Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
DETIK TERAKHIR 2


__ADS_3

🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌻


Selamat Membaca!


*****


Rumah Sakit ....


Ya sudah sekalian juga kak Ara dan bapak ikut pulang. Kasihan bapak sudah beberpa hari kurang tidur dan makan tidak teratur. Besok pagi-pagi baru kalian balik kesini lagi." ucap Ais akhirnya, karena memang kasihan Abdullah sepertinya sudah sangat kecapean.


Akhirnya semua menyetujui permintaan Ais. Kini tinggallah mereka bertiga Ari, Ali, dan Ais. Sedangkan Rey ikut pulang mengantarkan adik dan kakak iparnya serta ayah mertuanya Abdullah.


Malam semakin larut Ais dengan setia menemani sang ibu dengan lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an. Sementara Ari dan Ali bercerita di luar tepat di depan ruangan sang ibu. Saat itulah sesuatu terjadi.


"Aisss ....!" sapa aminah yang tiba-tiba saja sudah bangun dan duduk.


"Subhanallah! Ibu!" Ais segera mendekat dan memeluk sang ibu.


"Ibu sudah sadar, terimakasih yaa Allah." Air mata Ais mengalir membasahi kedua pipinya yang mulus dan lembut. Dengan erat ia memeluk Aminah yang tampak segar bugar.


"Ais kamu apa-apaan, siapa yang sudah sadar?" Aminah balik bertanya seperti orang yang bingung, tentu saja membuat Ais segera melepaskan pelukannya.


"Ibu yang sakit, apa ibu tidak merasakan sakit?" tanya Ais yang bingung.


"Enggak ibu enggak sakit, ibu sehat dan baik-baik saja. Ini apa kenapa di pasang di tangan ibu? Dan ini sangat menganggu." Aminah melepas selang oksigen dari hidung dan mulutnya.


"Ibu nggak susah nafasnya?" tanya Ais yang semakin bingung.


"Enggak ibu baik-baik saja, nih nafas ibu lancar. Ini buka ya?" Aminah hendak menarik jarum infus dan segera dicegah oleh Ais.


"Jangan, Bu. Itu infus besok saja ya kita bukanya nungguin dokternya.


"Emangnya ibu sakit?" Aminah melihat Ais dengan tersenyum.


*Yaa Allah, ibuku kenapa? Dia sadar terapi seperti orang yang lupa ingatan batin Ais sedih.*


"Iya ibu sakit," jawab Ais singkat.


"Kapan dan ini di mana?" Aminah melihat sekelilingnya yang bernuasa putih.


"Ini rumah sakit, Bu. Kita sudah hampir dua minggu di sini. Apa ibu nggak ingat?" tanya Ais sambil mengambilkan air untuk Aminah yang merasa haus.


"Enggak ibu nggak ingat. Memangnya kenapa ibu sampai kamu bawa ke rumah sakit?" tanya Aminah lagi.


"Waktu itu ibu mau wudu untuk salat subuh dan terjatuh di kamar mandi," jelas Ais pada sang ibu.


"Masa sih, kok ibu nggak ingat ya. Oh ya sekarang sudah jam berapa, Nak?" tanya Aminah dengan wajah yang serius.


"Sekarang sudah jam dua belas lewat sepuluh menit, Bu. Ini sudah lewat tengah malam. Sebaiknya ibu segera beristirahat." Ais mengenggam tangan sang ibu.


"Benarkah? Jadi ini sudah tengah malam. Kamu tidurlah jaga kesehatanmu." Aminah membalas genggaman tangan Ais.


"Ais belum mengantuk, nungguin ibu tidur dulu nanti baru Ais tidur." Ais tersenyum pada Aminah.


"Ais! Apa kamu masih ingat dulu di kebun kita ada buah yang berwarna kuning rasanya sangat manis dan lezat?" Aminah menatap wajah Ais dengan berbinar.


"Iya, Ais ingat. Kenapa memangnya?" tanya Ais yang semakin merasa aneh dengan sikap sang ibu.


"Kamu tahu tadi ibu di ajak oleh seorang pemuda yang sangat tampan berjalan-jalan ke kebun buah. Semua buah ada di sana dan sangat banyak. Semua Buahnya sudah matang, nah disanalah ibu menemukan buah berwarna kuning itu, pas ibu makan rasanya sangat legit dan harum. Sampai detik ini rasa manisnya masih dapat ibu rasakan." Aminah memegang mulutnya seolah merasakan rasa manis legit sang buah kuning.


*Yaa Allah sudah sejauh itukah pejalanan ibuku, apa memang Kau akan membawanya bersamamu. Jika memang iya aku ikhlas yaa Allah, tolong tempatkan ia di jannahMu. Ais membatin sedih dalam hatinya.*


"Bu! Apa ibu kenal aku siapa?" tanya Ais penasaran.


"Iya kenallah, kamu Ais anakku." Aminah memegang tangan Ais.


"Kalau itu?" Tunjuk Ais pada suaminya yang tertidur di sofa.


"Itu Rey suamimu," jawab Aminah santai.

__ADS_1


"Kalau itu?" Ais menunjuk pada kedua kakak laki-lakinya.


"Itu Ari, dan itu Ali. Kamu kenapa Ais?" tanya Aminah yang sekarang menjadi bingung dengan pertanyaan Ais.


Ais hanya tersenyum dan menggeleng.


"Tadinya aku khawatir ibu tidak mengenaliku," jawab Ais jujur.


"Sekarang jam berapa Ais?" tanya Aminah lagi seolah mengalihkan topik pembicaran mereka.


"Sekarang sudah jam satu malam ibu, sebaiknya ibu istirahat ya." Ais meminta sang ibu untuk istirahat namun tak digubris oleh Aminah.


