
Setelah mendapat telepon dari ayah Ais, Rey segera menyuruh anak buahnya untuk memperketat penjagaan untuk istri dan putranya tercinta. Sedang Rey belum bisa segera menyusul karena masih ada meeting penting dengan kliennya.
Dua mobil sedan hitam segera meluncur ke toko buku yang disebutkan Rey, yah mereka adalah orang - orang suruhan Rey untuk melindungi Ais dan Alif.
Sementara ditoko buku dua orang ibu dan anak itu tengah asyik memilih buku - buku cerita islami untuk Alif, mereka tak menyadari ada bahaya yang mengancam.
Masih ditoko buku yang sama seseorang juga sedang mencari buku tentang cara move on dari mantan, sejak pulang dari jerman ia masih saja terus mengingat seseorang yang sangat dicintainya sejak SMA, namun kini ia menyadari bahwa gadis itu bukanlah jodohnya, karena ia ditakdirkan menikah dengan orang lain yang lebih dulu mengisi hatinya.
Masih ditoko buku...
"Mi... umi...Alif mau buku ini mi"Berlari sambik membawa sebuah buku dengan gambar cover tentara yang sedang berperang.
"Wah Alif kok senang dengan buku ini, mengapa "Tanya Ais.
"Alif nanti kalau sudah besar ingin jadi seperti bapak - bapak ini umi, biar Alif bisa menjaga umi dan abi, nanti Alif akan memerangi orang - orang yang jahatin umi dan abi"Ucap Alif dengan semangat.
Ais merasa sangat terharu dengan ucapan putranya, yang masih begitu kecil namun sudah punya keinginan untuk melindungi kedua orangtuanya.
"Subhanallah, sungguh mulia cita - cita anak umi, semoga kau menjadi anak yang sholeh ya nak"Ucap Ais sambil memeluk putranya.
Didepan toko buku sebuah mobil jeep merah memasuki parkiran, turunlah dua orang yang berpakaian serba hitam memakai topi koboy memasuki toko buku, dan mengedarkan pandangannya mencari seorang anak laki - laki kecil bersama ibunya yang sedang berbelanja buku.
Setelah kedua orang tersebut masuk, datanglah dua mobil sedan berwarna hitam memasuki area toko juga, dan mereka segera menyebar untuk mencari Ais dan anaknya.
Ibu dan anak itu tak pernah menduga jika ke toko buku yang menyenangkan akan membawa bencana.
Ais sedang berjongkok didepan putranya untuk memberinya minum air mineral karena Alif merasa ke hausan, Ais tak menyadari jika seseorang yang berseragam hitam telah berdiri tak jauh darinya sedang mengangkat sebuah senjata kaliber berlaras pendek seperti pistol namun punya peredam suara yang baik jika ditembak tak akan menimbulkan kebisingan, hanya clep korbannya akan langsung terjatuh.
Sebelum orang itu melepaskan tembakannya kearah Alif yang menjadi sasaran kali ini, seseorang yang sedang sibuk mencari buku move on dari mantan melihatnya, dan ia segera berlari memperingati ibu dan anak yang duduk membelakanginya.
"Cleeep" Tembakan dilepaskan.
"Awassss"Teriaknya berlari untuk meraih Alif dan sebelum akhirnya tumbang sambil memeluk Alif dan melepaskan Alif kesampingnya.
Dan sekali lagi tembakan diluncurkan oleh orang yang satu lagi namun kali ini Ais yang menutupi tubuh putranya dan...
"Cleeep" Peluru kedua dilepaskan dari pistol yang berbeda.
Darah segar mengalir memenuhi lorong buku Ais segera memeluk putranya lengannya penuh dengan darah yah Ais juga tertembak dilengannga, kemudian dengan cepat Ais berusaha membalikkan tubuh seseorang yang juga sudah bersimbah darah karena melindungi putranya.
Saat tubuh itu dibalik Ais sangat terkejut.
"Ya Allah kak Haniffff".
"Kak... bangun... kak... kak Hanifff".
"Aaais... itu kamu kah dan anakmu"
"Iya kak, kakak harus bertahan ya kita kerumah sakit"
__ADS_1
Orang suruhan Rey sedikit terlambat mereka memasuki toko ketika kejadian penembakan itu telah berlangsung.
Semua pengunjung toko menjadi panik dan berhamburan keluar begitu juga dengan penembak itu.
"Kali ini kita pasti akan mati karena nona Ais terluka oleh senapanmu"Ucap salah satu penembak sambil berlalu keluar toko bersama pengunjung lainnya.
Orang - orang Rey segera melarikan Ais dan Hanif ke rumah sakit, dan mereka juga membawa Alif yang pingsan Karena shock melihat umi nya terluka.
