
🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻
Selamat Membaca!
*****
Kolam Ikan ....
Rona bahagia akhirnya bisa juga hinggap di wajah cantik istrinya. Hari pertama tanpa putranya dapat juga ia lalui dengan mengesampingkan rasa sedihnya. Meski dalam hati kecilnya ia menangis karena sedih berpisah dengan putranya. Namun di wajahnya hanya senyumanlah yang terukir. Semua yang Ais lakukan pasti juga akan dilakukan oleh semua ibu, yang tidak mau rasa duka nya terlihat oleh orang lain terlebih oleh anak dan suaminya.
Setelah puas dengan memandang dan bermain dengan ikan, Rey mengajak kedua putrinya dan juga istrinya untuk berkunjung ke masjid istiqlal yang sangat terkenal dan megah. Rencananya mereka akan berdiam di sana sampai waktu isya.
Masjid istiqlal adalah salah satu masjid yang sangat terkenal di Jakarta. Nama Istiqlal sendiri diambil dari bahasa Arab yang artinya merdeka. Rencana pembangunan Masjid Istiqlal telah muncul sejak tahun 1950-an. Lokasi Masjid Istiqlal yang berada di sekitar Monumen Nasional (Monas) merupakan keinginan Presiden Soekarno. Dahulu, area tersebut dikenal sebagai Taman Wilhelmina.
Kini mereka sudah sampai, dan Rey pun memarkirkan mobilnya dengan perlahan. Kedua putri mereka sangat antusias saat melihat halaman masjid yang begitu luas. Tentu saja Ais juga ikut merasakan kebahagian kedua putrinya meski terselinap rasa andai Alif bersama mereka.
"Ayang, jangan melamun lagi. Aku membawa kamu dan putri kita kesini untuk menyenangkan hatimu. Biarkan putra kita merasa tenang dalam menuntut ilmu. Jika kamu merasa resah maka putra kita pun akan gelisah. Hubungan batin antara ibu dan anak tidaklah dapat dipisahkan. Buatlah dirimu ikhlas dan nyaman, inshaa Allah putra kitapun akan merasa nyaman," jelas Rey pada istrinya tercinta.
Senyum Ais segera terkembang, ia sangat bersyukur dijadikan Allah sebagai pendamping seorang Reyhan. Dalam duka ia selalu berusaha membuatnya menjadi tawa, meski pahatan luka tak kan hilang dengan secepatnya.
Mereka akhirnya segera masuk ke dalam masjid yang sangat megah tersebut dan memulai ibadahnya dengan salat tahyatul masjid. Di sana sudah banyak para jama'ah yang ikut masuk dan beribadah ada juga yang berehat sambil membaca Qur'an atau membaca buku yang menjadi referensi masjid.
Karena terlalu capek akhirnya Ara dan Aza tertidur, sehingga Ais bisa beribadah dengan leluasa. Ia sangat khusuk mendoakan putranya yang jauh darinya.
"Yaa Allah dzat yang maha menguasai segalanya, hanya pada-Mu lah tempat kami memohon dan meminta. Jagalah putraku, berilah ia nikmat sehat dan berkah-Mu. Mudahkanlah ia dalam memahami dan menghafal ayat-ayat Qur'an-Mu. Berilah ia kefasehan dalam melafazkannya. Tiada daya dan upaya yang dapat aku lakukan yaa Rabb, melainkan hanya kepada Engkau. Aamiin ya Rabbal'alamin." Ais menyapukan kedua tangannya kewajah.
Kini hatinya benar-benar sudah merasa ikhlas dan lega. Aispun duduk beristirahat menemani kedua putrinya dengan membaca mushaf Al Qur'an yang selalu dibawanya kemana saja jika bepergian.
Sedangkan suaminya juga melakukan hal yang sama, yah keduanya punya kebiasaan yang sama, selalu berusaha untuk meluangkan waktu membaca Al Qur'an meski hanya sebentar. Tentu saja hal itu sangat bermanfaat dibandingkan dengan bermain game di ponsel seperti yang dilakukan oleh orang-orang kebanyakan di zaman sekarang ini.
Saking asyik mereka di dalam masjid tidak terasa azan isya sudah berkumandang. Kedua putrinya juga sudah bangun. Melihat banyak jama'ah yang datang tentu saja membuat keduanya urung untuk menangis. Akhirmya Aza dan Ara ikut meniru gerakan salat ibunya, yang membuat banyak jama'ah merasa gemas dengan keduanya.
