Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
MEMASAK MAKAN MALAM


__ADS_3

๐ŸŒปAssalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.๐ŸŒป


Happy Reading!


Resort Baru ....


"Ayang, udah ah. Aku mandi dulu." Ais berangkat dan meninggalkan suaminya yang masih senyam senyum sendiri tapi bukan orang gila ya tegas Ais yang membuat author ikut tertawa wkwkwkk.


Rey segera berlari untuk menyusul sang istri, ia tidak ingin melewati kesempatan spesial ini. Jarang-jarang ia bisa mandi bersama sang istri tanpa ada gangguan.


Sehabis mandi keduanya segera menunggu azan magrib.


"Yang, aku yang azan ya. Udah lama juga aku nggak mengumandangkan azan." Rey menaik turunkan alisnya sambil menyunggingkan senyum termanisnya.


Ais yang juga ikutan usil menjawab dengan memainkan alisnya naik turun yang membuat suaminya gemas dan ingin memeuknya.


"Eitt, stop! Kita udah wudu dan siap untuk salat bukan yang lainnya." Ais mengingatkan suaminya yang sudah seperti pengantin baru saja bawaannya pengen manja.


"Eh iya, maaf." Rey menjauhi sang istri dan kembali duduk ke tempatnya semula.


Ais tersenyum sambil menutupi mulutnya dengan tangan agar Rey tak melihatnya. Ia merasa lucu suaminya terlihat menekukkan wajahnya.


"Ayo kapan mau azannya ini udah masuk waktu magrib." Ais memcolek suaminya dengan bantal yang dipeluknya.


"Andai aku yang menjadi bantal itu, pasti sangat menyenangkan." Rey seperti seseorang yang sedang Halu.


Bukkk!


Bantal yang Ais peluk mendarat hangat di perut sang suami, membuat yang punya meringgis manja.


"Lebay, kumat lagi mesumnya. Ayo cepat azan, atau jangan-jangan wudunya dah batal karena menghayal?" Ais menatap curiga pada suaminya.


"Nggak lah, masih sah kok wudunya belum batal." Rey protes merasa tak sesuai tuduhan sang istri.


"Ayo azan! Apa mau Ais yang azan?"


"Iyaa istriku yang bawel tapi cantik seperti bidadari tak bersayap dan baik hati seperti malaikat yang turun ke bumi." Rey berangkat dari duduknya dan segera mengambil poisis di sajadahnya.


Ais terkekeh geli mendengar umpatan suaminya yang lebih terdengar seperti rayuan gombal.


Rey mulai mengumandangkan azan, dan Ais menjawabnya pelan. Kemudian keduanya mulai salat berjama'ah.


Selesai salat ritual rutin keduanya ialah membaca Al Qur'an. Malam ini bertepatan dengan malam jum'at. Ais dan Rey mulai mengaji tetapi pilihan keduanya berbeda. Ais membaca surah Al Kahfi sedangkan Rey membaca surah Yasin. Selesai mengaji Rey mendekati istrinya yang semakin cantik dalam balutan mukena putih yang berhiaskan bunga lili hijau dan pink di sepanjang tepiannya.


"Ayang kenapa kamu membaca surah Al Kahfi bukan surah Yasin?" tanya Rey bingung. Karena setahunya dia semua orang membaca surah Yasin pada malam Jum'at.


"Surah Al Kahfi juga bagus kok, Yang. Bila dibaca pada malam Jum'at." Ais tersenyum pada suaminya.


"Bisa jelaskan padaku Ayang alasannya!" pinta Rey pada sang istri.


"Baiklah dengarkan ini." Ais tersenyum dan memulai penjelasannya pada sang suami.


