Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
KLIEN REY


__ADS_3

🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu berupa like dan komen, karena itu sangat berarti bagiku tuk terus semangat dalam berkarya, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻


Selamat Membaca!


Kamar Rey dan Ais ....


Sekarang apa kamu ingin cita-cita kita untuk sakinah, mawadah, dan warahmah tercapai?" Rey mengusap air mata yang masih setia mengalir di pipi mulus sang istri.


"Iya, Ayang," jawab Ais pelan.


"Berbagilah masalahmu denganku," pinta Rey pada sang istri.


Akhirnya Aispun menceritakan kegelisahannya pada sang suami. Ia sangat beruntung memiliki suami yang sangat sabar dan menyanyanginya dengan sepenuh hatinya.


*****


Setelah menceritakan masalahnya pada sang suami, Ais menjadi sedikit lebih tenang apa lagi habis salat magrib dapat telepon dari pondok kalau putranya baik-baik saja.


Ais dan Rey sehabis magrib berencana keluar rumah untuk ikut meeting bersama klien Rey yang perempuan. Semua Rey lakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Semua bisa saja terjadi apa lagi kali ini rekan bisnisnya berasal dari luar negeri, bukan sembarangan orang.


Sebelum berangkat Ais menyempatkan diri untuk menemui kedua buah hatinya yang sudah tertidur lelap. Setelah itu baru ia menemui ibunya di kamar yang sederetan dengan kamar kedua putrinya.


Tok ... tok ... tok ...


"Bu! Apa Ais boleh masuk?" ucap Ais sambil mengetuk pintu kamar Aminah dan Abdullah.


"Iya, Nak. Masuk saja, ibu lagi tiduran ini." Aminah merapikan selimutnya.


Perlahan Ais mendorong pintu yang tidak terkunci, kemudian mulai melangkah memasuki kamar sang ibu dengan tersenyum manis.


"Ibu masih capek?" Ais duduk di sisi tempat tidur Aminah.


"Sedikit, bentar lagi juga akan baikan pegalnya." Aminah tersenyum menatap Ais.


"Ayah, mana? Kok tidak kelihatan," tanya Ais pada Aminah.


"Ayah sedang di kebun belakang, kenapa memangnya mencari ayahmu?" tanya Aminah sedikit menaikan tubuhnya dalam posisi bersandar pada bantal-bantal yang ada dibekangnya.


"Tidak ada apa-apa kok, Bu. Hanya saja biar ibu nggak bosan sendirian di kamar." Ais memperbaiki gamisnya yang terinjak oleh kakinya.


"Kamu mau keluar bersama Rey, ya?" tanya Aminah menyentuh tangan putrinya lembut.


"Iya, Bu. Kak Rey minta ditemani makan bersama kliennya di sebuah rumah makan yang agak jauh dari sini. Nanti kemungkinan kami akan pulang sedikit larut." Ais menjekaskan pada ibunya.


"Ehmm, pergilah temani suamimu, ibu akan baik-baik saja. Nanti ibu juga akan sesekali mengecek keadaan Ara dan Aza." Aminah menatap putrinya lekat. Entah mengapa ia merasa enggan jauh dari Ais sebenarnya. Tetapi ia berkata yang sebaliknya.


"Ibu beneran nggak apa-apa kalau Ais tinggal?" tanya Ais sedikit ragu. Entah mengapa ia pun ragu dan enggan untuk meninggalkan sang ibu.


"Iya, Nak. Kamu pergi lah! Ibu akan baik-baik saja, inshaa Allah." Aminah tersenyum memutupi keraguannya.


"Baiklah Ais berangkat ya, Bu." Mencium pipi tua sang ibu dengan lembut.


"Hati-hati di jalan." Aminah kembali tersenyum sambil melambaikan tangannya.


Ais pun tersenyum dan membalas lambaian sang ibu.