Salah seorang dari mereka juga langsung menghubungi Rey untuk menceritakan peristiwa yang baru anak dan istrinya alami.
Rombongan orang - orang Rey sudah bergerak meninggalkan toko buku dan segera menuju rumah sakit. Ais, Alif, dan Hanif masih tak sadarkan diri, Hanif mengeluarkan bamyak darah dan semakin lemah.
*****
Rumah sakit...
Ketiga korban segera dilarikan IGD dan segera memdapatkan pertolongan. Setelah dirawat Alif segera dibawa keruang Perawatan sedang Ais dan Hanif harus menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang ditubuh mereka.
Setelah hampir satu jam Rey akhirnya sampai dirumah sakit, wajah panik, sedih, marah dan kecewa tercetak diwajahnya.
"Bagaimana Alif anakku dan istriku"
"Tuan muda baik - baik saja hanya pingsan karena ketakutan saja, sekarang ada diruang perawatan"
"Tapi nyonya terluka sekarang sedang dioperasi, juga seorang lelaki yang menyelamatkan tuan muda, ia juga dioperasi"
Tubuh Rey langsung melemah, ia benar - benar merasa tak berguna karena tak bisa melindungi istri dan anaknya.
"Keluarga pasien".
"Bagaimana istri saya dok".
"Istri anda sudah baik - baik saja operasinya lancar karena hanya menembus tangannya saja, tetapi... " Dokter itu menggantungkan kalimatnya.
"Tetapi apa dok".
"Lelaki yang dibawa bersama istri anda sangat parah kemungkinan ia tak akan bisa bertahan karena peluru itu menembus Jantungnya, tetapi dia masih sadar sekarang kalau anda mau bertemu silahkan"
Rey menemui Ais yang sudah siuman dan siao dibawa keruang perawaran.
"Ayang... maaf kan kakak tak bisa menjagwamu".
"Ais nggak apa - apa kak, tapu kak Hanifff"Ais telah terisak.
"Jadi lelaki iti Hanif, Yang"
"Iya Ayang, bawa aku ke tempat kak Hanif".
Mengingat kondisi Hanif yang parah Rey segera mendorong istrinya di kursi roda, perlahan mereka memasuki ruangan Hanif.
__ADS_1
"Kak... bertahahan lah, terima kasih telah menyelamatkan putraku"
Hanif masih tersenyum manis meski wajahnya semakin pucat.
"Ais.. Rey.. tolong kabari papaku"
Rey segera menghubungi papa Hanif yang kebetulan sedang meeting tak jauh dari rumah sakit jadi langsung bisa segera kerumah sakit .
Papa Hanif segera berlari dan akhirnya sampai diruangan Hanif.
"Pa... jangan salahkan Ais atas semua yang terjadi karena Ais pun tidak tahu kalah Hanif ada disana, dan maafkan Hanif belum bisa memberikan papa seorang menantu, dan sampaikan salam sayang Hanif untuk mama, nanti tolong papa sampaikan surat didalam lemari Hanif untuk Nara".
"Sayang.. bertahanlah"Ucap papa yang telah berurai air mata.
"Ais boleh kah kakak meminta sesuatu padamu, tetapi minta izinlah dulu pada kak Rey mu, katakan kau mencintaiku Ais"Nafas Hanif mulai tersengal.
Rey langsung mendekat pada Hanif dan berbisik.
"Aku mengizinkan Ais untuk mencintaimu Hanif"Dengan linangan air mata.
Ais merasa mulutnya sangat kaku karena mulutnya, hatinya, dan pikirannya hanya milik Rey seorang, dan hari ini akan ternodai karena permintaan terakhir Hanif.
"Ayang... ucapkanlah "
Ais masih Menggelengkan kepalanya.
"Ayang... kakak mohon, biarkan Hanif juga merasakan kehangatan cintamu untuk menemani perjalanan panjangnya".
Ais menangis tersedu tak bisa lagi menahan sesak didadanya.
"Ais... kak Hanif tak lagi punya banyak waktu"
Dengan berat akhirnya Ais mengucapkan kata itu.
"Kak Hanif I Love You"
"Asshaduanla illaha illallah wa ashaduanla muhammadarosulullah"
Wajah Hanif tersentum manis menemani tidur panjangnya. Papanya sudah tak bisa lagi menangis hanya terdiam mematung memandang putranya yang sekarang sudah terbaring dengan tenang.
"Selamat jalan kak Hanif pengorbananmu semoga menjadi syahidmu di jalan Allah, dan jannah Allah adalah tempatmu"Ucap Ais dengan linangan air mata.
to be continue...
Makasih ya dah baca 😍
Makasih juga yang udah kasih like, komen, dan Votenya 😍semoga sehat dan Bahagia selalu.
Salam Manis,
__ADS_1
😍
Author.