
Setelah bersenang -senang sampai menjelang malam Rey dan Ais segera pulang kerumah, dan tentu saja si sholeh ganteng sudah menunggu umi dan abinya.
Perlahan mobil Rey memasuki pekarangan rumah mereka dan berhenti tepat didepan pintu utama , saat Ais Turun si soleh ganteng sudah berlari menyambutnya.
"Umiiiii.... Abiiiiii"Sambil berlari kepelukan dua orang tersayangnya, dan dengan cepat Rey menggendong putranya .
"Kakak mau di gendong umi"
"Kakak maaf ya umi masih belum boleh menggendong kakak yang sudah berat, nanti kalau umi sudah sehat kembali barulah boleh minta digendong ya "Ucap Rey sambil mencium gemes buah hatinya.
"Iya abi, semoga umi cepet seha ya, cup"Alif mencium pipi uminya.
Ais tersenyum bahagia melihat tingkah putra kesayangannya. Rey yang sedari tadi memperhatikan kebahagian keluarga kecil itu merasa ada yang sesak didadanya.
Sepertinya aku tidak punya ruang lagi dihatimu Ais, dan mungkin sudah waktunya aku untuk membuka hatiku bagi wanita lain, tapi aku tetap akan mencari wanita yang bertabiat sepertimu Ais, semoga Tuhan mendengar doaku, Lindungi Ais dan keluarga kecilnya, biarkan Ais berbahagia, sudah terlalu banyak derita dan air mata yang Ais alamai, dan hanya Rey dan Aliflah dua lelaki yang bisa membuat senyumnya merekah. Ais aku mengikhlaskanmu sekarang untuk dimiliki Rey selamanya, batin Biyan.
Saat semuanya sudah kembali ke kamar masing - masing tinggal lah para pelayan yang masih sibuk untuk mempersiapkan makan malam bagi keluarga Reyhan.
Setelah menunaikan sholat magrib berjamaah di mushola yang sengaja Rey buat atas permintaan Ais, dimana halaman mushola itu dipenuhi aneka bunga yang berwarna warni karena memang Ais sangat menyukai bunga, dan Ais sangat suka berlama - lama dimushola untuk menikmati keindahan ciptaan Allah melalui bunga - bunga itu.
Mereka semua segera menuju ruang makan untuk makan bersama. Dan suasana makan menjadi sangat hening hanya sesekali terdengar suara Alif yang minta ini dan itu pada uminya. Sepanjang waktu makan malam Biyan memperhatikan Ais dan batinnya semakin kuat mengatakan sebesar apapun ia mencintai Ais itu semua itu tak akan membuat Ais merubah hatinya. Karena hatinya telah dipenuhi oleh cinta dan kasih sayang Rey.
Biyan segera menghabiskan makan malamnya dan permisi untuk ketaman belakang, Biyan ingin memastikan hatinya yang gundah. Melihat Biyan ke taman belakang Maria segera mengikutinya namun ia tak berani mendekat hanya memandang dari kejauhan. Ia melihat Biyan yang menerawang jauh, entah apa yang dipikirkannya.
Maria masih setia memperhatikan Biyan dari kejauhan, sehingga ia tak menyadari Ais telah berdiri disampingnya.
"Mar... "Sambil memegang pundak Maria
Maria sangat terkejut dan menjadi salah tingkah karena Ais memergokinya sedang mengawasi Biyan.
"Eh.. Ais, apa kau sudah lama dibelakangku"Ucap Maria gugup.
"Apa kau menyukai Biyan? "
Maria tediam, ia merasa malu untuk mengungkapkan semuanya pada Ais.
"Cerita saja Mar, jangan memendam masalahmu sendirian bukankah dulu kita sering berbagi semua masalah, siapa tahu aku bisa membantumu"
"Aku.. aku binggung dengan perasaan aku sendiri Ais" Ucap Maria sambil tertunduk.
"Jujurlah pada perasaanmu sendiri, apa kau menyukai Biyan? "Tanya Ais sambil meraih jemari Maria.
Maria kembali terdiam, ia binggung bagaimana untuk memulai berterus terang pada Ais.
"Mar bukankah kita sudah menjadi sahabat sejak lama, dan bahkan sekarang aku sudah menjadi saudara perempuanmu, apa kau masih tak ingin berbagi dengan ku"
"Ais.. aku binggung harus mulai dari mana"Maria tertunduk.
"Sejak kapan kau mulai menyukainya"
"Sejak pertama kali bertemu Biyan, sewaktu akan membantu perusaan papi "
__ADS_1
"Sudah selama itu kau menyimpan perasaanmu"
"Iya Mar, aku tak punya keberanian untuk mengungkapkannya"
"Apa kau tidak merasa tersiksa"
"Sangat... aku sangat tersiksa, terlebih saat tahu dia menyukai orang lain"Ucap Maria sedih.
