Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
WILL YOU MARRY ME NARA


__ADS_3

🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. 🌻


🌻Restoran 🌻


Apa beneran aku boleh makan bersama dengan keluarga tante?"


"Iya kok sayang, yuk kita makan." Menarik tangan Wardah.


Jadilah mereka makan bersama dengan teman baru Alif.


Sedang asyik makan bersama, keluarga. Besar Rey dikejutkan dengan suara bentakan seseorang.


"Wardah! Siapa yang menyuruhmu makan bersama orang asing hah?" Bentak seorang wanita cantik berkulit putih bersih dengan balutan gaun marun pas badan dengan panjang selutut.


Mendengar namanya dipanggil dengan cepat Wardah melepaskan sendok yang dipegangnya dan segera berdiri. Tubuh Wardah bergetar, keringat dingin mengucur ditubuhnya.


"Ma ... ma," ucapnya terbata.


Dengan kasar wanita itu menarik tangan Wardah dan menamparnya didepan semua orang.


"Plakk! Dasar anak tak tahu diuntung, tahunya hanya memberi malu orangtua saja." Menarik rambut Wardah kasar.


Tak tahan melihat anak seumuran Wardah harus mengalami kekerasan membuat Ais merasa harus membelanya.


"Maaf kalau saya ikut campur, kenapa anda begitu kasar pada Wardah? Apa anda benar ibunya? Atau dia ...?"


Ucapan Ais terpotong karena sudah dicela oleh wanita cantik yang tadi menampar Wardah.


"Anda sebaiknya tidak usah mencampuri urusan keluarga saya, dan anda tak punya hak untuk tahu apapun itu tentang keluarga saya." Menatap tajam kearah Ais.


"Anda benar saya tidak punya hak untuk ikut campur masalah keluarga anda tetapi jika berhubungan dengan hak pelindungan anak tentu saya bisa ikut campur, apa anda tidak takut jika saya melaporkan anda atas tindak kekerasan terhadap anak?"


Wanita itu terdiam, dengan kasar ia membawa Wardah meninggalkan saung keluarga Rey dan Ais. Disepanjang jalan menuju kesaung mereka tak hentinya ia menoel kepala Wardah dengan kasar.


Sesampai di dekat pohon besar didepan saung mereka ia memarahi Wardah habis - habisan.


"Kamu memang hanya anak pembawa sial saja, dimanapun kamu berada selalu saja membawa masalah."


"Ampuun Ma, maaf," ucap Wardah mulai terisak.


"Kenapa kamu kesana hah? Apa takut nggak aku kasih makan? Apa kamu pikir aku miskin sehingga tak bisa lagi memberimu makan?"


"Maaf," ucap Wardah masih terisak.


"Nanti dirumah kamu nggak akan boleh makan, memalukan saja." Meninggalkan Wardah dibawah pohon didepan saung mereka.


Wanita itu kembali kesaung mereka dan terlihat tersenyum manis pada suami dan anak wanita yang ada bersamanya sedari tadi.


Dari kejauhan Ais melihat semua itu dan ia merasa sangat sedih terhadap apa yang Wardah alami.


"Ayang!" Sapa Ais pada Rey.


"Hemm kenapa Yang?"


"Aku kasihan sama Wardah, bagaimana caranya aku bisa membantunya?" Tertunduk sedih.


"Kamu jangan bersedih nanti aku akan kirim anak buahku untuk menyelidiki keluarga itu termasuk anaknya Wardah itu."


"Kamu serius Ayang?"


"Tentu saja Yang, aku nggak mau melihat kamu dan Alif bersedih seperti itu, dan Alif sepertinya sedikit shock melihat kejadian tadi."


"Itu wajar sayang, karena Alif tidak pernah melihat kekerasan yang terjadi terlebih itu pada anak kecil seumuran dirinya."


"Terimakasih telah menjadi ibu yang baik bagi anak - anakku Ayang." Memegang tangan Ais.


"Terimakasih juga telah menjadi imam sekaligus ayah yang baik bagi aku dan anak - anak kita." Menatap Rey dengan tersenyum manis.


"Sekarang kita pulang ya kasihan si kembar kelamaan ditinggal," ucap Rey lembut.


Kini Ais dan yang lain bersiap untuk pulang tetapi Alif bersikeras belum mau pulang.


