penjelah Malam
Samudra
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
*Sisca Nasty
Mafia in Love
__ADS_1