"Ais kenapa para perawat dan dokter ada di dapur rumah kita?" tanya Aminah seakan merasa ada di rumahnya sendiri. Ais yang mengerti akan keanehan sang ibu menjawab dengan sebenarnya.


"Apa ibu ingat kakek yang dulu sering ketemu kita waktu cek up kesehatan ibu? Nah sekarang dia sedang kristis, makanya tim dokter berlari-lari untuk menyelamatkannya." Ais menceritakan yang sebenarnya pada Aminah.


"Yaa Allah kasihan sekali kakek itu, semoga dia selamat ya , Ais." Aminah menatap sang anak.


"Aamiin," jawab Ais atas ucapan ibunya.


"Ais sekarang jam berapa?" Aminah kembali menanyakan waktu pada Ais.


"Sekarang sudah jam satu lewat lima belas menit, Bu."Ais ikut menunjukkan jam pada sang ibu.


"Kamu belum istirahat? Kasihan kamu pasti capek belum tidur." Aminah kembali tersenyum. Ais tak dapat menahan buliran bening dari sudut matanya. Ia merasa semakin jelas kalau Aminah akan meninggalkannya.


"Ais kamu kenapa menangis?" tanya Aminah pada putrinya yang membuat Ais berangkat dari duduk dan merubah posisinya jadi berlutut dihadapan sang ibu.


"Bu!" Ais menyalami tangan ibunya.


"Ais minta ampunan dan maaf dari ibu atas segala salah dan silaf yang pernah Ais lakukan pada ibu baik sengaja ataupun tidak, dan tolong halalkan air susumu untukku ibu dari sejak aku lahir sampai aku bisa tumbuh dewasa seperti ini." Ais mencium tangan ibunya sambil meneteskan air mata, perasaan air sangat kacau.


"Kenapa kau meminta ampunan dan maaf dariku? Kamu anakku yang baik, kamu tidak pernah menyusahkan ibu." Aminah membelai kepala sang putri yang tertutup hijab. Semua tidak ada yang menyaksikan pembicaraan antara ibu dan anak itu karena Aminah melarangnya untuk membangunkan mereka semua termasuk suaminya Abdullah yang ikut pulang ke rumah malam ini.


"Tapi aku ingin meminta maaf dan ampunanmu ibu," ucap Ais disela isakannya.


"Sekarang sudah jam setengah satu, Bu." Ais melirik jam yang tergantung di atas tempat tidur sang ibu.


"Ais! Apa kamu membawa kain sarung kesayangan ibu? Dan juga bantal dari rumah kita?" Aminah kembali bertanya.


"Iya, Bu. Ini sarung dan bantalnya. Tetapi untuk apa?" tanya Ais sambil menyerahkan kain sarung dan bantal yang di minta sang ibu.


"Ibu tidak mau lagi pakai bantal serta selimut dari rumah sakit ini, ibu mau pakai sarung ibu sendiri dan juga bantal ibu sendiri." Aminah mengambil bantal dan sarung yang Ais berikan. Tampak sang ibu melipat kain dari rumah sakit dan menyingkirkan bantal dari rumah sakit. Tempat tidurnya kini sudah rapi. Kemudian Aminah mengambil kain sarung yang Ais kasih dan membaliknya.


"Loh Bu. Kenapa kain sarungnya ibu balik?" tanya Ais heran bercampur khawatir.


"Nggak kok ini yang bagusnya." Aminah menyelimuti sarung itu pada tubuhnya.


"Ais ini besok tolong di buka ya, ibukan sudah sehat. Besok ibu mau pulang, ibu nggak mau diam di rumah sakit lagi. Ibu mau pulang!" pinta Aminah pada putrinya.


"Iya, Bu. Inshaa Allah besok kita buka infusnya tapi nunggu dokternya dulu ya." Ais berusaha menenangkan sang ibu yang mulai tampak gelisah.


"Sekarang sudah pukul berapa?" Aminah kembali menanyakan waktu.


"Sekarang sudah jam setengah dua pagi. Apa ibu mau istrirahat?" tanya Ais pada sang ibu.


"Kamu yang istirahat dulu baru nanti ibu ikut istirahat." Aminah tersenyum sangat manis.


"Ais tunggu ibu dulu kalau ibu sudah tidur baru Ais tidur." Ais membalas senyum sang ibu.


"Baiklah, ibu akan istirahat sekarang tetapi benar ya besok kita pulang, dan ibu masih ingin kembali ke kebun buah itu. Ibu masih ingin memakan buah kuning itu rasanya sangat manis." Aminah tampak bersemangat.


"Iya Bu. Inshaa Allah kita pulang besok jika dokter sudah mengizinkan." Ais tersenyum.


"Baiklah ibu istirahat sekarang ya!" Aminah menepuk-nepuk bantalnya bersiap untuk tidur.


Ais memeluk sang ibu erat seolah tak rela untuk melepasnya begitu juga dengan Aminah. Namun perlahan tapi pasti tangan Aminah terkulai dalam dekapan Ais.


"Ibuuuuuuuuu!" teriak Ais histeris

__ADS_1


*****


Bersambung.....🌻


Terimakasih sudah membaca!


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa


Mengejar Cinta Ariel


My Prince Fauzan


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


Ceo dingin dan Gadis Kampung


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


* Karlina Sulaiman


Ceo Somplak


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati


*Novi Wu


Bos Come Here Please!


*Ricky Wijaksono


Api Di bumi Majapahit


*Samar


Cinta Di antara Dendam


* Syala Yaya


Istri kedua tuan Krisna


* Cherin Kauma


l Love My Army Wife


*Oktavia Tresiani


Pacarku Hantu

__ADS_1


__ADS_2