Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
BAHAGIA YANG TERTUNDA


__ADS_3

🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌻


Happy Reading!


Rumah Sakit ....


Keluarga ibu Aisyah." Panggil Perawat IGD.


"Ya." Rey berangkat dari duduknya yang diikuti oleh Bayu dan Mira.


"Silahkan masuk," perawat itu membuka pintu lebar-lebar untuk ketiganya.


"Apa Ais tidak membenciku?" Mira merasa khawatir.


"Tante harus yakin, inshaa Allah Ais tidak akan membenci tante, mungkin tante juga tahu itu, disaat semua membenci tante dia lebih memilih untuk memaafkan." Rey berusaha meyakinkan wanita paruh baya tersebut.


Ketiganya berjalan mengikuti langkah sang perawat, kini mereka sampaindi sebuah ruangan yang bernuansa putih hijau yang menenangkan.


"Silahkan, Pak! Ibu Aisyah dirawat di dalam. Di sana juga sudah menunggu dokter Bayu." Tegas perawat itu.


"Apa?! Kalian membiarkan dokter Bayu berdua saja dengan istri saya di dalam?" Rey segera menerobos masuk tanpa menghiraukan ocehan sang perawat lagi.


Krek!


Daun pintu segera terbuka, langkah panjang Rey segera memasuki kamar tersebut. Ia tampak tergesa dan memasang wajah kesal.


"Kenapa ka-mu ...." Rey langsung diam dan menutup mulutnya saar melihat Bayu bersama beberapa perawat sedang membantu Ais untuk duduk. Wajah cantik istrinya terlihat sangat pucat dan lesu.


Rey berjalan mendekat yang diikuti oleh Bayu dan Mira.


"Bagaimana keadaannya?" suara Rey melemah.


"Kenapa? Tadi mau marahin aku ya? Kamu kira aku berduaan sama bidadarimu?" Bayu berucap tanpa menoleh pada Rey karena sedang membantu Ais untuk duduk.


Rey terdiam tanpa bicara sepatah katapun, hanya senyuman masam yang ia tampakkan karena merasa malu dirinya tertangkap basah hendak marah pada Bayu, sahabatnya sekaligus dokter yang menangani istrinya.


"Maaf!" Rey Menggaruk-garuk kepalanya meski tidak gatal.


Bayu menoleh sebentar kemudian berdiri di depan Rey.


"Dia baik-baik saja, hanya saja kekasihmu itu mengalami tekanan batin yang teramat dalam, kamu harus bisa membuatnya merasa bahagia, jangan biarkan dia terpuruk terlalu dalam. Saya khawatir kalau-kalau dia akan keguguran." Bayu menatap Rey sambil tersenyum.


"A-apa maksud kamu, Aisku?"


"Iya, baru jalan tiga minggu. Kalau kondisinya masih begini terus aku takut kalau janin yang ada dalam rahimnya tidak akan bertahan. Makanya Ais harus selalu bahagia." Bayu kembali tersenyum.


Rey merasa sangat bahagia, pasalnya ia memang meminta Ais untuk memberikan adik untuk Ara dan Aza yang kini sudah berumur dua tahun lebih. Mereka berdua tidak menyadari kalau di dalam rahim istrinya telah tersemai buah cinta Keduanya.


"Oke, aku tinggal dulu. Kamu bicarakan saja pada istrimu supaya dia bisa kembali bangkit demi calon buah hati kalian." Bayu menepuk pundak Rey dan menganggukkan kepalanya pada Bayu dan Mira.


Ketiganya mendekat pada Ais yang sudah tersenyum dalam kepiasan wajahnya. Ia menyambut baik kedua orang tua Hanif, seseorang yang sangat mencintainya di masa lalu, meskipun banyak gambaran luka yang terpahat di sana.


"Ais!" sapa Mira perlahan sambil mengulurkan tangannya, yang di sambut hangat oleh Ais bersama buliran bening dari sudut matanya.


"Maafkanlah tante atas perbuatan masa lalu tante yang begitu kejam dan dzalim. Tante benar-benar menyesal dan tidak bisa tenang selama ini. Sebenarnya tante berusaha untuk menghindari kalian semua, tetapi hari ini entah mengapa saat melihat suamimu, tante merasa harus melakukan semua ini yang sudah seharusnya tante lakukan sejak dulu." Mira menghapus air matanya yang sudah mengalir deras. Ia juga sebenarnya kerumah sakit ini untuk ikut terapi karena dia di diagnosa mengalami stress yang hampir membuat akal sehatnya tidak bisa berfungsi dengan baik.