"Ayang! Kita pulang sekarang ya, kasihan Ara dan Aza. Mereka sudah sangat kecapean. Tetapi kita mampir makan malam dulu sebelum pulang," ucap Rey pada istrinya yang disetujui oleh Ais melaui senyumannya.
*****
__ADS_1
Kini mereka mulai bergerak meninggalkan istiqlal. Tidak jauh dari masjid mereka segera mampir untuk makan. Kali ini Ais meminta Rey untuk makan di warung pinggir jalan saja. Sudah lama mereka tidak mencicipi makanan pinggir jalan. Belum sempat Ais menyupai makanan ke dalam mulutnya datanglah seorang nenek dengan dua cucunya.
"Nak, kasihani kami. Cucu nenek belum makan seharian," ucapnya sambil menyodorkan kaleng rombeng yang didalamnya berisi beberapa uang recehan.
Rey dan Ais saling pandang. Perasaan berdosa segera menyelinap tanpa kompromi. Dengan segera Ais melambaikan tangannya pada si penjual untuk memesan makanan yang sama seperti mereka makan untuk sang nenek beserta cucunya.
"Mari, Nek. Sini!" ajak Ais.
"Nenek hanya butuh sedekah saja, Nak!" jawabnya pelan.
"Tidak apa-apa, Nek. Kita makan bersama dulu, nanti baru aku kasih sedekahnya," ucap Rey menimpali.
Akhirnya si nenek berserta kedua cucunya itu mau juga ikut makan bersama Ais dan Rey. Ara dan Aza sangat senang punya teman bermain.
"Nenek dan cucunya tinggal dimana?" tanya Ais.
"Kami tidak punya tempat tinggal, kami tidur dimana kami merasa nyaman dan tidak kehujanan, kadang di masjid, kadang di emperan toko, kadang dipekarangan rumah orang, sesekali pernah di pos ronda," jawab si nenek dengan serak menahan kesedihannya.
Rey dan Ais sangat iba, seharusnya nenek seusianya sudah harus hidup tenang tanpa memikirkan urusan perut. Apalagi harus mengurusi kedua cucunya.
"Maaf, Nek. Kalau boleh tahu kedua orangtua cucu nenek kemana?" tanya Rey penasaran.
"Mereka yatim piatu, ayah dan ibunya meninggal tertimbun tanah saat sedang menambang pasir. Dulu saar mereka masih hidup, kami tidak sesusah ini." Air mata keluar dari sudut mata tuanya. Sang nenek tak kuasa menahan kesedihannya karena jalan hidupnya yang sangat keras.
"Ayo, Nek. Sekarang makan dulu, nanti setelah makan, mau kah nenek dan cucu nenek ikut kami ke panti. Di sana nanti akan ada yang merawat nenek. Kedua cucu nenek juga akan bersekolah." Ais menatap mata renta sang nenek yang mulai kabur.
"Apa itu tidak akan membebani orang panti?" tanya sang nenek ragu, karena tidak ingin mengusahkan orang lain.
"Tentu saja tidak, Nek. Karena itu panti punya kita. Orang yang akan merawat nenek akan mendapat gaji, sekolah cucu nenek juga kami yang akan menanggungnya," jelas Rey.
Mata renta sang nenek kembali berkaca-kaca. Kini do'a yang setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik yang diucapkan sepanjang hayatnya telah diijabah oleh sang Maha Kuasa. Kini ia dapat menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang tanpa rasa gelisah memikirkan hari ini kedua cucunya mau makan apa? Kapan bisa sekolah? Sungguh asalkan kita yakin pasti akan dimudahkan oleh Gusti Allah. Seperti keyakinan sang nenek selama puluhan tahun. Dalam sekejab semua menjadi kenyataan. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustai. Semua kesenangan ataupun kesusahan haruslah kita syukuri.
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
__ADS_1
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
Audio Nyanyian Takdir Aisyah
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*WIB (Write in Box)
Ya Dia Istriku
*Khauma
I Love My Army Wife
*Syala Yaya
Istri Kedua Tuan Krisna
*Laura V
Sang Penggoda
*Bintun Arief
__ADS_1
Terjebak Cinta Brondong