Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
KEKASIH HALALKU


__ADS_3

🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.🌻


"Astaqfirullah ..., apa yang kakak lakukan ? Ais menangis sambil menutup bibirnya.


Gadis itu menatap Rey dengan penuh amarah, dadanya turun naik karena menahan emosi. Pemuda tampan itu terjatuh dari tempat tidur karena memang dia tidak siap menerima dorongan Ais yang sangat kuat.


Bekas luka operasi di dadanya kembali berdarah. Namun, Rey tak menghiraukannya karena rasa takjub dan bahagianya melihat belahan jiwanya kini telah terbangun dan menatap tajam kearahnya.


"Alhamdulillah. Yaa Allah akhirnya Kau mengabulkan semua hamba. Aisku kini sudah terbangun dari tidur panjangnya."


Rey langsung melakukan sujud syukur. Air mata bahagia tampak jelas diwajahnya. Rey pun serasa ingin memeluk istrinya.


"Ais ...." ucap Rey mendekati ranjang.


"Jangan mendekat!" teriak Ais sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Ais merasa kenapa semua tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan, apa yang sebenarnya terjadi? Terakhir yang dirinya ingat dia dipaksa menanda tangani dua pucuk surat, yang pertama pencabutan laporan dan yang kedua harus menikah dengan Hanif.


Rey yang melihat reaksi Ais hanya tersenyum. Sangat jelas tampak raut kemarahan di wajah kekasihnya itu.


Rey segera memencet tombol untuk memanggil petugas. Tidak lama kemudian dokter beserta timnya pun masuk.


"Maaf, Nyonya Ais. Izinkan kami memeriksa keadaan nyonya. Silahkan kembali berbaring," pinta pak Dokter lembut.


Nyonya? Apa benar aku sudah dinikahkan dengan Hanif? Pantas saja kak Rey tadi ....


Ais Menyentuh bibir, dia semakin binggung sekarang.


Atau jangan -jangan, kak Rey tadi menciumku karena ia tak terima aku telah menikah dengan Hanif. Tetapi, mengapa kak Rey nggak marah waktu ku dorong? Ahhhh, pusing. Aku sama sekali tidak mengert, apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku ataupun kak Rey? batin Ais.


Dokter pun tersenyum menatap Ais dan Rey secara bergantian. Mereka sangat takjub dengan kesolehan dan keyakinan kedua insan di hadapannya.


Dari sinilah, mereka dapat menyaksikan secara nyata kekuasaan Allah, yang bisa menghidupkan atau mematikan seseorang, dan sekarang keajaiban itu kembali hadir dengan terbangunnya Ais dari tidur panjangnya tanpa kekurangan suatu apapun.


"Alhamdulillah kondisi kesehatan Nyonya Ais berangsur membaik, hanya tinggal menunggu beberapa hari saja untuk pulih dan setelahnya nanti baru boleh kembali pulang ke rumah," ucap Dokter menjelaskan.


"Baiklah kami permisi dulu, silakan kembali beristirahat," tukas Dokter hendak berlalu.


"Tunggu dulu!" Dokter berhenti dan melihat dada Rey.


"Lukamu berdarah lagi, tuan Rey?"


Ais menatap dada Rey yang memang baju kokonya sudah memerah karena rembesan darah dan ia merasa bersalah.


Apa karena doronganku tadi? Apa aku mendorongnya terlalu keras? Dan luka itu....


Samar - samar ingatan Ais mulai pulih, dan ia baru mengingat kalau Luka itu bekas tembakan. Tiba - tiba Ais memegang kepalanya yang terasa berputar - putar.


"Ahhhh ... ya Allah ... kepalaku ... mengapa sakit sekali?" Ais meringis sambil memegang kepalanya.


Rey yang sedang diobati dokter pun terkejut. Demikian juga sang dokter.


"Dok ... istri saya," ucap Rey hendak bangun dari sofa tempatnya berbaring saat menggantikan perban untuk lukanya.


