Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
PERASAAN HARU


__ADS_3

🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻 Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pada semua pembaca setia novel Nyanyian Takdir Aisyah ini, karena terlambat untuk UP, hal ini dikarenakan author sedang banyak tugas didunia nyata. Untuk itu sekali lagi author mohon maaf atas ketidak nyamanan ini.🙏


Selamat Membaca!


*****


Ruang Keluarga ....


"Baiklah sekarang kita temui tamu kita yang ada di depan. Sekarang hapus air matamu, daj berikan senyum bahagia kita untuk kesuksesan putra kita dalam mencari ilmu agama." Menghapus air mata di kedua pipi istrinya.


Keduanya segera berjalan menuju ruang tamu, untuk memberikan izin pada putra tercinta mereka, mengikuti karantina tahfiz dipondok pesantren yang telah ditentukan oleh para panitia lomba kemarin.


Sampai di ruang tamu ....


"Maaf ya, bapak-bapak harus menunggu lama," ucap Rey berjalan bersama Ais kemudian kembali duduk bersama tamunya.


"Tidak apa-apa,Pak. Kami mengerti semua ini pasti akan terasa sangat sulit bagi semua orang tua. Apa lagi ananda Alif masih sangat kecil. Tapi yakinlah kami akan mengurusnya dengan baik. Bapak dan ibu dapat mengunjunginya nanti setiap dua minggu sekali," jelas Fajar.


"Jadi bagaimana, Ibu? Apa sudah ridha dengan kegiatan anandanya?" tanya Fajar lagi.


"Inshaa Allah, saya sudah ikhlas," jawab Ais sambil tersenyum.


"Alhamdulillah," jawab ketiganya hampir bersamaan.


"Baikkah Bapak dan Ibu, kami permisi dulu kalau begitu, sampai bertemu besok. Assalamualaikum," ucap Fajar dan Hakim sambil memohon pamit untuk kembali ke pondok.


Rey dan Ais mengantarkan tamunya sampai ke pintu depan, dan setelah tamunya pulang mereka segera kembali kekamar mereka untuk beristirahat.


*****


Kini tidak terasa sang mentari telah kembali keperaduannya, burung-burung pun mulai kembali kesarangnya, perlahan suasana yang semula cerah berganti menjadi lembayung kemerah-merahan. Lantunan suara azan magrib mulai terdengar sangat merdu dari sebuah mushala kecil disebuah taman yang indah, berada disebuah rumah kediaman keluarga Reyhan dan Aisyah. Yah, itu adalah lantunan azan putranya Alif.


Perlahan air mata Ais mengalir, bukan karena irama azannya yang sedih. Tetapi ia membayangkan kalau ini azan terakhir yang akan dia dengar dari putra kesayangannya. Beberapa bulan kedepan ia tidak akan lagi bisa mendengar suara merdu ini yang kadang masih ada cadelnya.


Melihat istrinya yang sudah berlinang, Rey segera memberikan tisue.


"Kuatkan hatimu, Ayang! Ingatlah kisah ibunya Imam Syafi'i yang aku ceritakan kemarin." Menepuk pundak istrinya lembut.


"Iya, Yang. Aku akan berusaha untuk ikhlas dan tegar. Besok aku tidak lagi bisa mendengar suara putraku, tidak ada lagi yang akan membantuku bershalawat saat menidurkan Ara dan Aza, besok ...." ucapan Ais terhenti karena Rey menyambung ucapan Ais.


"Esok kita akan menyaksikan mujahid kita pulang dengan segudang ilmu, dia akan menjadi bintang yang bersinar diantara ribuan bintang yang menghias angkasa malam," ucap Rey menguatkan istrinya.


"Jaga kekuatan hatimu didepan putra kita, Ayang. Biarkan dia melihat sisi tegarmu. Biarkan putra kita tahu kalau uminya setegar batu karang ditengah lautan. Yang tak akan goyah walau terhempas badai," ucap Rey.


"Sekarang tolong hapus air matamu, dan berikan senyuman terindahmu buat putra kita." Rey mengajak Ais ke mushala untuk salat magrib berjama'ah.


Dengan berat hati Ais mengikuti langkah suaminya menuju mushala. Ia berusaha untuk menutupi kegundahannya dengan segera berwudu ulang. Dalam sejuknya wudu membuatnya merasakan ketenangan yang luar biasa. Kini ia merasa lebih baik, dan siap memberikan senyuman terindahnya untuk Alif, putranya.


Dalam kesyahduan lembayung merah, mereka menunaikan kewajiban terhadap Sang Khalik. Berharap akan mendapatkan ridha dan kasih sayang dari-Nya. Setelah selesai salat, kegiatan rutin keluarga Ais adalah SEMAYUME. Istilah ini bukan bahasa jepang ya gaes, melainkan singkatan untuk setiap magrib yuk mengaji. Setelah melakukan SEMAYUME, barulah mereka makan bersama.


