
🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌻
Selamat Membaca!
Kamar Abdullah ....
"Ais tidak melarang bapak mau kemana jika memang itu pilihan bapak. Namun jika Ais boleh egois maka Ais akan meminta bapak untuk tetap disini." Ais berbaring manja di pundak sang ayah.
Abdullah membelai lembut kepala putrinya, ia sangat menyayangi semua anaknya. Hal ini membuatnya bingung. Apakah akan tetap tinggal bersama Ais atau akan memilih tinggal pada salah satu anaknya yang lain.
Melihat ayahnya yang terdiam Ais merubah posisi duduknya menghadap sang ayah.
"Semua terserah pada bapak, Ais tidak akan menahan atau mengintimidasi keinginan bapak," ucap Ais sambil menggenggam kedua tangan sang ayah.
"Bapak tahu, kamu sungguh mengerti perasaan bapakmu ini ... dan maafkankah bapak yang hanya bisa menyusahkan kamu." Abdullah menunduk.
"Bapak dan ibu tidak menyusahkan bagi Ais. Sedari kecil kalian sudah mengurusi kami dengan penuh cinta kasih, memberikan penghidupan yang layak bagi kami sehingga kami bisa seperti sekarang ini. Jadi tolong bapak jangan merasa membebani kami, sungguh apa yang kami lakukan sekarang tak akan pernah bisa membalas semua yang telah bapak dan ibu lakukan untuk kami." Ais menyeka air mata yang tetiba turun membasahi pipinya.
"Iya-iya, maafkan bapak. Bukan maksud bapak begitu. Kalau menurut kamu bagaimana?" Abdullah tersenyum memandang putrinya.
"Ais ingin bapak tetap disini. Tapi Ais tidak boleh egois. Biarlah bapak yang akan menentukan." Akhirnya Ais pun dapat kembali tersenyum.
"Baiklah, Pak. Sekarang Ais lihat anak-anak dulu, bapak jangan lupa segera makan ya. Bentar lagi masuk waktu zuhur." Ais beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kamar sang ayah.
Abdullah tersenyum, ia sangat menyayangi Ais. Sejak kecil anak perempuannya yang satu ini memang memiliki rasa kasih sayang yang bersar. Berbeda dengan saudara-saudaranya yang kain. Ais tipe anak yang pekerja keras, rajin, jujur, serta penyayang.
*****
Ais menemui kedua putri kembarnya yang sedang bermain bersama bi Ijah dan Lela. Melihat kedatangan sang ibu membuat kedua gadis kecil itu berlomba untuk memeluknya.
Aispun sedikit terhibur dengan kehadiran dua putrinya yang cantik menggemaskan. Mereka semakin lincah saja, bahkan sekarang sudah bisa dengan sedikit berlari.
Ara dan Aza tumbuh menjadi pribadi yang sedikit berbeda, Ara seperti Ais sedangkan Aza mewarisi sifat sang ayah. Kini keduanya sudah berumur dua tahun tepat dengan hari berpulangnya sang nenek. Itu yang membuat keduanya tak merayakan hari kelahiran mereka. Hanya do'a bersama yang mereka gelar sebagai rasa syukur.
Puas bermain dengan kedua putrinya kini Ais menghampiri putranya yang masih di kamar.
Klek! Suara pintu handle pintu terbuka. Rupanya Alif sudah bangun, ia sedang duduk termenung sesekali ia menyeka air matanya.
"Kamu kenapa, Babang?" Ais duduk mendekati putranya.
"Babang masih sedih karena kehilangan nenek. Padahalkan nenek Babang cuma satu, sekarang nggak ada lagi," ucap Alif sambil terisak.
"Babang harus ikhlaskan nenek, supaya nenek tenang di alam sana. Lebih baik sekarang Babang do'akan nenek semoga diterima di Jannah Allah, SWT." Ais memegang kedua pundak putranya.
"Iya, Umi." Alif mengangguk tanda memahami perintah sang ibu.
"Sekarang siap-siap saja dulu ya, sebentar lagi masuk waktu salat zuhur." Ais mengingatkan putranya.
"Iya, Umi." Alif bergegas turun dari tempat tidurnya sementara sang ibu berjalan keluar kamar sang anak menuju kamar mereka.
*****
Waktu salat zuhur ....
Semua yang laki-laki sudah bersiap untuk salat berjama'ah ke masjid, sedangkan yang perempuan akan salat berjama'ah di mushala rumah Ais. Nanti malam rencananya mereka akan mendengarkan keputusan Abdullah tentang kemana ia akan tinggal setelah ini.
Semua telah selesai salat zuhur, kini mereka sudah berkumpul di meja makan. Makan kali ini terasa sangat spesial sekaligus menyedihkan. Pasalnya besok semua akan kembali pulang ke tempat masing-masing.