"Tuan Rey tenang saja, itu reaksi yang normal. Sepertinya istri anda akan segera mengingat semuanya kembali, dan ini lebih cepat dari perkiraan kami, alhamdulillah," ucap Dokter segera beranjak untuk memeriksa Ais.


Kini Ais tampak lebih tenang, ia menatap Rey dengan pandangan yang penuh dengan sirat kekhawatiran.


"Baiklah kami segera pergi, jika perlu sesuatu atau terjadi sesuatu segera hubungi kami. Selamat beristirahat tuan Rey ... Nyonya Ais." Dokter itu tersenyum dan segera berlalu keluar kamar Ais dan Rey.


Sepeninggalan dokter suasana sangat canggung. Semua hening, hanya pandangan dua pasang mata yang saling bicara. Kemudian cepat Ais menunduk malu, dan Rey hanya tersenyum.


"Kak Rey ... maaf." Ais terisak sambil menunduk.


"Psiiit!" Rey meletakkan satu jarinya di depan bibir seolah menyuruh Ais untuk berhenti menagis dan berbicara.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Seharusnya kakak yang meminta maaf karena selalu saja membuatmu menangis khumairohku," Ucap Rey pelan.


Seketika wajah Ais bersemu merah, dan itulah alasan mengapa Rey senang memanggil Ais dengan sebutan itu? Khumairoh artinya yang kemerah-merahan, seperti Rosullullah yang memanggil istrinya Siti Aisyah yang wajahnya akan bersemu merah kalau ia merasa malu atau tersanjung.


"Kakak akan mengabari ayah dan ibumu, juga papi, mami serta Maria dan Biyan. Kamu istirahat saja dulu," ucap Rey tersenyum sangat manis.


Apa aku harus bertanya pada kak Rey apa benar Hanif yang telah menikahiku? Malu tidak ya ? Apa kak Rey akan marah nanti? Ya Allah, aku nggak mau sebenarnya menjadi istri Hanif. Aku sangat mencintai kak Rey dan sangat ingin menikah dengannya. Tetapi kenapa ia hanya mengabari keluargaku, keluarga kak Rey dan Biyan? Mengapa kak Rey tak mengabari Hanif? atau kak Rey melarikanku dari Hanif? Asstaqdirullah, ya Allah kenapa aku jadi mikir yang enggak - enggak sih? aduh, apa yang terjadi padaku?


Ais masih berpikir kalau Haniflah yang telah menikahinya, dan dia taksama sekali berpikir kalau ternyata Rey-lah yang telah menjadi kekasih halalnya.


Rey telah kembali dan tersenyum sangat manis pada Ais. Ingin rasanya ia segera memeluk dan mencium bibir istrinya yang masih pucat.


Akhirnya Ais memberanikan diri untuk bertanya mengenai siapa suaminya.


"Kak Rey," sapa Ais pelan. " Apa Ais boleh bertanya sesuatu yang pribadi? Tetapi, kak Rey harus janji jangan marah apapun yang Ais tanyakan," pinta Ais sambil tertunduk malu.


"Tentu saja khumairohku. Apapun itu akan kak Rey jawab jika bisa, kalau tidak maka itu akan jadi PR buat kak Rey," sahut Rey sambil memamerkan lesung pipinya yang akan membuat siapa saja terpesona.


"Apa Hanif yang telah menikahi Ais? Sebab, Ais ingat dipaksa untuk menanda tangani surat yang menyatakan kalau Ais harus menikahi Hanif," ucap Ais sedih.


Ais memandang wajah Rey takada raut sedih, kecewa, ataupun marah disana. Wajah itu tetap seperti biasanya penuh dengan ketenangan, dan itu membuat Ais semakin penasaran.

__ADS_1


"Kak Rey, jawablah," renggek Ais sedikit manja.


Rey bergeming. Dia takmenjawab apapun. Namun, ia segera berangkat dari sofa mengambil ponselnya di atas nakas. Dia kemudian kembali dan duduk di samping Ais.


"Kak Rey tolong jauh sedikit, kita hanya berdua diruangan ini," pinta Ais sedikit terkejut karena Rey duduk tepat disampingnya sangat dekat.


