
đťAssalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.đť
Bersambung.....đť
Ais dan Rey juga sudah di bandara. Di sana sudah menunggu rombongan kafilah dari Indonesia yang akan berjuang mengharumkan nama bangsa tercinta.
Rey dan Ais melepaskan keberangkatan putranya dengan bangga. Selamat berjuang anandaku sayang. Do'a kami menyertaimu, semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu dan juga para sahabatmu yang berjuang bersama.
Ais dan Rey mengantarkan keberangkatan putranya dengan derai tangis bahagia dan juga sedih. Pesawat yang membawa putranya ke King Abdul Aziz sudah tinggal landas. Deraian air mata tak lagi bisa terbendung.
Semoga linangan air mata sedih ini akan berganti dengan linangan air mata bahagia, batin Ais.
Setelah pesawat yang membawa putranya tak terlihat lagi, Ais segera bergegas untuk melihat apakah ayahnya dan kak Ari sudah berangkat atau belum.
Ia dan Rey berjalan terburu-buru, takutnya tidak bertemu lagi dengan sang ayah. Melihat istrinya yang panik dan sedih membuat seorang Rey harus mengambil tindakan. Dengan segera ia menghubungi pihak maskapai menanyakan pesawat yang akan ditumpangi oleh ayah mertua dan saudara-saudara istrinya apakah sudah berangkat atau belum.
"Halo! Bagaimana? Sudah di cek kah?"
"Sudah, Pak. Pesawat akan tinggal landas sebentar lagi," jelas petugas yang mengumumkan keberangkatan semua pesawat.
"Oke tolong saya untuk menahan mereka sebentar saja. Ada hal penting yang akan saya selesaikan dengan mereka." Rey meminta tolong pada petugas tersebut.
"Siap Pak, kalau cuma lima atau sepuluh menit. Bila lebih dari itu kami mohon maaf tidak bisa membantu," jelas petugas tadi.
"Baiklah terimakasih banyak." Rey menutup ponselnya dan berlari kecil untuk menyamai langkah istrinya yang sudah jauh darinya.
Melihat suaminya sudah datang Ais sedikit tenang.
"Ayang! Aku sangat khawatir kalau-kalau kita tidak sempat lagi untuk bertemu mereka semua," ucap Ais disela-sela langkahnya yang sedikit lebih cepat, dan napasnya pun terdengar memburu.
"Semoga saja kita masih bisa bertemu," jawab Rey ringan.
Kini keduanya sudah sampai di loby pernerbangan saudara-saudara Ais. Dan tentu saja mereka sudah menunggu kedatangan adik mereka tercinta.
"Ais!" sapa Ara saat melihat sang adik.
Ais segera berlari dengan menarik tangan suaminya.
"Cepat, Yang!"
Rey ikut berlari kecil karena di tarik oleh istrinya. Mereka pun sampai dihadapan keluarganya. Ais langsung berlari kepelukan kakak kesayangannya.
"Aku mohon jangan lupa kabari aku, Kak." Ais mengeratkan pelukannya.
"Inshaa Allah, Dek. Kamu jaga kesehatan selalu ya, dan jangan khawatirkan bapak, karena kami akan menjaganya dengan baik." Ara menepuk pundak sang adik.
"Iya, Kak." Ais menganggukkan kepalanya.
Kemudian satu persatu mereka saling rangkul. Pelukan ini akan menjadi kenangan terindah dalam kehidupan mereka nantinya.
Saat sudah dewasa biasanya adik beradik akan punya kesibukan masing-masing, apalagi semua sudah berkeluarga. Karenanya jarang sekali yang bisa full untuk memperhatikan ayah dan ibu mereka. Pada dasarnya setiap orang tua tidak melulu membutuhkan materi. Ada sisi keibuan atau kebapakaan mereka yang juga ingin dipenuhi, memberi atau menerima kasih sayang. Karenanya banyak yang mengatakan jika orang tua akan lebih sayang pada cucunya dari pada anaknya.
