Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
BELANJA KESUPERMARKET


__ADS_3

🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.🌻


Masih dipanti ....


Rey dan Ais juga melambaikan tangan mengiringi kepergian Wardah, meski terasa berat keduanya harus ikhlas. Hanya doa yang dapat Ais panjatkan semoga Wardah selalu dalam lindungan Allah dimanapun ia berada, dan mereka bisa dipertemukan kembali walaupun itu entah kapan.


Kini mobil yang membawa Wardah semakin menjauh, dan akhirnya hilang dikelokan jalan. Ais merasa hampa, seolah ada secuil hatinya yang tercuri. Dalam genggaman suaminya ia merasakan sedikit ketenagan dalam kegundahannya saat ini. Setelah tak lagi tampak barulah keduanya mendekati Bu Santi.


"Ibu! Kemanakah kiranya mereka anak membawa Wadrah?"


"Entahlah, tapi kata ibunya ia sempat berpikir akan menitipkan Wardah ke pondok pesantren didekat tempat tinggalnya."


"Alhamdulillah aamiin, semoga Allah melancarkan niatnya yang baik untuk Wardah," ucap Ais sambil memegang erat tangan suaminya.


Rey tersenyum menguatkan pendapat istrinya yang selalu mengharapkan yang terbaik untuk semua orang terutama Wardah yang memang membutuhkan limpahan kasih sayang.


"Kita pulang?" Menepuk tangan istrinya lembut.


"Iya Ayang, kasihan anak-anak dirumah." Bergelayut manja pada suaminya.


"Kalian tidak mampir lagi kepanti?"


"Sepertinya tidak Bu." Melirik jam ditangannya." Hari sudah semakin siang, dan kami masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan tetapi nanti kami akan mengirimkan barang-barang untuk kebutuhan panti ," ucap Rey dengan tersenyum.


"Baiklah, dan tolong berikan ini pada putramu." Menyerahkan kresek hitam ketangan Ais.


"Apa ini Bu?" tanya Ais sedikit penasaran sambil meraba-raba luaran kantong kresek.


"Aku juga nggak tahu isinya apa, tapi itu titipan dari Wardah saat dia pertama kali datang ke panti. Katanya jika suatu saat dia pergi dari sini dan aku bertemu seorang anak bernama Alif yang punya abi serta uminya yang baik, maka berikan kresek ini. Dan aku rasa dia adalah putramu. Dia bilang Alif itu teman yang dia kenal saat makan direstoran lesehan." terang Bu Santi.


Air mata Ais kembali menetes, ia sangat terharu dengan semua yang Wardah lakukan.


"Terimakasih banyak Bu, kami pulang sekarang." Mengambil kresek yang tadi Bu siti berikan.


"Mari Bu," ucap Rey." Assalamualaikum!" Berlalu dari hadapan bu Santi.


Supermarket ....


Keduanya segera memasuki mobil, Ais duduk didepan bersama suaminya.


"Yang! Jangan lupa sheetbelt nya." Memasangkan sheetbelt Ais sambil mencium sekilas pipi istrinya.


"Ayang! Cari kesempatan deh," protes Ais sambil memegang pipinya.


"Hemm kalau didekatmu, aku selalu tidak tahan bawaannya pengen cium kamu terus."


"Hmmm suamiku sekarang udah mulai pintar merayu ya," mencubit lembut hidung suaminya.


Rey tertawa kecil melihat wajah istrinya yang sudah kemerah-merahan. Dan itu membuat wajah Aisyah semakin manis.


"Udahan melihat wajahku?"


"Belum."


"Ya udah lihatin aja terus, kita nggak usah jalan, nggak usah ke supermarket, cukup diam disini aja."


"Uhhh gemesnya lihat khumairohku lagi belajar ceramah, aku mau dong jadi pendengar setianya."


"Ayang." Membulatkan matanya.


"Subhanallah, semakin cantik."