Ada yang agak bijak dengan menawarkan pengganti surat Yasin dengan surah Al Kahfi, Lalu ada kutipan hadis." Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, yang akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua Jumatโ€ (HR. Al-Baihaqi)


Penggantian bacaan dalam kegiatan Yasinan sebenarnya tidak ada larangan juga dalam agama. Sebagaimana bacaan Yasin tiap malam Jumat. Tidak dilarang agama. Bahkan dianjurkan. Rasulullah saw. bersabda,


ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู’ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุฑูŽุฃูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ู’ุนูŽุฉู ุญู… ุงู„ุฏู‘ูุฎูŽุงู† ูˆูŽูŠุณ ุฃูŽุตู’ุจูŽุญูŽ ู…ูŽุบู’ูููˆู’ุฑุงู‹ ู„ูŽู‡ู


Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, โ€œBarang siapa membaca di malam Jumat surat Hamim Ad-Dukhan dan Yasin, maka ia diampuni dosanya ketika masuk waktu pagi.โ€ (HR. Al-Baihaqi dalam Syuโ€™ab Al-Iman)


Al-Baihaqi menyatakan bahwa hadis dari Abu Hurairah tersebut berkualitas daif karena terdapat perawi bernama Hisyam Ibnu Ziyad, murid Abu Hurairah. Namun Al-Baihaqi menyatakan bahwa kedaifan ini dikuatkan dengan riwayat dari Al-Hasan.


Dalam riwayat lain, Al-Baihaqi meriwayatkan dari tabiin besar Abu Qilabah.


ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‚ูู„ูŽุงุจูŽุฉูŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: โ€ ู…ูŽู†ู’ ุญูŽููุธูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽ ุขูŠูŽุงุชู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ูƒูŽู‡ู’ูู ุนูุตูู…ูŽ ู…ูู†ู’ ููุชู’ู†ูŽุฉู ุงู„ุฏู‘ูŽุฌู‘ูŽุงู„ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุฑูŽุฃูŽ ุงู„ู’ูƒูŽู‡ู’ููŽ ูููŠ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุฉู ุญูููุธูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุฉูุŒ ูˆูŽุฅูุฐุง ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽุฌู‘ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุถูุฑู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฌูŽุงุกูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽูˆูŽุฌู’ู‡ูู‡ู ูƒูŽุงู„ู’ู‚ูŽู…ูŽุฑู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุจูŽุฏู’ุฑูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุฑูŽุฃูŽ ูŠุณ ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู


Dari Abu Qilabah yang berkata, โ€œBarang siapa menghafal sepuluh ayat dari surat Al-Kahfi, dia akan dijaga dari fitnah Dajjal. Barang siapa membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat, dia akan dijaga dari satu Jumat ke Jumat berikutnya. Ketika dia menemui Dajjal, ia tidak akan membahayakannya. Pada hari kiamat, wajahnyaakan bersinar seperti rembulan pada malam purnama. Barang siapa membaca surat Yasin, dia akan diampuni.โ€ (HR. Al-Baihaqi)


Setelah menyebutkan riwayat tersebut, Al-Baihaqi menyatakan,


ู‡ูŽุฐูŽุง ู†ูู‚ูู„ูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ุจูู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุฅูุณู’ู†ูŽุงุฏู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุฃูŽุจููŠ ู‚ูู„ูŽุงุจูŽุฉูŽ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ ูƒูุจูŽุงุฑู ุงู„ุชู‘ูŽุงุจูุนููŠู†ูŽุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ูู‡ู ุฅูู†ู’ ุตูŽุญู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุจูŽู„ูŽุงุบู‹ุง


โ€œHadis ini dinukil kepada kami dengan sanad ini dari ucapan Abu Qilabah. Beliau adalah salah satu dari Kibarut Tabiin (Tabiin Senior). Beliau tidak akan mengatakan hal semacam itu jika riwayat ini benar dari beliau, kecuali berdasarkan riwayat dari Rasulullah saw.โ€ (Syuโ€™ab Al-Iman, 4/99)


Berdasarkan keterangan Al-Baihaqi di atas, kita dapat gambaran bahwa pada malam Jumat orang boleh saja membaca surah Yasin maupun Al-Kahfi. Jadi, jika kamu disuruh milih, pada malam Jumat baca surah Yasin atau Al-Kahfi, kamu pilih yang mana? Boleh pilih salah satunya. Tapi lebih baik dibaca semuanya. Di rumah baca Al-Kahfi. Di masjid dan rumah tetangga yang sedang Yasinan, baca Surah Yasin.