Sampailah kini giliran Ais untuk mengucapkan salam perpisahan dengan sang ayah.
"Bapak, jaga kesehatan disana ya. Jangan lupa vitaminnya diminum. Terus jangan lama-lama, cepatlah kembali ke rumah Ais." Ais memeluk sang ayah.
Abdullah hanya menepuk lembut pundak putrinya, ia juga kehabisan kata-kata untuk menjawab permintaan anak gadis shalihahnya.
Panggilan untuk segera menaiki pesawat telah menggema, satu persatu mereka meninggalkan Ais dan Rey menuju ke pesawat yang akan membawa semuanya terbang. Lambaian tangan mereka mampu memecahkan ketegaran baru karang yang ada di hati seorang Aisyah.
Pesawat sudah mulai tinggal landas, Ais berbalik dan memeluk suaminya. Ia mencari ketenangan di dada bidang itu.
"Kamu yang sabar, Ayang. Perpisahan ini bukan untuk selamanya." Rey memeluk erat istrinya tercinta.
"Kenapa mereka semua meninggalkan aku?" ucap Ais di sela isakannya.
"Mereka pergi untuk kembali, do'akan saja semuanya semoga selamat sampai di tempat tujuan. Begitu juga dengan ananda kita, do'akan semoga kegiatannya lancar dan semuanya dimudahkan." Rey merengkuh lebih dalam kekasihnya itu.
"Apa kita pulang sekarang? Kamu harus tetap jaga kesehatan ingatlah masih ada aku, Ara, juga Aza yang membutuhkan dirimu." Rey mengecup lembut kening istrinya.
Ais pun melonggarkan pelukannya, bagaimanapun yang diucapkan suaminya adalah benar. Ia harus tetap tegar dan kuat demi suami dan anak-anaknya.
Rey menghapus jejak air mata di sudut mata sang istri. Kemudian menggandengnya menuju mobil. Mereka akan meninggalkan bandara yang menjadi saksi bisu perpisahan Ais dengan keluarga besarnya.
"Kamu siap?" Rey menoleh pada istrinya
"Siap apa?" tanya Ais yang belum faham maksud pertanyaan suaminya.
"Siap bertempur?" Rey mengerling manja.
Tuss!
"Auwww, sakit Ayang." Rey menggosok perutnya yang dicapit kepiting cantik.
"Siapa suruh gombal." Ais membuang pandangannya ke depan.
"Abisnya kamu bukan jawab iya malah nanya, siap apa?" Rey membela dirinya sendiri.
__ADS_1
"Udah ah yuk jalan," Ais berbicara tanpa melihat pada suaminya, ia malu karena wajahnya sudah merona. Dan Rey sangat menyukai itu.
"Oke kita jalan." Tak lupa Rey dan Ais mengucapkam Do'a naik kendaraan sebelum mobil bergerak meninggalkan bandara.
Yang berbunyi:
âSubhaanal ladzii sakhhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniina wa innaa ilaa robbinaa lamungqolibuuna."
Artinya :
âMaha suci Allah yang memudahkan ini (kendaraan) bagi kami dan tiada kami mempersekutukan bagi-Nya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.â
Mobil keduanya pun melaju dengan kecepatan sedang. Namun Ais merasa heran pasalnya mobil yang ia tumpangi bukan menuju jalan pulang melainkan berbelok arah sebaliknya.
"Ayang kita mau kemana?"
"Kita akan pergi ke suatu tempat yang akan membuat bidadariku ini bisa kembali tersenyum dan ceria." Rey menoleh sebentar pada istrinya dan tersenyum.
"Kamu hanya perlu duduk manis dengan sabar." Rey kembali berucap dengan mengedipkan sebelah matanya pada Ais, yang membuat dirinya kembali merona. Tentu saja hal itu membuat Rey semakin gemas dibuatnya.
