Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
TEMAN BARU ALIF


__ADS_3

๐ŸŒปTerimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. ๐ŸŒป


Semua tersenyum gembira menyambut kemenagan Alif. Dan Ais ia tidak bisa menyembunyikan air mata harunya, ia sangat bangga pada putranya.


"Ananda Alif apa ada yang ingin disampaikan. "


"Iya." Meraih mic.


"Umi ... Abi ... terimakasih karena telah merawat dan mendidik Alif, kemenangan ini adalah kemenangan Umi dan Abi."


Semua terharu mendengar ucapan Alif yang tulus mengucapkan terimakasihnya pada kedua orangtuanya.


Riuh gemuruh tepuk tangan memenuhi arena perlombaan, tak sedikit para orangtua ataupun penonton yang juga menitikkan air mata haru mendengar ucapan Alif.


"Baiklah kepada Umi dan Abi ananda Alif kami persilakan untuk naik ke atas panggung, supaya ananda kita ini benar - benar bisa menumpahkan perasaan gembira yang sedang meluap dihatinya, kita sambut kedua orangtua ananda Alif." ucap MC.


Tepuk tangan kembali membahana membelah keramaian suasaan lomba yang tampak semakin menghangat.


Rey dan Ais sudah menaiki tangga menuju ke panggung, melihat kedua orangtuanya sudah berada diatas panggung membuat Alif kecil tak mampu menahan gejolak rasanya. Dengan cepat ia berlari kepelukan kedua orangtua yang mengundang rasa haru, lucu, dan juga menggemaskan.


"Sekarang bagaimana perasaan ananda Alif?"


"Senang."


"Siapa yang rajin membantu ananda Alif berlatih hafalan dirumah?"


"Umi."


"Kalau Abi?"


"Abi bantu cari duit buat beli baju lomba Babang Alif."


Semua tertawa gembira mendengar jawaban ananda Alif yang polos dan jujur.


"Bagimana Umi, apa ananda Alif akan siap bertanding ke kancah yang lebih keren dan lebih besar?"


"Inshaa Allah jika ananda mampu dan bisa, maka kami akan mencoba."


"Sip! Semoga ananda bisa bersaing nanti ditingkat propinsi."


"Aamiin Allahumma aamiin," ucap Ais sambil mencium pucuk kepala Alif.


"Baiklah sekarang kedua orangtua ananda Alif sudah bisa kembali ketempatnya karena acara puncak kita yaitu penyerahan hadiah akan segera kita mulai."


Rey dan Aispun segera bersiap turun dari panggung, namun baru sampai diujung tangga langkah keduanya terhenti karena mendengar teriakan putranya.


"Umiiiii ... Abiiii ... hati - hati," teriak Alif.


Sontak semua hadirin yang ada tertawa dan geleng kepala melihat tingkah lucu ananda Alif. Mereka semua salut karena ucapan yang diucapkan Alif memang terlihat biasa saja, namun makna yang tersirat didalamnya sangat luar biasa.


Rey dan Ais mengajungkan kedua jempolnya yang menandakan kalau mereka baik - baik saja.


Setelah Rey dan Ais turun acara puncakpun segera dimulai, suasana yang tadi tampak tenang kini mulai dipenuhi dengan teriakan dan tepuk tangan serta kilatan lampu kamera.


Setelah acara puncak berlangsung Mc pun segera menutup acara perlombaan kali ini dengan permintaan maaf dan diakhiri dengan sholawat badar.


"Baiklah hadirin rohimakumullah, demikianlah rangkaian acara lomba kita kali ini. Untuk teman - teman yang menang janganlah menjadi sombong dan takabur, tapi jadikan ini sebagai penyemangat untuk tampil diperlombaan berikutnya, sedangkan untuk teman - teman yang belum menang jangan berkecil hati tetapi jadikan ini sebagai penyemangat juga untuk tampil lebih baik lagi diperlombaan berikutnya."


"Sebagai penutup marilah kita bersholawat bersama."


