Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
PILIHAN SULIT


__ADS_3

Keterpurukan Rey semakin menjadi semenjak menerima telepon dari seseorang yang telah menculik anak dan istrinya, berhari - hari ia mengurung diri dikamar tanpa makan dan minum, semua pekerjaannya dikantor. dihandel oleh Antonio.


Karena sudah tidak tahan melihat keadaan Rey yang tampak putus asa karena merasa tak berguna sebab tak bisa melindungi anak dan istrinya akhirnya Antonio berusaha menghubungi Maria dan Biyan agar bisa membantu masalah Rey.


"Halo Assalamualaikum nona Maria."


"Waalaikumussalam An ada apa."


"Maaf kalau aku menganggu waktumu tetapi ada hal mendesak yang harus sampaikan ini masalah keluarga Reyhan."


"Iya ada masalah apa kak Rey sampai harus meneleponku seperti ini An."


"Keadaan Rey saat ini sangat buruk, dia sudah tiga hari tidak keluar kamar keadaanya sangat buruk."


"Mengapa bisa seperti itu, apa kak Ais meninggalkannya."


"Iya tapi bukan keinginan Ais melainkan mereka diculik ."


"Maksudnya Ais dan Alif diculik, kapan dan siapa yang melakukannya?"


"Itu masalahnya kami sudah menyelidiki semuanya namun sampai saat ini tidak ada titik terang sama sekali, sepertinya penculiknya bukanlah orang sembarangan semuanya begitu rapi sehingga tidak ada jejak yang tertinggal."


"Sebaiknya cepatlah kemari Maria kita bantu Rey minimal dengan menghiburnya."


"Baiklah setelah menyelsaikan semua urusan kantor aku akan segera berangkat."


Percakapan keduanya berakhir, dan Antonio segera menelepon Rey namun tidak diangkat dan An kembali mencoba menelepon rumah Rey.


"Selamat siang kediaman Tuan Reyhan."


"Bik ini aku An, bagaimana keadaan Rey."


"Semakin buruk Tuan An, Tuan Rey sama sekali tidak makan, hanya menangis saja."


"Baiklah bik nanti saya akan kesana ya, jaga Tuan Rey dengan baik."


*****


Dimansion....


Ais merasa semakin gelisah didalam mimpinya ia bertemu dengan Rey namun keadaanya sangat memprihatinkan.


Ya Allah lindungilah suamiku dimanapun dia berada, jangan pisahkan kami dengan keadaan seperti ini.


Isakan Ais memecah keheningan kamar yang megah didalam mansion yang didominasi warna hijau dan dibalik pintu kamarnya seseorang sedang berdiri dengan perasaan yang campur aduk.


Sebegitu besarkah cintamu pada Rey sehingga kau begitu tertekan berada jauh darinya. Dan aku sangat hancur melihat kau begitu bersedih Ais, ya Tuhan tidak bisakah kau membiarkan aku memiliki kekasihku itu biar hanya sebentar saja, izinkanlah aku memilikinya sebagai keluarga utuh meski hanya sebentar.


Perlahan Reza meninggalkan kamar Ais yang semua ia ingin mengajak Ais untuk berbicara mengenai hubungan mereka, kini perasaanya kacau kebahagiaan yang telah dikhayalkannya kini seakan terbang tak bersisa dalam benaknya.


Wajahnya yang tadi cerah tiba - tiba berubah menjadi sangat dingin, dan semua asisten rumah tangganya terlihat sangat takut.


"Bibik satu tolong segera kau siapkan nona Ais dengan pakainan yang ini,"Sambil menyodorkan sebuah kotak hijau yang dihiasi bunga Lili.


"Katakan padanya untuk segera bersiap aku. akan membawa mereka pergi jauh hari ini juga."


"Dan bibi kedua tolong kau siapkan juga Alifku dengan pakaian ini, aku ingin sia terlihat tampan."


"Baiklah tuan, akan kami laksanakan,"Jawab keduanya serentak dan menuju ke kamar Alif dan Ais.


"Tok... tok.. permisi nyonya Ais."


"Masuk bibi satu, ada apa."