*Entah mengapa kali ini aku merasa berat sekali untuk meninggalkan ibu? Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi tetapi entah apa itu, semoga saja hal baik. Ya Allah lindungilah ibuku.*


Perasaan Ais menjadi tak menentu, namun ia segera menepisnya. Ia tidak ingin terjebak dalam prasangka.


*****


Di luar rumah, Rey sudah menunggu sang kekasih dengan sabar. Meskipun sebenarnya jadwal meetingnya sebentar lagi akan segera mulai.


"Ayang! Maaf aku terlambat, entah mengapa perasaanku sangat tidak enak untuk meninggalkan ibu," ucap Ais sambil masuk kedalam mobil kemudian memasangkan sitbeltnya.


"Tidak apa-apa, Yang. Apa kamu tidak usah ikut saja?" tanya Rey pada istrinya.


"Tidak, Yang. Aku ikut kamu, tadi sudah bicara sama ibu." Ais menatap suaminya dan tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, kita berangkat sekarang!" Rey mulai menyalakan mesin mobil dan siap untuk berangkat.


Mobilpun perlahan mulai bergerak meninggalkan kediaman mereka, dengan ribuan perasaan tak menentu yang juga ikut tertinggal di sana.


*****


Perjalanan menuju ketempat pertemuan yang telah dijanjikan oleh kedua belah pihak cukup padat merayap, mobil Rey pun terpaksa ikut merayap.


"Yang! Sepertinya kita akan datang terlambat," ucap Ais sambil memperhatikan keadaan sekitarnya.


"Iya, jadwal pertemuannya sebentar lagi." Rey ikut melirik jam tangan silver yang melingkar di tangan kirinya.


"Apa di telpon saja, Yang?" tanya Ais pada suaminya.


"Biarlah, tidak usah. Jika mereka memang klien yang baik, pasti akan mengerti dengan keadaan kita saat ini. Jika nanti mereka membatalkan kontrak kerjasamanya itu berarti kita tidak berjodoh dengan mereka," ucap Rey sambil tersenyum pada sang istri.


Ais juga ikut tersenyum, dan menganggkuk. Dia terlihat lebih tenang setelahemdemgar jawaban sang suami.


Kini mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki sebuah pelataran parkir sebuah restoran mewah. Di sekeliling parkiran itu dihiasi banyak lampu hias, sehingga tampak seperti taman saja.


Rey bergegas mengajak istrinya untuk turun. Ais tampak sangat sanggun malam ini, dalam balutan gamis coklat muda yang di padu dengan bordiran pita emas dibagian bahaw gamisnya. Saat tertimpa cahaya akan berkilau seperti permata, membuat kecantikannya semakin terpancar.


Rey pun sepertinyanya terpesona dengan kecantikan sang istri. Dia tampak melamun saking terpesona dengan sang istri yang sedari rumah tidak diperhatikannya. Lamunannya buyar saat sang istri menjentikkan kedua jarinya di depan wajah sang suami.


"Hei! Ayang! Kamu kok ngeliatin aku sampai melamun begitu sih?" Wajah Ais sudah bersemu merah merasa malu dipandangi suaminya seperti itu.


"Eh-ehmm, maaf. Aku terpesona dengan kecantikan istriku sendiri." Rey Menangkupkan kedua tangannya di pipi sang istri kemudian mengecup lembut pucuk kepalanya.


"Ayang! Ini tempat umum, aku malu." Ais menunduk dan mencubit lembut perut suaminya.


"Ayang, jangan cubit perutku. Nanti yang ada kita bukan meeting sama klien tapi berangkat ke medan tempur." Rey mencandai istrinya.


Ais merasa semakin malu pada suaminya, yang membuat rona kemerah-merahan dipipinya semakin nyata, dan itu yang membuat Rey semakin menyukainya.


"Ayang! Kita masuk ya sekarang!" Rey mengandeng tangan istrinya.


"Bukanlah, Ayang. Atau kamu memang sedang ingin berperang?" tanya Rey dengan kerlingan manjanya.