Mobil Rey berhenti di sebuah resort yang sangat indah. Meski letaknya masih diperkotaan tetapi resort ini di desain sangat nyaman seperti di pedesaan. Banyak bunga yang dan pepohonan rindang yang mengelilinginya. Bangunan yang bernuansa putih itu tentu saja sangat menarik perhatian Ais.
"Ayo turun!" Rey membuka pintu mobil kemudian keluar yang diikuti oleh Ais.
"Rumah siapa, Yang?" Ais masih berdiri sambil memegang pintu mobil suaminya.
"Untukmu." Rey mengambil sebuah kunci dan memberikannya pada sang istri.
"Maksud, Ayang?!"
Rey berjalan mendekatinya dan membisikkan sesuatu ditelinga sang istri.
"Happy anniversarry, Khumairohku."
Seketika Ais membeku, ia sangat menyesali karena melupakan momen sakral dalam hidupnya. Itu semua karena dirinya terlalu larut dalam kesedihan dan ketakutan di tinggal oleh sang ayah.
"Maafkan aku, aku-aku melupakan momen spesial dalam pernikahan kita." Ais menyesali kebodohan dirinya.
"Yang terpenting kamu tidak melupakan yang Allah yang telah menciptakan kamu, dan juga tidak melupakan lelaki tampan yang selalu mencintaimu." Rey meraih jemari sang istri dan menciumnya dengan lembut.
"Sudah delapan tahun pernikahan kita, maafkanlah aku yang dulu terlalu lemah dan tak bisa menjaga serta melindungimu dan anak kita, sekarang izinkan aku menebus semuanya dengan belajar untuk bertanggung jawab dan berusaha membahagiakanmu serta anak-anak. Do'akan aku agar bisa menjadi imam yang lebih baik untuk kalian, dan aku ingin kita bisa terus bersama hingga ke janah Allah yang indah." Rey kembali memeluk dan mencium istrinya.
"Sekarang, apa kamu ingin membiarkan aku mencumbuimu di luar sini?"
Wajah Ais kembali menyemburat merah, membuat kecantikannya semakin terpancar. Ia melepaskan pelukan suaminya dan berjalan ke arah pintu kemudian membukanya.
Daun pintu sudah terbuka namun Ais masih berdiri di depan pintu. Yang menbuat suaminya bertanya-tanya.
"Kenapa belum masuk?"
"Ayang lupa untuk membaca do'a sebelum masuk rumah? Terlebih ini rumah baru." Ais menatap pada suaminya.
Rey garuk-garuk kepala yang menadakan bahwa ia benar-benar melupakan ritual ringan namun sangat besar pengaruhnya untuk kenyamanan rumah mereka.
"Apa Ayang lupa?"
"Hmm sedikit." Dengan ragu Rey mengakuinya.
"Ayo kita baca bersama biar cepat ingatnya." Ais tersenyum pada suaminya. Mereka berdua bersiap untuk membaca do'a masuk rumah.
"Allâhumma innĂŽ asâaluka khairal mauliji wa khairal makhraji bismillâhi walajnâ wa bismillâhi kharajnâ wa âala-Llâhi rabbinâ tawakkalnâ."
Artinya : âDuhai Allah, aku memohon sebaik-baik tempat masuk dan sebaik-baik tempat keluar. Atas nama-Mu kami masuk dan atas nama-Mu kami keluar. Dan kepada Allah Tuhan kamilah kami bertawakal.â
Setelah membacanya barulah keduanya masuk kedalam rumah kecil bergaya minimalis. Resort yang baru Rey beli untuk sang istri sebagai hadiah ulang tahun perkawinan mereka yang ke delapan.
Terlihat sederhana namun elegan, sangat pas dengan selera Ais penyuka sesuatu yang simpel. Perabotannya juga terlihat sederhana mulai dari kamar tidur, ruang tamu, dapur, Kamar mandi dan ruang baca.
Tampak juga halaman belakangnya yang asri lengkap dengan kolam renang yang juga minimalis.