Rey menyetel sebuah video yang berisikan pernikahannya dengan Ais. Pandangan mata Ais menatap lekat ke video itu.


"Wahai Reyhan bin Budianto. Saya nikah dan kawinkan putri saya yang bernama Aisyah binti Abdullah dengan mas kawin tujuh ayat Al Fatihah dan sebatang cincin emas 20 mata, dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah binti Abdullah dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sahhhhh!"


Air mata Ais tak bisa dibendung. Dia merasa sangat bahagia ternyata Kak Rey-lah yang telah menjadi kekasih halalnya.


Ais takkuasa mengangkat wajahnya. Dia terus menunduk, sambil menyeka airmatanya. Rey kembali duduk disampingnya, tetapi kali ini Ais taklagi mengusirnya.


"Khumairohku. Apa kau bahagia? "Rey menyentuh tangan kekasih halalnya.


Jantung Ais berdetak sangat cepat, ada rasa aneh yang berdesir lembut di relung hatinya. Dia takpernah menduga secepat ini mimpinya menjadi nyata.


Rey menceritakan semuanya, dari penculikannya, penangkapan Rani dan Sinta, Kelakuan paman Hanif Samuel, penembakan Hanif saat menyelamatkan Nara, pejuangan Nara mencari keadilan untuk Ais, ibu yang jatuh sakit, detik kematian suri Ais sampai terjadinya pernikahan itu.


Semua telah diceritakan Rey dengan detil tanpa ada yang terlewatkan. Ais mendengarnya dengan seksama sesekai menyeka air matanya.


"Ais, bolehkah kak Rey memelukmu sekarang?" tanya Rey penuh harap karenan rasa itu sudah ia simpan sejak lama.


Ais memandang wajah imamnya dan menganggukkan kepalanya. Dengan segera Rey memeluk tubuh kekasih halalnya seolah takingin lagi melepasnya.


"Kak Rey, aku sesak, ini terlalu kuat," bisik Ais malu.


Rey melonggarkan pelukkannya.


"Maaf, kan, Kak Rey." Lelaki tampan itu balas berbisik lembut ditelinga Ais yang membuat bulu kuduknya meremang.


Saat sedang asyik berpelukan tiba - tiba pintu terbuka.


"Assalamualaikum. Ah, maaf." Ibu langsung kembali menutup pintu.


Wanita penyabar itu tersenyum malu seolah - olah ingat waktu dia dan ayah masih muda dulu.


"Kenapa keluar lagi, Bu?" tanya ayah.


Dengan cepat Rey dan Ais melepas pelukkannya. Lelaki tampan itu segera mengejar ibu keluar pintu.


"Ayah ... ibu ... maaf. Ayo, masuklah. Ais sudah sangat rindu ingin bertemu ayah dan ibu."


Ayah dan ibu tersenyum dan segera masuk mengikuti Rey. Mereka pun memendam rindu yang sangat dalam pada putri kesayangan mereka.


"Ayah ... ibu.. maafkan Ais." Isak tangis pun berderai. Gadis manis itu memeluk ayah dan ibunya. Ketiga anak beranak itu pun melepas rindu.


"Maafkan ayah dan ibu juga yang nggak bisa melindungi Ais dari orang-orang jahat itu," sahut ayah pelan.


"Ais minta maaf juga karena sudah kuliah tanpa memberi tahu ayah dan ibu. Ais tak mau ayah dan ibu merasa terbebani," ucap Ais sedih.


"Sudahlah yang lalu takusah kita kenang lagi. Kuburlah semua kenangan buruk itu. Mari kita susuri masa depan dengan lebih baik lagi," ucap ibu bijak.


Setelah melepas rindu, sehabis sholat isya ayah dan ibu mohon pamit karena kasihan adik -adik Ais takada yang menemani.


"Rey, ayah dan ibu pamit, ya. Tolong titip Ais, sekarang tanggung jawab ayah untuk menjaga dan merawatnya ayah serahkan padamu sejak kau dan Ais terikat dalam jalinan suci itu," ucap ayah menepuk pundak Rey.


