
ð»Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.ð»
Happy Reading!
Warung Pecel ....
"Baiklah ibu dengarkanlah anak adalah anugerah dan amanah dari Allah swt yang harus dipertanggungjawabkan oleh setiap orang tua dalam merawat, mengasuh dan mendidik anak-anaknya."
Setelah mendengar penjelasan dari Rey sang ibu memeluk erat anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya, kemudian Rey memberikan sedikit rezeki kepada ibu dan anak itu agar mereka tak lagi mengalami kesulitan hidup di tahun ini.
"Terimakasih banyak, Pak! Kami pamit ya." Ibu dan anak itu pamit dari hadapan Rey.
Rey tersenyum melihat kepergian keduanya, ia pun segera bergegas untuk kembali kerumah mereka, sang istri tentu sudah menunggu makanan yang ia bawa.
Sampai di rumah impiannya, Rey segera memarkirkan sepedanya kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah mengucapkan salam beberapa kali namun tidak mendapati balasan membuat Rey khawatir terhadap sang istri.
Setelah mencari di sekeliling rumah ternyata ia baru bisa menemui sang istri yang tertidur di kursi santai di depan kolam renang. Suasana di sekitar kolam memang sangat adem dan asri.
"Ternyata kamu di sini ya, sepertinya kamu sangat kelelahan. Lelah pikiran akan sangat berpengaruh pada kesehatan fisikmu," gumam Rey pada dirinya sendiri.
Rey membelai lembut kepala sang istri dan menciumnya. Dengan segera ia mengangkat tubuh sang istri menuju kamar mereka, karena terlalu nyenyak tidurnya membuat Ais tak terbangun saat Rey memindahkan tubuhnya.
Setelah memindahkan Ais ke kamar, Rey segera merapikan pecel yang ia bawa ke dalam wadah kemudian menyimpannya di meja. Dirinya bergegas masuk ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, di saat itu lah ia mendapatkan telepon dari Saudi Arabia yang mengatakan kalau orang tua santri harus datang untuk pengyematan gelar Hafiz pada anak-anak mereka bulan depan.
"Bagaimana ustad Fajar?" tanya Rey.
"Kalian do'akan saja semoga ananda Alif bisa menuntaskan hafalannya sehingga bisa ikut di wisuda nanti," terang ustad Fajar.
"Inshaa Allah Ustad, kami akan selalu memdoakan yang terbaik untuk putra kami. Saat ini kondisi kesehatan ibunya sedang kurang baik. Semoga saja nanti bisa segera pulih kembali." Rey menjelaskan pada ustad Fajar.
"Iya, aamiin. Semoga ibu Aisyah segera pulih kembali," ucap ustad Fajar pada Rey.
"Aamiin, terimakasih usatd atas do'anya. Semoga ananda kami bisa mencapai target hafalannya dan dimudahian dalam menghafal." Rey mengakhiri panggilannya yang diamini oleh ustad Fajar.
Setelah menerima telepon Rey melanjutkan pekerjaannya hingga ia tidak menyadari jika sang kekasih tercintanya sudah bangun.
Dengan perlahan Ais berjalan mendekati suaminya, ia memelui sang kekasih dari belakang yang membuat Rey terkejut. Ini kejadian yang sangat langka buatnya bisa mendapati perlakukan manis dari sang istri.
"Kamu sudah bangun?" Rey membalikkan badannya kemudian mengecup lembut kening istrinya.
Ais hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia memegang perutnya.
"Kenapa? Apa perutmu sakit?" Rey ikut menggosok perut sang istri yang tiba-tiba berbunyi.
__ADS_1
Kruyukkk!
"Ah kamu lapar ternyata." Rey segera menarik tangan Aisyah menuju ruang makan. Ia memang sudah menyiapkan pecel yang tadi di pesannya.
"Kita makan." Rey menarik kursi makan bernuansa coklat khas warna kayu alami untuk sang kekasih.
Ais tersenyum dan duduk di kursi yang telah kekasihnya siapkan. Ia pun mulai mengambil piring dan sendok namun Rey melarangnya.
"Kenapa?" tanya Ais bingung.
"Aku ingin menyuapimu, rasanya sudah sangat lama kita tidak makan seperti ini sejak ada Ara dan Aza." Rey mulai menyuapi kekasihnya setelah mereka berdo'a terlebih dahulu.
Tanpa terasa kini keduanya sudah selesai makan yang penuh dengan hikmatan.
"Kamu masih mau nambah, Yang?" tanya Rey.
"Cukup, Yang. Aku sudah kenyang." Ais memegang perutnya.
"Alhamdulillah kalau sudah kenyang. Sekarang kita bersantai di ruang keluarga ya. Ada yang ingin aku sampaikan padamu." Rey merapikan bekas makan mereka berdua.
"Tentang apakah kiranya,Yang?" tanya Ais.
"Putra kita, Alif." Rey selesai merapikan meja makan dan mengajak istrinya itu ke ruang keluarga.
"Kenapa putra kita? Sehatkah dirinya?" Ais tampak bersemangat.
"Bulan depan kita di undang ke Arab Saudi untuk penyerahan sertifikat jika putra kita bisa menamatkan hafalannya." Rey menjelaskan pada istrinya yang di sambut dengan suka cita oleh sang istri.
"Semoga yaa Allahu ya Mujibasailin." Ais berbaring di pundak sang suami.
"Aku rasanya tidak sabar untuk menunggu bulan depan, Ayang," ucap Ais sambil tetap berbaring di samping sang suami.
"Kamu harus sabar, kita juga harus banyak berdoa. Kamu masih ingatkan kalau Allah akan bersama orang-orang yang sabar." Rey membelai kepala Ais lembut.