Mereka sudah hampir tiga minggu bersama, dan sudah waktunya untuk kembali. Mereka semua terikat dengan pekerjaan kecuali Any yang memang murni menjadi seorang ibu rumah tangga. Sedangkan yang lain bekerja, termasuk juga Ais meski ia tidak fulltime bekerja.
Sedang menikmati santap siang, Rey datang dengan banyak bawaan ditangannya, namun Ais dengan sigap membantunya untuk menurunkan bawaannya dan meminta sang suami untuk santap siang bersama.
"Ayo Yang, kita makan dulu. Biarkan semuanya di sini dulu." Ais menarik tangan sang kekasih kemudian menarik kursi kosong disampingnya.
Rey tersenyum sebagai sapaan untuk semua dan duduk manis di samping sang istri yang sudah mengambilkan aneka makanan kepiring kosong sang suami.
"Ayang, kok banyak sih makanannya." Rey berbisik di telinga sang istri.
"Suapaya tenagamu cepat pulih setelah bekerja seharian." Ais membalas bisikan suaminya.
"Bukan karena yang lain?" Rey mulai menggombali sang istri.
"Apaan sih, Yang." Wajah Ais sudah bersemu kemerah-merahan.
Semua yang ada di meja makan ikut tersenyum melihat ulah keduanya. Untuk sesaat mereka dapat merasakan sedikit rona bahagia.
*****
__ADS_1
Suasana yang sedikit menghangat di meja makan kini mulai berganti dengan suasana hening. Semua sedang sibuk berkemas, Abdullah dan cucunya Alif hanya dapat memandang kesibukan mereka.
Kali ini Rey dan Ais juga ikutan sibuk membagikan oleh-oleh untuk saudara-saudaranya, tak terasa kesibukan mereka menyita banyak waktu, yang seharusnya dihabiskan untuk bersama karena besok semua akan kembali berpisah dan melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.
Abdullah merengkuh Alif, cucu yang dekat dengannya sedangkan yang lain hanya dapat ditatapnya lewat foto. Ia merasa sangat dekat dengan anak-anak Ais serta Rey, terlebih Alif yang sedari lahir selalu bersamanya dengan Aminah, mendiang istrinya.
"Babang Alif, bagaimana menurutmu jika kakek pergi ikut bersama dengan paman atau tantemu?" tanya Abdullah ingin tahu pendapat cucunya.
"Babang sayang kakek, jangan pergi ya?" renggek Alif manja sambil memeluk Abdullah.
"Hmmm iya kakek tidak akan meninggalkan Babang, kalaupun nanti kakek jadi pergi, kakek tidak akan lama." Abdullah balas memeluk cucu kesayangannya.
"Kakek janji?" Alif mengangkat jari kelingkingnya.
"Inshaa Allah janji," Abdullah ikut mengangkat jari kelingkingnya.
Dua orang kakek dan cucu itu tersenyum sambil saling mengaitkan kelingking sebagai tanda perjanjian diantara keduanya.
Melihat semua anak-anaknya yang masih sibuk menjelang Ashar, Abdullah dan Alif bergandengan menuju ke mushala. Ananda Alif juga besok lusa akan segera berangkat ke Arab Saudi untuk bertanding.
Setelah melihat jam dinding keemasan yang terpasang di sudut ruangan keluarga Ais dan Rey sangat terkejut karena sudah masuk waktu salat ashar, mereka berdua serta saudaranya yang lain segera bergegas ke mushala.
Sampai di mushala mereka semua tertegun, bahkan sampai meneteskan air mata, sudah sejak lama mereka tidak mendengar Abdullah, ayah mereka mengumandangkan azan.
Lantunan azan sang ayah sungguh sangat merdu, dulu ayahnya adalah mu'adzin di kampung tempat tinggal mereka, tetapi sayang kedua kakak lelaki Ais tidak ada yang mewarisi merdunya suara sang ayah, malah Ais yang mewarisinya.
Pernah dulu Ais kecil mengumandangkan azan di masjid dekat rumahnya yang membuat Abdullah dimarahi oleh orang-orang sekampung. Sebab memang wanita tidak diperbolehkan azan.
Selama ini kita mungkin hampir tidak pernah mendengar seorang wanita mengumandangkan adzan.
Banyak di antara kita yang mungkin bertanya mengenai bolehkah wanita mengumandangkan adzan? Apakah suara wanita termasuk aurat atau tidak?
Terdapat dua jawaban disini. Jawaban pertama menjelaskan bahwa wanita tidak diperbolehkan mengumandangkan adzan karena hal ini belum pernah terjadi di masa Nabi Muhammad SAW, bahkan tidak pernah terjadi juga pada zaman Khulafa’ur Rasyidin.