*****

__ADS_1


Ruang Makan ....


Ananda Alif merasa sangat heran saat di meja makan, pasalnya semua menu yang disajikan adalah kesukaannya semua. Tentu saja ini mengundang rasa ingin tahunya.


"Umi!" sapa Alif lembut.


"Iya, Sayang. Kenapa?" Melihat kearah putranya.


"Kenapa semua makanan kesukaan Babang ada di meja makan?" Menatap penasaran pada uminya.


Ais terdiam, ia kebingungan mau menjawab dari mana. Kata-kata yang sudah dirancangnya juga pergi entah kemana. Alhasil kebungkaman Ais mengudang perhatian semua keluarganya terutama Alif.


"Umi! Kenapa diam?" Memandang lekat pada ibunya.


"Ehmm iya, Nak. Nggak ada apa-apa kok, umi lagi seneng masak aja. Jadi deh umi tanpa sadar memasak banyak makanan kesukaan Babang," jawab Ais yang semula terbata, akhirnya bisa lolos dengan lancar dari bibir Ais yang mungil.


"Ohh begitu ya, Mi. Alhamdulillah deh Babang bisa makan enak. Nanti saat sudah berangkat kepondok Babang pasti akan merindukan masakan umi yang lezat ini," ucap Alif dengan senyuman khasnya.


Seketika suasana di ruang makan menjadi hening. Perasaan Ais membuncah, semua yang telah bersusah payah ditahannya kini tumpah ruah menjadi kristal bening yang mengalir deras disudut matanya. Dengan cepat ia berangkat dari kursinya dan berjalan mendekati putranya.


"Umi juga akan sangat merindukanmu nanti." Memeluk erat putranya.


Merasa terkejut dengan perlakukan ibunya, Alif juga menangis. Sebenarnya perasaannya juga sama namun ia susah untuk mengungkapkannya. Pasangan mata yang menyaksikan pemandangan itu juga ikut merasakan keharuan yang tak biasa.


Perlahan Rey mengusap air matanya yang mengalir, ia juga tak kuasa menahan perasaannya.


"Ayang, kontrol emosimu. Ingat yang aku sampaikan kemarin, kalau kita jangan terlihat ...." Belum sempat Rey melanjutkan ucapannya Ais sudah menjawabnya.


"Iya, Yang. Aku mengerti." Dengan cepat Ais menyeka air matanya dan tersenyum menatap putranya.


"Inshaa Allah, Umi. Babang akan belajar dengan sungguh-sungguh. Agar nanti Babang akan cepat kembali bersama umi dan abi." Alif kecil memeluk ibunya.


"Kok cuma umi yang dipeluk, abi nggak dipeluk nih?" ucap Rey berusaha membuat wajah dengan ekspresi yang lucu untuk membuat putranya tersenyum.


Akhirnya Alif dapat tersenyum dan memeluk Rey dengan bahagia. Semua juga ikut tersenyum. Kini suasana duka perlahan bisa diselipi rasa bahagia.


*****


Selesai makan mereka bercengkrama diruang keluarga, Ais begitu lengket dengan putranya seolah ia tidak mau berpisah. Sehingga mengundang rasa jengekel pada kedua putrinya yang merasa diabaikan.


"U-mi ... eyuk," ucap Ara sambil merentangkan tangannya dan berjalan tertatih kearah ibunya.


"Ja ... au eyuk," ucap Aza juga. Keduanya saling tarik berebutan untuk sampai duluan kepelukan sang ibu. Melihat kedua adiknya hampir menangis karena saling tarik, Alif segera melerainya.


"Aza ... Ara, jangan gitu dong. Sini Babang bantu. Itu umi nya kita semua." Alif meraih Ara dalam gendongannya dan menuntun Aza ditangannya.


Melihat putranya yang begitu dewasa membuat Ais semakin takjub dan menyayangi putranya.


*Ya Allah, aku sungguh ibu yang sangat beruntung. Karena kau anugerahi seorang putra yang shalih dan dua orang putri yang shalihah. Jadikanlah mereka pembawa kami menuju janah-Mu. Batin Ais.*


Bersambung.....

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


Audio Nyanyian Takdir Aisyah


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*WIB (Write in Box)


Ya Dia Istriku


*Khauma


I Love My Army Wife


*Syala Yaya


Istri Kedua Tuan Krisna


*Laura V


Sang Penggoda

__ADS_1


*Bintun Arief


Terjebak Cinta Brondong


__ADS_2