"Tuan meminta anda untuk mengenakan baju ini sekarang karena Tuan akan membawa anda dan nak Alif pergi hari ini."


"Benarkah tapi kemana,"Ucap Ais gelisah dan takut.


"Nyonya nggak usah takut tuan orangnya baik kok nyonya, jadi ikuti saja ya,"Bujuk bibik satu.


Demi keselamatannya dan Alif akhirnya Ais menuruti semua keinginan Reza yang menurut Ais sudah sangat keterlaluan.


Ya Allah maafkanlah aku karena aku tinggal dengan seseorang yang bukan suamiku, dan aku juga terpaksa berdandan didepannya. Ampunilah aku ya Allah, maafkanlah aku kak Rey.


*****


Dikamar Alif...


Saat bibi kedua membuka pintu Alif terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


"Yee akhirnya ada yang darang juga Alif bosan bibi."


"Iya Tuan Muda sekarang ganti baju dulu ya, karena papa mau ajak Tuan Muda jalan - jalan."


"Tapi apa mama juga ikut."


"Iya mama juga ikut kok."


"Asyikkk bisa jalan sama mama juga."


Sementara diruang makan Reza sudah menunggu dengan pakaian yang seragam dengan Ais dan Alif.


Aku juga sangat tepukul dan hancur Ais, biarlah kita sama - sama mengambil keputusan yang sulit ini, sulit namun sementara untukmu dan mungkin akan selamanya untukku. Ya semoga aku bisa menepati janjiku ini.


Akhirnya untuk pertama kali Ais akan bertemu Reza setelah sekian lama mereka berpisah sejak SMP. Suara langkah kaki Ais terdengar perlahan menuruni anak tangga, dan Reza sudah berdiri untuk menyambut kekasihnya itu.


Ya Allah kau sangat cantik Ais dalam baluran gamis hijau lumut bermotif bunga lili kecil berwarna putih itu sungguh auramu sangat menggodaku.


Pandangan mata Ais tertuju pada Reza nampak tersirat kerinduan dan kebencian disana, yang tercampur dengan sendirinya. Rindu bertemu teman lama namun benci karena telah membuatnya terpisah dengan suaminya tersayang.


Lama keduanya saling tatap tak ada satupun kata yang mampu keluar diantara keduanya, jantung Reza berpacu seratus kali lebih cepat saat matanya menatap mata Ais yang jernih dan tajam, mata yang selalu dirindukannya selama bertahun - tahun namun sayang tak terukir sedikitpun senyum disana.


"Ais," Hanya kata itulah yang bisa keluar mulut Reza yang sejak tadi terkunci.


"Papaa," Suara imut Alif akhirnya bisa mencairkan suasana.


"Umuah," Reza memeluk dan mencium Alif denganmesra.


"Anak papa sangat tampan."


"Iya dong anak siapa dulu ."


"Emang anak siapa coba."


"Alif anak umi Ais dan Abi Rey dong ,"Jawab Ailf polos.


Tersirat rasa kecewa diwajah Reza dan. mun segera ia tutup dengan tawanya.


"Papa katanya kita mau pergi ya."


"Iya sayang kita akan pergi sedikit jauh oleh karenanya kita makan dulu ya biar nggak kelaparan nanti dijalan."


"Baik pa."


"Umi ayo kita makan ya biar Umi nggak sakit."


Akhirnya Ais juga ikut makan. Mereka memang tampak seperti sebuah keluarga kecil sekarang. Dan tak lupa Reza minta bibi untuk mengabadikan momen ini melalui jepretan kamera Hp Reza.


"Sudah Tuan."


"Terimakasih bibi."


"Apa kalian sudah selesai Ais, Alif sayang?"


"Kalau sudah bersiaplah kita akan segera berangkat."


"Za," Akhirnya Ais mau juga menyapanya.


Ya Tuhan panggilan itu, suara itusudahbertahun - tahun aku menunggunya, dan akhirnya hari ini, ah... senangnya aku.


"Ehmm."


"Mengapa,"Ucap Ais tertunduk.


"Nanti kau akan tahu Ais, ikuti saja keinginanku."


Tak ada lagi percakapan diantara keduanya.


"Papa kenal Umi Alif."


