Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
KESEDIHAN AISYAH


__ADS_3

🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌻


Happy Reading!


Kamar Ais ....


"Udah-udah, cup-cup. Sekarang kamu mandi ya, biar nanti Ara dan Aza aku yang bantu menidurkannya." Rey meyakinkan istrinya kalau ia bisa membantu melaksakan tugas sang istri.


Ais tersenyum dan segera pergi ke kamar mandi, sementara Rey berlalu keluar kamar untuk menidurkan kedua putrinya.


Ais membiarkan dinginnya air keran membasahi tubuhnya yang rapuh. Lama ia terdiam di bawah shower , dalam hatinya ia sangat berharap air yang mengaliri tubuhnya dapat membawa rasa duka yang ia rasakan.


Kedua putrinya sudah tertidur, Rey kembali ke kamarnya untuk mengecek keadaan istrinya.


Klek!


Pintu kamar terbuka, namun Rey sangat terkejut karena tidak mendapati istrinya di kamar mereka. Ia berjalan mendekati kamar mandi untuk memastikan apakah Ais masih di kamar mandi atau tidak.


Suara air keran masih terdengar bergemericik seperti membasahai sesuatu yang lembut. Rey sudah memanggil nama istrinya beberapa kali namun masih tidak ada jawaban. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke kamar mandi.


"Ayang! Aku masuk ya?"


Rey mendorong pintu perlahan, dan alangkah terkejutnya ia saat melihat istrinya sudah terkulai tak sadarkan diri di bawah kucuran air shower. Yah, Ais pingsan.


"Ayang ... bangunlah? Kamu kenapa?" Rey terlihat sangat panik.


Ais tak kunjung bergerak apalagi bangun, Rey segera membawa istrinya ketempat tidur setelah melepas pakaian basah istrinya. Ia segera membalur tubuh kekasihnya itu dengan minyak kayu putih, setelahnya baru memakaikan bajunya. Setelah lengkap baru dia menelepon dokter keluarga mereka, Bayu.


"Assalamualaikum, Bay! Kamu dimana? Tolong bisa kemari sebentar nggak?" Rey nampak panik.


"Rey, kamu yang tenang. Pelan-pelan, kenapa panik begitu?"


"Istriku, dia pingsang di kamar mandi. Kamu cepatlah kemari!" Rey merasa semakin tak sabar.


"Oke aku berangkat sekarang, yang perlu kamu lakukan adalah melonggarkan semua pakiaannya yang ketat atau menghambat jalannya pernapasan. Kemudian rangsang penciumannya dengan bauan yang agak menyengat misalnya minyak aroma terapi atau minyak kayu putih," jelas Bayu pada sahabatnya, Rey.


"Iya-iya kamu cepetan datangnya,"Rey segera menutup ponselnya.


Ia melakukan apa yang disarankan oleh Bayu.


"Ayang! Bagun dong sayang, jangan buat aku semakin takut. Kenapa badanmu terasa sangat dingin sekarang. Ais sayang, buka matamu, please," renggek Rey dekat telinga Ais.


Namun belum ada reaksi juga. Mobil Bayu telah terparkir di depan rumah Rey, ia segera turun dan menuju kamar sahabatnya itu. Tidak butuh waktu yang lama, ia sudah sampai.


Tok ... tok ...


"Masuk aja, Bay." teriak Reh pada sahabatnya.


Klek!

__ADS_1


Daun pintu terbuka, Bayu berjalan mendekati sahabatnya, setelah sampai di samping tempat tidur Ais, ia segera mengeluarkan peralatannya dan mulai memeriksa gadis cantik yang sangat dikaguminya, kini menjadi istri sahabatnya.


"Kapan dia pingsan?"


"Belum lama, saat ia sedang mandi."


"Tubuhnya terasa dingin, sepertinya ia perlu kita bawa ke rumah sakit untuk dirawat. Saya khawatir tubuhnya mengalami shock." Bayu menyudahi pemeriksaannya.


"Ayo bawa Ais ke rumah sakit sekarang!"


"Iya, tapi kita pakai mobil saja dulu ya, aku tak mau membiarkan Ais berbaring di kursi. Aku ingin memeluknya." Rey tampak memohon pada Bayu.


"Ehh dasar Rey, ya sudah cepatlah!" Bayu keluar kamar diikuti Rey sambil menggendong istrinya menuju mobil sahabatnya itu. Tak lupa Rey pamit pada bi Onah untuk menjaga kedua putrinya yang sudah tidur.


Mobil Bayu pun meluncur menuju rumah sakit Kasih Bunda.


*****


Rumah Sakit ....


Mereka sampai di rumah sakit, paramedis sudah siap menunggu di depan pintu IDG lengkap dengan bangker yang akan membawa tubuh Ais ke ruang pemeriksaan.


"Baringkan Ais di bangker itu, Rey!" perintah Bayu.


Tanpa membantah kali ini, Rey membaringkan kekasihnya itu di atas bangker. Para perawat mulai mendorongnya.


"No! Wait here!" Bayu memainkan telunjuknya sebagai bahasa non verbal.


Dengan berat hati Rey harus menuruti permintaan Bayu kali ini, karena semua demi kesehatan sang kekasih.