Ais hanya dapat menutup wajahnya dengan kedua tangan, sambil menggelengkan kepalanya. Dia merasa sangat bahagia dengan guyonan suaminya. Rey memang pandai menghilangkan rasa marah didirinya.


Melihat kelakuan istrinya Rey pun tersenyum. Dia tidak mau melihat beningan kristal terlalu lama mengalir diwajah cantik istrinya. Cukup waktu dulu saja dia selalu berduka, sekarang adalah waktu untuk membahagianyannya.


Perlahan Rey mulai menjalankan mobilnya, ia teringat setelah asyar Reza dan Nara akan segera terbang ke Belanda, begitu juga dengan Biyan dan Maria. Banyak sekali perlengkapan yang harus mereka beli untuk kedua pasangan itu.


Disepanjang perjalanan sesekali Rey melihat istrinya dari spion mobil. Tampak wajah cantik istrinya sedikit mendung. Dan dia tahu itu pasti karena Wardah, gadis kecil itu telah berhasil mencuri sedikit cinta istrinya, sedangkan yang banyak tentu hanya miliknya.

__ADS_1


Kini mereka telah sampai disupermarket. Rey segera menghentikan mobilnya ditempat parkir yang telah dipilihnya.


"Ayang, yuk turun!"


"Hemm." Membuka sheetbeltnya. Dan saat hendak membuka pintu Rey memegang tangannya.


"Tuan putri tunggu disini, biarkan pengeranmu ini yang membuka pintunya."


Ais hanya tersenyum mendengar permintaan suaminya. kemudian dia mengangkat jarinya membentuk huruf "O", yang mewakili perkataan oke.


Rey segera membuka pintu dan mempersilahkan istrinya untuk turun. Saat dikeramaian keposesifan suaminya akan mencuat keatas. Dan Ais sangat Faham akan hal itu. Kini tangan kekar kekasihnya itu sudah melingkar dipinggangnya.


Mereka berdua memasuki supermarket dan mulai berbelanja semua kebutuhan perjalanan saudara dan sahabatnya itu. Tak terasa kini belanjaan mereka sudah menggunung.


"Ayang ... apa ini tidak kebanyakan?" Memandang belanjaannya.


"Nggak kok Yang, kan sebagian katanya mau dikirim kepanti lagi."


"Ya Allah, aku lupa Yang. Kalau begitu tambah sedikit lagi ya untuk panti," pinta Ais.


"Ya nggak apa-apa, tapi mau beli yang mana lagi?"


"Kebutuhan perempuan, anak-anak yang tinggal dipanti bu Siti sudah ada yang mulai aqilbaliq.


"Ya kamu urus aja, aku pisahin yang mau dikirim kepanti sama untuk oleh-oleh Nara dan Maria ya."


"Iya Ayang, maksih ya. Aku jadi makin sayang." Mengerling pada suaminya.


"Hemm udah bisa gombal ya, jangan memulainya disini, nanti aku ...." Dengan cepat Ais menutup mulut suaminya. Dan setelah dirasa aman, baru dia melepaskan tangannya dan berlalu membawa keranjang menuju rak kebutuhan perempuan. Yang menyisakan senyuman manis dari suaminya.


Sedang asyik berbelanja, Ais melihat seorang ibu rumah tangga sedang menyembunyikan berapa makanan anak-anak kedalam bajunya, dan menutupinya dengan hijabnya yang lebar. Dengan cepat Ais menghampirinya.


"Maaf permisi ibu," sapa Ais.


Seketika wajah perempuan tersebut pucat pasi karena takut dan terkejut juga.


Bukannya menjawab wanita itu malah mencekik leher Ais dan mengancamnya.


"Jangan coba-coba buka suara ya kalau tidak mau celaka."


Dengan cepat Ais menarik tangan ibu itu dan memutar balik tangannya kebelakang. Ternyata Ais masih gesit juga. Kini posisi berbalik, Aislah yang menyandera ibu itu.