"Jadi intinya mau surah Yasin atau Al Kahfi tidak ada larangan, lebih bagus kalau baca keduanya, Ayang. Hmm yang tidak baik itu kalau tak baca keduanya." Ais tersenyum pada suaminya yang mangut-mangut.


"Makin pinterrrrr khumairohku." Rey mencubit hidung istrinya dengan gemes.


"Ayang sakit, Yang." Ais mengusap hidungnya yang memerah karena cubitan sang suami.


"Uhhh sini aku tiupin, sakit ya? Maaf ya." Rey mengecup lembut hidung istrinya.

__ADS_1


"Kita makan yuk?" Rey mengambil mushaf Al Qur'an dari tangan istrinya dan menyimpannya di atas meja yang berlapiskan taplak rajfur berwarna hijau daun.


Ais tersenyum dan mengangguk. Ia bangkit dari duduknya dan segera melipat mukenanya. Harum rambutnya membuat Rey terdiam sesaat menikmati lembutnya aroma mawar dari rambut kekasihnya.


*Selalu suka dengan aroma mahkota hitam milikmu yang lebat dan hitam, terurai bagaikan ikalan mayang. Sungguh ciptaan Allah yang sangat sempurna.*


"Yang, kok bengong sih. Jadi makan nggak?" Ais menyadarkan Rey dari lamunannya.


"Ah iya ayo kita makan." Rey menggelengkan kepalanya, entah mengapa setiap di dekat sang istri pikirannya hanya dipenuhi jiwa pahlawan yang membara untuk berangkat ke medan tempur.


Keduanya bergandengan menuju ke ruang makan. Sampai di sana Rey segera menepuk keningnya.


"Kenapa?" tanya Ais manja.


"Aku lupa kalau kita bukan di rumah, jadi nggak ada yang masuk buat kita." Rey tersenyum kecut.


"It's oke, istrimu ini pernah menjadi koki di rumah masa kecilnya, juga dirumah kos nya waktu kuliah dan kamu nggak ada bersamaku," Ais tersenyum ketir saat menggingatkan masa-masa sulitnya harus mengontrak dalam keadaan hamil tanpa tahu suaminya di mana kala itu.


Dengan cepat Rey memeluk sang istri.


"Please jangan ingat masa menyakitkan itu, maafkanlah aku." Rey mencium rambut istrinya yang tak tertutup hijab kali ini karena hanya mereka berdua ada di dalam rumah mewah meski mungil.


Ais tersenyum dan Rey menghapus jejak kristal bening di sudut matanya.


"Jadi kita makan di luar saja, ya?"


"Nggak usah, Ayang. Aku akan memasak makan malam untuk kita." Ais mengikat rambutnya ke atas kemudian menjepitnya agar tak mengganggu saat dia memasak.


Tampak leher jenjangnya yang putih semakin menggoda sang suami. Tentu saja membuat Rey merasa gerah, meski Ac di ruangan itu cukup dingin sebenarnya.


Ais segera berjalan menuju kulkas untuk melihat apa saja yang bisa dia masak untuk makan malam mereka kali ini.


*Hmm cuma ada sayuran wortel dan kentang, tunggu itu sepertinya ada udang dan sedikit jagung muda, sip aku bisa masak capcay saja. Dan alhamdulillah ada banyak buah dan ohh itu ada yogurt, hmm cocok buatkan salat buah saja.*


"Okay, aku siap masak." Ais bicara untuk menyemangati dirinya sendiri.


Kemudian ia mulai mengupasi wortel dan kulit udang, kemudian memotong jagung muda dengan cepat. Dan segera menghaluskan bumbunya dan ....


Srenggg!