"Eh-ehm-anu, nggak kok." Ais semakin salah tingkah, ia malu karena pemikirannya terfokus pada medan tempur.


Sambil tertawa Rey terus saja menggandeng tangan sang istri yang menunduk malu.


Kini mereka sudah sampai ke meja delapan, tempat yang sudah dipesan oleh kliennya. Rey juga sedikit heran mengapa sang klien memesan sebuah kamar makan yang terpisah, dan syukurnya ia mengajak Ais sehingga dia merasa aman.


*Kenapa klien kak Rey memesan kamar makan terpisah begini? Pasti kak Rey akan merasa sangat tidak enak, pantas saja dia memintaku untuk ikut bersamanya.*


*Alhamdulillah aku mengajak Ais, ternyata dugaanku sangat tepat. Hensy pasti punya maksud tersendiri.*


Sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing datanglah seorang wanita berpakaian sangat ketat dan seksi, dress marun dengan belahan dada yang rendah, rambut pirang yang ikat sanggul keatas sehingga menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus.


Pemandangan ini tentunya sangat mengiurkan untuk laki-laki normal. Tetapi bagi Rey tentu saja ini membuatnya sedikit risih. Rey menatap istrinya dengan tersenyum. Dan tentu saja dibalas senyuman yang lebih manis oleh istrinya.


"Selamat malam, pak Rey!" Mendudukan pantatnya di kursi tepat didepan Rey.


Saat menunduk aset rahasianya tersembul sebagian, yang membuat Rey segera membuang pandangannya menatap netra teduh milik sang istri.


Sebenarnya Ais pun sangat terkejut dengan kelakukan klien sang suami. Namun ia segera berpikir positif, karena tidak ingin memgganggu urusan bisnis suaminya.


Klien yang ada di depan Rey tampak semakin agresif, dia mulai menunjukkan jurus-jurus maut untuk menaklukkan seorang lelaki, sebelum ia sempat beraksi Rey segera mengambil tindakan.


"Maaf nona Nancy, perkenalkan ini istri saya!" Rey memperkenalkan Ais pada rekan bisnisnya.


Nancy tampak sedikit tidak suka, karena Rey ternyata membawa istrinya bukan sekertaris atau rekan kerja lainnya.


"Apa anda selalu membawa istri saat kemana-mana?" tanya Nancy sedikit jutek.


"Iya," jawab Rey santai.


"Apa anda lelaki yang takut istri?" Nancy senyum mengejek.

__ADS_1


"Bukan! Saya bukan takut istri tetapi saya takut akan hukuman dari Tuhan saya, apa lagi saat bertemu klien yang penampilan dan tingkah lakunya seperti anda," ucap Rey santai namun penuh penekanan.


Nancy tampak terkejut mendengar penuturan Rey, pasalnya selama ini semua klien pria yang berbisnis dengannya pasti langsung terpesona dengan kemolekan tubuhnya, dan bisnis mereka langsung berjalan lancar.


"Maaf, nona Nancy. Sebaiknya anda cari saja partner kerja yang lain. Sepertinya kita kurang cocok dalam hal prinsip, permisi!" Rey segera menarik tangan sang istri untuk berangkat meninggalkan tempat yang akan membuat dosanya segunung.


Nancy menatap nanar kepergian Rey, dia tidak membayangkan kalau usahanya akan sia-sia kali ini.


*****


Setiap orang pasti mempunyai prinsip hidup yang harus selalu dijaga dan dipertahankan. Dan juga jangan memandang sama setiap orang karena sesungguhnya setiap orang itu berbeda dalam segala hal. Namun perbedaan itu akan tampak indah jika saling menghargai dan menghormati.


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca!


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


Audio Nyanyian Takdir Aisyah


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*WIB (Write in Box)


Ya Dia Istriku


*Khauma


I Love My Army Wife


*Syala Yaya


Istri Kedua Tuan Krisna


*Laura V


Sang Penggoda


*Bintun Arief


Terjebak Cinta Brondong

__ADS_1


__ADS_2