"Iya, Ayang. Aku masih ingat dalam Bahasa Arab arti Innallaha ma'ashobirin adalah âSesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar". Kalimat ini merupakan penggalan dari salah satu ayat Al-Quran dalam surah Al-Baqarah ayat 153." Ais tersenyum manis.
"Kamu memang sungguh luar biasa, Ayang. Aku jadi semakin cinta." Rey mencubit gemas hidung istrinya.
"Kamu juga suami yang luar biasa, bisa mengingatkan aku jika aku lupa," ucap Ais manja.
"Yang! Besok kamu mau kemana? Aku masih punya waktu esok, karena lusa aku akan dinas keluar kota." Rey menatap
"Kalau aku ingin kita nyekar aja ke makam ibu, sehabis itu baru kita pergi ke taman bermain. Aku ingin sekali mengingat masa-masa indah kita sewaktu di sekolah dulu. Aku hanya menatap senang pada mainan-mainan itu tanpa bisa menaikinya karena aku nggak punya uang untuk bermain." Ais mengingat kenangannya waktu masih berseragam putih biru.
__ADS_1
"Baiklah tuan puteri hamba siap melayani." Ret membungkuk layaknya pelayan kepada tuannya.
Ais hanya tertawa melihat tingkah lucu suaminya, dalam hatinya ia juga sangat bersyukur karena dimasa seperti ini dia selalu ada untuknya.
Mereka berdua pun menghabiskan hari ini dengan selalu bersama mulai dari mencuci bareng, masak, membersihkan halaman sampai mandi juga bareng.
*****
Keesokan harinya ....
Sehabis salat Subuh, Ais sudah bersiap untuk nyekar ke kuburan sang ibu. Berbagai persiapan sudah ia lakukan. Ais tampak cantik dalam baluran hijab putih hitam dengan gamis yang berwarna putih juga. Begitu juga dengan Rey yang tampak gagah dalam baluran baju kun putih dipadukan dengan celana katun berwarna hitam.
Adapun tujuan disyariâatkannya kembali ziarah kubur adalah untuk mengingatkan peziarah bahwa kehidupan di dunia ini tidak kekal dan mengingatkan kepada hari akhir. Ziarah kubur boleh kapan saja. Dahulu Rasulullah memang melarang para sahabatnya untuk berziarah kubur sebelum disyariâatkannya. Sebab waktu itu umat Islam banyak yang salah arti tentang ziarah kubur. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah:
âSesungguhnya aku dahulu telah melarang kalian untuk berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah karena akan bisa mengingatkan kalian kepada akhirat dan akan menambah kebaikan bagi kalian.â (HR. Muslim).
Dalam tata cara ziarah kubur, ada adab yang harus dan tidak harus dilakukan. Salah satu adab dalam tata cara ziarah kubur menurut Islam adalah mendoakan orang yang dimakamkan di hadapan kita. Sementara menaburkan bunga atau menyiramkan air di atas makam bukan menjadi bagian wajib dari tata cara ziarah kubur sesuai sunnah.
"Bagaimana? Sudah siap?" Rey berjalan mendekati meja TV di ruang keuarga. Ia mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
"Inshaa Allah aku sudah siap. Kita berangkat sekarang ya!" Ais mengambil tasnya dan bersiap untuk keluar rumahnya.
Keduanya sudah berada di dalam mobil saat ini.
"Siap?" tanya Rey dengan seulas senyum di bibir ranumnya.
"Inshaa Allah," jawab Ais mantap. Ghirah dalam jiwanya kini mulai kembali seperti dulu. Tentu saja ini membuat Rey sangat senang.
Rey menjalankan mobilnya menuju ke peristiraharan terakhir sang ibu mertua, Aminah. Untuk melakukan ziarah atau nyekar biasanya ada hal-hal yang harus kita patuhi diantaranya adalah pertama harus berwudu, kemudian ucapkan salam pada ahli kubur, lalu menghadap kearah kiblat, berikutnya mengirimkan do'a untuk ahlil kubur, baru membaca surat-surat pendek dan ingat jangan duduk atau menginjak bagian atas kuburan, yang terakhir jangan melakukan hal-hal yang berlebihan.
Keduanya telah sampai di pemakaman sang ibu. Disana mereka bertemu dengan dua orang suami istri juga yang sedang nyekar keduanya bertengkar karena lupa membawa bunga dan air mawar. Melihat hal ini tentu saja Rey dan Ais merasa harus menjelaskan kembali tata cara untuk nyekar atau ziarah.
Setelah dijelaskan barulah kedua pasutri itu damai dan meminta bantuan Rey juga Ais untuk membacakan do'a bagi kedua orangtua mereka.
"Terimakasih banyak ya, Dek. Tanpa kalian mungkin kami nggak jadi nyekar," ucap suami wanita yang tadi bertengkar.
"Sama-sama, Pak. Itulah gunanya kita bersaudara untuk saling membantu bagi yang membutuhkan," ucap Rey sopan. Kini keduanya telah selesai nyekar barulah mereka akan pergi ke Arena Bermain seperti yang Ais inginkan.
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca, semoga kalian yang setia membaca karya remahanku mendapatkan keberkahan dalam rezeki dan kesehatan, Aamiin Allahumma Aamiin.
sambil menunggu novelku yang ini terbit mampir juga yuk ke novel Kedua ku dengan judul Cinta Bersemi Diujung Musim, bercerita tentang anak SMA dalam meraih cintanya. Aku tunggu kedatangan kalian semua.Terimakasih!
__ADS_1