
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. 🌻
🌻Kediaman Rey dan Ais 🌻
Umi ....Babang sayang Umi."
"Umi dan Abi juga menyanyangimu Nak."
Keduanya sudah sampai dirumah utama, disana Rey sudah menunggu didepan pintu menyambut bidadari syurganya dan mujahid kecilnya dengan tersenyum.
"Sayang bagaimana hafalannya lancar?"
"Iya Abi alhamdulillah lancar."
"Sekarang yuk kita sarapan, yang lain sudah menunggu."
" Iya Bi." Memeluk Rey.
"Ayang ... aku sarapannya agak telat ya karena aku mau menyusui Ira dan Iza dulu."
"Ehmm baiklah tapi jangan sampai nggak sarapan ya."
"Inshaa. Allah Ayang." Mencium punggung tangan suaminya.
Ais sudah berjalan menuju ke kamar kedua putrinya.
"Klek." Pintu terbuka.
"Assalamualaikum Sayang maaf ya Umi lama, kalian sudah haus ya, habis mimik kita sarapan ya." Mencium kedua putrinya.
Setelah selesai menyusuinya Ais mengajak kedua putrinya untuk sarapan bersama karena sebentar lagi keduanya akan genap berumur 1 tahun.
" Bik Inah ... Lela ... tolong bawa Ira dan Iza ya, kita keruang makan sekarang."
"Iya Nak," jawab Bi Ijah.
Mereka pun menuju keruang makan, disana semua sudah mulai makan dan Rey sudah menyiapkan makanan untuk istrinya tercinta.
" Ayang duduk sini." Menepuk kursi disampingnya.
Aispun menuju kursi yang telah disiapkan suaminya.
" Nih makananmu." Menyodorkan sepiring nasi yang penuh dengan lauk pauk.
" Ayang ini kebanyakan." Melihat isi piringnya.
"Kamu masih ibu menyusui, jadi harus makan yang banyak."
Akhirnya dengan terpaksa Ais harus menerima sepiring nasi yang melimpah lauk pauknya, ia tidak ingin suaminya tersinggung atau kecewa.
Melihat istrinya yang makan dengan terpaksa akhirnya Rey mengambil piring nasi dari hadapan Ais.
"Ayang aku belum selesai," ucap Ais merasa bersalah.
"Aaak! Buka mulutnya biar aku suapin," ucap Rey tersenyum.
Wajah Ais sudah bersemu merah yang membuat Rey sangat gemas dibuatnya.
"Ayang ... aaak." Menyodorkan sendok yang penuh dengan nasi.
Dengan malu - malu Ais membuka mulutnya dan menerima suapan dari suaminya.
"Cie ... cie ... yang masih pengantin baru aja kalah mesranya dengan pengantin lama," canda Maria sambil memeluk tangan Biyan.
Semua orang tertawa melihat wajah Ais yang sudah bersemu merah.
"Ayang semburat merah diwajahmu membuat kamu semakin cantik," ucap Rey memegang tangan Ais.
"Berhentilah merayu diriku didepan orang lain, aku malu." Menundukkan wajahnya yang semakin bersemu.
"Udah ya kita makan lagi, Aaakk." Kembali menyuapi Ais.
Akhirnya nasi Ais habis juga setelah disupai Rey sampai dengan penuh kasih sayang.
"Abiii ... umiiii," teriak Alif sambil berlari.
"Sayang ada apa? Kenapa berlari?"
"Nih Bu Guru Babang telepon katanya penting." Menyodorkan Hp.
Dengan segera Ais menyambut telepon yang diberikan Alif.
"Assalamualaikum Bu Tiara, ada yang bisa kami bantu?"
"Iya Bu Aisyah sebelumnya saya minta maaf, ternyata lomba hafalannya dipercepat jadi hari ini sekitar jam 10 pagi di lapangan Alun - Alun kota, jadi mohon segera mengantar ananda Alif nanti ya, kita bertemu disana."
"Oh iya Bu inshaa Allah siap, terimakasih banyak infonya Bu."
"Iya Bu kami yang berterimakasih, sampai ketemu di Alun - Alun ya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Aispun segera menutup panggilan telepon dari Bu Tiara.
"Kenapa Ayang?" Menatap Ais penuh tanda tanya.
"Perlombaan Alif dipercepat hari ini." Membalas tatapan suaminya.
"Jadi Babang lombanya hari ini Umi?"
"Iya Sayang, kita mandi ya sekarang lalu siap - siap." Mengusap kepala Alif lembut.
"Iya Umi." Berjalan menuju ke kamarnya.
Rey menemui para sahabat, saudara, dan orangtuanya.
