
🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻
Selamat Membaca!
*****
Pondok Tahfiz ....
"Anan, bisa om minta tolong," tanya Rey.
"Iya, Om. Bisa kok.asalkan bisa Anan lakukan inshaa Allah akan Anan bantu," jawab Anan.
"Oke, kamu tolong ambilkan makanan di mobil, Om! Rey menunjukkan sebuah mobil pajerro silver yang terparkir tidak jauh dari masjid.
Anan tersenyum dan mengangguk, ia segera menuju mobil yang di tunjuk oleh Rey. Anan semakin dekat dan akhirnya sampai. Perlahan Anan menbuka pintu tengah mobil dan ia sangat terkejut saat melihat keluar kaca mobil, ia seperti melihat kedua orang tua dan adiknya Sakinah ada diluar sebelah mobil yang menatapnya dengan penuh kerinduan.
*Yaa Allah, benar kah yang aku lihat? Apa benar mereka ada di sini? Atau hanya imajinasiku saja?*
Anan meneteskan air mata kerinduan, ia berpikir kalau dirinya sedang berkhayal. Tentu saja tidak mungkin keluarganya ada di sini. Dan benar saja saat ia kembali menatap keluar jendela ayah, ibu, dan adiknya sudah tidak ada.
"Yaa Allah ternyata benar aku hanya berkhayal," guman Anan.
Kemudian Anan segera mengambil aneka makanan yang ada di dalam mobil keluarga Alif, lalu ia segera menutup kembali pintu mobilnya.Pada saat itu lah seseorang mengucapkan salam pada Anan.
"Assalamu'alaikum, anak ayah! Ucap seorang lelaki yang berdiri tepat di belakang Anan sekarang.
Merasa suara yang menyapanya tidak asing, Anan segera membalikkan badannya. Dan ia menjatuhkan semua barang yang sedang di pegangnya.
"A-Ayah! Benarkah? Atau aku hanya ...." ucapan Anan menggantung.
"Iya, Nak. Ini ayah." Lelaki itu merentangkan kedua tangannya.
"Ayahhhhhhh!" panggil Anan pada lelaki itu dan segera memeluknya. Rasa rindu tak lagi dapat Anan bendung. Ia menangis tersedu dalam pelukan ayah yang di rindukannya. Lama ia sesegukan dan baru berhenti saat suara wanita yang juga dirindukannya menyapanya.
"Kamu tidak mau memeluk ibu?" tanya wanita itu.
Anan segera melepaskan pelukannya dan segera dapar melihat senyum indah wanita yang menjadi cinta pertamanya.
"Ibu!" Anan pun segera memeluknya erat. Wanita itu pun ikut menangis, menumpahkan segala kerinduan yang dia simpan untuk putranya.
"Ibu merindukan mu, Nak." Wanita itu mencium pucuk kepala putranya.
"Anan juga merindukan kalian," ucap Anan sambil menyeka air matanya.
"Aku ... apa ada yang merindukan aku?" ucap gadis manis dengan gamis biru lengkap dengan hijab yang senada.
"Dedek Sakinah! Sini peluk abang!" ucap Anan tersenyum dan memeluk adiknya juga.
"Kamu sudah sehat?" tanya Anan.
"Iya, Kak. Alhamdulillah sudah sehat." Sakinah tersenyum manis.
"Syukurlah, tadinya abang pikir kita tidak akan bertemu, tetapi ternyata Allah mengijabah do'a yang abang ucapkan tiap hari." Anan tersenyum manis.
"Anan, kamu menjatuhkan semua barang itu." Ayah Anan menunjuk ke arah makanan yang telah berserakan di rerumputan.
"Astagfirullah, ayah benar. Masih bersyukur semua dalam kemasan yang tertutup rapat dan tidak ada yang tumpah, kalau tidak apa yang akan aku katakan pada kedua orang tua Alif," ucap Anan dengan wajah penuh sesal.
Ibu dan Sakinah segera membantu Anan memungut semua barang-barang yang jatuh. Dan setelah selesai mereka segera menuju ke tempat keluarga Alif.
"Yah, katanya kemarin nggak punya ongkos buat pergi jengguk Anan, kok sekarang bisa?" tanya Anan sambil mereka berjalan.
"Iya, Nak. Kami juga tidak menyangka bisa berangkat untuk mengunjungimu. Ayah juga selalu berdo'a agar di beri kemudahan untuk bisa menjenggukmu, dan do'a ayah terkabul." jelas ayah.