Sedangkan jawaban kedua menjelaskan bahwa suara bukan termasuk aurat. Hal ini sejalan dengan kisah zaman Rasulullah dimana beberapa wanita bertanya tentang urusan agama Islam kepada Rasul dan mereka selalu melakukan hal tersebut selama zaman Khulafaur Rasyidin serta pemimpin selanjutnya. Namun, berbeda dengan hukum menjawab adzan bagi perempuan karena ini bisa dilakukan oleh siapa saja.
Pada zaman itu, para wanita biasa mengucapkan salam pada kaum laki-laki asing atau non-mahram dan membalas salam. Semua perkara ini sudah diakui dan tidak ada satu orang pun di antara para imam yang membantahnya.
Meskipun demikian, seorang wanita tidak boleh mengangkat suaranya tinggi-tinggi ketika berbicara dan tidak boleh membuat-buat suara menjadi lemah lembut.
Hal ini didasarkan pada firman Allah yang menjelaskan bahwa wanita bertaqwa maka janganlah ia tunduk ketika berbicara sehingga orang-orang akan berkeinginan memunculkan penyakit hati dan ucapkanlah kata yang baik.
Karena jika seorang wanita berbicara dengan lemah lembut maka ia dapat memperdaya kaum pria sehingga menimbulkan fitnah diantaranya.
Sebagai seorang muslimah, kita harus tahu hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan dan yang boleh dilakukan.
Setiap ketentuan Allah pastilah memiliki hikmah dan alasan di mana hanya Allah yang berhak untuk menetapkannya.
*****
Selesai azan, Alif kecil langsung mengumandangkan iqomah yang membuat kedua orangtuanya berserta paman dan bibinya menjadi kelabakan, mereka bergegas untuk masuk ke mushala. Dan bersiap ikut salat berjama'ah dengan sang ayah.
Semua memulai salat dengan hikmat dengan Abdullah menjadi imam mereka. Salat kali ini benar-benar penuh dengan rasa haru. Selesai salat mereka berdo'a bersama, semua menangis teringat akan Aminah.
Semua satu persatu menyalami Abdullah dan mencium punggung tangannya, ia pun membelai satu persatu kepala anak-anaknya.
"Bapak dan ibu sangat bangga ditakdirkan menjadi orang tua kalian, semoga kalian tetap akan selalu saling jaga, saling bersama, dan saling bantu, dalam suka maupun suka. Kami orang tua akan merasa sangat bangga jika diakhir hayat kami bisa dimandikan dan juga bisa disalatkan anak-anak kami." Abdullah tersenyum sambil memandang ketujuh anaknya, juga menantu serta cucunya.
Semua diam menunduk, bahkan Ais yang memang selalu perasa sudah meneteskan air matanya.
"Sepertinya ini momen yang pas untuk bapak menjawab pertanyaan Ari dan Ali." Abdullah diam sebentar untuk mengambil nafas sambil menunggu reaksi anak-anaknya.
"Pak, jangan sekarang ya. Nanti saja abis magrib atau isya. Sekarang lebih baik kita menghabiskan waktu bersama sampai menjelang magrib." Anis mengutarakan pendapatnya.
"Bagaimana, Kak?" tanya Anis sambil memandang kakak-kakak dan adiknya, Amy.
"Aku setuju," jawab Ali.
"Aku juga." Ari memberi jawabannya.
"Aku setuju," jawab Ara.
"Oke, sepertinya semua setuju." Ani menengahi situasi yang seperti pemilihan kepala desa saja.
"Aku terserah bapak saja," jawab Ais yang membuat semua menatap horor kepadanya karena dianggap tidak kompak.
Melihat gelagat kurang suka para saudaranya pada Ais, Abdullah segera angkat bicara.
__ADS_1
"Baiklah bapak akan ikut kemauan kalian saja, mau kemana kita?" Abdullah memandang anak-anaknya.
Seketika wajah cemberut mereka semua berubah menjadi senyum sumringah.
"Tanya Rey dan Ais, mereka yang lebih faham tempat yang bagus di sini." Ali tersenyum.
"Ah iya, kalian mau kemana tentukan saja, biar nanti aku cari tempat yang bagusnya." Rey menaggapi ucapan Ari.
"Ehh bagaimana kalau kita ke pantai dulu baru kita makan bareng?" Anis memberikan usulnya.
Ais hanya diam, dia sangat menyesali keinginan kakak-kakaknya, pasalnya mereka masih dalam suasana berkabung. Namun ia berpikir positif saja mungkin mereka tidak ingin larut dalam kesedihan.