"Kau harus berani Mar, sebelum kau terlambat, cinta terkadang perlu diperjuangkan"Ais meyakinkan Maria.
Maria diam tertunduk mencerna setiap kata - kata yang Ais ucapkan.
"Mar.. dulu Biyan pernah bercerita padaku kalau ibunya menginginkan menantu yang menggunakan hijab"Ucap Ais.
Oh... mungkin ini lah yang membuat Biyan sangat menyukaimu Ais, dalam Hati Maria.
"Jadi apa aku harus berhijab sepertimu, baru ada kemungkinan Biyan akan memyulaiku"
"Mar... menutup aurat itu wajib bagi setial wanita muslim yang sudah aqil baliq, jadi tolong perbaiki niatmu untuk berhijab bukan untuk Biyan, melainkan ikhlas karena Allah karena memenuhi kewajibanmu padaNya"
"Ais... apakah sudah terlambat kalau aku ingin berhijab sekarang"
"Tidak ada kata terlambat bagi seseorang yang ingin memulai sesuatu yang baik"
"Kapan waktu yang baik untukku mulai. berhijab Ais"
"Semakin cepat maka akan semakin baik, karena seorang wanita yang sudah baliq belum menutup auratnya maka ia akan menyeret ayah dan saudara lelakinya selangkah lebih dekat ke neraka, apa kau mau papi dan kak Rey masuk ke neraka hanya karena kau tidak menutup Auratmu"
"Ais... aku tidak mau itu terjadi... aku ingin segera berhijab karena Allah"
"Alhamdulillah, semoga niat baikmu segera terlaksana Mar".
Mereka berdua saling merangkul berbagi rasa bahagia dan duka bersama.
"Terima kasih Ais, kau memang sahabat dan kakak ipar terhebat buatku"
Sejak itu Maria telah mantap untuk berhijab, dan Rey tentu saja sangat bahagia, selama. ini ia meminta Maria untuk berhijab namun Maria merasa belum siap. Sedang Ais hanya dengan ucapan ringan bisaengerakkan hidayah itu untuk Maria raih.
*****
Pagi ini suasana si mushola belakang terasa berbeda karena sudah ada yang seseorang yang sedang duduk membelakangi taman. Dan Biyan pun segera menuju mushola untuk berwudu karena udara pagi disekitar mushola sangat menenagkan.
Apakah itu Ais, tetapi mengapa ia mushola sendiri, kemana Rey dan Maria kenapa tak mengikutinya, batin Rey.
Biyan menggira itu adalah Ais, dan ragu - ragu untuk mendekatinya karena takut timbul fitnah.
"Assalamualaikum "
Maria yang tahu itu suara Biyan merasa gugup.
" Waalaikumussalam wr. wb" Ucap Maria
__ADS_1
Ternyata ia bukan Ais tapi Maria, mengala Maria mengenakan hijab Ais.
" Mar.. kamu Mariakan"
"Iya kak Biyan"
"Mengapa kau memakai hijab Ais"
"Aku.. aku..memutuskan untuk berhijab mulai tadi malam"Ucap Maria tersipu.
Maria manis juga mengenakan hijab, meski tak secantik dirimu Ais.
Biyan tersenyum manis mendengar pengakuan jujur dari Maria.
Ya Tuhann, senyum kak Biyan sangat manis, aku serada diabetes dibuatnya.
"Mar... sudah memghayalnya"
"Kak Biyan kamu... "Maria menggantungkan kalimatnya.
"Kamu.. apa" Tanya Biyan
"Enggak apa - apa kok kak"wajah Maria sudah bersemu merah.
Tiba - tiba Rey muncul dan melanjutkan obrolan dua manusia berbeda kelamin tersebut.
" Yan... adikku manaruh perasaan yang khusus padamu, apa kau bisa menerimanya" Ucap Biyan serius karena Ais sudah menceritakan semuanya.
"Apa itu benar Mar... sejak kapan" Tanya Biyan menatap wajah Maria.
Maria semakin memerah saja wajahnya, karena malu.
Aduhhhh kak Reyyyy kenapa dibilangin sih, malu tahuuu, batin Maria.
Kemudian datang Ais yang juga langsung menyambung.
"Sejak pertama melihatmu"
Biyan tersenyum melihat Ais dan Maria bergantian.
" Aku akan mempertimbangkannya" Ucap Biyan tersenyum sangat manis.
To be continue...
Thanks for reading 😍
Makasih juga atas semua like, komen, dan vote nya, semoga readers sehat dan bahagia selalu, aamiin ya Mujib. 😍
Salam Manis,
🤗
__ADS_1
Author.