
Kini rombongan keluarga itu telah meninggalkan bandara, menuju kekediaman keluarga Reyhan. Ada tiga mobil yang saling. beriringan mobil pertama yang membawa Reyhan, Ais, dan Alif. Mobil kedua yang dikendarai Biyan dan Maria. Sedangkan mobil ketiga dihuni oleh Reza bersama ajudan kepercayaannya.
Sepanjang perjalanan menuju kerumah mereka tak hentinya Rey memeluk dan mencium dua orang yang sangat dirindukannya.
"Ayang aku sangat merindukanmu dan Alif, kalian dibawa kemana sama Reza? Apa dia menyakiti kalian?" Tanya Rey khawatir.
"Yang pertama kami juga sangat merindukanmu, yang kedua Reza tidak menyakiti kami sama sekali, bahkan dia sangat menyanyangi putramu Alif." Ucap Ais sambil menggenggam tangan suaminya.
"Ayang apa Reza mencintaimu? Apa itu sejak kalian SMP, dan ia menghukum aku karena telah merebutmu darinya?"
Lama Ais manatap mata teduh suami yang sangat dicintainya.
"Apa Ayang sangat ingin mendengar aku menjawabnya?" Ais balik bertanya .
"Jawablah Ayang, aku ingin mendengarnya." Ucap Rey tersenyum hambar.
" Baiklah jika itu yang Ayang inginkan, Reza memang sangat mencintaiku sejak kami SMP, namun saat ia menyatakan perasaannya padaku kala itu aku masih terikat janji dengan ayah, sama seperti waktu Ayang menyatakan perasaan Ayang lewat surat waktu itu. Namun cinta yang Reza miliki berubah menjadi sebuah obsesi untuk memiliki aku, apalagi saat dia tahu kalau kita menikah, kekecewaanya membuat ia lupa akan segalanya termasuk Allah. Namun kini Reza telah kembali menjadi Reza yang dulu, dan ia telah memilih kembali pulang bersama kebenaran dijalan Allah. Dan dia bisa ikhlas melepas rasa cintanya pada Ais . Dan satu hal yang perlu Ayang ketahui bahwa kau tidak merebut aku dari Reza, kau adalah cinta pertama dan terakhirku ." Ucap Ais menutup ceritanya.
Dengan cepat Rey merengkuh tubuh Ais, dan mendekapnya dengan erat, meski ada Alif yang tertidur disamping istrinya.
"Ayang, maafkanlah aku, aku sempat berpikir untuk melepasmu buat Reza, itu karena aku telah berputus asa." Ucap Rey terisak.
"Ayang ingatlah Allah sangat membenci orang - orang yang berputus asa hal ini sudah dijelaskan dalam surat Yusuf ayat 87. Dan kita akan mendapatkan banyak keutamaan saat mau bersabar." Ucap Ais sambil berbaring dipundak suaminya.
"Apa Ayang tahu, aku hampir saja marah padamu, saat tahu kau begitu terpuruk dan melupakan Allah sebagai peganganmu." ucap Ais kembali sambil memeluk suaminya.
"Khumairohku, maafkanlah aku yang sempat melupakan Allah yang maha kaya, yang maha segalanya, sekarang aku semakin menyadari bahwa aku adalah lelaki yang sangat beruntung, bisa mendapatkan cinta yang suci dan tulus dari seorang wanita calon bidadari syurgaku, Ais ana uhibuki fillah."Ucap Rey terharu sambil mencium kening istrinya.
Tak terasa sekarang mereka sudah sampai. dikediaman keluarga Reyhan, semua orang yang bekerja dirumah mereka termasuk semua pegawai kantor Rey juga sudah berbaris seperti pagar ayu menyambut kepulangan keluarga majikan dan bos mereka yang telah kembali utuh setelah sekian lama terpisah.
Suasana rumah sangat terasa berbeda kali ini, semua orang tersenyum dan tak ada air mata, kini rumah itu kembali seperti semula penuh riuh dan canda tawa terutama celoteh lucu ananda Alif kecil yang sangat tampan.
Kini semua orang telah berkumpul dan menunggu sambutan dari tuan rumah.
"Baiklah semuanya hari ini adalah hari yang sangat bahagia dalam kehidupan keluarga kami, aku mengajak kalian semua untuk merasakan rasa syukur yang aku dan keluargaku rasakan, dan semoga semua badai ini benar - benar telah usai. Untuk itu setelah kita berdoa nanti maka kalian boleh menikmati hidangan yang telah disiapkan dirumah kami ini." Ucap Rey dengan tersenyum.
"Baiklah sekarang kita berdoa dulu." Ucap Rey yang langsung memimpin doa syukuran untuk kleuarganya.
"Sekarang kita telah berdoa kalian semua boleh... " Rey tak melanjutkan ucapannya karena Maria menyela ucapannya.
__ADS_1
"Tunggu kak, aku punya kabar bahagia juga yang ingin aku sampaikan." Ucap Maria.
"Katakanlah adikku sayang !"Ucap Rey.
"Inshaa Allah aku dan Biyan akan segera menikah dalam waktu dekat ini." Ucap Maria tertunduk malu.
"Apakah itu benar Biyan? "Tanya Rey.
"Inshaa Allah Rey, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Maria." Ucap Biyan mantap sambil memeluk Rey.
"Terimakasih telah mau menjaga Maria untukku, semoga Allah meridhoi niat baik kalian." Ucap Rey.
Setelah selesai membaca doa dan sekaligus mendapakan kabar bahagia tentang rencana pernikahan Maria, kini semua bersuka cita menikmati acara syukuran yang telah Rey siapkan untuk kelurga, teman, dan saudaranya.
Semua orang sedang sibuk dengan acara syukurannya dibawah, sementara Ais menidurkan putranya Alif dikamar, karena memang dia sudah sangat kecapean.