"Kemarin ayah mendapat telepon dari pondok kalau seseorang telah membelikan kami tiket untuk berangkat, sampai di bandara pun kami sudah di jemput, dan semuanya itu ditanggung oleh seseorang yang tidak mau identitasnya di sebutkan." Ayah Anan begitu terharu.
"Subhanaallah, sungguh mulia hati orang itu, Yah. Mau menolong keluarga kita meskipun tidak mengenal kita." Anan tampak sangat bahagia.
"Iya, semoga orang itu dan keluarganya selalu di berikan nikmat sehat, serta dilindungi oleh Allah SWT, dimana pun mereka berada," ucap ayah Anan.
__ADS_1
"Aamiin," jawab Anan beserta ibu dan adiknya Sakinah.
*****
Kini mereka telah sampai di tempat keluarga Alif.
"Alif, Om, dan Tante. Kenalkan ini ayah dan ibu, Anan." Anan memperkenalkan keluarganya pada keluarga Alif.
"Oh alhamdulillah akhirnya kakak bisa bertemu dengan keluarga kakak. Sekarang jangan sedih lagi ya, Alif susah kalau kakak bersedih." Alif memasang senyum pepsodentnya.
"Iya, Lif. Terimakasih ya selalu membuat kakak kuat dan tegar di saat kakak lagi sedih," ucap Anan tulus.
"Kenalkan, Pak. Saya Reyhan ayahnya Alif. Ini istri saya Aisyah. Dan ini putri kembar kami Aza serta Ara." Rey memperkanalkan kekuarganya.
"Salam kenal semuanya, saya Mahmud ayahnya Anan, ini istri saya Halimah. Dan ini adiknya Anan Sakinah, dia sudah duduk di kelas 2 Sekolah Dasar." Mahmud memperkenalkan anggota keluarganya juga.
Kedua keluarga sudah saling berkenalan dan terlibat dalam percakapan yang akrab, sampai Rey teringat sesuatu.
"Oh iya, Babang Alif. Abi dan umi punya satu kejutan lagi buatmu." Rey tersenyum sangat manis.
"Apa, Bi?" tanya Alif penasaran.
"Tuh, lihat di sana!" Rey menunjuk kearah jam dua belas.
Alif mengikuti arah yang ditunjukkan oleh abinya dan ia melihat ada kakek dan neneknya yang sudah melambaikan tangan dari kejauhan. Alif segera berlari menghampiri keduanya.
"Nenekkkk! Kakekkkkkk!" Alif meneriaki keduanya sambil berlari.
Kedua pasangan yang mulai sepuh itu segera membungkukkan badannya dan merentangkan tangan untuk memeluk cucu kesayangannya.
"Kesayangan nenek dan kakek, kamu sehat hah?" Sambil memeluk tubuh kecil cucu yang sangat dirindukannya.
"Alhamdulillah, Nek! Alif sehat dan hafalan Alif juga mulai banyak. Kemarin Alif dapat tropi lo," celoteh Alif dengan riang, hal ini lah yang sangat di rindukan mereka dari Alif.
Ketiganya berjalan menuju ketempat keluarganya berkumpul. Mereka segera menggelar tikar dan mulai makan bersama. Susasan gembira menghiasi kedua keluarga itu. Meski baru pertama bertemu tapi semuanya tampak akrab dan menyatu.
*****
Selama yang lain sedang salat, Halimah mengajak Aisyah berbincang, ia mengeluhkan kehidupannya yang susah, tidak seperti Aisyah yang tampak seperti orang kaya. Hal ini tentu saja membuat Ais tersenyum.
"Kenapa dek Ais tersenyum? Apa kesusahan kehidupan saya begitu lucu?" tanya Halimah yang merasa seperti di rendahkan.
"Maaf, Kak. Saya bukan menertawakan kesusahan kakak, melainkan karena keluh kesah kakak," terang Ais.
"Maksudnya, apa saya tidak boleh berkeluh kesah?" tanya Halimah lagi.
"Tentu saja boleh, Kak. Namun keluh kesah yang kita ucapkan alangkah lebih indah jika kita bicarakan pada dzat yang maha kaya, minta lah apa saja kepada-Nya, jika kakak yakin dan sungguh-sungguh Allah pasti akan mengabulkannya," jelas Ais.