Setelah puas mengelilingi rumah barunya Ais dan Rey duduk santai di teras belakang sambil memandang kolam ikan yang sangat cantik.
"Ayang, terimakasih." Ais berbaring di pundak Rey.
"Untuk?!"
"Untuk segalanya, mau menerima aku apa adanya tanpa memandang status keluargaku, mau menerima aku yang kadang kala keras kepala, mau menerima aku yang sangat rapuh, mau menerima aku yang ...." Ais tak lagi dapat meneruskan ucapannya karena Rey sudah menutup mulut mungilnya dengan bibirnya yang manis.
Setelah merasa istrinya kehabisan nafas ia melepasnya kemudian menangkupkan kedua tangannya di pipi Ais.
"Untuk mau menjadi istriku, melahirkan anak-anakku, menguatkan aku saat kehilangan kedua orang tuaku, mengingatkan aku di saat aku lalai. Terimakasih khumairohku." Rey kembali mencium istrinya.
Mereka saling merangkul, saling meminta maaf atas kekurangan selama bersama dan saling mengucapkan terimakasih atas segala kebaikan diantaranya. Alangkah indah jika semua bisa seperti mereka, maka segala permasalahan dalam rumah tangga akan terselesaikan dengan baik.
"Kita pulang?" tanya Ais tiba-tiba yang membuat Rey menghentikan kegiatannya merayu sang istri.
"Kenapa?" Rey menatap sang istri.
__ADS_1
"Ara dan Aza?
"Aku sudah meminta izin pada bi Onah dan Lela untuk menjaga mereka, aku juga sudah bilang kita akan menginap." Rey menatap manik coklat istrinya.
"Jadi Ayang sudah merencanakan ini semua?" Ais mendongkakkan pandangannya menatap sang suami.
"Iya, apa kamu keberatan?" Rey membelai lembut pipi istrinya.
"Tidak." Ais menggelengkan kepalanya.
"Terimakasih." Rey mulai lagi merayu istrinya yang membuat Ais merasa terbang bersama indahnya kupu-kupu yang berterbangan di antara bebungaan.
Setelah melihat istrinya siap untuk bertempur, Rey segera membopong sang istri ke kamar baru mereka. Segala amunisi dan peralatan tempur sudah disiapkan, tak lupa mereka berdo'a sebagai perisai, keduanya kini sudah maju kemedan juang untuk meraih kemenangan yang hakiki.
Keduanya berhasil memenangkan pertempuran itu bersama. Pulang dari medan tempur membuat keduanya harus segera membersihkan diri, dan bersiap untuk salat ashar. Karena waktu salat zuhur sudah mereka tunaikan di jalan menuju ke resort.
Mereka seperti pasangan yang baru menikah saja, wajah Ais yang terus bersemu merah membuat suaminya sangat gemas.
"Ayang bisakah menghentikan wajahmu agar jangan memerah seperti itu." Rey tersenyum pada istrinya.
"Iya maaf." Ais berjalan menjauhi suaminya menuju tasnya yang tergantung di belakang pintu. Kemudian ia memakai nikop (cadar) yang menutupi wajahnya sehingga yang terlihat hanya matanya saja.
"Bagaimana?" tanya Ais.
"Ayang kenapa di tutup begitu?" tanya Rey heran.
"Katanya biar nggak kelihatan kalau wajahku memerah." Ais cemberut meski suaminya tidak melihat bibirnya yang mancung.
"Aku bercanda Ayang, sini!" Rey menarik istrinya dan melepaskan nikopnya.
"Kita wudu ya, tuh suara azan sudah berkumandang di ponsel aku." Rey mencium lembut kening istrinya. Mereka berdua segera berwudu dan menunaikan salat ashar.
Rey sangat bahagia karena saat ini kesedihan tak lagi menghinggapi Istrinya. Ia selalu berdo'a semoga hanya senyuman saja yang menghiasi wajah cantik istrinya.