"Baiklah kita ke pantai, sekarang ayo bersiap." Rey tersenyum menatap mereka semua.
Dengan cepat semua meninggalkan mushala dan pergi ke kamar mereka masing-masing. Hanya Ais yang masih tinggal di mushala bersama sang suami, sementara Alif sudah ikut tante Ara.
"Pak! Apa bapak nggak apa-apa kalau kita ke pantai?" tanya Ais hati-hati.
"Iya, Nak. Bapak nggak apa-apa. Mungkin hanya ini yang dapat bapak lakukan untuk membahagiakan anak-anak bapak." Abdullah tersenyum.
"Maafkan kami, Pak!" Ais tertunduk.
"Sudah nggak apa-apa. Sekarang kamu juga ikut berbenah gih. Bapak juga mau menyiapkan peralatan bapak." Abdullah berangkat dari duduknya.
"Iya Pak, ayo Yang!" Ais juga berangkat dari duduknya sambil memegang tangan suaminya.
Mereka meninggalkan mushala kecil yang menjadi tempat terindah bagi Ais dalam mengobati kegelisahan hatinya.
*****
Semua sudah berkumpul di halaman depan rumah Ais. Rey sudah menyiapkan tiga buah mobil untuk keberangkatan mereka. Masing-masing sudah ada sopir pribadi yang akan mengemudi, kecuali mobil yang akan ditumpangi oleh Rey dan keluarga kecilnya, akan dia kemudikan sendiri.
Tidak butuh waktu lama mereka sudah berangkat menuju pantai Anyer Jakarta yang sangat terkenal. Rey juga sudah memesan tempat khusus untuk keluarganya.
Disepanjang perjalananan Ais banyak diam, dia tampak murung. Namun Rey tidak akan membiarkan bidadari syurganya dirundung kesedihan sepanjang jalan. Ia bekerja sama dengan Alif putranya agar bisa menghibur sang ibu.
"Umi, bolehkah Babang sambil setoran hafalan atau kita salawatan sepeti dulu saat menindurkan dedek Ara dan Aza?" tanya putranya memecah keheningan dalam perjalan mereka menuju pantai Anyer.
"Ehm boleh sayang tapi setoran hafalannya jangan juz yang sulit ya! 'Kan umi juga belum banyak hafalannya. Bagaimana kalau juz tiga puluh saja?" tanya Ais pada putranya.
"Boleh Umi, kita mulai ya!" pinta sang putra.
"Iya," jawab Ais. Baru saja akan memulai muraja'ah dengan putranya tiba-tiba Rey mengerem memdadak mobilnya.
"Astagfirullah haladzim! Kenapa Ayang?" tanya Ais terkejut.
"Tidak tahu, Yang. Tiba-tiba saja mobil yang ditumpangi rombongan bapak, kak Ali dan kak Ari berhenti mendadak, jadi yah aku juga ikut ngerem mendadak." Rey menurunkan kaca mobilnya.
Tak lama sopir yang mengemudi mobil didepannya turun menghampiri mobil Rey.
"Kenapa?" tanya Rey pada Jo, nama sopir yang membawa mobil yang ditumpangi oleh mertuanya.
"Bapak Abdullah meminta tuan muda Alif untuk ikut bersamanya," jawab Jo setengah menundukkan kepalanya.
Seketika Rey menjadi bingung, kalau tidak ada putranya maka dapat dibayangkan ia akan kesulitan melihat senyum kekasihnya, tapi kalau tidak diizinkan ia kasihan pada ayah mertuanya.
"Yess, babang mau sama kakek." Alif melonjak kegirangan.
Dengan terpaksa Rey membiarkan putranya pindah ke mobil sang ayah mertua.
Bagaimana sebenarnya perasaan Abdullah terhadap sikap anak-anaknya? Apakah Abdullah akan merubah keputusannya nanti? Kasih like dan komen kalian ya, aku tunggu.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Izinkan pada kesempatan ini aku mengucapkan ribuan rasa terimakasih dan syukurku pada kalian semua, yang sudah membaca dan mendukung karyaku dengan like dan komen yang kalian berikan hingga novel Nyanyian Takdir Aisyah bisa naik ke level 8. Tanpa kalian aku bukanlah apa-apa. Hanya Allah saja yang dapat membalas semua kebaikan kalian. Sekali lagi terimakasih banyak. I love you all. Semoga kalian tidak bosan untuk mendukung karyaku.
Bersambung.....🌻
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik. ini adalah daftar novel favoritku, kalian boleh coba untuk mampir pasti suka.
Ini juga daftar novel favorit yang sudah aku baca, kalian boleh intip juga mana tahu suka.
__ADS_1