"Semuanya maaf ya sepertimya hari ini aku dan Ais tidak dapat bergabung diacara temu kangen nanti siang, karena kami akan membawa Alif ikut lomba hafalan sekarang," ucap Rey.
__ADS_1
Semua yang tadinya sedang bercengkrama seketika menjadi diam.
"Kok diam, lanjut saja acara nanti siang meski tanpa kami."
"Begini saja bagaimana kalau kita ganti acaranya?" Ucap Reza.
"Maksud loe diganti bagaimana coba?" Tanya Ayah wi.
"Kita ganti saja acara temu kangennya dengan menonton acara perlombaan Alif, sekalian kita kasih support buat anandaku itu," ucap Reza penuh semangat.
"Wah boleh tuh ide loe, gue setuju," ucap Biyan.
"Bagaimana Dek Mar?" Melirik Maria.
"Boleh juga sih," ucap Maria.
"Ayah wi dan Ayah Abdul bagaimana?"
"Kami yang tua ini ikut saja ya Wi." Menoleh ke Wijaya.
"Yah lo kami ikut saja," ucap Wijaya tersenyum.
"Yang Emak - Emak bagaiman?" Tanya Nara.
"Emak - Emak pasti ikut kata suami aja," ucap Ibu Kris dan Aminah bersamaan.
Rey yang merasa seperti memiliki keluarga besar sangat senang dengan kekompakan keluarga semuanya.
"Aku sangat terharu dengan keputusan kalian, yah sudah yang mau ikut segera bersiap - siap, soalnya jam 10 wib acaranya sudah mulai," ucap Rey.
"Oke siapppp!" jawab mereka serentak.
Semua segera bubar menuju kamarnya masing - masing untuk mempersiapkan kepergian mereka ke perlombaan Alif.
Kini Ais sudah selesai mempersiapkan Alif. Ananda Alif terlihat sangat tampan dengan peci hitam, baju koko coklat dengan kain sarung kotak - kotak yang senada, memakai sepatu berwarna hitam juga tak lupa shal berwana putih hitam yang menggantung dilehernya.
"Subhanallah kamu sangat tampan sayang." Mencium kening putranya.
"Umi nanti pas lomba apa Umi juga boleh ikut Babang naik panggung?"
"Ya nggak boleh lah sayang, nanti diatas panggung Babang akan ditemani om MC yang membawa acaranya."
"Tapi Babang takut kalau Umi nggak ikut naik." Menunduk.
"Babang harus semangat karena nanti dengan berani tampil sendiri artinya Babang sudah memberi contoh yang baik untuk dedek Ira dan Iza, kalau Babang sudah mandiri nggak perlu dibantu lagi seperti dedek bayi."
"Emmm begitu ya Umi, iya deh Babang mau tampil sendiri."
"Nah begitu dong, ini baru namanya anak sholeh yang pemberani, seperti tentara dizaman Rosulullah yang berani bejuang membela agama Allah."
"Siappp Umi."
"Yuk kita berangkat sekarang, Abi pasti sudah menunggu diluar."
"Klek! Ais membuka pintu kamar Alif dan diluar semua sudah berkumpul dengan pakaian yang sudah rapi.
"Subhanaallah, kalian semua sudah rapi mau kemana?" Tanya Ais yang memmang belum tahu.
"Jadi kalian semua mau ikut ke perlombaan Alif?"
Reza dan Biyan kompak mengajungkan jempolnya. Semua tertawa melihat kelucuan keduanya.
"Asyiiiiikkkk banyak yang mau menemani Babang Alif lomba," teriak Alif senang.
"Anak Abi sangat tampan," puji Rey mencium kening Alif.
"Yuk putra Papa ikut mobil Papa saya ya," ucap Reza.
"Apa boleh Abi?" Menatap Rey meminta persetujuan.
"Tanya Umimu jika boleh maka Abi pun mengizinkan."
"Umiii?"
"Iya sayang boleh kok."
"Yeeee boleh ikut Papa Reza."
Semua tersenyum melihat keceriaan Alif karena dibolehkan mengikuti mobil Reza.
Semua sudah menaiki mobil mereka masing - masing dan bersiap menuju ke Alun - Alun kota.
"Ayang sebentar aku mau turun dulu."
"Kenapa? Apa ada yang tertinggal?"
"Iya ada yang tertinggal, aku lupa pamit pada kedua putri kita."
Rey tersenyum melihat istrinya yang sangat perhatian dan menyanyangi anak - anaknya.
"Baiklah jangan terlalu lama, kasihan Alif nanti bingung nyariin kamu."
"Terimakasih Sayang, kamu memang yang terbaik." Segera turun dan berlari menuju kamar kedua putrinya.
Dengan cepat Ais membuka pintu kamar putrinya dan dia melihat keduanya sudah tertidur lelap.