"Maaf sebelumnya kalau ibu merasa tangannya sakit, tetapi yang ibu lakukan itu salah, kita bicara baik-baik, tapi ibu janji akan mendengarkan saya, oke?"


"Iya ... iya ... tapi tolong lepaskan tangan saya, dan jangan lapor saya ke petugas."


"Oke saya setuju." Melepaskan pegangannya.


Kini Ais mengajak ibu itu duduk disalah satu bangku diujung lorong.


"Ibu kenapa mencuri?"


"Saya terpaksa, suami sudah tiada, cari pekerjaan susah, anak saya tiga orang butuh makan, hutang sudah banyak, mau minta ketetangga sudah nggak enak," ucapnya sambil terisak.


*Ya Allah, ampunilah hamba. Disaat aku belanja begitu banyak, masih ada saudara hamba yang kelaparan.*


"Ibu ketahuilah perbuatan itu dilarang dalam agama kita, berilah anak-anak kita makanan yang halal, seperti dalam surat Al Baqarah ayat 233."


“Dan kewajiban ayah memberikan makanan dan pakaian kepada ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak akan dibebani melainkan menurut kadar kesang-gupannya.” (TQS Al Baqarah (2):233)


Hanya saja, seorang ayah wajib memberikan nafkah kepada anaknya dengan nafkah yang halal; yakni nafkah yang diperoleh dari jalan yang sesuai dengan syariat. Ketentuan semacam ini didasarkan pada firman Allah SWT:


“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni`mat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (TQS An Nahl (16):114).


"Hal ini juga berlaku pada ibu, karena sekarang ibulah yang menjadi kepala keluarga. Akhirnya, orang tua tidak boleh menceburkan atau melibatkan dirinya dalam pekerjaan-pekerjaan yang diharamkan oleh syariat Islam. Sesungguhnya, apabila orang tua menafkahi anaknya dengan nafkah haram, sesungguhnya ia tidak sedang mencintai keluarganya, akan tetapi justru menjerumuskan keluarganya ke lembah ketidakberkahan. Apa ibu tidak menyayangi anak-anak ibu? Apa ibu mau seperti itu?"


Ibu itu hanya menggeleng, air matanya sudah tak terbendung. Dalam hatinya ia memohon ampunan Allah, karena telah berbuat dosa. Dan diapun bersyukur bertemu orang seperti Ais yang telah mengingatkan dirinya.


"Ya sudah sekarang ibu ikut saya ya, belanjalah semua kebutuhan ibu untuk berapa bulan kedepan, dan tolong kembalikan semua barang-barang yang tadi ibu ambil, karena itu bukanlah hak ibu."

__ADS_1


"Iya Bu, akan saya kembalikan semuanya, dan terimakasih banyak." Memeluk Ais dengan linangan air mata haru. Aispun menepuk pundak ibu itu untuk menguatkan hatinya.


Setelah beberapa saat keduanya segera berbelanja, tampak keriangan diwajah keduanya. Yang satu berbahagia atas rezeki yang Allah berikan secara tidak terduga, sedangkan yang satunya bahagia karena bisa berbagi dengan sesama. Sementara keduanya berbelanja ada seseorang yang wajahnya cemberut karena merasa dikacangin sama istrinya.


Setelah dirasa cukup, Ais segera membantu ibu itu untuk membawakan belanjaannya dengan memboking satu mobil barang untuk mengantarkan siibu pulang. Dan Ais serta Rey juga memberikan modal usaha untuknya agar bisa menafkahi anak-anaknya dengan rezeki yang halal.


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Sudrun


Samudra


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


*Cindy Elvira


Ketika Muslimah Jatuh Cinta


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*WIB (Write in Box)


Ya Dia Istriku


*Patma


Kun Fayakun


*Zanuba Ririn


Masjid Cinta


*Khauma


I Love My Army Wife

__ADS_1


__ADS_2