Semua bumbu sudah di dalam wajan, seketika aroma harum masakannya membuat Rey menghirup dalam-dalam napasnya untuk menikmati umami masakan sang istri.


Rey berjalan mendekat, aroma masakan Ais telah menariknya untuk semakin mendekat. Seketika Ais merasa kaget saat tangan kekar suaminya melingkar manis di pinggannya.


"Aroma masakanmu begitu mengoda." Rey berbisik manja di telinga sang istri yang membuat bulu roma Ais meremang.


"Jangan gini juga kali, Yang. Aku lagi masak ini." Ais mencoba menepis rasa yang mulai mengeliat di dalam jiwanya.


"Lanjut aja masaknya, dan biarkan aku menikamati aroma masakanmu begini." Rey mengecup lembut leher jenjang istrinya dari belakang.


"Ayang, nanti masakannya bisa gosong kalau kayak gini." Ais merasa ada yang jantungnya mulai berdetak di atas normal.


Dengan cepat ia menyudahi masakan capcay sederhana, kemudian dilanjutkan dengan mengupas kentang.


"Mau aku bantu, Ayang?"


"Boleh." Ais merasa lega, dengan begini Rey bisa melepaskan pelukannya yang membuat ia tidak konsen untuk memasak.


"Bagini ya?" tanya Rey yang mulai mengupas kentang.


"Iya Ayang, kamu cepat mengerti." Ais memuji pekerjaan suaminya.


"Nanti kentang ini mau kamu masak apa?" Rey melirik pada istrinya.


"Hmmm mungkin sambal kentang, karena hanya itu sepertinya yang mungkin, kalau melihat bumbu dan bahan yang ada." Ais menjawab sesuai realita yang ada saat ini. Tentu saja membuat suaminya merasa bersalah karena tidak menyetok banyak makan dikulkasnya.


Kini Ais beralih untuk mengupas aneka buah yang bisa dia gunakan untuk membuat salat.


Rey memperhatikan jari lentik istrinya menari dengan lincah di antara pisau dan talenan. Dan ia tak pernah menyangka bisa menyaksikan kemahiran Ais memasak. Selama ini ia hanya langsung menikmati masakannya saja tanpa pernah menyaksikan aksi memukau dari bidadari syurganya.


"Ayang ayo! Kenapa melamun nanti aku nggak keburu masak kentang sambalnya." Ais kembali mengingatkan suaminya yang sedang melamun.


*Kenapa kak Rey sering melamun, apa dia punya masalah?*


Ais merasa heran dengan tingkah suaminya. Seolah tahu dengan apa yang dipikirkan oleh istrinya dengan cepat Rey menyeksaikan pekerjaanya.


"Ayang ini sudah selesai." Rey merapikan kentang hasil kupasannya.


"Tolong di cuci ya, Yang." Ais masih sibuk dengan salad buahnya.


Dengan sigap Rey mencuci kentangnya kemudian memotongnya seperti dadu sesuai instruksi juru masaknya kali ini.


"Ini dah selesai, truss apa lagi?"

__ADS_1


"Tolong goreng ya, itu wajannya. Masukan minyak goreng secukupnya, nanti kalau udah panas baru masukkan kentangnya sedikit-sedikit." Ais memberikan arahan pada asisten masaknya kali ini.


Keduanya saling pandang dan melempar senyum.


Srenggg!


Rey memasukkan sedikit kentang ke dalam minyak goreng yang sudah panas.


"Ampun minyaknya menari-nari kemana-mana, percikannya panas." Rey berteriak heboh yang membuat Ais mengulum senyumnya. Ia tahu suaminya tidak pernah memasak dan ini pengalaman pertamanya.


*Ternyata susah ya memasak, pantas saja banyak wanita yang kecewa saat sudah capek-capek memasak tetapi suami atau anaknya tidak mau makan.*


"Ayang, apa setiap memasak akan sesulit ini?" Rey ingin memastikan pemikirannya.


