
Sejak malam itu Maria rasanya tak dapat memejamkan matanya, pikirannya jauh menerawang mencoba menembus dunia khayalannya.
Mengapa sulit sekali untuk terpejam, mengapa hanya wajahmu yang terkenang, meski indahnya langit malam namun tak mampu meredam mimpi ku yang semakin liar terhadapmu, Biyan I Love you namun bisakah kau menerima cintaku. batin Maria berkecamuk.
"Haduhhh kenapa jadi begini, mengapa aku nggak bisa memejamkan mata"Ucap Maria pada dirinya sendiri.
Akhirnya Maria segera turun kebawah untuk menikmati udara malam ke kebun bunga belakang karena ia tak dapat tidur, namun tak disengaja Maria malah melihat dua orang yang duduk ditaman belakang saling berpelukan.
"Imamku.. aku rasa sudah waktunya Maria punya pendamping yang akan menjaganya, dan aku sangat kasihan pada Maria sekian lama ternyata dia memendam perasaanya pada Biyan, dan itu sangat menyiksa.
Sama seperti aku pada waktu itu, mencintaimu dalam diam, dan tak bisa menerima cinta orang lain, entah apa yang akan terjadi padaku seandainya kau tidak datang waktu itu atau kita tidak dipertemukan kembali oleh Allah. Mungkin aku akan menjadi gadis seumur hidupku. Karena kau tahu aku sangat memegang teguh sebuah janji, dan semoga saja Allah selalu menjaga cinta kita hingga kita tutup usia bersama. Dan semoga juga Biyan bisa membuka hatinya untuk Maria".
"Iya khumairohku, aamiin, aku percaya pada Biyan ia seorang lelaki yang baik, aku rasa dia bisa menjaga Maria dengan baik. Semoga mereka berjodoh, aamiin"
"Mari kita sholat tahajud Ayang, sekarang sudah hampir jam dua"Ucap Ais.
Kedua insan dalam balutan kasih itu pun sholat berjamaah. Mereka tidak tahu ada dua insan yang berbeda kelamin yang melihat dan mendengar percakapan mereka.
Maria menangis haru, tak membayangkan jika kakak dan sahabatnya begitu menyayanginya.
"Aamiin terima kasih abang... Ais, semoga. Allah mengabulkan keinginan kalian yang juga merupakan keinginanku"
Dan disisi taman yang lain seorang laki - laki juga merasa haru melihat pemandangan yang sangat menyejukkan hati, dan semoga aku benar - benar bisa membuka hatiku untuk Maria.
Keesokan hari...
Pagi ini suasana rumah Rey sedikit berbeda pasalnya Ais sudah menghiasi setiap sudut ruangan dengan aneka bunga segar yang sangat harum. Dan ia juga memasak sendiri semua sarapan hari ini.
"Hemmmm... harummm"Ucap Rey sambil mencium pipi Ais sekilas.
"Tumben masak sendiri"
"Ayang nggak kangen masakan aku"
"Kangen dong, sangat malah"
"Cup"Rey kembali ngecup kening Ais lembut.
"Maksih ya Khumairohku, love you"
Ais hanya tertawa melihat suaminya yang kadang sedikit berlebihan menurutnya.
"Assalamualaikum "Ucap Maria.
"Waalaikumussalam"Jawab Ais dan Rey serempak.
"Maria sayang, apa kau bergadang semaleman"Tanya Ais curiga.
"Eh.. kok tahu"
"Matamu seperti mata panda"Ucap Aia sambil tersenyum.
Maria segera bercermin di HP nya, ternyata memang tampak lingkar hitam dibawah matanya.
Ya tuhan mengapa aku sebodoh ini, batin Maria.
"Aku kesulitan untuk tidur semalam"Ucap Maria.
"Apa kau memikirkan sesuatu hingga kau tidak bisa tidur"
"Entah lah aku sendiri binggung"
"Bik... tolong bagunkan Tuan Biyan"Ucap Rey.
"Iya Den"Bibi segera menuju kelantai dua tempat kamar Biyan.