"Umi! Babang belum mau pulang." Menunduk lesu.

__ADS_1


"Kenapa sayang? Apa kamu masih lapar?"


Alif hanya menggelengkan kepalanya.


"Trus kenapa belum mau pulang?" Memgusap lembut kepala putranya.


"Babang kasihan sama Wardah, kalau kita tinggal nanti dia akan dimarahi mamanya lagi." Menatap Ais sedih.


"Ooo itu alasannya, pertama Umi ucapkan alhamdulillah dan terimakasih karena Babang sudah punya rasa sayang terhadap sesama teman, yang kedua Babang nggak usah khawatir karena Abi sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari tahu tentang Wardah temanmu itu."


"Maksud Umi nanti kita bisa membantu Wardah?" Tersenyum senang.


"Inshaa Allah sayang, semoga Allah selalu melindungi Wardah dari hal-hal yang jelek."


"Aamiin, makasih ya Umi." Memeluk Ais.


"Bilang terimakasih juga dong sama Abi." Mencium lembut kening Alif.


Dengan cepat Alif berlari memeluk Rey, mengucapkan terimakasih karena telah membantu sahabat barunya. Dan Rey pun membalas pelukan putranya dengan hangat.


"Itu sudah kewajiban kita sayang untuk saling membantu sesama saudara ataupun teman." Menggendong putranya.


Kini rombongan keluarga Rey telah meninggalkan restoran itu, ada tatapan sedih seorang gadis kecil mengiringi kepergian mereka. Dalam hatinya gadis itu berharap akan dipertemukan kembali dengan keluarga yang hangat dan baik seperti keluarga Alif.


*Ya Allah semoga suatu hari nanti aku akan bisa bertemu lagi dengan Alif dan keluarganya baik dan hangat, aamiin. Batin Wardah.*


🌻Kediaman Rey dan Ais 🌻


Iringan mobil keluarga besar Rey dan Ais sudah semakin jauh meninggalkan restoran saung itu, kini rombongan itu sudah melaju santai membelah keramaian kota Jakarta yang semakin padat merayap.


Setelah melewati hampir satu jam perjalanan karena mulai terjebak macet akhirnya mereka bisa bernafas lega karena kini sudah memasuki kawasan elit kediaman Rey dan Ais.


Perlahan tapi pasti satu per satu mobil memasuki parkiran rumah Rey dan Ais yang luas. setelah semua terparkir rapi barulah rombongan mulai memasuki rumah melalui pintu utama.


Yang berjalan didepan adalah Reza dan Nara, baru diikuti rombongan yang lain.


"Za perasaan ruang tamu Rey kok gelap ya?" Ucap Nara penasaran.


"Masa sih Ra, kamu nggak salah lihat kan?"


"Bentar deh aku tanya Rey dulu." Putar balik ke arah Rey dan yang lainnya.


Saat Reza sampai di halaman parkir semua tampak sepi tak satupun orang yang tersisa.


"Lah kemana semua orang? Pasti ada yang nggak beres ini," ucap Reza memutar balik ke tempat Nara.


"Bagaimana Za? Apa kata Rey?"


"Kita harus waspada sepertinya ada yang tidak beres."


"Kamu jangan buat aku khawatir dong Za." Menatap Reza serius.


"Aku serius." Menarik tangan Nara menuju pintu utama.


"Za kok main tarik sih, pelan-pelan dong! Aku takut," ucap Nara berbisik.


"Makanya kamu aku tarik biar nggak sendiri, udah ikut aja nggak usah ribut." Terus berjalan menuju pintu utama.


Perlaham keduanya mendekati pintu untama, perasaan keduanya sudah tak menentu.


"Klek," suara handle pintu terbuka.


Saat pintu terbuka secara otomatis lampu ruang tamu utama menyala redup tampak disekeliling ruangan itu dipenuhi aneka bunga dan balon berbentuk hati, keduanya diam mematung menyaksikan keindahan dekorasi yang ada diruang tamu utama. Setelah lima menit berdiri terpaku disisi dinding bernuansa putih itupun muncul sinaran lampu yang membentuk tulisan "Will You Marry Me Nara By Me Reza."


Seketika Nara menutup mulutnya karena terkejut dengan tulisan yang ada dinding utama keluarga Ais. Sebenarnya Rezapun tak kalah terkejut karena ia tidak tahu sama sekali rencana apa yang Rey dan Ais siapkan untuknya.