Habis salat keduanya menghabiskan waktu untuk menanam bunga-bunga di taman belakang yang bibitnya sengaja Rey pesan, karena ia tahu sang istri sangat senang bercocok tanam.
Rey bertugas memasukan tanah hitam ke dalam pot sedangkan Ais menanam bunganya. Melihat istrinya sedang asyik menanam ia berniat menjahili sang istri.
"Ayang ada apa di pipimu?"tanya Rey pura-pura melihat sesuatu.
"Ada apanya?" tanya Ais yang mulai meraba pipinya tanpa ia sadari tangannya yang kotor bekas menanam telah mengotori wajahnya yang mulus.
Melihat wajah istrinya yang cemong Rey tertawa terpingkal-pingkal sambil membidiknya dengan kamera. Kemudian memperlihatkannya pada Ais. Menyadari ia sudah dikerjai suaminya dengan sigap Ais mengambil tanah hitam yang ada dalam genggamannya kemudian mencoleknya ke pipi sang suami.
"Nih rasa in." Ais terkekeh.
"Kamu ya?!" Rey tak mau kalah ia juga mengambil sejumput tanah dan hendak mencolek pipi istrinya, namun Ais segera berlari dan bersembunyi di balik pohon cemara yang rimbun.
Merasa kalah Rey berlari mengejar sang istri. Jadi lah Keduanya main perang-perangan tanah yang membuat kotor wajah dan baju keduanya.
"Stop-stop!" Ais mengangkatkan tangannya, dengan nafas tersengal-sengal ia membungkuk sambil berpegangan pada kedua lututnya. Ia berusaha mengatur napasnya agar bisa mengurangi rasa lelahnya.
"I-ya, aku juga ca-pek," ucap Rey terputus-putus.
Sudah lama ia tidak olahraga fisik seperti ini. Hanya olahraga sambil berperang saja yang rutin ia lakukan.
"Capek baget ya, Yang." Ais tersenyum pada suaminya. Keringat telah membasahi bajunya.
"Iya, rasanya betis aku kenceng dan Akhh!" teriak Rey sambil memegang betisnya yang mengeras.
"Ayang sini! Itu buah betisnya naik. Kalau bahasa kerennya kram." Ais menarik kaki sang suami dan mengurutinya. Hanya dalam hitungan detik kaki Rey kembali normal.
"Makasih sayang, beginilah nikmatnya menikah dengan wanita yang serba bisa." Rey melirik sang istri yang mendapat cubitan lembut di pahanya.
"Ayang, udah ah. Aku mandi dulu." Ais berangkat dan meninggalkan suaminya yang masih senyam senyum sendiri tapi bukan orang gila ya tegas Ais yang membuat author ikut tertawa wkwkwkk.
Rey segera berlari untuk menyusul sang istri, ia tidak ingin melewati kesempatan spesial ini. Jarang-jarang ia bisa mandi bersama sang istri tanpa ada gangguan.
Note.
Selain itu, Nabi Muhammad SAW kerap mengajak istrinya mandi bersama.
Seperti diriwayatkan Sayyidah Aisyah RA, dia mengatakan, "Dahulu aku mandi junub bersama Rasululah SAW dari satu bejana di mana tangan kami bergantian (mengambil air) di dalamnya, (HR Bukhari, Muslim dan Ibnu Hibbah mencantumkan riwayat tambahan, "Sedangkan tangan kami (Aisyah dan Rasulullah) saling bersentuhan).
Jadi mandi bersama istri bisa menambah kemesraan diantara keduanya. Tapi ini khusus untuk pasangan yang sudah menikah ya!!!!
Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula untuk Tap jempol serta komennya!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ke 2 ku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik. ini adalah daftar novel favoritku, kalian boleh coba untuk mampir pasti suka.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik. ini adalah daftar novel favoritku, kalian boleh coba untuk mampir pasti suka.
__ADS_1