ุตูŽู€ู„ุง ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู€ู„ุง ูŽู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู€ู„ูŽู‰ ูŠู€ุณ ุญูŽุจููŠู’ู€ุจู ุงู„ู„ู‡ู


Shalaatullaah salaamullah โ€˜alaa yaa siin habiibillah


ุตูŽู€ู„ุง ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู€ู„ุง ูŽู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู€ู„ูŽู‰ ุทู€ู‡ูŽ ุฑูŽุณูู€ูˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู


Shalaatullaah salaamullaah โ€˜alaa thaaha Rasuulillah


ุตูŽู€ู„ุง ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู€ู„ุง ูŽู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู€ู„ูŽู‰ ูŠู€ุณ ุญูŽุจููŠู’ู€ุจู ุงู„ู„ู‡ู


Shalaatullaah salaamullah โ€˜alaa yaa siin habiibillah


ุชูŽูˆูŽ ุณูŽู€ู„ู’ู†ูŽุง ุจูู€ุจูู€ุณู’ู€ู…ู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ูˆูŽุจูุงู„ู’ู€ู‡ูŽุงุฏูู‰ ุฑูŽุณูู€ูˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู


Tawassalnaa bibismi llaah wabil haadi Rasuulillah


ุชูŽูˆูŽ ุณูŽู€ู„ู’ู†ูŽุง ุจูู€ุจูู€ุณู’ู€ู…ู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ูˆูŽุจูุงู„ู’ู€ู‡ูŽุงุฏูู‰ ุฑูŽุณูู€ูˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู


Tawassalnaa bibismi llaah wabil haadi Rasuulillah


ูˆูŽ ูƒูู€ู€ู„ูู‘ ู…ูุฌูŽู€ุง ู‡ูู€ุฏู ู„ูู„ู‘ู‡ู ุจูุงูŽู‡ู’ู€ู„ู ุงู„ู’ุจูŽู€ุฏู’ ุฑู ูŠู€ูŽุง ุงูŽู„ู„ู‡ู


Wakulli mujaahidil lillaah bi ahlil badri yaa Allah


ูˆูŽ ูƒูู€ู€ู„ูู‘ ู…ูุฌูŽู€ุง ู‡ูู€ุฏู ู„ูู„ู‘ู‡ู ุจูุงูŽู‡ู’ู€ู„ู ุงู„ู’ุจูŽู€ุฏู’ ุฑู ูŠู€ูŽุง ุงูŽู„ู„ู‡ู


Wakulli mujaahidil lillaah bi ahlil badri yaa Allah


ุตูŽู€ู„ุง ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู€ู„ุง ูŽู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู€ู„ูŽู‰ ุทู€ู‡ูŽ ุฑูŽุณูู€ูˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู


Shalaatullaah salaamul laah โ€˜alaa thaaha Rasuulillah


ุตูŽู€ู„ุง ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู€ู„ุง ูŽู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู€ู„ูŽู‰ ูŠู€ุณ ุญูŽุจููŠู’ู€ุจู ุงู„ู„ู‡ู


Shalaatullaah salaamullah โ€˜alaa yaa siin habiibillah

__ADS_1


ุงูู„ู‡ูู€ู‰ ุณูŽู€ู„ูู‘ู€ู…ู ุงู’ู„ุงูู…ู€ูŽู‘ุฉ ู…ูู€ู†ูŽ ุงู’ู„ุงูู€ูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู†ูู‘ู€ู‚ู’ู€ู…ูŽุฉูŽ


llaahi sallimil ummah minal afaati wanniqmah


ุงูู„ู‡ูู€ู‰ ุณูŽู€ู„ูู‘ู€ู…ู ุงู’ู„ุงูู…ู€ูŽู‘ุฉ ู…ูู€ู†ูŽ ุงู’ู„ุงูู€ูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู†ูู‘ู€ู‚ู’ู€ู…ูŽุฉูŽ


llaahi sallimil ummah minal afaati wanniqmah


ูˆูŽู…ูู†ู’ ู‡ูŽู€ู…ู ูˆูŽู…ูู†ู’ ุบูู€ู…ูŽู‘ู€ุฉู ุจูุงูŽ ู‡ู’ู€ู„ู ุงู„ู’ุจูŽู€ุฏู’ ุฑู ูŠู€ูŽุง ุงูŽู„ู„ู‡ู