"InsyaaAllah, Yah. Rey akan berusaha untuk menjadi imam yang baik untuk Ais dan anak cucu kami nanti," sahut Rey mantap.


Ais dan ibu berpelukan, rasa mengharu biru memporak porandakan hati keduanya. Ikatan batin ibu dan anak takakan bisa dipungkiri. Sakit seorang anak sudah tentu menjadi rasa sakit seorang ibu. Namun, sakitnya seorang ibu belum tentu menjadi rasa sakit seorang anak, hanya anak - anak yang saleh salihahlah yang dapat meraskan kenikmatan itu.


Kini, tinggallah dua orang yang sedang dimabuk cinta tertinggal di sebuah kamar yang semuanya berwarna putih.


"Ais, bolehkah kak Rey berbaring disampimgmu? pinta Rey dengan senyum mengoda.


Ais hanya tersenyum malu, wajahnya kembali memerah, dan itu adalah jawaban terindah yang Rey rasakan meski bukan melalui suara.


Rey bebaring di samping Ais. Keduanya tampak kikuk karena ini adalah yang pertama untuk keduanya. Rey berbaring sambil memeluk Ais. Mereka terlelap dalam alam mimpi yang indah.


Pagi Hari masih dirumah sakit.


"Assalamualaikum, Imamku," sapa Ais menatap Rey penuh cinta.


Rey terbangun dan mencium kening Ais.


"Waalaikumussalam khumairohku," sahut Rey lembut.


"Bagaimana keadaanmu hari ini? Apa sudah lebih baik? Sudah bisa bangunkah?" tanya Rey penuh cinta.


"Alhamdulillah, kak Rey. Sudah lebih baik, sepertinya Ais sudah bisa salat Subuh bersama kak Rey." Ais tersipu malu.

__ADS_1


"Kita salat berjamaah, ya, tapi kamu di tempat tidur saja karena masih ada infusmu." Rey memegang pundak Ais.


Keduanya salat dengan khusuk.


Reyhan Pov.


Terima kasih, yaa Allah telah menjadikan Ais kekasih halalku. Berikanlah aku semua kebaikan atas dirinya, dan lindungi aku dari semua keburukan akan dirinya, satukan cinta kami dunia dan akhirat, bimbinglah kami untuk tetap bersama sampai ke janahMu. Ais ana uhibuki fillah.


Ais Pov


Yaa Rohmanu Yaa Rohim


Terima Kasih telah menyatukan kami dalam ikatan yang suci ini. Jadilanlah dia imam yang baik untukku dan juga keturunanku, satukan cinta kami dunia dan akhirat. Kak Rey, terima kasih telah menjadi kekasih halalku. Ana uhibuka fillah Reyhan bin Budianto.


Mereka hanyut dalam lautan cinta yang takbertepi, mulai menjalankan perahu rumah tanggnya menuju samudra kasih yang berpayungkan lembayung keridhoan Illahi.


"Kak Rey, terima kasih telah menjadikan aku kekasih halalmu." Ais mencium punggung tangan Rey, suaminya.


Mereka saling merangkul seolah puluhan tahun takbertemu.


Bagaimana kelanjutan hubungan Rey dan Ais?


Ikuti terus kisahnya ya...


Thanks for reading 😍


Makasih juga like, komen, dan votenya


Semoga readers lover sehat dan Bahagia selalu.


Author sangat mengharapkan komen kalian yang akan membuat karya Author jadi lebih baik lagi.


Salam Manis,


🤗


Author


Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.


Dan karya apik author yang lain :


Fit Fithree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


Mengejar Cinta Ariel


Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


*Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


My Heart Is Only For You


*Sudrun


Penjelah Malam


Samudra


*Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


*Sisca Nasty


Mafia in Love


*Cindyelvira


Ketika Muslimah Jatuh Cinta


Istri Sholehah


*Karlina Sulaiman

__ADS_1


Mencintaimu Dalam Diam


__ADS_2