Penyakit Mira tercipta dari masa lalu Mira yang kelam, rasa bersalah yang ia rasaan sangat membuat batinnya tersiksa. Sebenarnya kata dokter terapi yang dia jalani hanya alat namun kesembuhan sebenarnya ada pada hatinya sendiri.

__ADS_1


"Aku sudah memaafkan tante sejak lama, jauh sebelum tante meminta maaf. Kita sebagai manusia tidak lepas dari salah maupun silaf. Tinggal kitanya menyadari atau tidak, ingin memperbaiki atau tidak, ingin meminta maaf dan bertobat atau tidak," jawab Ais lirih.


Merasa sangat terharu dengan ucapan Ais, Mira dengan reflek merengkuh tubuh tak berdaya yang lemah itu.


"Maafkanlah tante, sungguh mulia hatimu nak, andaikan dulu tante tak melihatmu dari segi harta pasti Hanif akan menjadi lelaki yang sangat beruntung dan aku akan menjadi nenek yang sangat bahagia." Mira mengeratkan rangkulannya pada Ais.


Wajah Rey terlihat sangat tegang, ia merasa cemburu saat Mira masih memimpikan Ais untuk menjadi menantunya, namun dengan cepat ia beristiqfar karena Hanif inshaa Allah sudah tenang di alam sana.


Bayu yang tahu perubauan raut wajah Rey segera menghampirinya.


"Maafkanlah tantemu, om mohon biarkanlah dia meluapkan semua masalah yang terpendam dalam hatinya sejak dulu. Biarkan dia menuntaskan rasa bersalahnya agar ia bisa kembali menjalani hari-harinya tanpa rundungan masa lalu." Budi menangkupkan kedua tangannya, memohon pada Rey.


Dengan cepat Rey memegang kedua tangan Bayu.


"Aku mohon, om jangan seperti ini." Rey merangkul Bayu.


"Aku belajar untuk mengikhkaskan semuanya, maafkan kalau sikapku tadi seperti itu. Semuanya reflek, terjadi dengan begitu saja."


"Itu wajar," ucap Bayu perlahan tersenyum.


Kini mereka berempat saling berdekatan. Tampak wajah kekasihnya sedikit lebih ceria meski masih pucat dan lesu.


"Ayang! Aku ingin menyampaikan kabar bahagia untukmu ... untuk kita." Rey menggenggam erat tangan Ais.


"Alhamdulillah kabar apa, Yang?" tanya Ais lemah.


"Ara dan Aza akan ...." Rey sengaja menggantungkan ucapannya yang Membuat ketiganya terlihat penasaran.


"Akan apa?" Ais mulai terlihat gusar. Pikirannya berkelana melintasi alam khayalan yang berada antara suka maupun duka.


Melihat Ais terlihat sangat tertekan membuat Rey mengurungkan untuk melanjutkan ucapannya. Seketika tubuh Ais mulai mengejang kembali, ia terlihat seperti seseorang yang sangat kesakitan sampai akhirnya mulai tak sadarkan diri.


"Astagfirullah haladzim, pasien berdarah," teriak salah satu perawat.


Dengan cepat mereka membawa Ais keruang pemeriksaan.


"Cepat telepon dokter Bayu!" teriak salah satu perawat lagi.


Setelah menghubungi dokter Bayu yang meminta Ais segera di bawa ke ruang kebidanan membuat Mira dan Bayu heran.


"Rey apa tadi kamu ingin mengatakan kalau Ais sedang mengandung?" tanya Mira dengan wajah sembabnya. Ia juga cepat menangis kalau melihat atau mendengar seseorang yang sedang mengalami kesulitan sekarang, sejak kejadian masa lalu membuatnya menjadi lebih sensitif.


"Iya, Tan. Tapi tadi aku bermaksud membuat kejutan untuknya namun malah begini."Rey tampak sangat menyesal.


"Kita do'akan saja semoga Ais dan calon bayi kalian selamat," ucap Bayu menguatkan Rey.


"Aamiin," ucap Mira dan Rey bersamaan.


Setelah menunggu hampir satu jam, pintu ruangan kebidanan yang menangani Ais mulai terbuka.