Wamin hammiu wamin โ€˜ummah bi ahlil badri yaa Allah


ูˆูŽู…ูู†ู’ ู‡ูŽู€ู…ู ูˆูŽู…ูู†ู’ ุบูู€ู…ูŽู‘ู€ุฉู ุจูุงูŽ ู‡ู’ู€ู„ู ุงู„ู’ุจูŽู€ุฏู’ ุฑู ูŠู€ูŽุง ุงูŽู„ู„ู‡ู


Wamin hammiu wamin โ€˜ummah bi ahlil badri yaa Allah


ุตูŽู€ู„ุง ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู€ู„ุง ูŽู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู€ู„ูŽู‰ ุทู€ู‡ูŽ ุฑูŽุณูู€ูˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู


Shalaatullaah salaamul laah โ€˜alaa thaaha Rasuulillah


ุตูŽู€ู„ุง ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู€ู„ุง ูŽู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู€ู„ูŽู‰ ูŠู€ุณ ุญูŽุจููŠู’ู€ุจู ุงู„ู„ู‡ู


Shalaatullaah salaamullah โ€˜alaa yaa siin habiibillah


ุตูŽู€ู„ุง ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู€ู„ุง ูŽู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู€ู„ูŽู‰ ุทู€ู‡ูŽ ุฑูŽุณูู€ูˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู


Shalaatullaah salaamul laah โ€˜alaa thaaha Rasuulillah


ุตูŽู€ู„ุง ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู€ู„ุง ูŽู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู€ู„ูŽู‰ ูŠู€ุณ ุญูŽุจููŠู’ู€ุจู ุงู„ู„ู‡ู


Shalaatullaah salaamullah โ€˜alaa yaa siin habiibillah


ุตูŽู€ู„ุง ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู€ู„ุง ูŽู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู€ู„ูŽู‰ ุทู€ู‡ูŽ ุฑูŽุณูู€ูˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู


Shalaatullaah salaamul laah โ€˜alaa thaaha Rasuulillah


ุตูŽู€ู„ุง ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู€ู„ุง ูŽู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู€ู„ูŽู‰ ูŠู€ุณ ุญูŽุจููŠู’ู€ุจู ุงู„ู„ู‡ู


Shalaatullaah salaamullah โ€˜alaa yaa siin habiibillah


"Dengan berakhirnya sholawat ini maka berakhirlah sudah juga acara kita sampai jumpa dilain waktu, Akhirukalam bilahitaufiq walhidayah wassalaamualaikum warohmatullahi wabarokatuh," ucap Mc sambil menyalami semua peserta yang telah mengikuti rangkaian acara pada hari itu.


Acara lomba telah usai kini semua peserta telah kembali kepangkuan keluarga mereka masing - masing demikian juga dengan ananda Alif.


Saat turun dari panggung pelukan hangat orang - orang terkasihnya telah menanti dirinya. Dengan bergiliran mereka memeluk Alif untuk memberikan ucapan selamat.


"Uhhh sayang aunty dan uncle, selamat ya sayanggg," ucap Maria memeluk Alif dan bergantian dengan Biyan.


"Makasih Aunty dan Uncle." Memeluk keduanya bergantian.


Alif segera berlari memeluk kakek dan neneknya bergantian.


"Uhh Opa Wi sama Oma Kris juga dong," ucap Wijaya.


Alifpun bergantian sekarang berjalan memeluk Opa dan Omanya.


"Sekarang peluk Papa dong sayang," ucap Reza manja.


Kini Alifpun berpindah ke pelukan Reza.


"Papa kapan Alif punya Mama?"


Wajah Reza seketika memerah karena pertanyaan putranya, sedangkan yang lain tertawa geli mendengar pertanyaan Alif.


"Doakan saja Papamu itu segera menghalalkan tante Nara supaya kamu cepet punya Mama," celetuk Rey sambil melirik Reza dan Nara.


"Aamiin ya Mujib," jawab mereka semua serentak.


"Ya sudah sekarang kita makan dulu ya baru kita lanjut pulang, karena kasihan juga dedek kembar terlalu lama Ais tinggal, dan untuk masalah para jomblo ini kita lanjut kita bahas dirumah saja," ucap Rey.


"Yaaa kita setuju itu," ucap semuanya hampir bersamaan.


Perlahan keluarga besar Rey meninggalkan Alun - Alun Kota menuju sebuah restoran yang berada tidak jauh dari tempat itu.