"Tok... tok.. Tuan anda sudah ditunggu diruang makan"
Namun sepi tak ada jawaban, bibi memberanikan diri membuka pintu kamar karena ternyata tidak dikunci. Bibi melihat semua bagian kamar sangat rapi dan tak ada tanda - tanda Tuan Biyan dikamar.Bibi segera keluar dan melaporkan kepada Rey.
"Aden.... tuan Biyan sepertinya tidak ada dikamarnya"
"Apa ada yang melihatnya"Tanya Rey pada semua asisten rumah tangganya.
__ADS_1
Saat semua saling pandang Biyan pun datang.
"Assalamualaikum, maaf membuat kalian cemas, aku habis lari pagi mengitari perumahan ini"
Biyan terlihat semakin tampan dengan baju tanpa lengan yang memperlihatkan otot - ototnya yang kekar dan keringat yang membasahi wajahnya membuat ia terlihat sangat seksi.
Jantung Maria berdesir hebat melihat Biyan, dan Ais segera menyenggol kaki Maria untuk mengingatkan Maria jangan memandang dengan nafsu karena akan mengundang syahwat.
Maria segera tersenyum malu, wajahnya mungkin sudah memerah. Dan Biyan memperhatikan itu.
Sebegitu besarkah cinta yang kau miliki untukku Maria, semoga aku bisa membuka hatiku untukmu, dan aku akan belajar melupakan Ais meski sulit ,batin Biyan.
"Ayo kita sarapan Biyan, segeralah bersihkan dirimu"Ucap Rey tersenyum ramah.
"Kalian duluan saja sepertinya aku akan lama"Ucap Biyan segera berlalu.
Dan Rey sudah menyuruh bibi untuk membawakan sarapan Biyan ke kamarnya.
Dan Ais sudah menyiapkan pakaian Rey untuk ke kantornya, yah mulai hari ini Rey akan menempati kantor barunya. Dan Minggu depan giliran Maria yang akan pergi ke kantor cabang di kota C.
Rey terlihat sangat tampan dengan stelan jas yang formal membuatnya seperti seorang bos, yang sebenarnya memang dia bosnya. (He.. he... maaf authornya numpang tertawa ).
Ais dan Alif menyalami tangan Rey dan Rey pun mencium kening keduanya dengan penuh cinta.
"Doakan Abi semoga kerjaannya lancar ya solgan umi dan Abi"Ucap Rey sambil mengendong Alif.
"Hati - hati dijalan Ayang, jangan lupa makan siang dan sholat"Ucap Ais.
"Heii apa khumairohku ini tak inginkan aku cepat pulang"Sambi memegang dagu Ais.
Wajah Ais sudah bersemu merah, dan mengangguk sambil tersenyum manis.
Dari Atas balkon Biyan menyaksikan semuanya, dan ia pun tersenyum sendiri , membayangkan kalau nanti dirinya sudah menikah apa istri serta anaknya juga akan demikian mengantarkannya saat akan pergi bekerja.
Ais dan Alif segera masuk kerumah saat mobil Rey sudah menghilang dari pandangan. Dan segera ke halaman belakang untuk mengajak Alif bermain.
Sedang Maria tampak murung pasalnya ia akan segera meninggalkan kediaman abangnya mimggu depan, dan akan segera. terbang ke kota C untuk menjadi CEO disana, yang itu artinya ia akan pergi tanpa ada ke pastian tentang perasaannya pada Biyan.
Biyan pun merasa gelisah, entah bagaimana ia akan menyampaikan perasaannya pada Maria, meski ia belum bisa mencintai Maria ia akan belajar untuk mencintainya.
Biyan ........ Assalamualaikum
Mar.. mau kah kau makan malam denganku malam ini?
Kalau kau bersedia segera balas ya
Wasalam,
Biyan.
"Ting... ting... "Bunyi pesan masuk di Hp Maria.
Maria segera membuka Hpnya, hatinya tiba - tiba langsung berbunga - bunga padahal hanya membaca pesan dari Biyan. Dengan cepat Maria membalas pesan Biyan.
"Ting" Bunyi pesan di Hp Biyan
iya aku mau
Maria.
Biyan tersenyum dan membalas chatnya.
"Ting" pesan masuk ke hp Maria.
Maksih ya, siap - siap nanti habis sholat magrib kita berangkat.
Biyan.
Maria segera mematikan Hpnya dan berlari menemui Ais, ia ingin berbagi rasa bahagianya.