"Rey!" sapa dokter Bayu.


Dengan cepat Rey berdiri dan menunggu sahabatnya itu mendekat.


"Bagaimana, Bay?" Rey terlihat panik.


"Maafkan aku, kami sudah berusaha untuk menyelamatkan calon bayi kalian namun jika tetap kami pertahankan maka nyawa Aismu dalam bahaya, ia mengalami shock emosi yang cukup akut." Bayu menjelaskan pada Rey.

__ADS_1


Lelaki tampan itu tampak terduduk lesu, ia meraup kasar wajahnya.


"Apa kamu sudah mengatakannya pada Ais?" tanya dokter Bayu.


"Belum," jawab Rey pelan.


"Syukurlah kalau begitu." Dokter Bayu menarik napas lega.


"Kenapa kamu mengucapkan syukur?" Rey bingung.


"Kita memang harus bersyukur sebab kalau ia tahu kalau dirinya keguguran itu akan menambah buruk suasana hatinya, kalau ia tidak tahu setidaknya ia tidak akan merasa bersalah atau kehilangan." Bayu tersenyum.


"Sekarang kita tunggu dia siuman, daj tolong dalam minggu-minggu ini jangan membuat perasaannya tertekan. Selama ini sepertinya Ais selalu menyimpan masalahnya sendiri," ucap dokter Bayu pada Rey.


"Kamu benar, ia tak pernah ingin orang lain melihatnya bersedih. Mungkin salah satu penyebab perasaanya sensitif dan mudah terpuruk karena ia sedang mengandung kemarin." Rey menoleh pada sahabatnya.


"Kamu benar, biasanya seorang wanita yang baru hamil akan mengalami emosi yang tidak stabil. Sekarang kita jaga saja perasaannya agar ia selalu merasa nyaman dan bahagia."


"Siap inshaa Allah." Rey tersenyum.


"Oke kalau begitu saya permisi dulu, kalau ada apa-apa kamu tekan saja bel nya." Dokter Bayu berlalu menuju ke pintu keluar.


"Apa ini karena tante?" Mira mendekat pada Rey.


"Bukan, Tan. Ini karena Ais menjadi sensitif saat mengandung. Dalam hal ini tante tidak salah sama sekali." Rey meyakinkan Mira.


Sedang asyik mengobrol tiba-tiba Ais menyapa Rey.


"Ayang!" sapa Ais pelan.


"Alhamdulillah, kamu udah siuman." Rey mendekat pada istrinya.


"Aku kenapa?"


"Kamu hanya kecapean dan harus banyak istirahat." Rey mencium lembut kening istrinya.


"Tante dan Om masih di sini?" Ais mencoba untuk tersenyum yang disambut deraian air mata Mira.


*Andai dulu aku benar-benar tulus memilihmu, mungkin saat ini aku dan Hanif adalah manusia yang paling beruntung di muka bumi ini, batin Mira.*


"Iya sayang om dan tante masih ingin menunggu kamu siuman, dan izinkan aku untuk mengatakan ini padamu." Rey mecium lembut pucuk kepala istrinya.


"Jangan Terlalu Benci dan Teramat Cinta, Ini Pesan Rasulullah. Beliau mengingatkan agar tidak cinta dan benci berlebihan."


"Dari Abu Hurairah secara marfu': "Cintailah orang yang kau cinta dengan sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah kepada orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia yang kau benci menjadi orang yang kau cinta (HR Tirmidzi)." Rey tersenyum dan menggenggam jemari lentik istrinya.


"Terimakasih Ayang sudah mengingatkan aku, do'a kan agar aku bisa melewati ini semua." Ais mencoba untuk tersenyum.


"Terimakasih juga Rey sudah mengingatkan tante," ucap Mira sambil menghapus air matanya.


Dalam hati Keempatnya, mereka masing-masing berjanji pada dirinya sendiri untuk mengganti kebahagiaan yang tertunda ini dengan membuat orang-orang tersayangnya bahagia.


Bersambung ....


Untuk semua pembaca setia Aisyah saya mohon maaf karena beberapa hari ini tidak bisa Up dikarenakan saudara sepupu Aku ada yang meninggal dan ini baru lepas 7 harinya, mohon doanya agar beliau husnul khotimah.


Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula untuk Tap jempol serta komennya!

__ADS_1


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ke 2 ku Cinta Bersemi Diujung Musim.



__ADS_2