"Za! Kamu bisa jelasin ini semua?" Tanya Nara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Aku tak punya penjelasan apapun, namun satu hal yang pasti maukah kau menjadi kekasih halalku Nara?"


Nara menatap haru ke arah Reza kemudian dia menganggukkan kepalanya. Rezapun tersenyum bahagia karena kini ia akhirnya berhasil move on dari cinta Ais, meski cinta untuk Ais akan tetap tersimpan rapi dilubuk hatinya yang paling dalam. Reza telah membuka hatinya untuk ditumbuhi bunga cintanya bersama Nara sahabat Ais yang tak kalah cantik dan baik juga dari Ais. Reza telah menambatkan hatinya untuk menua bersama Nara.


Karena diliputi rasa bahagia yang tak terkira keduanya hendak berpelukan namun mereka dikejutkan dengan riuh suara yang tiba-tiba saja telah memenuhi ruangan itu.

__ADS_1


"Eitttt belum sahhhhh," ucap semuanya dengan serentak.


Sontak saja keduanya menjadi terhenti diposisi saling berhadapan dan hampir berpelukan. Semua tertawa melihat kecanggungan keduanya.


Wajah keduanya langsung memerah, Reza segera menghadap kesisi yang berlawanan dengan Nara, kini posisi mereka saling membelakangi.


Perlahan Rey dan Ais menghampiri keduanya dengan membawa sebuah kotak perhiasan berwarna merah.


"Nih pakaikanlah pada wanita terkasihmu saat ini maupun yang akan datang, sampai akhir hayatmu," ucap Ais memyerahkan kotak itu pada Reza.


"Kok cuma satu, ini untuk Nara saja, buat aku nya mana?"


Melihat Reza yang kebinggungan Rey mendekat dan menjelaskan pada Reza.


"Kamu itu laki- laki muslim, dalam agama kita lelaki dilarang untuk memakai emas hal ini dijelaskan dalam hadis dan bisa dijelaskan secara medis juga. Nah sekarang coba kamu simak penjelasan yang aku ambil dari google ini." Menunjukkan Hp nya pada Reza.


Sekira 1.400 tahun lalu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa laki-laki dilarang untuk mengenakan emas dan sutra, sementara perempuan boleh mengenakannya.


Diambil dari berbagai sumber, penelitian modern menunjukkan bahwa atom emas mampu menembus pori-pori dan masuk ke dalam darah manusia. Jika laki-laki mengenakan emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka memberikan dampak di dalam tubuh.


Dampak yang terjadi yakni dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam kadar yang melebihi batas. Dengan demikian, seseorang akan berpotensi terkena penyakit Alzheimer. Dijelaskan bahwa Alzheimer merupakan penyakit yang membuat penderitanya kehilangan semua kemampuan mental dan fisik.


Apabila darah tidak dibuang, maka dalam jangka waktu yang lama, atom emas tersebut bisa sampai ke otak dan memicu penyakit tersebut. Sedangkan emas aman bila dikenakan sebagai perhiasan untuk perempuan.


Penelitian mengungkapkan, di dalam tubuh seorang perempuan, zat emas bisa mengalir bersama darah, namun zat ini tidak akan berbahaya karena akan dibuang bersama darah pada saat haid atau menstruasi.


Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Emas dan sutera dihalalkan bagi kaum wanita umatku dan diharamkan bagi kaum laki-lakinya".


Larangan ini telah disampaikan sekira 14 abad lalu, di mana teknologi penelitian canggih belum ada pada saat itu. Kini, hikmah di balik sabda Rasulullah tersebut dibuktikan melalui penelitian modern.


"Nah sekarang kamu mengertikan kenapa kami hanya menyiapkan satu cicin untuk Nara?"


"Ya aku mengerti sekarang, terimakasih banyak telah memberikan Aku dan Nara ilmu yang baru." Memeluk Rey.


Ikuti terus kisahnya ya love you readers loversku😍


Bersambung....


Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.


Dan karya apik author yang lain :


Fit Fithree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


*Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


My Heart Is Only For You


*Sudrun


Penjelah Malam


Samudra


*Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.

__ADS_1


*Sisca Nasty


Mafia in Love


__ADS_2