"Iya sayang, kan dulu papa sudah pernah cerita sama Alif."


"Oh iya Alif yang lupa, kita mau kemana pa? ."


"Naik pesawat ."


"Yeeeeee," Alif berteriak senang ia tidak tahu apa yang terjadi diantara tiga oramg dewasa yang sangat disayanginya.


*****

__ADS_1


Bandara...


Sekarang keluarga kecil yang semu ini telah sampai dibandara.


"Ayo turun pesawat kita sebentar lagi akan berangkat," Ajak Reza.


Perlahan Ais dan Alif turun, saling berpelukan.


"Ais kita berfoto dulu ya, tuh disana ada photobox."


Dengan langkah yang engan Ais menuruti keinginan Reza.


Mereka telah masuk ke Photobox dan melakukan banyak pose layaknya sebuah keluarga.


"Ais ini yang terakhir tolong tersenyumlah dengan ikhlas."


Diphoto yang terakhir Ais berusaha tersenyum meski hambar.


"Terimakasih Ais, Alif, papa sangat senang."


Mereka bertiga keluar dari photobox dan segera cek in.


"Kalian disini dulu ya aku harus menelepon seseorang."


Saat Reza menghilang kesempatan ini dimanfaatkan Ais untuk menelepon Rey suaminya.


"Tut.... Tut... ."


Hening tak ada jawaban...


"Tut... Tut... angkatlah kak Rey aku mohon," Gumam Ais.


"Tut... Tut... ."


"Nomor yang anda tuju sedang sibuk."


Ya Allah ...tolonglah kak Rey angkat dong.


"Tut... Tut... ."


Masih tak ada jawaban.


Sementara itu....


"Halo... Rey."


"Kau.. kau... kembalikan anak dan istriku, aku tak bisa hidup tanpa mereka, tolonglah aku."Ucap Rey memohon.


"Kau sudah punya pilihan."


"Tidak aku tak punya pilihan, mengapa kau memberiku pilihan sulit ini, aku mau keduanya, kau... kau kembalikan mereka padaku ,t.. o.. l.. o.. ng...hu... hu.. hu.. ,"Rey tk lagi dapat menahan tangisnya.


"Baiklah kalau kau tak punya pilihan maka sesuai janjiku ,aku akan membawa keduanya pergi darimu, dan sekarang kami sudah dibandara, nanti aku akan mengirimkan foto. kami untukmu."


"Tidakkkkk jangannnnn, halooo."


Sambungan telepon sudah terputus dan saat Rey melihat HP nya sudah puluhan kali telepon dari nomor Ais.


Ais... Ais sayang kau meneleponku, tunggu aku. akan telepon balik sayang,"Ucap Rey pada dirinya sendiri.


"Tut... Tut... ."


"Maaf nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan".


"Akhhhhhhh Aissss."


Rey menangis sekuatnya dia sudah tak mampu menahan segala asa yang berkecamuk didadanya, hingga ia terkapar tak sadarkan diri dikamarnya yang sudah seperti kapal pecah.


Sementara dibandara Reza, Ais, dan Alif sdah naik ke pesawat, dan siap meninggalkan Amrik.


Diam - diam Ais mengirimkan pesan singkat untuk Rey suaminya.


#Assalamualaikum Imamku#


Jangan khawatirkan kami, kami baik - baik saja sekarang kami meninggalkan Amrik, namun yakinlah nanti kita akan bersama lagi, jangan lupakan Allah, hanya dialah satu - satunya tempat untukmu berkeluh kesah, jagalah dirimu Ayang, ana uhibuka fillah.


#Waasalam Khumairohmu #


Dan Reza sangat tahu kalau Ais mengirimkan pesan singkat itu untuk Rey karena semua yang masuk atau keluar dari Hp Ais akan masuk juga ke Hp Reza.

__ADS_1


Ais sungguh mulia hatimu, meski kau sedang merasa takut dan marah padaku tetapi kau tetap bisa menenangkan orang lain, dan kau tak menyebut namaku pada Rey, sungguh sahabat dan kekasih yang sangat aku rindukan. Aku hanya akan bersamamu sebentar saja percayalah pilihan sulit ini juga sangat menyiksaku.


__ADS_2