"Kakak kalau bicara masalah kesusahan hidup, mungkin aku sudah kenyang. Sejak. Kecil kehidupan yang aku jalani begitu keras, namun aku selalu mensyukurinya. Seharunya kakak juga bisa bersyukur dengan kehidupan kakak sekarang. Seperti suami kakak yang selalu sabar dan tawaqal." Ais berhenti sejenak lalu melanjutkan bicaranya.
"Dalam agama kita sudah di jelaskan tentang syukur nikmat. Namun kenikmatan yang Dia berikan tidak akan bertahan melainkan Ia akan mencabutnya, kecuali dengan rasa syukur terhadap-Nya atas nikmat yang telah diberikan kepada kita. Sebagaimana difirmankan olehNya:
لئن شكرتم لأزيدنكم
“Sesungguhnya jika engkau bersyukur, niscaya Aku akan menambah (kenikmatan) kepadamu” (Q.S. Ibrahim : 7).
"Dengan ayat tersebut telah jelas, jika kenikmatan ingin bertambah maka harus disyukuri meskipun sedikit," jelas Ais yang membuat Halimah terkesima. Ia tidak menyangka Ais yang masih muda punya pengetahuan agama yang luas.
"Lalu bagaimana caranya, agar kita tergolong orang-orang yang bersyukur?" tanya Halimah lagi.
"Ada tiga cara yang dapat kita lakukan untuk bersyukur," jelas Ais.
"Pertama, dengan hati, yaitu dengan memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu kenikmatan yang diterimanya merupakan karuniaNya, meskipun pada praktiknya, kenikmatan tersebut diperoleh melalui lantaran makhlukNya. Sebagaimana firmanNya:
وما بكم من نعمة فمن الله
“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah” (Q.S. An-Nahl: 53)." ucap Ais kemudian ia melanjutkan penjelasannya.
"Kedua, bersyukur dengan lisan, merupakan cara bersyukur yang sering kita lakukan, karena bersyukur dengan cara ini merupakan praktik bersyukur yang terbilang mudah dan simpel. Bersyukur dengan lisan dapat dilakukan dengan memuji nama Allah dengan memperbanyak sebutan hamdallah, dan bisa juga dengan cara tahdus bi-nikmah yaitu menceritakan kenikmatan yang telah diperoleh kepada orang lain, tapi dengan catatan bukan bertujuan untuk pamer, hal tersebut dianjurkan sebagaimana perintahNya:
__ADS_1
واما بنعمة ربك فحدث
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)” (Q.S. Ad-Duha: 11)." Ais tersenyum melihat Halimah yang tampak mulai mengerti.
"Baiklah yang Ketiga, bersyukur dengan seluruh anggota badan, yaitu menggunakan anggota badan kita untuk hal-hal yang positif, seperti menggunakan matanya untuk melihat sesuatu yang baik, melangkahkan kaki kita untuk menuju masjid , tempat ngaji , dan lain sebagainya." Ais menutup penjelasannya.
Halimah segera menghapus air matanya, ia merasa kehidupannya selama ini hanya sia-sia belaka, yang dipenuhi dengan keluh kesah. Dan ia sangat bersyukur kini memiliki suami yang benar-benar saleh dan sabar.
"Terimakasih, dek Ais. Hari ini kamu sudah membuka mata hatiku, tadinya aku merasa iri dengan kehidupanmu tapi setelah mendengar penuturanmu aku merasa malu, kesusahan hidupku tidak sebanding dengan masa lalumu. Suamiku sering menasihatiku untuk selalu bersyukur dan sabar. Seperti saat ini Allah telah mengirimkan rezeki pada kami melalui seseorang yang baik hati, yang telah membiayai keberangkatan kami." Halimah menyeka air matanya.
"Ternyata benar, banyak bersyukur membuat rezeki semakin lancar dan bertambah," ucap Halimah.
Keduanya saling merangkul dan menguatkan.
Mudah-mudahan kita tergolong orang-orang yang bersyukur dan senantiasa mendapatkan limpahan karuniaNya. Amin. Mari Tetap Bersyukur Dalam Keadaan Apapun.
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
Audio Nyanyian Takdir Aisyah
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*WIB (Write in Box)
Ya Dia Istriku
*Khauma
I Love My Army Wife
*Syala Yaya
Istri Kedua Tuan Krisna
*Laura V
Sang Penggoda
__ADS_1
*Bintun Arief
Terjebak Cinta Brondong