"Begitulah, tetapi jika sudah biasa tidak akan merasa kesulitan lagi, sama seperti dirimu bekerja. Seperti pepatah yang mengatakan bisa karena biasa." Ais terus mengoceh tanpa sadar kalau suaminya sudah berada tepat disampingnya. Dan saat ia menoleh bibir keduanya bertemu yang membuat Ais seketika menunduk dan menutup mulutnya.


Rey tersenyum dan beralih duduk di depan istrinya. Kenapa? Mau lanjut?"


"Nggak lah, kamu makin nakal sekarang." Ais merona.


"Ayang! Kentangnya." Ais berteiak kecil karena ada aroma yang menyengat. Dengan cepat Rey berlari dan mematikan kompornya.


"Hmmm untung belum berubah menjadi hitam," gumam Rey seraya mengangkat goreng kentangnya.


"Bagaimana? Apa masih bisa diselamatkan?"Ais menghampiri suaminya.


"Alhamdulillah, masih," jawab Rey singkat.


"Nih tumis bumbunya." Ais menyerahkan mangkuk yang telah berisi bumbu yang tadi ia haluskan.


Srenggg!


Bumbu masuk ke penggorengan dan ....


Hacimmm!


Seketika Rey bersin-bersin karena aroma pedas yang menusuk, Ais pun ikut bersin. Mereka berdua kembali saling tertawa menikmati suka duka memasak, tentu saja hal ini akan menjadi kenangan terindah untuk Keduanya. Selama delapan tahun ini baru pertama kali mereka masak bersama.


Akhirnya selesai juga keduanya memasak, setelah melalui perjuangan yang panjang untuk menghasilkan makanan yang sederhana namun tampak lezat serta berkelas.


"Alhamdulillah akhirnya." Teriak Rey kegirangan seperti seseorang yang menang lotre.


"Kita makan!" Teriak keduanya sambil saling menepuk tangan seperti orang tos. Baru saja mendudukan tubuhnya di kursi terdengarlah suara azan isya.


"Lah sudah azan isya ya?" tanya Rey konyol.


"He-em," jawab Ais singkat.


"Makan dulu apa salat dulu?" tanya Rey memberikan pilihan.


"Ayang udah lapar atau masih belum?" tanya Ais balik.


"Kok balik nanya, bukanya jawab?"


"Iya kalau sudah lapar kita makan dulu baru salat takutnya kalau salat nanti malah nggak khusuk, tapi kalau belum lapar kita salat dulu baru makan." Ais menjelaskan pada suaminya.


"Kita salat dulu aja ya, biar makannya bisa santai. Dan langsung bisa lanjut makan yang lainnya." Rey mulai lagi menggombali istrinya.


"Ayang, mulai dah kumat lagi." Ais beranjak dari duduknya menuju ke kamar untuk berwudu yang diikuti oleh suaminya.


Mereka salat isya berjama'ah setelah selesai dilanjutkan dengan zikir serta do'a. Setelah selesai baru lah keduanya kembali ke meja makan untuk menikmati makan malam spesial di hari jadi meraka yang ke delapan tahun.


Pov Aisyah ....


Yaa Allah terimakasih telah mengikatkan kami dalam tali suci pernikahan, terimakasih telah menjadikannya imam dalam keluarga kecil kami. Satukanlah cinta kasih kami seperti Aisyah dan Rasulullah.


Pov Reyhan ....


Yaa Robb terimakasih telah menjadikannya istriku, dia adalah bidadari syurgaku. Belahan jiwaku. Jadikanlah dia ibu yang shalihah untuk anak-anakku. Tautkanlah cinta kasih kami hingga ke jannah-Mu.


Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula untuk Tap jempol serta komennya!


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ke 2 ku Cinta Bersemi Diujung Musim.



Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik. ini adalah daftar novel favoritku, kalian boleh coba untuk mampir pasti suka.



Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik. ini adalah daftar novel favoritku, kalian boleh coba untuk mampir pasti suka.


__ADS_1


__ADS_2