๐ŸŒปRestauran ๐ŸŒป


Satu persatu mobil mereka memasuki area parkiran restauran yang menyediakan tempat lesehan, Rey sengaja memilih tempat lesehan agar mereka berasa nyaman seperti ada dirumah. Lagian restoran yang Rey pilih kali ini memang menyiapkan tempat seperti warung makan sederhana namun masalah kualitas makanan pastilah standar kelas atas.


Semua keluarga telah menempati satu saung besar yang muat untuk dua puluh orang, Rey sengaja memboking tempat dengan kapasitas besar mengingat keluarganya keluarga besar.


Masing - masing sudah sibuk dengan menu pilihannya. Begitu juga dengan Ais dan Rey, namun Alif sesekali menarik gamis Ais.


"Umii ... Miii ...Umiii."


"Iya sayang ada apa?" Tanya Ais.


"Coba deh Umi lihat anak yang ada didepan saung itu." Menunjuk ke saung didepan mereka.


"Kenapa dengan anak itu?"


"Sepertinya dia nggak diajak makan deh sama keluarganya, apa bisa dia Babang ajak makan. bersama kita?"


Ais tersenyum menatap putranya, ia merasa bangga karena putranya sudah bisa berempati pada orang lain.


"Tentu saja sayang, coba aja Babang ajak dia untuk makan bersama kita ya."

__ADS_1


Dengan cepat Alif menghampiri anak itu.


"Hei namaku Alif, kamu siapa?"


Anak perempuan itupun tersenyum dan menyambut tangan Alif.


"Aku Wardah Qonaah."


"Kenapa kamu nggak ikut makan bersama keluargamu itu?" Menunjuk sebuah keluarga yang sedang makan bersama dengan seorang anak perempuan yang sepertinya sebaya juga dengan mereka.


"Iya aku nggak boleh makan bersama keluargaku itu, karena kata Mama aku jelek, kurus, dan bau jadi nanti aku akan makan sendiri disini, tapi masih dipesan sama Mama."


Dengan cepat Alif mengendus disekitaran baju dan wajah Wardah.


"Kamu nggak bau kok, kamu cantik, tapi iya sih kamu kurus," ucap Alif polos.


"Kamu nggak jijik dekat - dekat sama aku?"


"Enggak kok, aku kemari mau ngajakin kamu makan bareng keluargaku , apa kamu mau?"


"Emang boleh?"


"Iya boleh dong, Umi ku baik kok."


"Hayukkk aku udah laper juga," ucap Wardah dengan mata berbinar, karena ia belum pernah mendapat teman semenjak pindah ke rumah keluarga barunya.


Alif dan Wardah berlari menuju ke saung keluarga Ais.


"Umii kenalin ini teman baru Babang Wardah," ucap Alif semangat.


Wardah menunduk malu saat melihat keluarga Alif yang seperti orang - orang elit semua, sama dengan keluarga barunya.


Melihat anak gadis kecil itu tidak berani melangkah untuk mendekat, Ais memberanikan diri untuk mendekatinya.


"Hai Sayang, aku bibi Ais ... uminya Alif, kamu Wardah ya?"


Wardah mengangguk tetapi masih menunduk.


Perlahan Ais mengangkat dagu gadis kecil itu tampak dua bola mata yang bulat dan hitam dengan alis hitam tebal, bulu mata yang lentik juga panjang, pipi tirus, hidung mancung, bibirnya munggil, rambut sedikit ikal sebahu. Mirip keturunan India.


"Kamu sangat cantik dan manis," ucap Ais sambil mengelus rambut ikalnya.


"Kata Alif kamu sudah lapar, yuk kita makan sekarang."


"Apa beneran aku boleh makan bersama dengan keluarga tante?"


"Iya kok sayang, yuk kita makan." Menarik tangan Wardah.


Jadilah mereka makan bersama dengan teman baru Alif.


Siapakah sebenarnya Wardah, mampukah Alif tampil lebih baik ditingkat propinsi nanti?


Ikuti terus kisahnya ya love you readers loversku๐Ÿ˜


Bersambung....


Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.


Dan karya apik author yang lain :


Fit Fithree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


*Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


My Heart Is Only For You


*Sudrun


Penjelah Malam


Samudra


*Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


*Sisca Nasty


Mafia in Love

__ADS_1


__ADS_2