Maria segera meminta izin pada Rey untuk pergi bersama Biyan. Dan Rey mengizinkannya asal mereka tidak pulang terlalu malam.
Rasanya Maria tak sabar menunggu sore berganti malam, dan Ais sangat memahami perasaan teman sekaligus adik iparnya itu.
__ADS_1
*****
Sore menjelang Malam Hari....
Rey sudah pulang sebelum magrib dari wajahnya sungguh tampak kalau ia sangat kelelahan setelah seharian bekerja. Namun semua lelahnya segera raib setelah disambut oleh senyum bahagia anak dan istrinya tercinta.
Ais segera memberikan Alif pada pengasuhnya karena ia akan membantu suaminya membersihkan diri. Mereka memasuki kamar dengan bergandengan.
"Ayang... masih lama kah aku harus berpuasa, aku rasanya sudah merindukan medan perangku"
"Ayang kau masih harus berpuasa kurang lebih tiga minggu lagi"
"Ya Allah kuatkanlah aku, aamiin"
Ais tertawa melihat kekonyolan tingkah suaminya.
"Ayang meskipun kau belum boleh berperang tetapi kau masih boleh kok menebar ranjau ditempat yang lain meski itu bukan di medan perang"Ucap Ais melirik suaminya.
"Ayang... temenin mandi ya"
Ais hanya tersenyum dan mengikuti suaminya ke kamar mandi.
Setelah selesai menebar ranjau, wajah Rey kembali merona, rasa lelahnya telah hilang berganti dengan rasa gembira yang tampak diwajahnya.
Rey segera mengajak Alif kecilnya untuk sholat bersama, begitu juga dengan Biyan dan Maria serta semua asisten rumah tangganya yang boleh sholat. Setelahnya Maria dan Biyan pamit untuk makan malam, sedang Ais masih mendengar Rey mengaji meski ia tidak sholat.
*****
Perjalanan Makan Malam...
Maria awalnya duduk dibelakang, dan Biyan memintanya untuk pindah ke depan disampimgnya.
"Mar... pindah kedepan dong, aku nggak enak, kayak suprimu saja"
"Eh.. hmm.. iya, ucap Maria malu, dan segera pindah kedepan.
Sepanjang perjalanan menuju restoran keduanya sama -sama terdiam, sibuk dengan pikirannya masing - masing.
Mobil Biyan pun telah memasuki tempat parkir sebuah rerstoran mewah. Dan mereka. segera turun.
"Selamat malam Tuan... nona.. selamat datang, silahkan menuju tempat yang telah kami sipakan"Karena Biyan sudah memberi kode bahwa ia sudah memesan tempat sebelumnya.
Biyan membawa Ais naik ke lantai dua, disana ia sudah memesan meja khusus yang dihiasi candle light dan banyak hiasan bunga yang mengelilingi disekitar meja mereka.
Maria merasa sangat tersanjung dengan apa yang Biyan lakukan.
"Maria... benarkah kau mencintaiku sejak kita pertama bertemu"
"Ehmm aku... aku.. "
"Katakan dengan sejujurnya Mar, aku ingin dengar itu dari mulutmu sendiri"
"Iya... Biyan.. aku.. men.. cin..***.. mu"Ucap Maria terbata, wajahnya sudah sangat memerah.
"Mar... sejujurnya aku memang belum mencintai mu, tetapi izinkan aku untuk belajar mencintaimu, semoga dengan seiring waktu cinta itu akan hadir diantara kita.
"Mar... mau kah kau bertunangan dulu dengan ku"
Maria tak menjawab namun air matanya telah mengalir deras.
"Mar... apa. kau marah Karena kejujuranku, aku tidak memaksamu, kalau kau keberatan aku tidak apa - apa"
"Biyan.. aku menangis bahagia... aku mau kita bertunangan, dan terima kasih telah mau membuka hatimu untukku, aku akan bersabar menunggu rasa cintamu"
"Cinta akan hadir jika kita terus bersama"
To be continue...
Makasih ya dah baca karyaku 😍 semoga sehat dan bahagia selalu readers loverku 😍
mohon like dan komennya serta votenya 😍
Salam Manis,
__ADS_1
🤗
Author