"Sayang Umi dan Abi tinggal dulu ya, doakan Babang bisa berani tampil dan memberikan persembahan terbaiknya." Mencium kedua putrinya.
"Lela bilang Bi Inah, Kakak titip Iza dan Izah ya. Kami akan mengantar Alif ke perlombaan hafalan, karena acaranya dipercepat menjadi hari ini."
"Iya Kak, nanti akan Lela sampaikan pada Bi Inah, semoga lancar ya semuanya."
"Aamiin Allahumma Aamiin, makasih ya doanya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Ais pun segera keluar kamar putrinya dan tergesa berjalan menuju ke mobil suaminya.
__ADS_1
"Ayang maaf ya kalau aku lama." Memasang sitbelt.
"Nggak lama kok." Tersenyum melirik Ais.
"Sudah siap?" Tanya Rey.
"Inshaa Allah," jawab Ais.
Mobil mereka pun meluncur menuju ke Alun - Alun Kota .
🌻Alun - Alun Kota 🌻
Tidah butuh waktu yang lama keluarga besar Reyhan dan Ais sudah datang. Alun - alun kota sudah ramai dengan peserta dari berbagai pelosok karena ternyata lombamya terbuka untuk semua kecamatan sekitarnya.
Lapangan telah dipadati oleh penonton dan peserta lomba.
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh," ucap MC.
Semua serentak menjawab salam dengan semangat.
"Alhamdulilahi rabbil ‘alamin,
Was sholatu wassalamu ‘ala,
Asyrofil ambiyaa iwal mursalin,
Sayyidina wa maulana Muhammadin,
Wa ‘alaa ‘alihi wa shohbihi ajmain.
Ama ba’du."
"Pertama - tama izinkan saya selaku pembawa acara untuk mengucapkan selamat datang kepada semua peserta hafalan surat pendek sekabupaten, dan yang kedua izinkan kami dari pihak panitia meminta maaf karena ada sesuatu dan lain hal sehingga acaranya kita majukan menjadi hari ini."
Setelah acara sambutan - sambutan akhirnya acara yang ditunggu - tunggupun tiba.
"Baiklah hadirin rohimakumullah, marilah kita sambut semua peserta kita yang berjumlah 30 orang dengan rentang umur 5 sampai 7 tahun yang merupakan generasi yang cerdas dan sholeh sholehah, kasih aplus yang meriah."
Semua bertepuk tangan dengan meriah menyaksikan semua peserta naik kepanggung namun baru berjumlah 29 peserta.
"Wah peserta kita sepertinya kurang satu ya ,yuk kita absen dulu."
"Semua peserta sudah diabsen dan ternyata yang belum naik panggung peserta dengan nama Muhammad Alif," ucap MC.
Mendengar putranya yang belum baik panggung akhirnya Ais segera memuju kebelakang panggung.
Dilihatnya putranya yang sedang berdiri mematung diujung tangga panggung.
"Sayang kamu kenapa belum naik?"
"Alif ingin mencium Umi dulu sebelum naik panggung." Memeluk Ais.
"Ups begitu ya, ya sudah sekarang cium Umi dan naiklah ke panggung, doa Umi dan semuanya selalu menyertaimu Sayang." Memeluk erat putranya.
"Ini panggilan terakhir untuk Muhammad Alif, jika belum naik peserta akan dinyatakan mengundurkan diri."
Dengan perlahan Alif naik kepanggung dan berdiri diujung panggung. Semua bertepuk tangan menyambut kedatangannya.
"Nah ini dia peserta yang kita tunggu sudah datang, selamat bergabung dengan teman - teman yang lain ya sayang,"ucap MC.
"Baiklah karena semua sudah lengkap kita akan segera memulai acara perlombaan kali ini."
"Perseta pertama silahkan mencabut lot untuk mengambil nama surat yang akan dibacakan."
Sudah ada 15 peserta yang tampil dan yang ke 16 adalah Muhammad Alif.
"Sekarang giliran peserta ke 16 Muhammad Alif silahkan mengambil lot nya," ucap MC.
Dengan perlahan Alif kedepan, pandangannya menuju ke pada Ais, dengan cepat Ais menganggkat kedua jempolnya untuk Alif. Dan dibalas dengan senyuman oleh Alif.
Ajungan jempol yang Ais berikan seolah menjadi penyemangat buat Alif. Dengan semangat ia mengambil lotnya dan memberikannya kepada Mc.
Bersambung....
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan karya apik author yang lain :
Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Almaira My Secret Wife
My Love My Babysitter
*Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu
Kembar Tidak Identik
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
My Heart Is Only For You
*Sudrun
Penjelah Malam
Samudra
*Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
__ADS_1
*Sisca Nasty
Mafia in Love