Rey duduk di bangku depan IGD, ia terlihat sangat cemas. Tanpa ia sadari ada dua pasang mata menatapnya lekat dari kejauhan.


"Pa! Bukankah itu Reyhan, anaknya almarhum Budi." Mira mengangkat jari telunjuknya ke arah Rey yang duduk dengan gelisah.


"Iya kamu benar, Ma. Sepertinya itu memang Reyhan. Tetapi kenapa dia di sini? Siapa yang sakit?" Tampak Bayu seperti orang yang sedang berpikir.


"Kita samperin aja, Pa." Mira melihat kearah suaminya.


"Boleh." Budi membalas tatapan istrinya dengan penuh cinta.


Kedua pasutri paruh baya itupun berjalan mendekati Reyhan yang sedang duduk di bangku depan IGD.


"Assamu'alaikum," sapa Bayu sambil menepuk pundak Reyhan.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Om! Tante!" Rey terlihat kaget melihat keduanya. Ia segera berdiri dan menyalaminya.


"Rey, maafkan tante." Mira memeluk Rey erat dan menangis.


"Sudahlah tante, yang lalu biarlah berlalu. Kami semua sudah ikhlas. Mungkin itu takdir Allah yang telah ditetapkan untuk mami sama papi." Rey mencoba menenangkan Mira, ibunya Hanif.

__ADS_1


"Andai tante tidak menuruti kata hati tante yang salah, mungkin saat ini Rini dan Budi masih ada, juga Hanifku. kita semua masih akan bersama. Andai waktu masih bisa ku putar." Mira sesegukan mengenang perbuatannya dimasa lalu yang kejam. Melenyapkam kedua sahabatnya sendiri dan juga putra semata wayangnya secara tidak Langsung.


"Sudahlah tante, semua sudah terjadi. Penyesalan memang tidak akan pernah datang diawal."


"Maka dari itu, hidup di dunialah yang seharusnya kita sebagai makhluk yang kosong dan penuh keseimbangan ini banyak-banyak melakukan tiga jalan yang lurus yaitu selalu berkata kebenaran, selalu melakukan kebaikan dan selalu menghasilkan kemanfaatan dimana saja, kapan saja dan kepada siapa saja, serta dalam kondisi apapun tanpa memandang status, suku, agama, ras dan antar golongan yang kelak akan dibalas dengan surga yang penuh kenikmatan oleh sang pemilik jiwa." Rey memeluk Mira erat seolah ia merasakan pelukan maminya, Rini.


"Kamu dengar, Reyhan sudah memaafkanmu. Berbahagialah Budi dan Rini memiliki anak sepertimu. Oh ya, kamu disini sedang menunggu siapa? Atau siapa yang sakit?" Bayu mengalihkan topik pembicaraan yang membuat istrinya hampir stres setiap kali mengingatnya. Penyesalan mendalam sungguh ia rasakan.


"Ais, Om. Dia pingsan pagi ini. Entah apa yang terjadi padanya. Tapi yang jelas dia seperti deprsi." Rey tertunduk lesu.


"Kok bisa?" Mira ikut duduk disamping Rey dan suaminya, Bayu. Nama suami Mira sama dengan dokter keluarga Reyhan tapi mereka beda generasi ya gaes.


"Semua berawal sejak ibu meninggal." Rey menghela napasnya.


"Maksudmu ibunya Ais meninggal? Kapan? "Mira tampak shock. Ia ingat bagaimana ia mencaci keluarga Ais yang miskin, namun wanita ibu hanya membalsanya dengan senyuman.


"Yaa Allah, ampunilah aku. Maafkan aku, Aminah." Mira kembali menangis.


"Kasihan Ais. Bukankah biasanya ia gadis yang tegar dan kuat." Bayu menimpali.


"Iya, om benar. Tetapi semuanya terasa bertubi-tubi baginya. Pertama kepergian ibu, kedua ayah Abdullah yang pergi ikut tinggal bersama kakak-kakak serta adik Ais. Dan yang ketiga, ia ditinggal oleh putra kami yang harus mengikuti pelatihan hafiz di Saudi Arabia selama enam bulan. Makanya beban hatinya terlalu berat. Berpisah dengan semua yang disayanginya." Rey menjelaskan secara rinci segala hal yang dialami oleh kekasih hatinya.


"Ya itu wajar Rey. Dia termasuk wanita kuat. Kalau itu dialami oleh wanita biasa mungkin sekarang tempatnya rumah sakit jiwa. Kamu harus bisa membuatnya melupakan semua kesedihannya." Bayu kembali menepuk pundak Rey.


Sedang asyik bercerita mereka dikejutkan dengan suara pintu IGD yang terbuka.


"Keluarga ibu Aisyah." Panggil Perawat IGD.


"Ya." Rey berangkat dari duduknya yang diikuti oleh Bayu dan Mira.


"Silahkan masuk," perawat itu membuka pintu lebar-lebar untuk ketiganya.


"Apa Ais tidak membenciku?" Mira merasa khawatir.


Bersambung ....


Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula untuk Tap jempol serta komennya!


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ke 2 ku Cinta Bersemi Diujung Musim.



Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik. ini adalah daftar novel favoritku, kalian boleh coba untuk mampir pasti suka.



Juga yang ini adalah novel favoritku kalian boleh coba mampir.


__ADS_1


__ADS_2