"Ceklek." Suara pintu dibuka seseorang dan itu adalah Rey. perlahan dia masuk kedalam kamar mereka yang kini sudah rapi dan wangi bunga mawar dan lili. Dilihatnya Ais tidak ada dikamar, namun terdengar suara shower yang sedang menyala dari kamar mandi. Dan ternyata benar Ais sedang dikamar mandi membersihkan diri.
Dengan sabar Rey menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. Dia duduk ditepi ranjang king size bernuansa hijau daun dikamar mereka sambil tersenyum sendiri, yah dia sedang mengingat - ingat malam pertama mereka sewatu pertama menikah dulu, yang harus tertunda karena Ais masih mati suri dan masih sakit. Selain itu mengingat semua kenangan manis yang telah mereka lewati selama ini. Dan saat masih terlena dengan khayalannya, Rey tidak menyadari kalau Ais sudah keluar dari makar mandi. Dan menatap penuh cinta pada suaminya.
"Cup." Ais mencium pipi suaminya.
"Iya, kamu lagi mikirin apa Yang, sampai kamu senyam - senyum sendiri."
"Aku sedang bernostalgia dengan kenagan kita, mengingat semua yang telah kita lalui baik suka maupun duka."
"Ayangku, apa aku boleh meminta kita untuk mengulang nostalgia kita dulu sekarang."Pinta Rey.
Dengan perlahan Ais duduk disamping suaminya. Dan ia membaringkan kepalanya dipundak suaminya.
"Kenagan apa yang ingin Ayang ulang." Ucap Ais manja.
"Kenagan saat kita membuat Alif, sepertinya sekarang Alif sudah pantas untuk punya adik."
Wajah Ais sudah bersemu merah, dan sudah sangat lama Rey tak melihat rona merah jambu yang membuat Ais semakin cantik.
Kini kedua sejoli itu telah melayang menuju keindahnya kenikmatan dunia yang hanya bisa dirasakan oleh pasangan kekasih yang telah dihalalkan dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Sejenak mereka melupakan dunia sekitar mereka, yang ada hanya rasa kenikmatan yang tiada tara, berpaduya dua cinta yang telah lama tak tersentuh rasa.
__ADS_1
*****
Kini acara syukuran atas kepulangan Ais dan Alif sudah selesai. Semua telah kembali normal. Kedua sejoli yang telah pulang dari lautan cinta pun kembali kedunia yang sebenarnya.
Perlahan Ais turun dari tempat tidur untuk membersihkan diri karena sebentar lagi akan masuk waktu subuh. Dan kini telah bersiap lengkap dengan mukena putih bermotif bunga lili yang berdaun kecil disekeliking bawahan mukenanya.
Sebelum menuju mushola belakang yang dulu sering ia gunakan, Ais menyempatkan diri untuk membangunkan suaminya.
"Ayang... bagunlah sebentar lagi masuk waktu subuh, aku tunggu dimushola ya."
"Ehmmm.. iya Sayang terimakasih telah membangunkan aku, aku akan segera menyusul."
Sekarang Ais telah berjalan menuju Mushola dengan membawa Al Quran yang didekap didadanya. Sampai di Mushola impiannya Ais segera membuka Al Qurannya dan mulai mengaji.
Suara Ais yang merdu kini telah memenuhi penjuru rumahnya, dan perlahan suara itu juga terdengar oleh Reza. Dengan cepat Reza mencari arah suara dan ia terpaku melihat gadis impiannya yang seperti bidadari dalam. balutan mukena.
Tak terasa air mata Reza mengalir, ia merasa sangat bersalah pada Ais atas apa yang dilakukannya selama ini terhadap keluarga kecil sahabat sekaligus kekasih baginya.
"Za.. kamu mau ikut sholat? " Ucap Rey yang melihat Reza menatap istrinya dari kejauhan.
"Eh... emm iya Rey." Ucap Reza salah tingkah.
"Aku berwudhu dulu ya Rey." Pamit Reza.
Kini mereka solat berjamaah dimushola kecil yang indah, yanh dipenuhi dengan aneka bunga yang berwarna - warni.
"Rey... Ais..,izinkan aku untuk meminta maaf pada kalian berdua, aku sudah sangat berdosa karena pernah berpikir untuk memisahkan kalian berdua." Ucap Reza masih dalam balutan koko.
Seulas senyum terukir diwajah Rey dan Ais, tak ada dendam atau rasa marah yang tersirat disana.
"Za... kami bedua tidak marah ataupun dendam padamu, kami justru bersyukur karena kejadian ini kami bisa menyadari kalau kami hanya hamba Allah yang lemah, yang tak lepas dari salah dan silaf, dan itu semakin menguatkan cinta kasih diantara kami." Ucap Rey dan diangguki oleh Ais.
"Ais... Rey... aku berharap setelah ini hanyalah kebahagiaan yang akan menghampiri kehidupan kalian. Biarkan kali ini nyanyian takdir Aisyah dipenuhi dengan tawa yang bahagian tanpa linangan air mata." Ucap Reza.
"Aaamiin ya Robbalalamin." Ucap Ais dan Rey bersamaan sambil tersenyum bahagia.
Yah senyum terindah yang pernah terukir diwajah cantik Aisyah, wanita sholehah yang selalu istiqomah berpegang pada keyakinannya bahwa Allah adalah maha segalanya.
Semoga kita juga bisa berpegang teguh pada keyakinan kita masing - masing.
__ADS_1
Terimakasih telah membaca karyaku, tinggalkan jejakmu dalam like dan komen untukku. Dan jangan lupa mampir juga ke cerita Cinta Bersemi Diujung Musim dan Cinta Untuk Dokter Nisa.